
"Jadi dia adalah Novita..." gumam Aldo melihat foto sosok Novita di samping foto dirinya.
Walaupun dia bukan bagian dari kelas Aldo waktu SMA dulu namun dia ikut berfoto bersama karena permintaan Aldo, lagipula teman-teman sekelas lainnya tidak ada yang protes jadi tidak ada masalahnya.
Di foto itu Novita memiliki paras yang sangat cantik dengan rambut pirangnya indahnya, dan sepertinya dia sangat dekat dengan Aldo yang bisa dilihat dari mereka berdua yang saling berpegangan tangan.
Tapi berhubung kualitas resolusi kamera 10 tahun lalu tidak sebagus sekarang, jadi gambar yang dihasilkan tampak sangat jadul dan kurang jelas. Meskipun begitu Aldo merasa jika ia pernah melihat foto wanita itu di suatu tempat.
"System, bisa kau beritahu dimana aku pernah melihat foto Novita?"
[Mohon maaf tuan, tapi system tidak dapat membantu anda dengan mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan misi.]
Ada benarnya juga perkataan system, jika Aldo bisa bertanya kepada system tentang keberadaan Novita maka misi yang diberikan untuk menemukan Novita hanya sia-sia.
"Apa ada masalah, Aldo?" tanya Johan kebingungan pasalnya mendengar Aldo berbicara sendirinya.
"Tidak ada masalah. Ngomong-ngomong apa kau mempunyai nomor telepon Novita?" tanya Aldo mengalihkan perhatian.
Johan sedikit berpikir lalu berkata, "Sepertinya tidak, dia sudah tidak bisa dihubungi semenjak kita lulus SMA."
"Begitu ya..." Kali ini Aldo kehilangan harapan lagi untuk menemukan Novita.
Namun tiba-tiba Johan mengingat sesuatu lalu berkata, "Tapi sepertinya ketua kelas kita memiliki nomor barunya, seingatku dia adalah teman baik Novita."
"Ketua kelas?"
Aldo berusaha mengingat-ingat orang yang menjadi ketua kelasnya waktu SMA dulu, dan dua kata yang terbesit dalam pikiran Aldo adalah 'Bunga Sekolah'.
Seorang gadis cantik dengan kepintaran yang sangat luar biasa, telah memenangkan banyak olimpiade tingkat Nasional dan menjadi dambaan semua lelaki. Itulah sosok ketua kelas Aldo.
"Kurasa aku harus mencarinya suatu hari nanti...." gumam Aldo.
...
...
__ADS_1
...
> Keesokan harinya.
Aldo dengan hati yang bahagia mengendarai mobil Venom GT miliknya ke sebuah kompleks perumahan sederhana yang ada di pinggiran kota Jakarta.
Setelah semua persiapannya sudah selesai, sudah saatnya bagi Aldo untuk menjemput Ashlee dan Katharine untuk tinggal di rumah baru mereka yaitu mansion di atas bukit indah.
"Aku tidak sabar melihat ekspresi mereka nantinya..." gumam Aldo.
Hingga tak berselang lama kemudian ia akhirnya sampai di alamat yang dikirimkan oleh Ashlee kepadanya.
Di sebuah rumah sederhana itu, Aldo memarkirkan mobilnya dan beranjak untuk mengetuk pintu rumah keluarga Katharine.
"Tunggu sebentar." suara Ashlee terdengar dari sebrang pintu hingga pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita cantik dengan mata biru cerahnya.
"Akhirnya kau datang Aldo!" Ashlee terdengar sangat lega, membuat Aldo sedikit kebingungan.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Aldo merasa ada yang salah.
Ashlee mengajak Aldo ke ruang tamu, disana terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa sambil memijit pelipisnya sementara Katharine yang duduk di hadapannya hanya bisa menundukkan kepalanya patuh.
Katharine berkeringat dingin, pertanda seberapa besar masalah yang ia hadapi saat ini, ia tidak berdaya di hadapan ibu kandungnya sendiri.
