Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System

Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System
Chp 102: Jembatan Gantung


__ADS_3

Para polisi yang datang untuk menyelidiki keributan di pasar dibuat sangat kebingungan dengan tingkah para pedagang dan pembeli, mereka hanya bisa menggelengkan kepala dan menganggap mereka semua sudah gila.


Mereka hanya memberikan satu petunjuk tentang kepergian geng tengkorak, dan itu adalah jembatan gantung.


Tanpa berlama-lama lagi mereka langsung berpergian ke jembatan gantung yang menghubungkan kota Surabaya dengan kota sebelahnya.


Jembatan tersebut cukup besar dan sudah menjadi sarana penyebrangan selama bertahun-tahun dengan banyaknya kendaraan yang lewat, namun sekarang ada kemacetan total di jembatan tersebut.


Para polisi yang menuju kesana sempat kebingungan dengan kejadian itu, mereka semua keras untuk berjalan kaki ke tengah jembatan yang dikiranya sumber kemacetan.


Polisi yang menjabat sebagai kapten itu sangat terkejut ketika melihat sesuatu yang menjadi penyebab kemacetan total di jembatan gantung, para bawahannya juga tak kalah terkejutnya.


"Apa-apaan ini ... siapa yang melakukan semua ini?" gumam sang kapten.


Sekarang, di depan mereka terlihat 20 anggota geng tengkorak yang dalam posisi digantung tepat di atas jembatan dengan ketinggian lebih dari 50 meter, mereka digantung dengan posisi kaki terikat dan membuat kepala mereka menjuntai ke bawah.


Mereka semua sudah sadarkan diri dan sangat terkejut dengan keadaan mereka yang memprihatinkan, mereka semua sangat ketakutan ketika menoleh ke bawah. Bisa dipastikan jika mereka akan langsung mati jika terjatuh dari ketinggian seperti itu.


"T- tolong kami!!"


"Siapapun tolong kami!"


"Kami tidak ingin mati!"


Teriakkan para preman yang tidak tahu diri itu bergema di atas jembatan gantung dan dapat di dengar oleh semua orang, mengundang tatapan semua orang, bahkan beberapa dari mereka merekam kejadian itu.


Sang kapten merasa jika hal ini tidak pantas di pertontonkan, jadi ia menyuruh para bawahannya untuk mengevakuasi semua orang yang ada ada di sekitaran jembatan sebelum pelakunya tertangkap.


Sekarang tidak ada masyarakat lagi yang menyaksikan kejadian itu dan hanya menyisakan kapten polisi, para bawahannya, dan para preman yang tengah digantung.


Dengan menggunakan pengeras suara, sang kapten bertanya, "Bisakah kalian memberitahu kami siapa yang telah membuat kalian dalam keadaan seperti ini?"


"P- pria itu! Aku ingat betul jika pria itu yang melakukannya!" salah satu preman menjawab dengan suara serak.


Kapten polisi mengerutkan keningnya, "Siapa yang kau maksud?"


"K- kami tidak tahu siapa dia, t- tapi dia memiliki kemampuan bertarung yang sangat hebat dan bisa mengalahkan kami dengan mudah. Ketika kami sadarkan diri, kami sudah berada dalam situasi seperti ini, kumohon selamatkan kami ..."

__ADS_1


Sang kapten tampak berpikir sejenak sebelum dia menggelengkan kepalanya ringan.


"Tidak ada cara untuk menyelamatkan mereka..." gumamnya pelan sehingga tidak dapat terdengar oleh para preman yang tengah digantung secara terbalik itu.


"K- kapten, ada orang di atas sana!" kata salah satu polisi sambil menunjuk ke bagian atas jembatan berwarna merah tersebut.


Sang kapten menyipitkan matanya dan benar saja ia melihat ada siluet seseorang di atas sana, "Sorot orang itu!" perintah kapten.


Dengan cepat para polisi mengambil senter dan menyoroti siluet manusia yang berdiri di atas jembatan dengan santainya.


Alhasil mereka bisa melihat pria tersebut yang memiliki paras sangat tampan jika dibandingkan dengan pria lainnya. Sang kapten berpikir jika pria itulah yang menyebabkan semua ini terjadi.


Namun yang membuatnya geleng-geleng kepala adalah orang bagaimana pria itu bisa menaiki jembatan setinggi 50 meter itu tanpa satupun alat pengaman di tubuhnya?


Disisi lain Aldo yang melihat sekumpulan polisi dari atas seolah sedang melihat kumpulan semut di bawahnya, sedikit tersenyum licik.


Aldo menggunakan kemampuan aura raja miliknya untuk menggantung ke-20 preman tersebut di atas jembatan.


Dan tali yang digunakan untuk menggantung mereka bukanlah tali biasa, melainkan tali yang telah diselimuti oleh aura miliknya sehingga dia bisa mengendalikan tali tersebut dengan mudah.


