
Aldo memperhatikan cincin batu akik berwarna merah darah pemberian ayahnya ketika dalam perjalanan ke pasar untuk menemukan geng tengkorak, para preman yang melukai ayahnya dulu.
Kata ayahnya, cincin itu bernama cincin darah yang sudah diturunkan dalam keluarga mereka sejak dahulu kala.
Namun, Aldo merasakan hal yang aneh ketika cincin darah tersebut terpasang di jarinya...
[Anda mendapatkan salah satu harta peninggalan kerajaan Artex, cincin darah yang merupakan cincin pernikahan raja dan ratu di masa lampau.]
"Apakah ini suatu kebetulan?" gumam Aldo kebingungan.
Bagaimana mungkin keluarganya memiliki harta peninggalan kerajaan Artex dan bahkan mewarisinya secara turun-temurun.
Dari sini Aldo bisa tahu jika garis keturunan keluarganya mungkin bukan keluarga biasa, ada suatu misteri yang belum terungkap dalam keluarganya.
"Alexa, kau tahu sesuatu?" tanya Aldo.
[Sebaiknya anda mencari tahunya sendiri, tuan]
----------𝔐𝔦𝔰𝔰𝔦𝔬𝔫----------
[Misi Baru]
Mengungkap misteri keluarga Pak Sartono
[Hadiah]
5 juta Poin System
5 juta Poin Kemampuan
5 kupon undian gratis
----------𝔐𝔦𝔰𝔰𝔦𝔬𝔫----------
Aldo hanya bisa menghela nafas panjang karena apapun yang terkait dengan misi tidak akan dapat dibantu oleh Alexa.
"Aku akan menyelesaikan misi ini nanti, sekarang aku harus menyelesaikan dendam yang tertunda." gumam Aldo menatap tajam ke arah pasar ketika dirinya sudah sampai disana.
__ADS_1
Aldo memasuki pasar terbesar yang ada di kampungnya itu dan suara bising dari penjual yang mempromosikan barang dagangannya langsung menyengat telinga Aldo.
Barang dagangan digelar begitu saja di bawah bangunan yang tidak memiliki dinding sama sekali, bangunan itu hanya memiliki atap untuk melindungi penjual dan barang dagangannya dari matahari dan hujan.
Bebauan yang bercampur juga menyengat Indra penciuman Aldo yang sensitif, dari baunya saja Aldo bisa tahu ada berapa barang dagangan yang dijual oleh para penjual.
Setiap langkah kaki Aldo, banyak penjual yang menawarkan barang dagangannya kepadanya dengan berbagai bujukan dan rayuan, namun Aldo tidak berminat untuk membelinya karena tujuannya datang ke tempat itu adalah untuk mencari geng tengkorak.
"Paman, aku dengar geng tengkorak sering datang kesini. Bisa aku tahu dari tempat mana mereka datang?" tanya Aldo.
"Hohoho, anak muda kau sangat berani untuk mencari mereka, apa kau tahu mereka itu siapa?"
"Aku tahu, mereka pembuat onar yang berbahaya, kan?" jawab Aldo.
"Jika kau sudah tahu mengapa kau mencari mereka, anak muda?" tanya paman penjual daging ayam dengan heran.
"Aku tidak akan membiarkan mereka berbuat onar lagi di kampungku!" jawab Aldo dengan tatapan mata membara.
Paman penjual tersebut sempat tertegun melihat kebulatan tekad Aldo yang sangat kuat padahal dia sepertinya belum pernah melihat Aldo di kampung tersebut.
"Mohon maaf sebelumnya, anak muda, kau bilang berasal dari kampung ini?"
Paman penjual tersebut melebarkan matanya karena terkejut, ia kemudian menepuk keningnya dan tertawa lebar.
"Hahaha, memangnya siapa yang tidak mengenal ayahmu? Semua orang di kampung ini mengenalnya, dia adalah dermawan kita!"
Paman penjual daging ayam itu kemudian bangkit dan berdiri di atas meja dagangannya lalu berteriak ke seluruh penjuru pasar.
"Hei kawan-kawan, lihatlah siapa yang ada disini! Dia adalah anak pertama Pak Sartono yang katanya sudah lama menghilang dan sekarang akhirnya pulang kembali!"
