Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System

Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System
Chp 103: Leyton.


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan, aku peringatkan kau, aku adalah kapten kepolisian di kota ini!"


Sang kapten hanya bisa meringis ketika dirinya dipaksa masuk ke sebuah mobil taksi, ia hanya bisa mengancam orang yang menyeretnya itu tanpa bisa melakukan apa apa-apa.


Namun saat menyadari orang yang menyeretnya itu adalah orang yang sama dengan pria yang berada di atas jembatan gantung, mata sang kapten polisi melebar dengan sempurna.


"K- kau, bagaimana bisa?"


Ia kehabisan kata-kata ketika melihat orang yang beberapa saat lalu berada di atas jembatan setinggi 50 meter sekarang sudah ada di atas tanah dengan selamat.


Aldo hanya memberikan isyarat untuk tutup mulut, sebelum akhirnya ia melajukan mobilnya dengan kencang tak peduli semacet apapun jalannya.


Ia meninggalkan semua anggota kepolisian yang tengah sibuk menyelamatkan geng tengkorak yang hampir tenggelam di lautan.


Hingga akhirnya mereka sampai di jalanan normal, Aldo akhirnya membuka mulutnya.


"Sesuai kesepakatan, kau akan memberitahuku dimana keberadaan orang yang menyewamu."


Sang kapten polisi sedikit terkejut, namun ia dengan cepat mengubah ekspresinya.


"Kau melempar orang-orang itu ke laut, jadi kesepakatannya batal."


"Aku tahu kau ingin menembakku ketika aku turun dari jembatan, jadi aku terpaksa melakukan hal itu untuk mengalihkan perhatian semua orang." ungkap Aldo, membuat sang kapten sangat terkejut.


"Kau sudah tahu semua itu?"


"Aku tahu semua rencanamu."


Aldo sedikit melirik sang kapten dari cermin di dalam mobil, tampaknya ada rasa cemas di wajahnya namun Aldo tidak peduli dan terus menekannya.


"Aku tidak main-main dengan perkataanku, jika kau tidak menepati janjimu maka mungkin aku akan berbuat sesuatu yang lebih buruk dari sebelumnya."

__ADS_1


Pria itu tersenyum meremehkan perkataan Aldo, hingga beberapa menit kemudian ia akhirnya menyesal dan memohon ampun ketika Aldo ingin melemparnya keluar dari mobil dengan kecepatan yang luar biasa.


Hanya dengan ancaman kecil itu saja sudah cukup untuk membuat kesombongan sang kapten lenyap begitu saja.


Ia akhirnya bersedia menunjukkan keberadaan orang yang menyewanya yaitu Leyton, kepada Aldo.


Aldo tidak bisa mengandalkan Alexa untuk mencari keberadaan Leyton karena sesuatu yang berhubungan dengan misi tidak akan bisa dibantu olehnya. Oleh karena itu Aldo membuat skema yang cukup besar untuk tujuannya itu.


Dan di malam itu juga, Aldo akhirnya sampai di kediaman Leyton yang berupa mansion besar dan mewah.


Mansion tersebut terletak di pinggir kota Surabaya, tepatnya tersembunyi di tengah hutan persis seperti mansion di atas bukit indah milik Aldo, inilah yang membuat Aldo kesulitan mencari keberadaannya secara manual.


"Sepertinya sampai disini saja." ucap sang kapten ingin berbalik pergi meninggalkan Aldo di depan pintu gerbang.


Namun sebelum dia bisa pergi, Aldo menghentikannya.


"Kuharap kau bisa mengantarku sampai bertemu dengannya."


Sang kapten terdiam dengan tubuh menegang, "I- itu tidak mungkin, aku bisa mati jika dia tahu aku membawamu ke kediamannya!" sargahnya.


Sang kapten hanya bisa menggertakkan giginya tampak kesal menghadapi ancaman Aldo yang sudah entah berapa kali dia dapatkan, dia sudah sangat muak namun tidak ada yang bisa dia lakukan.


