
"Apa kau masih memikirkan kejadian itu, sayang?"
Dengan penuh perhatian, Bu Siska berbicara kepada Myra dan berharap agar anak gadisnya itu bisa melupakan kejadian memalukan sebelumnya.
Myra tidak menjawab melainkan hanya mengotak-atik makanan di piringnya dengan pikiran kosong.
"Sayang?" panggil Bu Siska sekali lagi.
Kali ini Myra berhenti dan menatap mata ibunya dengan mata lembab pertanda jika dirinya baru saja menangis, benar, dia seharian ini dia memang menangisi kepergian Aldo dari sisinya.
"Apa aku kurang dewasa bu sampai-sampai ibu dan ayah tidak merestui hubunganku dengan Om Aldo?" tanya Myra.
"Bukannya kita tidak merestuinya, tapi kau belum cukup umur. Tolong mengertilah Myra..." balas Bu Siska di barengi dengan anggukan setuju Pak Suman.
Mereka berdua dengan senang hati akan menjodohkan Myra dengan orang yang telah membantu keluarga mereka yaitu Aldo, namun sekarang bukan saat yang tepat.
Bagaimana bisa Myra tidak memahami perkataan yang sudah sangat jelas itu? Itu karena ia masih terlalu polos dan naif, dia tidak tahu seberapa berat tanggung jawab dalam menjalin hubungan keluarga.
Bagaimanapun kekeluargaan tidak bisa hanya dengan mengandalkan cinta dan uang, itu memerlukan pemikiran yang matang...
"Saat sudah waktunya maka ibu dan ayah akan mempersatukan dirimu dan Aldo apapun yang terjadi. Mohon bersabarlah untuk menunggu hari itu." ucap Pak Suman memberikan secercah harapan di mata lembab Myra.
"Kalian janji?"
"Kami berjanji." jawab Pak Suman dan Bu Siska serentak.
Mereka berdua kemudian melanjutkan makan malam dengan jauh lebih harmonis daripada sebelumnya ketika permasalahan yang melanda keluarga itu sepanjang hari akhirnya terselesaikan.
Setelah selesai makan malam, Myra ingin kembali ke kamarnya untuk belajar demi mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir semester yang sebentar lagi akan dimulai.
Setelah lulus SMA Myra berencana untuk melanjutkan studinya ke universitas terbaik yang pernah ada di kota Jakarta.
Namun sebelum ia beranjak pergi ke kamarnya, pintu rumah tiba-tiba di ketuk pertanda ada seseorang yang bertamu.
Sangat jarang seseorang datang bertamu ke rumah mereka dan tentunya hal itu membuat mereka bertiga sedikit kebingungan.
"Apakah ada pelanggan?" tanya Pak Suman, tapi sepertinya itu tidak mungkin karena kedai makan telah di tutup sore tadi.
"Biar aku lihat."
__ADS_1
Bu Siska menawarkan dirinya untuk melihat siapa yang datang. Ia keluar untuk melihat tamu yang datang dan tak berselang lama kemudian suara Bu Siska tiba-tiba menjadi hening.
Myra sangat kebingungan dan menghampiri ibunya yang sedang ada di ambang pintu, disana dia melihat Bu Siska yang sedang diam mematung sambil melihat seorang wanita yang datang bertamu.
Wanita itu sangat cantik dan menawan dengan hitam legam dan panjang, mengenakan setelan jas laki-laki namun terlihat elegan ketika dikenakan olehnya.
Selain wanita cantik itu terlihat juga seorang anak kecil usia 9 tahunan yang sedang bersembunyi karena malu di belakang wanita tersebut.
Wanita itu tersenyum lembut melihat kedatangan Myra, sebuah senyuman yang benar-benar lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku pulang, Myra..." ujarnya lembut, membuat Myra sangat terkejut.
"Eh? Kakak!"
...
...
...
Ini adalah hari yang membahagiakan bagi keluarga Pak Suman dimana mereka telah bertemu dengan anggota keluarga mereka yang telah menghilang selama kurang lebih 10 tahun.
Pak Suman, Bu Siska, beserta Myra hanya memandangi wanita itu masih dengan keterkejutan di wajahnya dan masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Tehnya sangat manis ... kau mau sweetie?" ucap Novita menawarkan teh miliknya kepada Alex yang masih duduk dengan patuh di sebelahnya.
"Makasih bu." ucap Alex.
