
Setelah beberapa jam penerbangan, pesawat yang ditumpangi oleh Aldo dan Novita akhirnya sampai di bandara Surabaya.
Keadaan di bandara tersebut tidak jauh berbeda dengan bandara Jakarta, padat dengan orang-orang yang ingin berpergian ke wilayah lainnya. Bahkan mereka harus berdesakan saat harus keluar dari bandara.
"Sebaiknya kau genggam tanganku, aku tidak punya maksud apa-apa, hanya akan gawat kalau kita terpisah di keramaian." saran Aldo.
Novita berpikir sejenak dan menyetujui saran Aldo, lagipula ini adalah kedua kalinya dia pergi ke Surabaya, sebelumnya ia pernah datang ke kota itu 10 tahun lalu saat tur sekolah. Jadi Novita sudah tidak mengingat terlalu banyak tempat itu.
Mereka akhirnya melalui kerumunan orang-orang sambil berpegangan tangan, tanpa sadar mereka masih saling berpegangan tangan meski sudah menaiki bis umum.
Tanpa mereka sadari juga, keakraban mereka sedikit menarik perhatian para penumpang lainnya yang menganggap jika Novita dan Aldo adalah pasangan yang serasi.
"Ehm ... sepertinya mereka memperhatikan kita..." bisik Novita sedikit risih, ia kebingungan kenapa orang-orang menatapnya dengan aneh.
Aldo juga kebingungan, "Aku tidak merasakan ada yang salah dengan kita berdua."
Mereka diam sejenak sebelum akhirnya mata mereka mulai bergerak turun dan menatap tangan mereka yang masih menggenggam satu sama lain.
"Yah, sepertinya memang ada yang salah..." gumam Aldo.
Novita merasa sangat malu kemudian langsung melepaskan genggaman tangannya dengan cepat lalu mengalihkan pandangannya ke jendela bis.
"M- maaf."
"Tidak masalah."
Novita melirik tangannya yang barusan menggenggam tangan Aldo cukup lama, ia merasa ada perasaan aneh yang kembali muncul dalam hatinya setelah terpendam selama 10 tahun.
Benar, sepertinya cinta pertama Novita telah bangkit kembali setelah terpendam sekian lama...
Beberapa jam menaiki bis, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan mereka yaitu kampung Cempaka yang merupakan kampung halaman Aldo, disini adalah tempat dimana dia tumbuh hingga remaja sebelum mengarungi kerasnya hidup di Jakarta.
"Sudah lama sekali, dan sepertinya sudah banyak yang berubah..." gumam Aldo begitupun dengan Novita yang merasakan hal yang sama.
Di depan mereka berdiri tugu besar yang bertuliskan 'selamat datang di kampung cempaka', Aldo dan Novita masih ingat jika dulu penanda nama kampung hanya menggunakan patok kayu setinggi 1 meter.
__ADS_1
Jalanan kampung juga sudah terbuat dari aspal hitam yang sangat kokoh padahal dulu jalanan kampung hanya berupa timbunan tanah dan memiliki banyak lubang, membuat air selalu tergenang ketika turun hujan dan parahnya lagi bisa terjadi banjir.
Aldo dan Novita berjalan memasuki kampung cempaka sambil melihat ke kanan kiri mereka dan melalui banyak tempat yang sangat mereka kenali.
Seperti warung makan kecil yang sekarang sudah menjadi besar atau lapangan kecil tempat dia selalu bermain bola sudah menjadi dataran besar dengan banyak jenis lapangan olahraga seperti volley dan badminton.
Setelah melewati lapangan, mereka akhirnya melihat sebuah sekolahan SMA yang sekarang sudah cukup besar, bahkan sudah ada bangunan dengan 2 lantainya.
Itu adalah SMA tempat Aldo dulu pernah bersekolah, tempat yang paling membawa kenangan indah.
"Menurutmu bagaimana dengan teman-teman kita dulu?" tanya Novita tiba-tiba sambil menatap bangunan sekolah dengan haru.
"... Mereka mungkin hidup dengan bahagia karena mereka adalah orang yang giat dalam belajar."
"Dan orang yang baik." lanjut Novita.
Mereka berdua saling bertukar pandangan sejenak sambil tersenyum lembut.
"Mohon maaf, tapi ... anda berdua menghalangi pintu gerbang. Apa anda punya urusan dengan sekolah?"