Dengan hati yang terpaksa, ia kemudian memasuki gerbang mansion dan diizinkan lewat dengan mudah oleh satpam yang menjaga gerbang.


Melihat itu, Aldo tahu jika kapten polisi itu sudah sering berpergian ke kediaman itu.


Aldo terus mengikuti langkah kaki pria itu hingga ia memasuki bangunan utama mansion, mereka disambut dengan hormat oleh para pelayan yang berbaris dengan rapi sebelum akhirnya di tuntun ke sebuah ruangan besar.


Di ruangan besar dan luas itu hanya ada sebuah kursi mewah dengan sesosok pria yang mendudukinya tidak jauh dari tempat Aldo berdiri, pria itu memutar kursinya sehingga Aldo bisa melihat wajah pria itu dengan jelas.


Pria tampan dengan rambut putih dan senyum sombong itu mengangkat dagunya tinggi-tinggi ketika menatap Aldo dengan sombong.

__ADS_1


"Sepertinya kau membawa teman lamaku, Glen." ucap pria itu yang adalah Leyton.


Sang kapten polisi yang bernama Glen itu hanya bisa tersenyum canggung di depan atasannya, dia tidak tahu bagaimana harus menceritakan jika bukan dirinya yang membawa Aldo melainkan Aldo sendirilah yang memaksanya.


Mengabaikan kecemasannya, Glen hanya bisa mengangguk patuh, "I- itu bukan masalah besar, Tuan Ley..."


Leyton mengangguk ringan, "Kalau begitu apa yang kau tunggu, pergilah, aku butuh ruang untuk bicara empat mata dengan sahabat lamaku."


"Bh baiklah, k- kalau begitu saya pergi dulu..." jawab Glen lega karena akhirnya pergi jauh dari orang yang mengancam nyawanya dari tadi.


Jadi, di dalam ruangan besar nan luas itu sekarang hanya ada Aldo dan Leyton seorang. Tidak ada percakapan diantara mereka selama beberapa saat namun Aldo merasa aneh dengan tatapan Leyton kepadanya.


"Aldo ... sahabat lamaku, aku benar-benar prihatin dengan dirimu yang sekarang..." ujar Leyton.


"Aku tidak tahu apa yang kau maksud, tapi satu hal yang pasti sepertinya hubungan kita dulu tidak sebaik itu sehingga kau memanggilku sebagai sahabat." sanggah Aldo tak peduli.


Wajah Leyton sedikit berubah mendengar itu, namun ia segera mengubahnya, "Bukankah kita memang sahabat? Kita selalu bermain bersama kan?"


Aldo benar-benar tidak tahu apa yang ada di dalam kepala pria di hadapannya, jika membully Aldo dengan sebegitu parahnya dinamakan dengan 'bermain', maka jelas ada yang salah dengan otak pria itu.


Aldo sedikit menghela nafas, ia tidak ingin menanggapi kegilaan Leyton lebih jauh lagi.


"Lupakan tentang itu, kau pasti tahu ada urusan apa aku denganmu."


"Ha ... tentu aku tahu, kau disini ingin memohon kepadaku agar tidak menganggu bisnis keluargamu, bukan?"


"Kalau kau sudah tahu maka ini akan menjadi mudah." ucap Aldo dingin.


Seolah tidak menyadari perubahan nada bicara Aldo, Leyton berdiri dari kursinya sambil berjalan menghampiri Aldo dengan santai.


"Aku tahu pasti keluargamu sangat kesusahan akhir-akhir ini, aku bisa saja berhenti mengganggu mereka tapi itu tidak mungkin karena aku sudah mengeluarkan banyak dana di proyek ini. Seluruh proyekku akan hancur jika keluargamu tidak ingin menjual tanahnya kepadaku..."

__ADS_1


[Ilustrasi Leyton]



__ADS_2