Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System

Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System
Chp 124: Aura Netral


__ADS_3

Sementara itu di mansion Aldo, terlihat Exel yang tengah berjalan memasuki ruang tamu mansion.


Tidak ada siapapun disana, hanya kesunyian ditambah suara televisi yang masih menyala pertanda tempat itu baru ditinggalkan.


Exel menyeringai, "Mari kita lihat sampai mana kalian bisa bersembunyi."


Sama seperti Zack, Exel memiliki insting yang sangat kuat ditambah kemampuan melihat jejak aura yang ditinggalkan.


Wanita itu bisa melihat sidik jari dan jejak kaki dengan sangat jelas karena masing-masing jejak itu meninggalkan aura.


Exel mengikuti aura yang ditinggalkan di lantai hingga dirinya sampai di sebuah kamar.


Exel kembali menyeringai ketika menyadari ada hawa keberadaan di balik pintu kamar itu, segera ia memunculkan kembali kuku kuku tajamnya sambil memutar gagang pintu.


"Kau tidak akan bisa bersembunyi dariku, gadis kecil..." ucap Exel kecil.


Di dalam kamar tersebut, terlihat seorang wanita yang berdiri sambil mengangkat sebuah kursi kayu.


"Siapa yang kau panggil gadis kecil, dasar makhluk aneh!!" teriak Katharine lalu memukul kepala Exel hingga kursi yang digunakannya hancur berkeping-keping.


Exel tidak bergerak sedikitpun ketika kursi itu menghantam dirinya dengan keras, baginya serangan Katharine tidak lebih dari gigitan semut.


Namun bukan itu tujuan Katharine yang sebenarnya, "Sekarang, Novita!!"


Novita muncul di belakang Katharine sambil mengarahkan tangan kanannya ke arah Exel.


Novita mengingat ajaran Aldo bahwa untuk menggunakan dan mengubah aura menjadi sebuah serangan elemen, ia harus fokus dan tenang saat mengalirkan auranya.


Maka dari itu, untuk pertama kalinya Novita mempraktekkan ajaran Aldo tersebut.


"Penjara besi!" teriak Novita bersamaan dengan munculnya besi besi panjang dan runcing dari lantai yang dipijak oleh Exel.


Penjara besi runcing itu mengelilingi tubuh Exel sehingga ia benar-benar terkurung di dalamnya, namun hanya dengan itu belum bisa mengurung Exel sepenuhnya.


"Tidak kusangka kau bisa menggunakan sihir juga, tapi sihir lemah ini mustahil bisa mengurungku!" Teriak Exel.


Ia ingin menghancurkan penjara besi buatan Novita dengan satu kali tebasan kuku tajamnya, namun hal itu segera dicegah oleh Maria yang muncul dari kamar lain.


"Duri penyiksa!" ucap Maria dan seketika penjara besi yang mengurung Exel memunculkan ribuan duri duri panjang yang langsung menghujam tubuh Exel.


"Akh!!" jerit Maria ketika seluruh jengkal tubuhnya tertusuk hingga tembus dan mengunci pergerakannya.


Matanya melotot ke arah Maria sambil menggerakkan giginya, "Kau ... makhluk seperti apa kau sebenarnya..."


Maria terdiam, ia tidak menyangka wanita di depannya bisa menebak jika ia bukanlah manusia.


Exel jelas bisa merasakan jika Maria bukanlah manusia karena aura yang dia keluarkan bukanlah aura kehidupan, melainkan aura kematian.


"Kakak, kau juga bisa-"


"Akan ku jelaskan nanti, sekarang lebih baik kita segera pergi karena sepertinya penjara itu tidak bisa menahannya lebih lama lagi." kata Maria memotong ucapan Melody.

__ADS_1


Ia memanggil Novita dan Katharine yang sempat berpencar tadi lalu kembali melanjutkan pelarian mereka.


'Sial! Kenapa dia ada disini? Apakah Leon gagal menghentikannya?' batin Maria bertanya-tanya.


Ia berpikir bahwa orang sekuat Leon tidak mungkin bisa dikalahkan dengan mudah, tapi melihat musuhnya juga sepertinya sangat kuat.


Ia bisa merasakan jika penjara yang mengurung Exel perlahan-lahan mulai diserap auranya, tidak, Exel tidak terlihat menyerapnya, melainkan memakannya!


"Apa semuanya sudah lengkap? Apa tidak ada yang tertinggal?" tanya Maria memastikan.


Novita mulai tersadar akan sesuatu, "Dimana Alex?!"


"Apa?! Kau tidak bersamanya?" tanya Maria juga terkejut.


Novita menggelengkan kepalanya, saat ia mendengar pemberitahuan tentang adanya penyerangan musuh, ia langsung bergegas mencari Alex di kamarnya.


Namun sebelum ia bisa sampai disana, Exel sudah muncul yang memaksanya untuk bersembunyi di kamar bersama dengan Katharine.


"Kalian bergegaslah dulu, biar aku yang mencari Alex." ucap Maria.


"Tapi-"


"Tenanglah Melody, walaupun begini sebenarnya aku sangat kuat."


Melody mengangguk, yang terpenting sekarang adalah keselamatan Alex, maka dari itu ia menaruh harapan yang besar kepada kakaknya.


"Berjanjilah kalian berdua akan kembali dengan selamat." ucap Melody.


Maria mengangguk, "Hm, sudah pasti."


