
Kasus kematian yang sama terus terjadi, banyak mayat tergeletak di jalanan dengan penyebab kematian yang tidak diketahui.
Kebanyakan dari mereka merupakan seorang wanita di atas umur 20 tahunan. Menurut kesaksian, mereka tiba-tiba tidak sadarkan diri dan langsung meninggal di tempat bahkan belum sempat dilarikan ke rumah sakit.
Para dokter dan polisi yang menyelidiki kasus itu berasumsi bahwa penyebab kematian para wanita itu adalah serangan jantung mendadak, namun tidak ada riwayat penyakit apapun pada tubuh korban.
Kejadian itu membuat masyarakat turut cemas terutama para wanita yang merasa hidup mereka diteror oleh kematian.
Mereka meminta kepolisian untuk segera mengungkap kasus itu, namun mereka telah mendapatkan jalan buntu bahkan sebelum menyelidiki kasus itu lebih jauh.
Berbeda dengan pihak kepolisian yang mengalami jalan buntu, tim investigasi Aldo yang hanya beranggotakan 3 orang pria termasuk dirinya telah mendapatkan cukup banyak petunjuk...
"Total 25 kematian seorang wanita, penyebab meninggalnya sangat misterius, namun semua korban meninggal secara beruntun dan memiliki jangka waktu setengah sampai satu jam."
Setiap ada kematian, setengah jam sampai 2 jam setelah itu pasti ada kasus kematian yang serupa dengan penyebab kematian yang juga tidak diketahui.
"Satu hal yang pasti, mereka dibunuh oleh orang yang sama." ucap Aldo.
Ia telah menemui semua korban meninggal dan mengonfirmasi jika penyebab meninggalnya mereka semua sama, yaitu karena aura iblis.
"Tapi bagaimana cara sang pelaku membunuh korban tanpa menyentuh?" tanya Jack, sejak awal penyelidikan hal ini sudah benar-benar menjadi misteri terbesarnya.
Aldo berpikir sejenak lalu berkata, "Dengan melihat."
"Apa maksud anda?"
"Mustahil seseorang bisa membunuh hanya dengan melihat korbannya, kan?"
Jack dan Liam sungguh tidak mengerti maksud perkataan Aldo.
"Hahaha, aku hanya bergurau." Aldo tertawa kecil.
"Seharusnya kau tidak bergurau di situasi seperti ini."
"Itu benar, tuan. Kita harus serius."
Aku benar-benar serius - pikir Aldo.
__ADS_1
Jika dirinya bisa membunuh seseorang hanya dengan melihat menggunakan mata batin lalu menyerao aura orang tersebut sampai habis, maka orang itu akan meninggal.
Di mata Aldo, ia membunuh musuhnya dengan menyerap auranya, namun di mata orang lain Aldo bisa membunuh musuhnya hanya dengan melihatnya.
Aldo berniat memberitahu rekannya tentang hal itu, tapi bodohnya mereka berdua tidak percaya.
Aldo melihat nama-nama wanita yang meninggal di layar monitor dan merasa sedikit aneh.
"Alexa, apakah semua wanita yang meninggal adalah mantanku?" bisik Aldo.
[Itu benar, Tuan]
Sudah kuduga, sepertinya ada seseorang yang menargetkanku, tapi siapa? - pikir Aldo sedikit kebingungan.
Ia merasa tidak pernah memiliki musuh di kota ini, dan sekarang tiba-tiba seseorang membantai orang-orang yang pernah menjalin hubungan dengannya? Aldo sungguh tidak mengerti jalan pikiran orang itu...
"Alexa, bisa kau bertahu nama-nama wanita yang saat ini menjadi mantanku?"
[Tentu, tapi anda harus membayar 100.000 Poin System untuk itu.]
"Alexa, apa kau berniat memerasku sekarang?" Aldo sedikit kesal dengan Alexa saat ini.
Aldo menghela nafas panjang.
Lagipula aku memiliki lebih dari 1 juta Poin System, jadi 100.000 bukan masalah besar - batin Aldo.
Ia kemudian menyetujui transaksi dengan Alexa. Bersamaan dengan itu sederet nama-nama wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Aldo seketika muncul dalam kepalanya.
"Liam, berikan aku buku catatan."
"Baik."
Setelah mendapatkan buku catatan yang diinginkannya, tanpa pikir panjang Aldo langsung mencatat semua nama-nama wanita yang ada dalam kepalanya. Total keseluruhannya ada 157 orang.
Beberapa menit kemudian Aldo telah selesai mencatat keseluruhan nama wanita itu.
"Tuan, nama-nama ini?"
__ADS_1
"Tidak usah banyak tanya, tolong cari semua nama yang aku tuliskan." perintah Aldo.
"Baik Tuan!"
Jack dan Liam kemudian melaksanakan perintah Aldo tanpa banyak bertanya, melalui komputer ia mencari semua nama yang Aldo tuliskan di buku catatan tersebut.
Kurang lebih 1 jam, mereka akhirnya telah selesai. Semua nama beserta foto wanita tersebut sudah ada di layar komputer mereka.
"Sekarang kelompokkan wanita itu berdasarkan tempat tinggal mereka saat ini." perintah Aldo lagi.
Jack dan Liam sebenarnya sangat kebingungan dengan apa yang Aldo suruh, namun seperti kata Aldo di awal tadi, cukup laksanakan saja dan jangan banyak tanya.
Kurang lebih 30 menit, Jack dan Liam berhasil mengelompokkan total 157 wanita itu berdasarkan tempat tinggalnya.
27 orang wanita tinggal di kota Jakarta, dan yang lainnya tinggal di kota lain ataupun luar negeri.
Liam yang pintar segera mengetahui sesuatu ketika melihat daftar nama 27 wanita yang tinggal di Jakarta.
"Aku tahu sesuatu!" kata Liam lalu mencocokkan nama dengan korban meninggal dengan jumlah 25 wanita sebelumnya, dan hasilnya sungguh tidak terduga...
"Dari 27 wanita yang tinggal di Jakarta, 25 dari mereka telah meninggal dunia. Dan sekarang hanya tersisa 2 orang wanita yang masih hidup." ujar Liam dengan tercengang. Jack juga tidak kalah tercengangnya.
"Itu artinya pembunuhnya ada di kota ini, dan jangka waktu setengah hingga 1 jam itu digunakan untuk pergi mendatangi korban lainnya setelah membunuh salah satu korban." ujar Aldo menjelaskan.
Sungguh, 500 poin statistik kepintaran bukan main-main...
"Dengan ini kita akhirnya tahu kemana pembunuh itu akan pergi." ucap Jack.
"Itu benar, dia akan pergi ke 2 orang wanita yang masih hidup." tambah Aldo.
"Itu berarti kita harus mengamankan kedua wanita itu sebelum pelaku itu membunuhnya-" belum sempat Liam menyelesaikan kalimatnya, Jack memotongnya.
"Teman-teman ... kalian harus melihat ini..."
Jack menunjuk ke arah televisi yang menampilkan berita kematian seorang wanita, seperti sebelumnya tidak ada yang tahu penyebab kematiannya. Dan nama wanita itu ada di antara 2 wanita yang masih hidup tersebut.
"Pelakunya bergerak dengan cepat." gumam Liam.
__ADS_1
Mereka bertiga kemudian mengalihkan pandangan mereka ke layar monitor yang memuat daftar nama 2 wanita yang masih hidup. Salah satunya baru saja ditemukan meninggal dan yang satunya adalah...
""Novita!""