
Tidak hanya sekali, pisau wanita itu menembus pintu dan merobeknya berkali-kali.
Novita merasa jika hidupnya benar-benar di terror oleh sosok mengerikan yang bisa menghancurkan baja, di tengah ketakutannya ia mulai berlari menjauhi pintu belakang yang sebentar lagi akan hancur.
Ia kembali ke kantor tempat dia bekerja sebelumnya, tidak lupa Novita mengunci semua pintu yang dilaluinya dan menambahkan barang-barang berat seperti meja dan lemari untuk mengganjal pintu.
Mungkin wanita misterius yang menerornya itu bisa menghancurkan pintu-pintu tersebut, tapi setidaknya Novita memiliki waktu lebih untuk menghubungi seseorang melalui telepon yang tersedia di kantor.
Pertama-tama ia menelpon pihak kepolisian, "Halo, aku dari kantor berita lokal, seorang wanita bersenjata sepertinya ingin membunuhku, tidak, dia memang benar-benar ingin membunuhku. Bisakah kau mengirimkan bantuan kesini?"
Novita melaporkan situasinya dengan panik, namun jawaban petugas polisi di sebrang sana sungguh membuat Novita naik darah.
"Mohon maaf Nona, kami sedang dalam jam istirahat sekarang. Tolong hubungi kami lain kali."
"Apa kalian sudah tidak waras?! Seorang pembunuh dengan pisau dapur yang dapat merobek pintu baja bagaikan sepotong keju ingin membunuhku, dan kalian bilang sedang istirahat? Apa kalian benar-benar polisi?!" balas Novita marah.
"Sepertinya anda salah menghubungi seseorang nona, yang anda butuhkan bukan polisi melainkan dokter. Tunggu sebentar, saya akan menghubungkan anda dengan dokter spesialis kejiwaan-"
"Persetan dengan kalian semua!" teriak Novita lalu memutus sambungan telepon.
Novita sungguh tidak habis pikir, apakah semua polisi di negara ini adalah pecundang? Mereka sama sekali tidak menghargai panggilan darurat darinya dan menganggapnya sebagai orang gila.
Novita tahu dengan jelas jika mereka sengaja melakukannya mengingat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, dan mereka malas untuk bekerja di jam segini...
"Aku harus menelpon orang lain." Novita memutar otaknya, berpikir siapa yang harus dia telpon.
Saat itu juga ia mengingat seniornya di tempat kerja, walaupun baru mengenalnya selama beberapa hari tapi dia tahu jika seniornya itu orang yang baik. Setidaknya dia tidak akan mengabaikan panggilan teleponnya.
Namun ketika Novita hendak menghubunginya, listrik tiba-tiba padam yang juga membuat teleponnya tidak berfungsi.
"Sial, sepertinya dia memadamkan listriknya..." lirih Novita.
Disisi lain, Laura telah berhasil memasuki kantor Novita dan memadamkan listrik di seluruh gedung kantor tersebut. Dalam sekejap kantor tersebut menjadi gelap gulita, namun itu tidak menghalangi penglihatan Laura sama sekali.
Sekarang ia memiliki mata iblis Neraka, mata menyeramkan berwarna merah darah seperti mata predator, dengan mata itu Laura dapat membunuh seseorang hanya dengan melihat wajahnya.
Namun ia memiliki satu kelemahan yaitu tidak dapat membunuh seseorang jika orang tersebut menutupi wajahnya.
Laura harus melihat wajah mereka secara langsung agar mata iblis dapat membunuh targetnya, dia juga tidak bisa menggunakan foto ataupun gambar untuk membunuh targetnya.
Oleh karena itu selama beberapa hari ini Laura telah pergi ke seluruh penjuru kota untuk membunuh para targetnya, yaitu mantan-mantan Aldo.
__ADS_1
Novita adalah target terakhirnya di kota Jakarta sebelum ia akan pergi ke kota lain untuk melakukan pembantaian yang sama.
"Biar kulihat kemana kau akan bersembunyi..." gumam Laura dengan seringai mengerikan.
Brak...
Dengan sekali tendangan, Laura berhasil menghancurkan pintu yang telah dikunci oleh Novita dengan beberapa meja dan lemari sebagai pengganjalnya.
Iblis yang menemaninya tidak hanya memberikannya mata iblis namun juga kekuatan yang sangat besar.
Ketika Laura melakukan serangan, bagian tubuhnya itu akan diselimuti oleh aura iblis dan memperkuat serangannya.
Begitupun dengan pisau dapur yang Laura gunakan akan diselimuti oleh aura iblis dan memperkuatnya.