Merasakan ada yang datang, Ibu Katharine yang bernama Lina atau kerap dipanggil Bu Linda itu menoleh ke arah Aldo.
"Apa kau pria yang bernama Aldo?" tanya Bu Linda dengan tatapan mendelik tajam.
"Itu benar." jawab Aldo tak gentar.
Bu Linda tersenyum sinis, "Apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan pada putriku?"
Aldo terdiam mendengar perkataan Bu Linda.
Apa dia tahu dengan hubungan kita? - pikir Aldo.
__ADS_1
Hingga akhirnya Bu Linda mengungkapkan apa yang menyebabkan dia sangat marah dan benci terhadap Aldo, "Kau telah menghamili putriku, kau tahu itu?!"
"Ibu, Aldo adalah orang yang menyelamatkanmu dari penyakit kanker itu. Bagaimana mungkin kau bersikap kasar kepadanya?" Katharine dengan susah payah mencoba untuk melindungi Aldo dari amarah ibunya yang tak terkendali.
"Apa maksudmu? Ibu lebih baik mati terkena kanker daripada putriku harus menjual dirinya kepada lelaki kaya yang tidak tahu malu!"
"Kau kira ibu tidak sedih ketika menyadari gejala kehamilanmu? Kau masih sangat muda tapi sudah mengandung bayi dari pria yang bukan suamimu! Bagaimana bisa ibu tidak sedih dengan itu? Bagaimana bisa ibu tidak malu dengan semua cemoohan tetangga?!"
Bu Linda meluapkan segala emosi yang terpendam dalam dirinya, dia sangat sedih bercampur malu dan marah.
Dia baru mengetahui tentang kehamilan Katharine pagi tadi saat Katharine mual-mual yang menjadi pertanda awal kehamilan.
Dia sangat marah ketika menyadari jika putri kesayangannya itu telah hamil di luar nikah.
Dan saat orang yang menghamili putrinya itu datang, tidak peduli jika ia adalah penyelamatannya dari penyakit kanker, Bu Linda tetap membencinya.
"Kurasa ada kesalah pahaman, Katharine tidak menjual dirinya kepadaku melainkan kita berdua saling mencintai satu sama lain, oleh karena itu kami melakukan hal itu." balas Aldo berusaha keras untuk bersabar.
"Saling mencintai? Lalu bagaimana dengan wanita di belakangmu itu?" tanya Bu Linda sambil menunjuk ke arah Ashlee.
Dia juga sudah tahu tentang Ashlee yang juga memiliki hubungan dengan Aldo sama seperti putrinya walaupun Ashlee belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
"Aku juga mencintainya!" jawab Aldo tegas menyatakan rasa cintanya kepada Ashlee dan Katharine.
"Dengan kata lain kau ingin mempoligami putriku?" tanya Bu Linda geram dan merasa terhina.
"Mungkin ini terdengar agak memalukan bagi seorang wanita, tapi aku tidak bermaksud untuk menyakiti hati Katharine. Selama Katharine tidak setuju dengan wanita pilihanku maka aku tidak akan memaksanya."
"Aku mencintai Katharine, begitupun dengan Ashlee. Daripada harus memilih salah satunya, aku lebih baik memilih keduanya agar tidak ada hati yang tersakiti. Kuharap kau bisa mengerti." ungkap Aldo.
Bu Linda sedikit tertegun, dia memiliki pengalaman pribadinya saat dikhianati oleh suaminya sendiri yang selingkuh dengan wanita lain. Jadi dia laki-laki karena hal itu.
Butuh waktu bagi Bu Linda untuk move on dari masa lalu kelamnya dan melihat sisi lain dari seorang laki-laki yang setia.
Aldo tahu jelas apa yang dialami oleh Bu Linda, oleh karena itu dia menghadapi kemarahan Bu Linda dengan sabar.
__ADS_1