Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System

Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System
Chp 85: Bertemu dan Akhir Laura


__ADS_3

"Tuan, teknik mengemudi itu sangat luar biasa!"


Liam langsung mengutarakan kekagumannya kepada Aldo begitu turun dari mobil, ia benar-benar terkesima dengan kemampuan mengemudi Aldo yang sudah seperti pembalap MotoGP meskipun sedikit was was dalam hatinya.


"Apa yang dikatakan Liam memang benar, tapi apakah perlu kita menggunakan helm ini ketika mengendarai mobil?" tanya Jack sedikit kebingungan karena Aldo menyuruh mereka untuk menggunakan helm meskipun dalam mobil.


"Itu untuk keselamatan, tolong jangan di lepas." jawab Aldo tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Laura yang masih tergeletak di aspal.


Bagaimanapun musuh mereka bisa membunuh seseorang hanya dengan sekali lihat, jadi helm sangat penting bagi mereka untuk menyembunyikan wajah.


"Aldo?" ujar Novita sambil berusaha keras untuk berdiri.


Ia menatap Aldo dengan sedikit kesedihan di matanya, meskipun tidak dapat melihat wajahnya namun Novita yakin jika orang itu adalah Aldo.


Akhirnya aku menemukanmu - ucap Aldo dalam hatinya.


Ia menunjukkan senyuman kasih sayang yang hanya dia tunjukkan di hadapan Ashlee dan Katharine, tidak bisa dipungkiri jika ia sangat merindukan wanita di depannya itu.


Tentu saja Novita tidak melihat senyuman itu.


Perasaan yang sudah terpendam selama 10 tahun akhirnya kembali muncul ke permukaan hati Novita, itu adalah perasaan cinta dan kasih sayang.


Namun, Novita berusaha keras untuk tidak menunjukkan perasaannya dengan jelas di depan Aldo lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu 10 tahun yang lalu.


Tiba-tiba sebuah pergerakan terjadi di depan mereka dan membuat mereka berempat menjadi waspada.


Di depan sana, terlihat Laura yang kembali bangkit setelah di tabrak dengan sangat keras hingga mematahkan beberapa bagian tubuhnya. Laura bangkit dengan tertatih-tatih karena tulang kaki, punggung, dan tangannya patah.


Krak!


Krak!


Krak!


Wanita itu meregangkan tangannya bersamaan dengan suara tulang yang bergesekan terdengar sangat nyring di telinga mereka berempat.


Apa yang terjadi di depan mereka sungguh tidak masuk di akal, tulang-tulang Laura yang telah patah itu telah kembali tersambung dengan beberapa gerakannya saja.


"Apa aku sedang bermimpi..." gumam Liam tidak pernah.


"Ini bukan mimpi, semuanya bersiap! Novita, tutup wajahmu dengan syal dan masuk ke dalam mobil!" Aldo memberikan perintah kepada semuanya.


Novita menutupi sebagian wajahnya dengan syal lalu masuk ke dalam mobil untuk berlindung, dia masih bisa melihat apa yang terjadi di depannya dari kaca mobil yang sudah pecah tersebut.


Liam, Jack, dan Aldo menggenggam pistol di tangannya dan menodongkannya ke arah Novita sambil tetap waspada.


"Kenapa kau menggunakan helm itu, Aldo? Tenang saja karena aku tidak akan membunuhmu. Yah ... meskipun kau berniat membunuhku..."


Laura berkata seolah tidak pernah terjadi apa-apa, iblis neraka yang menemaninya itu benar-benar sudah menyembuhkan tubuhnya.


"Laura, aku tidak tahu yang terjadi padamu, tapi apa yang telah kau lakukan sudah tidak bisa dimaafkan. Aku akan menghukummu atas kejahatan yang telah kau lakukan, juga atas apa yang telah kau lakukan kepada Ashlee..." jawab Aldo.

__ADS_1


Wajah Laura sontak berubah ketika melihat Aldo sepertinya sangat perhatian terhadap Ashlee.


"Kau mencintainya?"


"Tentu."


"Lalu apa kau mencintaiku?"


Aldo berpikir sejenak sambil terus menatap mata Laura, lalu dengan dingin Aldo berkata, "Tidak."


Laura tertegun, "Kenapa?"


Hanya satu kalimat itu yang terbesit di dalam kepala Laura setelah mengalami kekecewaan karena jawaban Aldo.


"Tidak perlu ditanyakan, bukankah sudah jelas? Kau telah berbuat kejahatan dengan kekuatan yang kau dapatkan, kau membunuh orang-orang yang tidak bersalah dengan kekuatan itu."


"Aku hanya membantumu Aldo. Aku hanya memberikan hukuman kepada para wanita yang dulu mematahkan hatimu."


"Aku tidak butuh bantuanmu, lagipula aku sudah melupakan mereka semua. Sekarang karenamu aku harus kembali mengungkit luka lama."


Perkataan Aldo kembali melukai perasaan Laura hingga ke dasar hatinya yang paling dalam.


