Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System

Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System
Chp 60: Sahabat Karib


__ADS_3

"Apa kau sudah melupakan teman baikmu ini?" Johan malah bertanya kembali pada Aldo.


Dengan begitu Aldo jadi tahu jika pria berambut pirang dan berseragam rapi di hadapannya itu adalah teman sewaktu dirinya SMA.


"Lama tidak bertemu jadi aku sedikit sulit mengenalimu." balas Aldo tersenyum ramah pada sahabat karibnya itu.


Johan membalas senyuman Aldo, ia melihat sekelilingnya yang masih dalam keributan besar dan sedikit merasa tidak nyaman.


"Tolong usir saja mereka dari tempatku." perintah Johan pada petugas keamanan. Ia kemudian melirik ke arah Aldo lalu berkata, "Lebih baik kita ke tempat yang lebih tenang."


Aldo mengangguk lalu mengikuti langkah Johan menuju lantai atas restoran, tapi sebelum pergi Johan berkata kepada pelayannya untuk membawakan pesanan Aldo tadi ke lantai atas.


Melihat interaksi Johan kepada para para petugas keamanan dan pelayanan restoran, Aldo jadi tahu jika pria itu memiliki status yang penting di restoran tersebut. Mungkin dia adalah pemilik restoran.


"Apa kau tidak lelah dengan semua kerumunan orang itu, Aldo?" tanya Johan ketika mereka berdua sudah duduk di sebuah ruangan yang mirip ruang tamu.


Aldo menghela nafas panjang, "Yah ... sejujurnya aku sedikit lelah dengan mereka yang terlalu berlebihan menyukaiku. Tapi apa boleh buat? Inilah derita menjadi seorang yang terkenal..."


Seorang pelayan datang dan menghidangkan dua secangkir kopi dan sepiring biskuit di meja depan Aldo dan Johan, Johan menyeruput kopinya dengan santai sementara Aldo masih memandangi Johan.


"Kau sudah dewasa ya ... Johan." ujar Aldo tiba-tiba yang hampir membuat Johan menyemburkan kopinya.


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Habisnya sekarang kau terlihat lebih jantan daripada dahulu, penampilanmu gagah dan caramu memimpin bawahanmu sangat tegas. Dan sepertinya kau sudah menjadi orang yang sukses sekarang..." kata Aldo menilai sahabatnya.


Jika dibandingkan Johan masa SMA hampir mirip dengan Leon, teman Aldo yang menyebalkan dan sangat kekanak-kanakan. Tapi sekarang dia benar-benar sudah dewasa, atau begitulah yang terlihat.


"Aku tidak tahu apakah harus senang atau sedih mendapatkan pujian dari orang yang bisa menghasilkan puluhan Milyar dalam beberapa bulan saja, dan kau bilang kalau aku sudah sukses? Aku bisa menebak jika kau bisa membeli ratusan model restoran yang aku miliki..." ujar Johan terkekeh.


"Haha ... tapi nyatanya sekolah tinggimu itu berguna kan? Karena itu kau bisa membangun bisnis restoran seperti ini..." ujar Aldo tertawa canggung.


"Heh ... menurutku sekolah tinggi-tinggi itu hanya buang waktu karena aku bisa kalah dengan orang yang bahkan tidak melanjutkan sekolahnya usai tamat SMA."


"Hahaha, aku beruntung memiliki bakat akting yang baik." Aldo tertawa lebar, diikuti dengan Johan yang juga tertawa lebar.


Mereka berdua berbincang-bincang dengan riang sambil bernostalgia masa SMA dulu, masa yang paling indah menurut Aldo dan Johan karena memiliki banyak teman dan pengalaman yang tak terlupakan.


Hingga pada akhirnya Aldo menanyai Johan suatu pertanyaan yang sejak dulu ingin dia tanyakan kepada sahabatnya tersebut, "Ah, ngomong-ngomong Johan apa kau masih ingat dengan Novita?"

__ADS_1


"Novita?"


"Iya, dia adalah orang yang pernah pacaran denganku. Dan kau pasti mengenal dia juga."


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?" bukannya menjawab, Johan malah balik bertanya.


"Sudahlah jawab saja pertanyaanku jika kau tahu sesuatu." kata Aldo.


"Baiklah baiklah. Setahuku Novita bukan berasal dari sekolah kita, melainkan dari sekolah yang ada di ibukota Jakarta ini. Saat itu dia beserta teman-teman sekelasnya sedang melakukan tur wisata di wilayah kita tinggal." ucap Johan setelah berpikir sejenak.


