
"Alex, apa yang kau lakukan di tempat ini?!"
Novita benar-benar terkejut dengan kemunculan di tengah-tengah pesta besar tersebut.
"Bicaranya nanti saja bu, sekarang kita harus pergi secepatnya dari sini!"
Dengan panik, Alex meraih tangan Novita dan langsung menyeretnya untuk pergi dari dapur melalui pintu belakang.
Novita masih kebingungan namun semuanya menjadi jelas ketika dia melihat beberapa petugas keamanan yang tampak mengejar Alex, putranya itu pasti membuat masalah di pesta besar tersebut.
Novita benar-benar marah terhadap Alex yang lagi-lagi mengacau dan membuat masalah terhadap orang-orang berkuasa di Indonesia, dia ingin menghukum putranya itu namun bukan saatnya untuk melakukan hal itu.
"Ayo kita lari!" ajak Novita.
"Berhenti disana!"
Sekumpulan petugas keamanan itu berlari mengejar Novita dan Alex yang kini sudah keluar dari dapur mansion dan terus berlari agar tidak tertangkap.
Ukuran mansion keluarga Daniel sangat besar dan luas dengan banyaknya ruangan dan lorong yang berliku-liku, membuat Novita sedikit kebingungan mencari jalan keluar dari sana.
Namun setelah berusaha keras selama beberapa saat, akhirnya mereka berdua menemukan jalan keluar dengan cara memecahkan salah satu jendela mansion.
Melihat kaca mahal yang dipecahkannya, ingin rasanya Novita menangis tersedu-sedu.
Aku pasti akan mengganti banyak biaya jika tertangkap nanti - pikirnya.
Jadi agar tidak tertangkap, ia dan anaknya harus dapat lolos dari rumah maut tersebut.
Novita dan Alex kini telah keluar dari mansion dan tiba di halaman mansion, tempat semua mobil para tamu terparkir dengan rapi.
"Mau lari kemana kalian?!" seorang petugas keamanan tiba-tiba menghadang mereka berdua dengan tongkat pemukul di tangannya.
Ia tidak berniat menyakiti seorang wanita ataupun anak kecil di depannya karena perintah yang di berikan oleh atasannya hanya menangkap anak kecil pengacau tersebut.
Dia mengira jika seorang wanita dan anak kecil di hadapannya itu tidak sanggup untuk melawan satu orang pria dewasa yang telah berpengalaman sebagai petugas keamanan. Jadi dengan percaya diri dia mulai mendekati Novita dan Alex.
__ADS_1
Novita sedikit tersenyum lalu berteriak, "Pertahanan utama seorang wanita!"
Bugh...
Kaki ramping Novita bergerak dengan cepat dan menendang area selangk*ngan petugas keamanan tersebut, pria tangguh itu membulatkan matanya sebelum akhirnya pingsan sambil memegangi masa depannya yang rasanya mau pecah.
"Jangan pernah remehkan kemampuan seorang wanita!" ucap Novita sombong sementara Alex hanya bisa bergidik ngerti melihat ibunya.
I- ibu sangat menyeramkan - pikirnya dalam hati.
"Dia ada disana, cepat tangkap dia!"
Sekumpulan petugas keamanan yang tadi mengejarnya kini juga telah sampai di halaman mansion, mereka melihat apa yang dilakukan Novita kepada rekan mereka dan membuat mereka menjadi lebih waspada.
"Alex, kita harus cepat!"
"Ibu, kita naik mobil ini saja!" Alex menunjuk salah satu mobil mewah yang terparkir tidak jauh darinya.
Novita juga berpikir jika mereka tidak akan bisa melarikan diri jika hanya bermodalkan lari, oleh karena itu dia menyetujui saran anaknya yang licik itu.
"Kita tidak punya kunci mobilnya. Bagaimana ini?!"
"Ini dia!" Alex memberikan sebuah kunci mobil kepada Novita.
"Darimana kau mendapatkannya?" tanya Novita yang sangat penasaran.
"Itu tidak penting, yang terpenting kita harus pergi secepatnya sebelum tertangkap!"
"Baiklah!"
Tanpa pikir panjang Novita langsung menaiki mobil mewah itu disusul dengan Alex yang juga ikut naik dengan sedikit antusias karena ini merupakan kali pertamanya menaiki mobil sport.
"Pegangan yang erat!"
"Baik Bu!"
__ADS_1
Dengan lihainya Novita menginjak pedal gas mobil tersebut dan langsung melaju dengan cepat ke jalanan kota, meninggalkan semua petugas keamanan yang sudah pasrah dengan larinya target mereka.
Kejadian itu tidak luput dari pandangan para tamu termasuk Aldo sendiri.
"Bukan hanya mencuri tiketku tapi dia juga mencuri mobilku, ibu dan anak sama saja..." gumam Aldo melihat mobil yang baru di belinya beberapa hari lalu, berhasil di curi oleh seseorang yang tidak dia kenal.
Tak lama kemudian Ashlee dan Katharine menghampiri Aldo.
"Aldo, bukankah itu mobilmu."
"Itu benar."
"Tapi bagaimana mereka mendapatkan kunci mobilmu?"
"Anak itu mencurinya, sama seperti saat dia mencuri tiketku sebelumnya." jawab Aldo sedikit sulit untuk menjelaskan hal ini.
Bagaimanapun kemampuan Aldo sudah meningkat jauh berkat systemnya namun sudah 2 kali dia kehilangan barangnya karena dicuri, terlebih lagi yang mencurinya adalah anak kecil yang sama.
Meskipun Aldo bisa mengejarnya dengan mudah dan menangkap kedua orang itu, namun dia tidak bisa menunjukkan kemampuan abnormal-nya itu di hadapan semua orang.
*Anak itu sangat licik* - pikir Aldo.
Daniel dan Evelyn juga menghampiri Aldo tak lama kemudian.
Ia menepuk pundak Aldo pelan lalu berkata, "Maaf, ini kesalahan kami yang menyebabkan mobilmu dicuri, aku tidak pernah menyangka jika koki baru itu akan mengacaukan segalanya."
"Jadi itu koki barumu? Kau pasti memiliki berkas identitasnya kan?" tanya Aldo merasa sedikit aneh dengan ibu dan anak yang berhasil melarikan diri tersebut.
"Sayangnya tidak. Saat itu kami merekrutnya dengan terburu-buru karena jadwal pesta sudah sangat mepet, dia hanya koki sementara jadi kami tidak terlalu mengurus berkas pekerjaannya. Satu hal yang pasti kami sangat mempercayainya namun siapa sangka sesuatu seperti ini akan terjadi."
"Begitu ya..."
Aldo kembali memandang ke arah depan, tempat dimana sepasang ibu dan anak itu menghilang dari pandangan matanya.
*Aku tidak tahu pasti, tapi sepertinya kita akan bertemu lagi* - pikir Aldo.
__ADS_1