Ia ingin menangis dan bersedih namun tidak bisa seolah-olah air matanya sudah surut dalam kesedihan sebelumnya, ketika dia harus merasakan sakitnya melihat kebahagiaan Aldo bersama Ashlee dan Katharine.


"Sudah cukup basa-basinya, bunuh dia sekarang juga. Kau sudah mencintainya dengan tulus, tapi dia mencampakkanmu begitu saja!"


Bisikan iblis di telinga Laura kembali terdengar, iblis tersebut mencoba untuk mengendalikan pikiran wanita itu.


Aldo juga menyadari hal itu, melalui mata batinnya ia dapat melihat aura iblis mulai menyelimuti Laura sedikit demi sedikit.


Liam dan Jack yang dari tadi sudah kebingungan tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


"Tuan, apa yang kau maksud?"


"Jangan banyak bertanya dan fokuskan pandangan kalian!" perintah Aldo menghiraukan pertanyaan Liam.


Di depan mereka, kini Laura menunjukkan seringai mengerikan seolah sedang menatap Aldo dan yang lainnya sebagai mangsanya.


Matanya kembali berubah berwarna merah dengan wajahnya yang memucat, angin berhembus kencang di sekitaran Laura yang juga menghempaskan rambutnya hingga tergerai ke atas.


Tubuh Liam dan Jack sontak gemetaran menyaksikan hal itu.


"Apa ini.. ilmu hitam?"


"Apa ilmu hitam benar-benar ada di dunia ini?"


Selagi mereka berdua bertanya-tanya, Laura tiba-tiba mengeluarkan tawa yang memekakkan telinga.


"Hahaha, aku akan menunjukkan rasa cintaku kepadamu, Aldo! Biarkan aku membunuhmu dan akan ku cintai jasadmu sepenuh hatiku."


"Kau sudah gila." jawab Aldo acuh.

__ADS_1


"Kaulah yang membuatku seperti ini!"


"Tembak dia!" Aldo memerintahkan Liam dan Jack untuk menembak Laura sebelum wanita itu bergerak.


Tanpa pikir panjang mereka berdua menarik pelatuk di pistol mereka yang langsung menembakkan peluru ke arah Laura. Namun sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi, peluru tersebut menjadi butiran debu sebelum menyentuh tubuh Laura.


"I- ini mustahil!" Liam dan Jack sangat tercengang.


Dengan sekali hentakan kaki yang juga menghancurkan aspal, Laura melesat ke arah Liam dan Jack dengan niat membunuh yang pekat.


Karena tubuh mereka berdua gemetaran, mereka tidak sempat menghindar dan malah terjatuh ke tanah.


Beruntung dalam sepersekian detik itu Aldo berdiri di depan mereka sambil menodongkan pistolnya.


Dor!


Satu tembakan di lepaskan, Laura tidak memperdulikan tembakan itu dan beranggapan jika peluru tersebut akan hancur begitu dekat dengan tubuhnya.


Namun ternyata tidak.


Jleb!


Peluru tersebut mendarat tepat di dada sebelah kiri Laura, itu menembus tubuhnya hingga mengenai jantungnya.


Pergerakan Laura sontak berhenti, mulutnya memuntahkan darah segar tak lama kemudian.


"Apa yang terjadi ... Xander?" tanya Laura lirih, ia tiba-tiba berbicara sendiri.


Tubuhnya perlahan-lahan melemah dan luka di area dada sebelah kirinya mulai terkikis bagaikan patung yang terbuat dari pasir.


Sebenarnya peluru yang di tembakan oleh Aldo bukanlah peluru biasa melainkan peluru yang sudah dia selimuti menggunakan aura emas miliknya.


"Sulit dipercaya ... aura emas, dia sudah memilikinya..."


"Aura emas, apa maksudmu?" tanya Laura panik.


Semakin lama kondisi tubuhnya semakin memburuk, bahkan sebagian tubuhnya sudah berubah menjadi debu.


"Itu adalah Aura sang Raja, aku tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatanku saat ini, begitupun denganmu ... aku harus pergi sebelum terbunuh..."


"Tunggu, kau akan pergi meninggalkanku? Jangan bercanda!"


Laura benar-benar putus asa ketika kematian sudah di depan matanya dan dia akan ditinggalkan begitu saja oleh orang yang telah memberinya kekuatan.


Iblis neraka yang bernama Xander itu tidak menghiraukan Laura, lagipula dari awal dia tidak memiliki hubungan istimewa apapun dengan Laura.


Ia hanya memilihnya hanya karena Laura adalah orang dipenuhi dengan dendam dan keputusasaan, itu saja.


"Sulit percaya, Anda bisa membunuhnya hanya dengan satu tembakan?" Liam benar-benar tidak percaya, begitupun dengan Jack.


"Sepertinya ini adalah perpisahan kita, Laura. Senang pernah mengenalmu."

__ADS_1


Aldo sedikit kasihan dengan yang terjadi terhadap Laura, bagaimanapun juga ia adalah korban dari kelicikan seorang iblis.


Iblis tersebut hanya menggunakan Laura sebagai alatnya dan membuangnya begitu saja setelah tidak berguna...


__ADS_2