
Satu minggu telah berlalu semenjak Aldo meminta bantuan Johan untuk menyiapkan pesta pernikahan dirinya, akhirnya sekarang semuanya telah disiapkan dengan baik oleh Johan.
Tempat berlangsungnya pesta tersebut adalah di restoran Johan yang telah di dekorasi sedemikian rupa sehingga terlihat megah dan mengagumkan.
Beberapa surat undangan juga telah dikirimkan kepada orang-orang dekat Aldo, selain itu ia juga mengundang orang-orang dekat para wanitanya yang akan segera menjadi istrinya itu.
Di hari itu saat menjelang malam, beberapa tamu undangan sudah mulai berdatangan diantaranya adalah Aria, Gilbert, Joey, Luca dan masih banyak lagi, mereka adalah orang-orang yang pernah syuting bersama dengan Aldo di Prancis dulu.
Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh para pelayan yang langsung menyuguhkan camilan dan minuman kepada mereka.
"Aku masih sedikit tidak percaya dengan surat undangan yang aku dapatkan ini..." ucap Gilbert sambil menyantap camilan di tangannya.
"Awalnya aku sedikit terkejut dengan surat undangan ini, tapi sepertinya itu adalah hal yang wajar untuk orang seperti Aldo." balas Joey.
"Aku harap bisa menikahi beberapa gadis sekaligus seperti Aldo..." ungkap Gilbert sekali lagi sedikit iri dengan Aldo yang bisa menikahi beberapa gadis cantik sekaligus.
"Bisa saja jika kau kaya dan tampan seperti Aldo." sindir Luca tanpa perasaan sama sekali.
Mereka bertiga memang selalu bercanda seperti itu karena sudah lama menjadi rekan kerja selama bekerja di perusahaan FGC, Aria juga sudah terbiasa dengan hal itu.
"Tolong jaga sikap kalian, apa kalian tidak malu dilihat orang banyak?" ucap Aria bersikap dewasa sambil meneguk secangkir wine di tangannya.
Seperti katanya, beberapa tamu undangan sudah datang lebih banyak sehingga mereka akan jadi pusat perhatian jika terlalu heboh disini.
"Baik baik, sesuai perintah anda Nona Aria..." kata Gilbert patuh.
Ia menatap managernya itu dengan wajah sedikit memerah, bagaimana tidak, penampilan Aria kini jauh berbeda dari sebelumnya. Memang sebelumnya dia itu cantik, tapi sekarang jauh lebih cantik dengan dress biru miliknya.
Namun di balik kecantikannya itu, siapapun bisa melihat ada kesedihan yang terpendam dalam matanya.
"Apa anda baik-baik saja Nona?" tanya Gilbert penasaran.
"Aku-"
Belum sempat Aria menjawab, seseorang tiba-tiba menyela perkataannya dengan heboh.
"Hai semuanya!! Lama tidak bertemu ya!!"
Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara dan melihat seorang pria tampan tinggi dengan rambut pirangnya yang indah.
Dia melambaikan tangannya ke arah mereka berempat dengan senyuman lebar.
""Siapa?"" ucap mereka berempat serentak.
__ADS_1
Dengan datar, pria itu berkata, "Ini aku, Leon, rekan kalian yang paling tampan dan berkharisma!"
"Ah, aku ingat, kau adalah salah satu orang yang ikut dengan kita syuting di Prancis, kalau tidak salah kau adalah temannya Aldo!" ucap Joey mulai ingat dengan Leon.
"Tapi setahuku dia tidak ikut berkontribusi apapun dalam syuting, yang dia lakukan disana hanya bersenang-senang sendirian..." tambah Luca.
Saat Aldo dan semuanya sibuk syuting, Leon memang tidak melakukan apapun dan tidak pernah terlihat bekerja, dan ketika pulang dari paris dia langsung pergi dan tidak pernah terlihat lagi selama beberapa bulan.
Dan sekarang di pesta pernikahan Aldo, Leon tiba-tiba datang dengan misterius.
"Kenapa kau tidak datang bekerja selama ini? Apakah kau tahu jika dirimu telah dikeluarkan dari perusahaan karena menghilang dan tidak bisa dihubungi?" kata Aria sedikit marah, bagaimanapun bisa dibilang jika Aria adalah atasan Leon.
Tentu saja dia akan marah jika bawahannya menghilang dan meninggalkan pekerjaannya tanpa alasan yang jelas.
"Sayang sekali jika aku dikeluarkan ... tapi tidak kurasa itu tidak masalah..." balas Leon seolah tidak peduli dengan posisinya di perusahaannya FGC.
