
Dalam beberapa hari ini Ashlee dan Katharine sudah diberitahu oleh Aldo tentang hubungannya dengan Laura karena permintaan Katharine yang sedikit aneh dengan Laura.
Karena tidak ingin menyembunyikan apapun dari kedua wanita yang saat ini sedang menjalin hubungan dengannya, Aldo memberitahu hubungan rahasianya dengan Laura dahulu kala.
Satu hal yang diketahui oleh Aldo adalah Laura kembali mengejarnya dan ingin kembali menjalani hubungan yang sempat terputus sebelumnya, namun Aldo tidak ingin kembali kepada Laura dan berniat untuk menghindarinya.
Mungkin ini saat yang tepat untuk membuat wanita ini pergi selamanya dari sisi Aldo - pikir Ashlee kejam.
Bukannya dia membenci Laura, tapi jika Aldo tidak menginginkan Laura maka dirinya juga akan menolak Laura jauh lebih keras dari Aldo sendiri.
"Aku dan Aldo adalah sepasang kekasih." ungkap Ashlee pelan agar tidak di dengar oleh semua orang namun itu sukses membuat Laura sangat tercengang.
"A- aku tidak percaya!" teriak Laura keras hingga membuat semua orang mengalihkan perhatian padanya dan Ashlee yang dengan santainya menyeruput secangkir wine di tangannya.
Laura sedikit gugup dan malu ketika semua orang melihatnya dengan tatapan heran lalu menundukkan kepalanya meminta maaf dengan sopan, "Maaf atas keributan barusan, aku pamit terlebih dahulu dari sini..."
Setelah mengatakan itu Laura kemudian pergi dari tempat pesta dengan perasaan bimbang, meninggalkan semua orang dalam kebingungan termasuk Aldo dan Katharine yang sedang berbincang santai dengan Aria.
Namun beberapa saat kemudian mereka melihat Ashlee yang tersenyum dengan penuh arti, membuat mereka berdua paham apa yang sebenarnya terjadi dan ikut tersenyum lembut...
...
...
...
"Seharusnya kau tidak perlu melakukan hal yang berlebihan seperti itu, Ashlee..." ujar Aldo ketika ia, Katharine, dan Ashlee berada dalam satu lift menuju lobby hotel.
"Hehe, maaf aku tidak sengaja..." jawab Ashlee tanpa rasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
"Bukankah itu bagus? Setidaknya wanita itu tidak akan mengganggumu lagi mulai sekarang." kata Katharine mendukung apa yang dilakukan Ashlee kepada Laura.
Aldo menghela nafas panjang, "Bagus jika dia tidak menggangguku lagi, tapi memberitahunya tentang hubungan kita mungkin akan berdampak buruk ke depannya. Lagipula bagaimana jika dia menyimpan dendam kepada kita?"
Bagaikan anak kecil, Ashlee dan Katharine mengangguk patuh.
"Hm, baiklah. Tapi kalau dia kembali membuat masalah kepada kita maka aku tidak akan tinggal diam."
"Aku juga."
Seperti biasa Ashlee dan Katharine sangat kompak membuat Aldo menghela nafas panjang menghadapi sikap mereka berdua, "Terserah kalian saja..."
Sesampainya di lobby hotel, seseorang tiba-tiba menyapa Aldo dengan melambaikan tangannya sebagai isyarat.
Aldo mengernyitkan keningnya melihat kedatangan orang itu yang tidak terduga lalu meminta Ashlee dan Katharine untuk menunggu di sana sementara dia menghampiri orang itu.
Katharine tentunya bingung dengan pria yang menyapa Aldo, namun Ashlee sudah mengenalnya terlebih dahulu.
Sementara itu Aldo sudah berada di hadapan orang yang memanggilnya itu, dia adalah seorang pria dengan perawakan yang kekar dan tegas.
"Ada apa tiba-tiba mencariku, Kepala kepolisian Steven?" tanya Aldo sedikit risih pasalnya tadi dia ingin mengantar Ashlee dan Katharine ke mal untuk berbelanja, dengan kata lain Steven telah menggangu kebersamaan Aldo dengan kedua kekasihnya.