Sekali lihat saja Aldo tahu kalau wanita itu adalah seorang guru di sekolah SMA dia dulu.
Aldo ingin meminta maaf dan segera pergi, namun saat itu juga Novita terlihat sangat antusias dan langsung menggenggam erat tangan wanita itu.
"Casey! Kau ingat aku?!"
"Casey?" gumam Aldo mencoba mengingat-ingat nama wanita itu dalam kepalanya hingga terpikirkan satu orang yang dia kenali, "Ahh ... jadi dia..."
Wanita bernama Casey itu sedikit dibuat kebingungan dengan tingkah dua orang asing di depannya, apalagi Novita yang langsung menggenggam tangannya dengan antusias.
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak mengenal kalian." ucap Casey setelah memutar otaknya cukup keras, dia memang tidak mengingat kedua orang di hadapannya itu.
Novita tampak sedih karena jawaban Casey, namun Aldo menenangkannya dan berkata, "Sudahlah Novita, sepertinya kepalanya sudah penuh dengan buku pelajaran sehingga tidak mengenal kita lagi."
"Hei, itu tidak sopan!" Casey ingin marah, namun dia tersadar sesuatu ketika Aldo menyebut nama wanita di depannya.
__ADS_1
"N- Novita? Kaukah itu?" tanya Casey benar-benar tidak percaya.
"Apakah kau sudah tidak mengenal sahabat lamamu, Casey?" goda Novita dengan senyuman nakal.
"Ya tuhan ... " Casey memijit kepalanya sendiri karena dibuat benar-benar kebingungan dengan semua yang terjadi.
Casey mulai tentu ingat dengan Novita walau penampilannya tidak sama lagi dengan dulu, namun ia masih penasaran dengan pria tampan yang datang bersama dengan Novita itu.
"Dan kau..."
"Dia Aldo!" kata Novita.
Sekali lagi, Casey benar-benar ingin pingsan di tempat ketiga tahu jika pria tampan rupawan di depannya adalah Aldo.
"Ugh ... aku masih tidak percaya dengan anak nakal yang dulu bisa berubah sejauh ini..." gumam Casey.
"Anak nakal, apa maksudmu?" Aldo tidak terima dikatakan anak nakal oleh seorang wanita yang dijuluki kutu buku di kelasnya dulu.
Bagaimana tidak, Casey adalah orang yang sangat gemar membaca buku dan penampilannya juga sangat mencerminkan seorang kutu buku.
Dulu ia selalu mengikat rambutnya kepang dua dan memakai kacamata bulat, kemanapun dia pergi pasti akan membawa buku bersamanya karena dia memiliki impian untuk menjadi seorang guru.
Tapi lihatlah sekarang, meskipun Aldo yakin jika wanita itu masihlah seorang kutu buku tapi penampilannya berbeda 360 derajat.
Ia masih menggunakan kacamata namun bukan kacamata bulat melainkan kacamata yang cukup modis, rambut hitamnya tergerai sangat indah dengan tubuhnya yang dibaluti pakaian pns ketat dan memperlihatkan lekukan tubuhnya yang seksi sempurna.
"Kau termasuk anak yang nakal, Aldo. Tidak pernah mengerjakan tugas, jarang masuk kelas, gemar berkelahi tapi selalu kalah. Dan yang menjadi misteri terbesar dalam dirimu adalah setiap diadakannya ulangan atau ujian, kau adalah orang yang selalu menduduki peringkat pertama." jelas Casey.
Dia selalu menganggap Aldo sebagai rintangan terbesarnya karena dirinya selalu berada di ranking kedua setelah Aldo. Casey benar-benar menganggap Aldo sebagai rivalnya namun Aldo tidak memperdulikannya.
"Aku memang sudah pintar sejak dari lahir, jadi aku tidak perlu mengikuti pelajaran untuk menjadi pintar." jawab Aldo sedikit sombong.
Apa yang dikatakan Aldo memang benar tapi juga sedikit bohong, dia tidak terlahir dengan kepintaran instan, untuk mendapatkan kepintaran melebihi teman-teman sekelasnya Aldo selalu belajar dengan giat di rumah.
Jadi karena sudah belajar di rumah, Aldo bisa santai di sekolah dan menikmati hari-hari dengan penuh kedamaian.
__ADS_1