Semua orang memandang Leon seperti memandang orang bodoh, bagaimana tidak, banyak orang yang berusaha keras untuk bisa bekerja di perusahaan FGC tapi Leon dengan mudahnya melepaskan pekerjaan itu.
"Hah ... sepertinya kau bisa sesantai ini karena teman Aldo, tentu saja kehidupanmu akan mudah dengan bergantung padanya..." kata Aria sambil menghela nafas.
"Bicara tentang Aldo, bisakah aku tahu dimana dia berada sekarang? Ada hal penting yang harus aku katakan padanya."
"Entahlah, mungkin dia sedang berada di ruang ganti sebelum keluar untuk menyambut tamu." jawab Aria.
"Kau ... memangnya ada urusan apa mencarinya?"
Sebelum Leon dapat menjawab, seorang petugas keamanan tiba-tiba memasuki pesta dengan heboh sambil menunjuk ke arah Leon.
"Itu dia! Dia memasuki pesta tanpa surat undangan!"
Wajah Leon membeku dengan keringat dingin di dahinya.
"Jangan bilang kau menyusup ke pesta ini?" kata Aria sambil memegang tangan Leon.
Leon mulai tertawa canggung, "Hahaha ... aku tidak sengaja menghilangkan surat undangannya..."
"Tahan dia, jangan biarkan dia melarikan diri!" teriak petugas keamanan mulai berlari mengejar Leon.
"Kurasa percakapan kita usai disini, permisi!" kata Leon sambil menepis tangan Aria dan mulai melarikan diri.
"Hei tunggu!" Aria tidak terima dan langsung mengejar Leon, meninggalkan ketiga temannya yang masih kebingungan.
Sementara itu di sisi lain...
__ADS_1
Terlihat Aldo yang tengah duduk di depan meja rias dengan beberapa pelayan yang merias penampilannya, beberapa memilihkan setelan jas untuknya dan beberapa lagi menata rambutnya.
Aldo sebenarnya bisa merias dirinya sendiri tapi Johan-lah yang mengatur semua ini, dia merasa tidak enak untuk menolak kebaikan Johan.
Baru saja dipikirkan, Johan sudah memasuki ruangan dengan ekspresi wajah yang gembira karena mampu mempersiapkan semuanya dengan baik dalam waktu 1 Minggu.
"Bagaimana dengan kerjaku, Aldo? Bagus bukan?" ucap Johan bangga.
Aldo mengangguk, "Hm, aku memang tidak salah meminta pertolonganmu."
Aldo memberikan Johan cukup banyak dana untuk mengatur pesta pernikahan ini, dan ternyata Johan sangat pandai memanfaatkan uang tersebut dengan baik, bahkan sekarang uangnya itu masih tersisa cukup banyak dari jumlah yang Aldo berikan.
"Ngomong-ngomong mengenai sisa dananya, aku akan segera mentransfernya kepadamu, Aldo."
"Tidak usah, ambil saja sisanya untukmu." potong Aldo membuat Johan sangat tercengang.
"A- apa kau serius?"
"Tentu saja, bukankah aku sudah mengatakan jika ini akan memberikan keuntungan besar untuk bisnismu."
"Ta- tapi jumlah uang ini terlalu..."
Johan ingin menolak pemberian Aldo, namun Aldo semakin memaksanya dengan keras karena dia beranggapan jika itu memang pantas di dapatkan oleh Johan.
Hingga akhirnya Johan sudah tidak bisa menolak rezeki yang diberikan oleh Aldo, ia pun menerimanya dengan pasrah.
"Seperti biasa kau ini sangat keras kepala, Aldo. Baiklah aku akan menerimanya, jangan sampai kau menagihnya kembali dariku." ucap Johan.
"Maaf menganggu anda tuan Johan, tuan Aldo!"
Tiba-tiba seorang petugas keamanan datang memasuki ruangan dengan wajah yang sedikit pucat.
Johan mengernyitkan keningnya, "Apa ada masalah?"
"Se- sebenarnya ada orang yang memasuki pesta tanpa surat undangan, kami sedang mengejarnya saat ini." jawab petugas keamanan tersebut.
"Bagaimana bisa dia memasuki tempat ini..." gumam Johan pelan.
Ia kemudian menoleh ke arah Aldo dengan sikap meminta maaf.
"Aku akan bertanggung jawab atas hal ini dan secepatnya menemukan penyusup itu." kata Johan dibalas dengan anggukan Aldo yang masih terlihat santai.
Bagaimanapun hal yang terjadi itu tidak akan mengancam keselamatan dirinya...
__ADS_1