"Maaf telah mengganggumu, tapi ini masalah yang sangat penting." jawab Steven serius, membuat Aldo paham akan situasinya yang bukan main-main.
Aldo meminta maaf kepada Ashlee dan Katharine karena tidak bisa menemani mereka berbelanja dengan alasan ada urusan penting yang tidak bisa dia tinggalkan, Katharine sedikit kecewa namun tidak dengan Ashlee yang paham dengan situasinya.
Dengan berat hati mau tidak mau Ashlee dan Katharine harus pergi berbelanja berdua saja sementara Aldo menaiki mobil Steven yang mengantarnya ke markas pusat.
Di tengah perjalanan Aldo bertanya, "Apa ini menyangkut kelompok mafia El Causse?"
__ADS_1
"Itu benar, kami sudah menemukan markasnya di kota ini. Selengkapnya akan kita bicarakan di markas pusat." jawab Steven tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Syuting akan dimulai besok, dan setelah semuanya selesai maka Aldo akan kembali ke Indonesia. Jadi ada baiknya Aldo menyelesaikan misi menumpas kelompok mafia El Causse secepatnya.
Beberapa jam kemudian Aldo dan Steven akhirnya sampai di markas pusat yang berlokasi di tengah-tengah kota dan memiliki gedung pencakar langit sebagai sarananya.
Orang-orang yang memasuki tempat itu akan diperiksa dengan ketat, namun itu tidak berlaku untuk Steven yang hanya dengan melihat mobilnya sudah membuat semua orang memberikan jalan untuknya.
Dengan langkah cepat, Steven kemudian memasuki gedung bersama Aldo yang mengikuti jalannya hingga sampailah mereka berdua di sebuah ruangan khusus pertemuan dan perencanaan strategi.
"Selamat datang Tuan Steven."
Disana seorang wanita cantik dengan jas putih, rambut diikat, dan berkacamata putih langsung menyambut kedatangan Steven sebagai atasannya.
"Dia adalah Aldo, orang yang sebelumnya aku bicarakan." kata Steven tanpa basa-basi langsung memperkenalkan Aldo dan membuat wanita itu langsung menyapa Aldo dengan hormat sama seperti ia menyapa atasannya.
"Selamat datang di markas pusat kemiliteran, Tuan Aldo."
Aldo mengangguk pelan sebelum Steven melanjutkan, "Iris, tolong perlihatkan data yang sudah kita dapatkan sebelumnya."
Wanita berkacamata bernama Iris itu menekan tablet di tangannya dan mengaktifkan sebuah layar berukuran besar yang terpajang di ruangan itu. Bersamaan dengan itu muncullah beberapa gambar mayat yang wajahnya sudah tidak terbentuk lagi karena lukanya yang sangat mengerikan.
"Apa maksudnya ini?" tanya Aldo sedikit risih karena harus melihat sesuatu yang tidak seharusnya.
"Mayat ini kami temukan kemarin di tempat pembuangan sampah, kondisinya sedikit janggal karena tidak ada luka akibat benda tajam yang membuatnya terbunuh melainkan luka karena pukulan seseorang. Ribuan pukulan yang sangat keras mendarat di tubuhnya dan membunuhnya secara perlahan..." ungkap Steven berasumsi.
Iris kembali menekan tabletnya dan menganti gambar di layar menjadi seorang pria paruh baya. Setelah itu Steven kembali menjelaskan.
"Ini adalah wujud asli dari mayat yang sudah tidak berbentuk itu. Seorang pria lajang berusia 35 tahun, mantan pecandu narkoba dan judi, tercatat kalau dia memiliki sejumlah hutang kepada sindikat gelap dan tidak mampu untuk melunasinya. Jadi aku berasumsi kalau ia dibunuh oleh sindikat gelap itu."
__ADS_1
"Dan sindikat gelap itu adalah kelompok mafia El Causse?" tanya Aldo dapat menebak dari raut wajah Steven.
"Itu benar. Setelah kami selidiki lebih jauh lagi ternyata mereka memiliki markas rahasia di kota ini yang terletak di bawah tanah. Dari sana juga mereka memproduksi narkoba dalam jumlah yang banyak dan mendistribusikannya ke berbagai tempat hiburan seperti bar dan yang lainnya."