
"Pada akhirnya dia mengizinkan kita bersama..." ujar Aldo lega ketika dirinya sudah kembali ke mobil bersama dengan Ashlee dan Katharine.
"Maafkan ibuku yang sedikit keras kepala." kata Katharine sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Setelah beragam bujukan dan tekad keras Aldo yang ditujukan kepada Bu Linda, akhirnya ia sukses membuat Bu Linda merestui hubungannya dengan Katharine.
Melihat keyakinan Aldo yang menunjukkan jika dirinya benar-benar mencintai Katharine membuat hati nurani Bu Linda tersentuh. Oleh karena itu dia merestui hubungan Aldo dengan Katharine.
Namun Bu Linda juga menegaskan Aldo untuk segera menikahi Katharine sebelum gadis yang baru saja hamil itu melahirkan, Bu Linda tidak ingin anak yang dilahirkan oleh Katharine disebut anak haram karena lahir di luar nikah.
Aldo mengelus pundak Katharine lembut lalu berkata, "Tidak usah dipikirkan, lagipula aku memang harus bertanggung jawab atas kalian berdua. Dan ngomong-ngomong apa benar kau hamil?" tanya Aldo.
Katharine menganggukkan kepalanya, "Sepertinya begitu, apa kau tidak senang?"
"Bukan begitu, justru aku sangat senang jika pada akhirnya kau mengandung anakku. Itu juga berarti kita harus menikah secepatnya." ucap Aldo.
Dengan begini Aldo sudah memiliki satu anak yang masih dalam kandungan Katharine, impiannya untuk membangun keluarga yang harmonis juga bukan bualan semata karena sebentar lagi hal itu akan terwujud.
Mendengar perkataan Aldo membuat Katharine sangat senang dan bahagia, "Aku akan merawat anak ini sepenuh hatiku." gumam Katharine sambil mengelus-elus perutnya yang masih rata.
Sementara itu wajah Ashlee tampak masam, "Kenapa aku belum hamil padahal kita melakukannya secara bersamaan waktu itu?" tanya Ashlee.
Aldo menatap Ashlee, tepatnya di arah perutnya dan berasumsi jika Ashlee tidaklah sesubur Katharine. Oleh karena itu dia terlambat menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
"Kalau begitu makanlah ini." Aldo memberikan sebuah pil kepada Ashlee yang tampak sedikit kebingungan.
"Pil apa ini?"
"Itu adalah pil untuk menyuburkan kandunganmu. Katharine juga makanlah ini untuk menjaga kesehatan kandunganmu." kata Aldo kemudian memberikan satu pil lagi kepada Katharine.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memakannya." kata Ashlee yang menelan pil berwarna putih itu tanpa pikir panjang karena ia memang sudah menginginkan kehamilan yang sama dengan Katharine.
Kemudian Katharine juga menelan pil itu menuruti Ashlee, bukannya rasa pahit yang biasa dirasakan dari sebuah pil melainkan rasa manis yang membuat mereka menjadi ketagihan.
"Hm ... ini sangat manis. Bolehkah aku minta satu lagi?" tanya Katharine.
"Aku juga." imbuh Ashlee.
"Untuk hasil yang maksimal sepertinya mengonsumsi pil penyubur kandungan setiap hari akan sangat baik, jadi tunggulah besok." kata Aldo di balas dengan anggukan patuh Ashlee dan Katharine.
"Ngomong-ngomong kita akan kemana?" tanya Ashlee melihat dari tadi Aldo menyetir mobil mewahnya ke arah yang tidak diketahuinya.
"Kita akan ke rumah baru kita. Ini akan menjadi kejutan untuk kalian jadi bersabarlah." kata Aldo tersenyum lembut, membuat Ashlee dan Katharine sangat berantusias.
"Kami tidak sabar!" kata Ashlee dan Katharine bersamaan.
...
...
...
Suara pot bunga yang pecah terdengar sangat nyaring di sebuah kamar mewah, kamar mewah dan elegan yang awalnya sangat rapi itu hancur berantakan dengan banyak barang-barang yang pecah.
Pot bunga hancur, bingkai foto retak, selimut dan bantal robek dan banyak kekacauan yang tidak manusiawi lainnya.
"Aldo, Aktor baru yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di media sosial karena penghargaan piala Oscar yang didapatkannya, kini kembali membuat heboh dengan membeli sebuah mobil seharga miliaran rupiah."
Di televisi kamar, terlihat seorang reporter yang sedang membawakan berita seperti biasanya.
__ADS_1
"Anda adalah orang yang melayani Aldo saat membeli mobil bukan? Bisa anda ceritakan tanggapan anda tentang Aldo?"
Sang reporter mewawancarai seorang sales wanita yang sebelumnya melayani Aldo dalam membeli mobil Venom GT.
Sales tersebut tampak antusias saat diwawancarai.
"Tuan Aldo adalah orang kaya yang begitu rendah hati, dia datang ke tempat kami hanya dengan memakai pakaian biasa lalu langsung membeli mobil termahal yang ada di tempat kami! Dia juga memberikan saya tip dengan jumlah yang sangat banyak. Bukan hanya tampan tapi dia juga sangat baik hati, kalau dia belum punya pasangan maka aku rela mengantri untuknya!"
Pyarr...
Lemparan sebuah pot bunga kecil tepat mengenai televisi dan langsung menghancurkan layarnya hingga rusak total.
Di atas ranjang terlihat seorang wanita dengan penampilan yang acak-acakan, rambutnya tergerai bak hantu sementara pakaiannya penuh dengan robekan.
Matanya memerah karena marah bercampur dengan dendam yang sangat besar.
"Aldo, Aldo, Aldo, Aldo, Aldo, Aldo, ALDOOO!!! Kenapa semua wanita sangat mendambakannya?! Apa tidak ada laki-laki lain di dunia ini selain dia?! Kenapa semua orang selalu menghalangi cinta kami?!!!" pekik wanita itu dengan suara serak dan penuh kebencian.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Nona, tolong kendalikan amarahmu dan ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi kepadamu ... kau menjadi sangat kacau semenjak kembali dari Prancis..."
Di luar pintu kamar, terdengar suara seorang wanita yang sangat mengkhawatirkan keadaan Nonanya.
Namun bukannya tanggapan positif yang di dapatkan, yang ada malah lemparan pot bunga yang langsung menggebrak pintu dengan sangat keras dan membuat wanita di luar pintu sangat terkejut.
"Tutup mulutmu Lina! Apa yang kau sarankan kepadaku sungguh bodoh, mendapatkan hati Aldo dengan cara ikut serta dalam syuting film? Yang ada malah menyakiti hatiku sendiri dengan semua keromantisan yang orang-orang munafik itu sebarkan."
"Aku membencinya, aku membenci Aria yang membuatku memerankan penjahat bodoh itu, aku membenci Katharine yang jelas-jelas menghinaku, aku membenci Ashlee yang entah datang darimana langsung menyakitiku, aku membenci Aldo, aku membenci semua orangggg!!! Aaaaarrghhh!!"
__ADS_1
Teriakan penuh emosi ditujukan oleh wanita yang tengah patah hati tersebut, pikirannya kalang kabut dan hanya dipenuhi oleh dendam yang mendalam.
"Apa sebenarnya yang dialami Laura di Prancis..." gumam Lina merasa iba dengan kondisi sahabatnya itu...