Teriakan paman tersebut menyita seluruh perhatian, bukan hanya para penjual tapi juga para pembeli.
"Benarkah dia anak Pak Sartono? Suatu keajaiban dia bisa pulang!"
"Pak Sartono adalah dermawan kita yang sangat baik, ayo kita perlakukan putranya dengan hormat!"
"Lihatlah, dia sangat tampan seperti Pak Sartono, dan aku dengar kariernya di kota Jakarta juga sangat hebat!"
__ADS_1
"Hei anak muda! Aku memiliki 7 anak gadis, kau bisa pilih salah satu di antara mereka atau membawa mereka semua juga tidak masalah!"
Aldo hanya bisa tersenyum canggung menanggapi semua orang yang sangat antusias tersebut.
*Ternyata ayah memiliki popularitas yang cukup besar di kampung* - batin Aldo.
Semua orang sangat antusias dan senang menyambut kepulangan Aldo, namun kesenangan itu tiba-tiba dirusak oleh seseorang yang datang langsung dengan kesombongannya.
"Hei, ada apa ribut-ribut disini? Apakah kalian sedang menyambut kedatangan kita? Kalau begitu terima kasih banyak, tapi kalian harus membayar uang keamanan seperti biasanya."
Seluruh pedagang maupun para pembeli langsung berubah muram ketika kedatangan orang tersebut, suasana yang awalnya ramai sontak menjadi tegang.
Dengan penasaran Aldo menoleh ke belakang dan ia menemukan seorang pria botak dengan tubuh kekar memasuki pasar dengan diikuti sekumpulan anak buahnya.
Mereka semua memiliki tato tengkorak di lengan kekar mereka yang terekspos, jadi Aldo bisa tahu kalau mereka adalah orang-orang yang disebut geng tengkorak.
"Bos, lihat! Sepertinya kita kedatangan anak baru di wilayah kita!" salah satu anak buah menunjuk Aldo, membuat orang yang di panggil bos itu menatap Aldo dengan seringai licik.
Ia mendekati Aldo dengan santainya lalu menepuk pundaknya sok akrab, "Kawan, kau adalah pendatang baru disini jadi sudah sepatutnya kau menghormati hukum yang ada."
Aldo menaikan sebelah alisnya, "Oh, hukum seperti apakah yang kau maksud?"
"Tidak banyak, kau hanya harus membayar uang keamanan setiap hari kepada kami, minimal..." Bos memegangi dagunya tampak berpikir lalu menunjukkan kelima jarinya, "Karena kau pendatang baru maka aku akan menagih 500 ribu darimu."
"500 ribu? Biasanya kau menagih berapa kepada para pedagang disini?" tanya Aldo tanpa menunjukkan rasa gentar menghadapi orang licik seperti Bos geng tengkorak.
"Oh, tidak banyak, kami biasanya menagih 100 ribu setiap harinya dan mungkin 150 ribu jika pedagang itu sedang untung banyak, tapi kalau mereka tidak memberikannya kepada kami..."
Bos tersebut sengaja menggantung kata-katanya lalu menatap para pedagang yang menggigil ketakutan satu persatu.
Tanpa diberitahupun Aldo bisa tahu jika hanya ada hal buruk yang menanti para pedagang jika tidak memberikan uang kepada para lintah darat itu.
"Kau bicara seolah jumlah uang itu tidak terlalu banyak, tapi apakah kau tahu jika dengan 100 ribu itu bisa menghidupi keluarga mereka selama 3 hari? Dan kau bilang harus membayar setiap hari, jadi itu artinya dalam 1 bulan kau sudah memeras 3 juta dari mereka."
Bos tersebut mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Aldo yang sangat menguji kesabarannya.
"Kawan, sepertinya kau berpendidikan tinggi, tapi tampaknya kau keliru dalam satu hal. Ini bukanlah pemerasan, ini adalah tagihan keamanan, tanpa kami mungkin orang-orang disini sudah terancam oleh geng lain yang lebih berbahaya." ucap si bos berusaha keras menahan amarahnya.
__ADS_1
"Oh, benarkah? Tapi dari yang aku amati kalianlah satu-satunya geng yang mengancam keselamatan di pasar ini."
Aldo kembali memanas-manasi orang di depannya itu hingga wajahnya benar-benar berubah menjadi merah karena marah.