"K- kamu benar-benar Novita kan?" tanya Bu Siska sedikit ragu.
Novita tersenyum ke arah ibu kesayangannya, "Apakah ibu sudah melupakan putri ibu sendiri?" tanyanya balik.
Mendengar itu mereka akhirnya yakin jika wanita di hadapan mereka itu benar-benar anak pertamanya yang menghilang 10 tahun lalu.
Bu Siska mengusap matanya yang sedikit berair karena haru lalu berkata, "Mana mungkin ibu melupakanmu nak ... hanya saja ibu sedikit terkejut dengan penampilanmu yang sudah jauh berubah."
Sambil mengatakan itu, Bu Siska melihat sebuah foto yang terpajang di dinding ruangan. Itu adalah foto mereka berempat sebagai keluarga dengan Novita yang benar-benar berbeda dengan penampilannya yang sekarang.
Dulu Novita memiliki rambut pirang pendek, itu bukanlah warna rambut asli melainkan ia mewarnai rambutnya sendiri karena saking sukanya dengan orang luar negeri atau bule. Selain itu dia banyak mengoleksi pakaian-pakaian modis dan trendy.
__ADS_1
Tapi lihatlah sekarang ... ia menumbuhkan rambutnya hingga menjuntai ke pinggang dengan warna hitam legam. Dia tidak memakai pakaian kekinian layaknya para wanita modern melainkan setelah jas pria. Dia bahkan tidak mengenakan make up atau lipstik di bibirnya.
Apakah Novita sekarang menjadi tomboy? Entahlah, mereka tidak terlalu memikirkan alasan kenapa Novita berubah drastis seperti itu, yang pasti adalah Novita telah kembali dan keluarga mereka sekarang telah lengkap.
Novita tersenyum sendu, "Banyak hal yang terjadi dan tidak mungkin bisa aku ceritakan..." ucapnya sambil membelai rambut anaknya, Alex.
"Tidak masalah nak, selama kau pulang saja sudah membuat kami sangat gembira. Kami tidak akan mengungkit masa lalumu. Kami senang karena akhirnya memiliki seorang cucu..." kata Pak Suman pengertian terhadap masalah anaknya.
Myra yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan antara kakak dan orang tuanya mengangguk mengerti, ia kemudian menghampiri Alex yang sedang menyeruput secangkir teh hangat pemberian Novita dengan riang gembira.
"Ngomong-ngomong siapa namanya, Kak Nia?" tanya Myra sambil menatap Alex dengan mata berbinar-binar seolah menatap bongkahan permata yang berharga.
Bagaimana tidak, anak lelaki yang berumur 9 tahun itu memiliki paras yang luar biasa tampannya dan sangatlah menggemaskan. Insting Myra menyuruhnya untuk memeluk anak kecil itu dan mencubit pipinya yang tembem.
"Perkenalkan namamu pada bibimu Sweetie." suruh Novita.
Alex mengulurkan tangannya ke arah Myra lalu memperkenalkan dirinya dengan singkat, "Namaku Alex, salam kenal bibi!"
"B- bibi? Kenapa kamu memanggilku bibi?" oceh Myra tak terima dengan nama panggilannya.
"Bibi adalah adik ibuku dan aku adalah keponakan Bibi, jadi bukankah sudah seharusnya aku memanggilmu Bibi, Bibi?" jelas Alex membuat Myra terasa sakit hati.
"Tidak, tolong pangil aku kakak saja!" pinta Myra bersikeras.
Alex merasa jika bibinya sangat menjengkelkan, "S'il vous plait, faites quelque chose madame?" ucapnya memohon kepada Novita.
Sementara itu Myra dibuat semakin kebingungan dengan sikap anak di hadapannya itu, "Apa yang kamu bilang? Apa itu bahasa Prancis? Kenapa kamu bisa fasih bahasa Prancis?"
Novita terkekeh geli, "Kami hidup di luar negri selama 9 tahun, jadi bahasa Inggris sangat mudah bagi kami."
"Jadi kamu kamu bisa dua bahasa ya ... hebat!"
"To be precise, I can speak five languages. French, English, Indonesian, Japanese, Chinese and Italian. Very easy...." kata Alex sombong yang kini membuat kepala Myra serasa berputar-putar.
Apa yang dikatakan bocah kecil ini... - pikir Myra dibuat semakin kebingungan.
__ADS_1