Sejak dirinya lahir, Aldo tinggal di wilayah perkampungan dan tinggal disana sampai dirinya tamat SMA. setelah itu Aldo merantau ke Jakarta.


"Begitu ya ... aku hampir melupakan hal penting itu..." gumam Aldo.


"Jika diingat-ingat kembali kau dan Novita tidak menjalin hubungan terlalu lama karena kalian berdua berpisah saat Novita kembali ke kota asalnya. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi diantara kalian sehingga membuat hubungan asmara kalian putus..." lanjut Johan.


Kenapa kita berpisah ... seingatku kami langsung berpisah begitu saja tanpa masalah di hubungan kita, dia langsung pergi meninggalkanku tanpa mengabariku. Saat itu aku mengejarnya ke bandara namun sayangnya pesawat sudah lepas landas... - pikir Aldo membatin.


"Sejak dia pergi, kami tidak bisa menghubunginya lagi. Nomor handphone yang pernah dia berikan juga tidak pernah aktif, aku juga tidak tahu alamat rumahnya dimana. Hanya itu yang kutahu..." ujar Johan menutup penjelasannya sambil menyeruput secangkir kopinya.


Aldo masih berpikir.


Kepergiannya terlalu janggal, pasti ada sesuatu diantara kita yang tidak pernah aku ketahui. Aku harus menemuinya untuk meluruskan masalah ini - pikir Aldo.


Sampai hari ini Aldo masih belum mengingat paras Novita.


"Kenapa kau bertanya kepadaku? Bukankah kau pernah pacaran dengannya, jadi kau pasti punya banyak fotonya."


"Sebelumnya aku punya, tapi sekarang tidak."


"Apa maksudmu?"


Aldo kebingungan bagaimana cara menjelaskannya kepada Johan.


Sebagai salah satu cara untuk move on dari mantan-mantannya, Aldo dengan berat hati akan menghapus segala jenis kenangannya dengan cara menghapus foto-foto mantannya serta membakar foto-foto yang dicetak.


Jadi dengan itu Aldo tidak harus melihat ataupun mengingat gadis-gadis yang pernah menjadi mantannya. Dan sekarang, dia dibuat kesulitan lagi dengan tindakannya.


Johan sedikit berpikir, "Sepertinya aku memilikinya."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Benar, saat itu kita dan teman-teman sekelas melakukan sesi foto sebagai kenang-kenangan di masa mendatang, aku ingat dengan jelas jika Novita ikut dalam sesi foto itu." ucap Johan, memberikan Aldo sedikit harapan.


"Kalau begitu tanpa berlama-lama lagi tolong perlihatkan foto itu kepadaku!"


"Foto itu ada di rumahku, kau mau berkunjung?"


"Tentu!"


...


...


...


Sementara itu disisi lain, keluarga Pak Suman yang sedang bersenang hati karena kepulangan Novita setelah sekian lama terlihat sedang bersiap-siap untuk membuka kedai makan mereka.


Setelah sarapan pagi, mereka menjalani aktivitas mereka masing-masing. Pak Suman dan Bu Siska akan berdagang di kedai makan, Myra akan bersekolah, dan Novita akan mengantarkan Alex untuk bersekolah untuk pertama kalinya.


Entah sudah berapa kali Alex pindah-pindah sekolah, jadi dia sudah tidak gugup lagi menghadapi lingkungan baru.


"Semua persiapan sekolah sudah lengkap kan?" tanya Novita sambil merapikan dasi kupu-kupu yang dikenakan oleh Alex.


"Hm, tidak ada yang ketinggalan kok." jawab Alex lugas.


Dengan gemas, Novita mencubit hidung mungil anak emasnya itu, "Berjanjilah pada ibu agar tidak membuat masalah di hari pertamamu bersekolah. Jangan bersikap sombong hanya karena kau pintar, jangan merendahkan teman sekelasmu, jangan merendahkan gurumu, jangan memukul teman sekelasmu, tetap rendah hati, bertemanlah dengan anak-anak yang baik dan jauhi anak nakal..."


"Aku mengerti, aku mengerti. Berapa kali ibu harus menceramahiku tentang semua itu?" kata Alex menyela ceramah panjang ibunya.


"Habisnya ... setiap kali kau bersekolah pasti akan melakukan semua itu tanpa terkecuali..." jawab Novita yang masih khawatir.


"Baiklah, kali ini aku janji akan jadi anak yang baik..."


"You Promise?"


"I Promise."


Jari kelingking Alex dan Novita menjadi satu, pertanda sebuah janji diantara mereka terbentuk...

__ADS_1


[Ilustrasi Alex]



__ADS_2