"Jadi ... kemana kau bersembunyi, Novita..." ucap Laura dengan suara yang dapat menggetarkan jiwa pendengarnya, suaranya terasa sangat dingin dan hampa.
Mata merah darah Laura menelusuri ruangan kantor yang penuh dengan komputer dan alat-alat komunikasi lainnya hingga ia melihat salah satu telepon tidak pada posisinya.
Jadi Laura pasti berasumsi jika Novita baru saja menggunakan telepon berjenis telepon listrik tersebut.
"Aku tahu kau ada disini, keluarlah atau aku akan memberikanmu kematian yang menyakitkan..." ucap Laura lagi, namun tidak ada jawaban yang meresponnya.
Ia kemudian berjalan menghampiri sebuah lemari besar yang di duga tempat dimana Novita bersembunyi, itu bukan hanya dugaan karena Laura bisa merasakan suara nafas di dalam sana.
Laura kembali menyeringai sambil mengangkat pisaunya tinggi-tinggi dengan niat untuk menikam Novita dari luar lemari.
Namun-
Brak!!
Lemari tiba-tiba terbuka dengan keras dengan Novita di dalamnya membawa sebuah tongkat baseball.
"Rasakan ini!"
Bugh!
Dengan segenap kekuatannya, Novita memukul mundur Laura hingga membuat perempuan itu terjungkal ke belakang dan jatuh tepat di meja kerja Novita. Meja itu kemudian hancur berantakan.
Entah kenapa Novita merasa puas ketika berhasil mendaratkan pukulan keras kepada wanita yang menerornya tersebut. Tapi bukan saatnya untuk itu.
"Aku harus pergi." Novita kemudian berlari ke pintu keluar utama, ia berniat pergi sejauh-jauhnya dari kantor tersebut dan berharap tidak akan bisa dikejar lagi.
__ADS_1
Ketika Novita telah keluar dari kantornya, ia merasa sudah aman. Namun dia masih berlari hingga sampai di persimpangan jalan raya.
Malam itu jalanan sangat sepi seperti malam-malam biasanya, tidak ada satupun kendaraan yang lewat.
"Hah ... Hah ... Hah ..."
Novita mengatur nafasnya sambil berdiri di tengah jalan raya, dia sangat berharap ada kendaraan yang lewat agar dia bisa menumpang.
Krek!
Suara langkah kaki yang menginjak ranting pohon terdengar di sebelah Novita, ia berbalik dan melihat Laura yang sudah berada tepat di belakangnya.
Tidak membiarkan Novita bereaksi, dengan lincah Laura menerjang Novita dan menahan tubuhnya di aspal. Karena kejadian itu juga membuat syal yang menutupi wajah Novita terbuka.
"Wajah yang sangat cantik ... tidak heran jika Aldo mencintaimu..." ujar Laura sambil membelai pipi Novita.
Novita tertegun mendengar nama Aldo disebutkan oleh Laura, namun ia tidak tahu harus berkata apa, entah apakah dia harus menanggapi kata-kata Laura, yang pasti Novita tetap diam ketika Laura membelai wajahnya lebih jauh lagi.
"Mengingat jika kau itu adalah pacar pertama Aldo, aku akan memberikanmu kematian yang spesial." ucap Laura dingin.
Ia mengangkat pisaunya lalu menempelkan bagian tumpulnya ke pipi Novita yang lembut berisi.
Dingin, itulah yang Novita rasakan ketika pisau dapur berwarna putih bersih itu menempel di pipinya.
"Tidak..." ujar Novita lirih.
Ia benar-benar kehilangan tenaga untuk melakukan perlawanan.
Laura tersenyum melihat ketidakberdayaan Novita.
"Tenang saja, aku akan melakukannya dengan perlahan..." tambah Laura bersiap untuk menguliti wajah cantik Novita.
Namun tiba-tiba, sorot lampu yang sangat terang menyoroti tubuh mereka berdua. Sorot lampu tersebut berasal dari sebuah mobil polisi yang melaju dengan kencang ke arah mereka.
Dalam sekejap mata mobil itu menabrak tubuh Laura dengan sangat keras hingga menghancurkan kap depan mobil tersebut beserta kaca depannya. Namun mobil itu berhenti tepat sebelum melindas Novita yang tergeletak di jalanan.
Tubuh Laura terpental jauh ke depan dengan beberapa tulangnya yang patah.
Sungguh kemampuan mengemudi yang sangat profesional...
Dari dalam mobil turunlah 3 orang pria yang mengenakan helm motor full face untuk menutupi wajah mereka.
__ADS_1