
"Orang-orang sudah mulai kehilangan hati nuraninya." kata Liam tiba-tiba bersamaan dengan menunjukkan kekesalannya dalam ekspresi wajahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Aldo sedikit kebingungan.
"Saat kasus ini keluar, tidak ada seorangpun yang tertarik untuk mengambilnya. Mereka beranggapan kalau kasus kematian ini hanyalah kasus biasa dan tidak patut diperhatikan."
"Aku mengambil kasus ini karena tidak tahan dengan tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya meskipun aku masih magang, aku bersumpah akan memberikan hukuman yang setimpal kepada pelakunya."
Liam tampak penuh tekad untuk menegakkan keadilan, orang seperti Liam-lah yang Aldo cari, seorang pria yang berdedikasi tinggi terhadap moralitas.
"Kita pasti akan menyelesaikan kasus ini." balas Aldo, ia juga masih memiliki masalah yang belum terselesaikan dengan pelaku yang menggunakan bantuan iblis tersebut.
Ia bersumpah akan membuatnya menderita atas apa yang dia lakukan terhadap kekasihnya, Ashlee.
Tak berselang lama, telepon Aldo berbunyi dengan Aria sebagai penelponnya.
"Sedikit pekerjaan." jelas Aldo kepada Liam.
Liam mengangguk mengizinkan Aldo untuk menjawab panggilan masuk tersebut.
"Aldo dimana kau? Kenapa kau tidak datang untuk bekerja? Kau tahu kalau kau itu memegang peran penting untuk perkembangan Fortune Music Cinematic."
Di seberang telepon terdengar suara Aria yang tampak sangat panik sekaligus kesal karena Aldo belum datang untuk bekerja.
"Maaf Nona Aria, sepertinya aku tidak bisa bekerja untuk beberapa hari ini. Ada sesuatu yang harus aku lakukan dan ini lebih penting dari pekerjaan."
"Apa maksudmu? Kau ingin meninggalkan pekerjaanmu?"
"Begitulah, tolong sampaikan hal ini kepada Tuan Daniel, dia pasti mengerti alasanku. Oh, dan satu lagi, aku ingin kau yang menjadi bos di Fortune Music Cinematic selama aku tidak ada." kata Aldo.
"Apa kau sudah gila? Kau memberikan status penting itu kepadaku?" tanya Aria sungguh tidak percaya.
"Ya, aku yakin kau pasti bisa."
Aldo kemudian memutus sambungan telepon secara sepihak setelah mengatakan itu tanpa menunggu jawaban dari Aria.
"Sepertinya pekerjaan sangat merepotkan." tanya Liam sedikit melirik Aldo.
"Begitulah." jawab Aldo acuh tak acuh.
__ADS_1
Setengah jam perjalanan menaiki mobil polisi milik Liam, mereka berdua akhirnya sampai di tempat yang di tuju oleh Aldo.
Itu adalah markas sementara mereka untuk melakukan penyelidikan terkait kasus kematian yang melanda para gadis akhir-akhir ini.
Disana sudah ada Jack yang menyambut kedatangan mereka berdua.
"Jack, apa kau sudah mendapatkan petunjuk lain tentang kecelakaan itu?" tanya Aldo.
"Sayangnya belum tuan." jawab Jack.
Kali ini Jack merasa sangat payah, tidak biasanya dia mendapatkan jalan buntu dalam sebuah penyelidikan kasus.
Ini benar-benar mencoreng nama baiknya sebagai detektif handal. Namun Aldo tidak terlalu memikirkan hal itu.
"Lupakan tentang kecelakaan itu, sekarang aku ingin kau menyelidiki tentang kasus kematian yang ada dalam berkas ini. Dan ngomong-ngomong pria ini adalah Liam, rekan baru kita mulai hari ini." Aldo memberikan berkas penyelidikan Liam sekaligus memperkenalkan pria muda itu kepada Jack.
Jack menyambut kedatangan Liam dengan baik sebelum ia mengalihkan perhatiannya pada bekas pemberian Aldo dan membacanya.
"Kasus kematian ini sedikit janggal karena waktu kematian yang singkat dan penyebab kematian yang tidak jelas." gumam Jack setelah membaca semua berkas di tangannya.
"Tepat sekali, dan aku menyimpulkan jika kasus kematian ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Ashlee dan Katharine."
"D- darimana anda mengetahuinya?" Jack tampak tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Hanya instingku." jawab Aldo sembarangan.
Tidak mungkin dia mengatakan kalau kejadian dua peristiwa itu disebabkan oleh hal yang sama yaitu iblis dari neraka.
"Baiklah kalau anda tidak berniat untuk mengungkapkannya, saya akan tetep menyelidiki kasus ini hingga selesai." ucap Jack.
...
...
...
> 3 hari kemudian.
"Aaah..."
__ADS_1
******* nakal keluar dari mulut Katharine ketika ia melakukan hal itu dengan kekasihnya, Aldo.
Wajahnya memerah padam ketika Aldo dengan segenap napsunya mencumbu bibir merah muda Katharine dengan nafas panasnya yang terengah-engah.
Kedua insan yang tengah menikmati momen sensual itu melanjutkan kegiatan panas mereka hingga ke tahap puncak, entah sudah berapa kali mereka berdua mengalami klim4ks kenikmatan namun keduanya tidak ada yang ingin berhenti.
Aldo menindih tubuh munggil Katharine di kasur bersamaan dengan bibir nakalnya yang menikmati suguhan buah dada di depan matanya.
"Ngh ... Ngh ..."
Sang gadis berusaha keras untuk tidak mengeluarkan ******* nakalnya, membuat Aldo menjadi gemas dan kembali mengecup bibirnya setelah usai dengan kedua belah dada milik sang gadis.
Dari kecupan halus itu berubah menjadi cumbu4n penuh hasrat dan napsu bir4hi.
Kedua insan yang tengah berbalutkan gair4h tersebut melanjutkan kegiatan panas mereka berdua hingga beberapa jam berlalu.
Setelah puas mereka berdua kemudian menyudahi apa yang telah mereka mulai selama beberapa jam itu, masih dengan tubuh telanj*ng bulat, mereka berdua berbaring di atas ranjang berukuran besar. Itu adalah tempat tidur mereka berdua dan Ashlee.
"Kau terlihat sedih, Kat?"
Aldo menyadari kesedihan Katharine lalu memeluknya dari belakang saat gadis itu tidur membelakangi Aldo.
Katharine merasakan kehangatan dari pelukan Aldo, namun itu tidak menghilangkan kesedihan dalam hatinya.
"Melakukan hal itu tanpa Kak Ashlee terasa sangat hampa..." ujar Katharine kembali mengingat Ashlee yang tengah terbaring di rumah sakit.
Ia merasa tidak lengkap jika tanpa Ashlee, jika mereka berdua melakukannya secara bersamaan maka akan terasa lebih menggair4hkan.
"Kau merindukannya?"
"Tentu."
"Aku juga..."
Aldo mengeratkan pelukannya terhadap Katharine ketika mengatakan hal itu. Ia benar-benar merindukan Ashlee, begitupun dengan Katharine.
"Kau sudah temukan pelakunya?" tanya Katharine.
"Belum, tapi aku bersumpah akan terus mencarinya dan menuntut balas atas apa yang dia lakukan terhadap Ashlee."
__ADS_1
"Kau janji?"
"Janji."