Setidaknya tanpa mereka, Maria bisa mengerahkan seluruh kemampuannya tanpa khawatir dicurigai oleh adiknya.


"Baiklah, tidak kusangka kau bisa lolos dari penjara itu secepat ini." ucap Maria menatap ke kegelapan lorong mansion.


Perlahan mulai terdengar suara langkah kaki yang ringan namun penuh dengan aura kematian.


Tak berselang lama kemudian, sosok Exel terlihat dengan tubuh tanpa luka sama sekali.


"Kau belum menjawab pertanyaanku ... sebenarnya kau itu makhluk apa?" tanya Exel benar-benar penasaran dengan sosok Maria.


Ini adalah pertama kalinya bagi Exel merasakan aura yang bukan aura kehidupan, itu adalah aura yang berbeda dengan aura kematian.


Secara garis besar ada dua jenis aura di dunia ini yaitu aura kehidupan dan aura kematian, aura kehidupan dimiliki oleh manusia sementara aura kematian dimiliki oleh para iblis dan setan.


Namun yang dimiliki maria sangat berbeda, itu bukanlah aura kehidupan ataupun aura kematian, melainkan aura yang berada di tengah-tengah kedua aura itu.


"Aku adalah makhluk yang sudah pernah mati namun dibangkitkan kembali olehnya, aku bukanlah manusia ataupun roh, melainkan makhluk yang jauh lebih kompleks daripada keduanya." jelas Maria.


Maria kemudian membuat sebuah bola merah yang sedikit mirip dengan sebuah planet berwarna merah di tangan kirinya, sementara di tangan kanannya ia membuat bola putih yang sangat murni.


"Dan auraku ini ... tuanku menyebutnya aura netral, aura dengan kekuatan yang tidak terikat dengan hukum alam."

__ADS_1


Aura yang aneh sekaligus unik itu memancarkan sesuatu yang sangat berbeda sehingga membuat Exel sangat tertarik untuk memilikinya.


Maria menatap Exel, "Sepertinya kau sangat menginginkan aura ini, kalau begitu begitu ambil sendiri kalau kau bisa."


Maria meremehkan Exel dan memancing emosinya, provokasi itu sukses membuat Exel menjadi murka hingga ia menyiapkan serangan yang serius kali ini.


"Jangan meremehkanku dasar ******!!" teriak Exel lalu melesat dengan kecepatan super.


Ecel melancarkan cakaran yang dapat merobek daging dan menghancurkan tulang, namun serangan itu tidak mengenai Maria karena kelincahannya dalam menghindar.


Exel melakukan serangkaian serangan yang sama kepada Maria, namun semuanya dapat dihindari sehingga menimbulkan kerusakan yang besar pada lantai dan dinding mansion.


Merasa serangannya sia sia, Exel mengubah pola serangannya dengan menciptakan tanaman jalar yang melilit tubuh Maria.


"Sekarang kau tidak bisa menghindar lagi!" ujar Exel segera ingin merobek tubuh Mari dengan kuku kuku tajamnya.


Namun tubuh Maria berubah menjadi wujud roh dalam sekejap mata bahkan sebelum serangan itu mengenai tubuhnya.


Roh yang tidak memiliki tubuh fisik itu berhasil lepas dari tanaman jalar milik Exel.


Exel sangat terkejut melihat hal itu, ia baru tersadar ketika Maria berada tepat di belakang tubuhnya.


"Seharusnya kau menjaga punggungmu dari musuh." ucap Maria dengan dingin.


"Kau!" Exel berbalik dengan cepat dan kembali ingin menyerang Maria, namun ia merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhnya.


Ia melihat ke arah Maria sekali lagi untuk memastikan, dan benar saja di tangan Maria kini terdapat jantung yang masih berdetak kencang.


Itu adalah jantung milik Exel! Maria menggunakan kesempatannya saat sedang dalam wujud roh untuk mengambil jantungnya dari dalam dan tanpa harus melubangi tubuhnya.


"Kau bagaimana bisa..." kata Exel sebelum jatuh dan tewas.


Maria membuang jantung Exel yang sudah tidak berdetak lagi, ia menatap Exel dengan dingin.


"Dia memang kuat, jika saja aku tidak memiliki wujud roh maka mungkin aku sudah mati sekarang." gumamnya.


Walaupun sebenarnya Maria bukanlah manusia, tapi jika wujud fisiknya terluka maka akan membutuhkan waktu untuk sembuh.


Maria ingat jika ia harus menemukan Alex, dan mungkin ia harus membatalkan pelarian karena musuhnya telah tiada.


Tepat ketika Maria berbalik, ternyata disana sudah ada Alex yang entah dari kapan ia menonton pertarungannya.


"Alex, syukurlah aku menemukanmu!" kata Maria lalu berlari menghampiri Alex.


"A- aku tidak bisa menemukan ibu..." ucap Alex sambil menitihkan air mata.


Ia sangat ketakutan karena listrik tiba-tiba padam dan membuat seisi mansion menjadi gelap gulita, selain itu ia tidak bisa menemukan Novita dan yang lainnya.


"Tenanglah, ibumu ada di tempat yang aman, ayo akan kuantar kau kesana." ucap Maria sambil menggenggam tangan Alex.


Alex mengangguk, namun dengan segera matanya membelalak seolah melihat sesuatu yang mengerikan.

__ADS_1


"Alex, ada apa?"


"Dibelakangmu!!!"


__ADS_2