"Sepertinya kau takut ketinggian, Bos?" ejek Aldo sambil menatap ke bawah kakinya.


Namun sepertinya dia sangat ketakutan terhadap ketinggian sehingga memeluk bagian atas jembatan dengan erat-erat.


"K-kumohon, t- turunkan aku..." ucapnya penuh ketakutan, Aldo bahkan bisa melihat air kencing di antara selangk*gannya.


"Apa kau sanggup berenang lautan yang deras itu? Atau kau ingin aku melemparmu ke jalan aspal?" tanya Aldo santai memberikan pria menyedihkan itu dua pilihan yang pasti bisa membunuhnya.


Tubuhnya menegang sehingga tidak bisa menanggapi kata-kata Aldo dengan baik.


"Kalau begitu aku anggap kau ingin di atas sini lebih lama lagi." ujar Aldo sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke arah sang kapten polisi.


"Perhatian, apa yang kau perbuat adalah tindakan ilegal, kau telah menyebab kemacetan total dan menganiaya 20 orang yang tidak bersalah, angkat tanganmu dan serahkan dirimu ke kantor polisi segera!"


Sang kapten polisi memberikan sebuah peringatan kepada Aldo, namun bukannya takut, Aldo malah tertawa mendengar ucapan kapten tersebut.


"Kau sebut sekumpulan orang yang telah meneror masyarakat tanpa belas kasihan sebagai orang yang tidak bersalah? Apakah otakmu sudah kacau karena terlalu lama menjabat menjadi kapten?" cibir Aldo, membuat sang kapten serta seluruh bawahannya emosi.

__ADS_1


"Ini adalah peringatan terakhir, menyerah atau mati!"


Sang kapten memberikan isyarat kepada seluruh bawahannya untuk bersiaga dalam posisi menembak, mereka semua menodongkan pistolnya kepada Aldo dengan akurasi yang sangat tepat.


Aldo sama sekali tidak bergeming, "Oh ... tapi jangan lupa kalau aku punya sandera disini."


Dengan kasar, Aldo meraih belakang leher si bos geng tengkorak dan mengangkatnya sehingga bisa dilihat oleh semua orang, ia juga mengancam mereka dengan ingin menjatuhkan si bos yang sudah ketakutan setengah mati itu.


Sang kapten terdiam membeku dengan keringat dingin yang mencucur di dahinya.


Sekali lagi, Aldo menyeringai merasakan kemenangan, "Kenapa kau terlihat sangat takut jika orang ini mati padahal ia hanyalah seorang preman rendahan? Dan selama ini kau selalu memihak mereka seolah-olah mereka ini adalah seorang pahlawan. Tapi nyatanya mereka ini tidak lebih dari serangga busuk."


Sang kapten masih terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa.


Aldo tahu ada yang salah diantara mereka berdua, jadi dia akan mencoba untuk bernegosiasi dengannya agar bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Bagaimana kalau begini, beritahu dimana keberadaan orang yang menyewamu dan geng tengkorak kepadaku, dengan begitu orang-orang ini akan aku lepaskan."


Sang kapten tampak berpikir, sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan keselamatan orang-orang dari geng tengkorak. Hanya saja dia tidak ingin rahasia yang diketahui oleh geng tersebut tersebar luas.


Rahasia yang dimaksud disini adalah dirinya yang disuap oleh orang yang lebih berkuasa darinya, jika para petinggi kepolisian tahu hal ini maka dapat dipastikan jika hidupnya tidak akan damai lagi.


Dia juga tidak bisa melepaskan sandera yang digantung dengan bantuan mobil pemadam kebakaran karena jalanan yang sedang macet.


Jika menunggu sampai besok maka dapat dipastikan jika orang-orang ini akan mati karena digantung secara terbalik, membuat aliran darah mereka menjadi kacau.


Sang kapten berpikir untuk membiarkan semua geng tengkorak mati agar rahasianya tidak terbongkar, namun apa kata orang-orang? Bahwa seorang kapten membiarkan sandera mati dengan sengaja? Itu malah membuat reputasinya hancur!


"... Aku terima tawaranmu!" ucap sang kapten setelah mempertimbangkannya dengan baik-baik.


Aldo tersenyum, dan dengan sekali hempasan tangannya, orang-orang yang tergantung di atas jembatan langsung terlempar ke aliran laut yang cukup deras di malam itu.


Sang kapten sangat terkejut sekaligus panik.


"Selamatkan para sandera, gunakan pelampung dan alat apapun yang ada!" perintahnya cepat.


Ia kembali menoleh ke atas jembatan, namun tidak ada siapapun disana.

__ADS_1


Di tengah kebingungannya karena kehilangan Aldo, seseorang tiba-tiba mendekap mulutnya dari belakang.


__ADS_2