
"K- kau!! Aku tidak mengenalmu tapi sepertinya ini akan menjadi akhir dari hidupmu!!" geram si bos geng tengkorak.
Aldo menyeringai, "Ucapanmu memang benar, ini akan menjadi akhir hidup dari seseorang ... tapi bukan aku!"
"Kau!!"
Pria kekar yang menjadi bos dari geng tengkorak mengangkat kepalan tinjunya dengan marah, ia berniat menghabisi Aldo dengan satu pukulan namun tanpa dia duga Aldo bisa menangkap tinju sekuat tenaganya.
"M- mustahil!"
Bos geng tengkorak sangat terkejut dengan apa yang terjadi, begitupun dengan seluruh bawahan dan orang-orang yang ada di pasar.
Aldo mengeratkan genggamannya sehingga dapat terdengar dengan jelas tulang tangan si bos yang retak, membuatnya menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Aldo menatap pria di depannya itu dengan dingin, "Kau tahu apa kesalahanmu?"
Pria tersebut tidak menjawab karena mulutnya yang rapat untuk menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.
"Kau telah menyakiti ayahku beserta seluruh karyawannya, aku datang kesini untuk membuat perhitungan denganmu." lanjut Aldo.
Bos geng tengkorak melebarkan matanya ketika Aldo mengatakan alasan kedatangannya, jelas dia tahu siapa yang telah dia singgung akhir-akhir ini.
Tanpa menunggu jawaban dari mulut si bos, Aldo menghempaskan tubuh kekar pria itu ke belakang sehingga menabrak salah satu kios dagangan, membuatnya hancur berkeping-keping.
Dengan cepat Aldo mengubah ekspresinya dan tersenyum kepada para penjual termasuk paman penjual daging ayam, "Aku akan mengganti rugi setiap barang yang rusak, bisakah kalian berikan kami sedikit ruang."
Tidak ada yang menjawab perkataan Aldo karena saking terkejutnya mereka, namun mereka masih mengikuti kemauan Aldo dengan menjauh darinya agar tidak terlibat pertarungan yang sebentar lagi akan terjadi.
"Apa yang kalian tunggu, cepat hajar si brengsek itu!" teriak si bos tengkorak yang tengah berbaring di tumpukan puing puing.
Ia masih merasakan rasa sakit yang luar biasa, namun masih bisa memberikan perintah kepada para bawahannya.
Para bawahannya yang berjumlah sekitar 20 orang itu sempat tertegun, sebelum mereka melaksanakan perintah bosnya.
"Hiyaa!!"
Dengan serentak mereka menerjang ke arah Aldo, beberapa dari mereka hanya bertarung menggunakan tangan kosong tapi ada beberapa yang mengambil senjata berupa kayu balok.
__ADS_1
Dengan banyaknya kemampuan bertarung Aldo yang sudah mencapai level maksimal dan besarnya statistik yang ia miliki, sekumpulan orang-orang itu bukanlah masalah besar baginya.
Aldo bisa menghindari semua serangan acak mereka dengan mudah dan memukul mundur mereka satu persatu.
Ia pernah membunuh anggota mafia El Causse hanya dengan satu pukulan, dari sana dia belajar untuk tidak menggunakan 100% kekuatannya hanya untuk sekedar pertarungan kecil seperti ini.
Namun meskipun sudah menahan kekuatannya lebih dari 90%, Aldo masih bisa melukai mereka cukup parah.
Hanya dalam beberapa menit saja Aldo sudah berhasil menumbangkan sekelompok preman tersebut dan membuat pasar menjadi berantakan dengan orang-orang yang tergeletak menahan sakit di atasnya.
Orang-orang yang melihat pertarungan Aldo melawan sekelompok orang kekar itu sangat terkesan dan kagum, mereka tidak salah mengagumi seseorang yang ternyata memang sangat kuat.
Aldo menyeringai sambil menghampiri bos geng tengkorak yang masih tergeletak diam di tempatnya tadi dengan matanya yang melebar.
"I- ini tidak mungkin, semua orang-orangku bisa di kalahkan dengan mudah.."
"Aku dengar kau pernah dikalahkan oleh seorang ahli silat beberapa minggu yang lalu." ujar Aldo sambil mendekati si bos.
Si bos tidak bisa menjawab, ia hanya bisa membayangkan kekalahannya yang sangat menyedihkan beberapa minggu lalu.
Dimana saat itu semua anak buahnya di hajar hingga babak belur, begitupun dengan dirinya yang harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Benar, mereka bukanlah preman biasa, mereka adalah preman yang dilindungi oleh oknum polisi!
"Hahaha, kau pikir dengan mengalahkanku kau sudah bisa bebas? Tidak! Kali ini aku akan membunuhmu dan seluruh keluargamu mendekam di penjara! Hahaha!"
Si bos tertawa lebar mengejek Aldo yang dipikirnya akan mengalami hal yang sama dengan ahli silat yang beberapa minggu mengalahkannya itu.
Namun Aldo sama sekali tidak takut, ia terlihat marah ketika pria di depannya itu membawa-bawa keluarganya!
"Tidak ... para badut berseragam itu tidak akan bisa menyentuhku, dan aku akan membuat kalian sangat menderita jauh melebihi apa yang ahli silat itu lakukan kepada kalian..." ucap Aldo dingin, membuat semua anggota geng tengkorak bercucuran keringat dingin.
...
...
...
__ADS_1
Beberapa jam kemudian di lokasi pasar, terlihat para pedagang dan pembeli yang tengah membereskan puing puing kekacauan akibat pertarungan sebelumnya.
Seperti kata Aldo, ia menanggung semua biaya kerusakan yang ada bahkan menambah biaya 2 kali lipat.
Di malam hari itu juga beberapa mobil polisi datang ke TKP, namun semuanya sudah beres dan tidak ada jejak-jejak Aldo ataupun geng tengkorak di tempat kejadian.
Salah satu polisi yang menjabat sebagai kapten menghampiri paman penjual daging ayam dan menanyainya dengan sedikit arogan.
"Kami mendapat laporan jika ada kekacauan disini, dimana mereka sekarang?"
Si Paman menatap polisi itu sejenak lalu tersenyum, "Sepertinya kau terlambat, pak polisi."
"Dasar lancang, panggil dia kapten!" sahut salah satu anggota kepolisian menganggap apa yang dilakukan paman penjual daging ayam itu tidak sopan.
Melihat itu wajah semua orang pasar menjadi dingin, mereka sudah muak dengan para badut yang memakai seragam itu.
"Jawab saja pertanyaanku atau kalian juga akan ikut kami seret ke penjara!" bentak sang kapten.
Paman penjual daging ayam tidak gentar sama sekali, ia berdiri di hadapan kapten polisi tersebut dan memandangnya secara langsung.
Sungguh tindakan pemuda pemberani sebelumnya telah menyadarkannya untuk jangan sampai kehilangan kehormatan berhadapan dengan oknum hukum abal-abal seperti ini.
Negri mereka telah merdeka selama bertahun-tahun, namun sekarang bukan penjajah yang mereka lawan melainkan para pemerintahan, orang yang bertanggung jawab pada negri mereka.
"Pemuda itu menitip salam untuk kalian dan menyuruh kalian untuk datang dan menyaksikannya sendiri." ucap si paman.
Kapten polisi tersebut mengerutkan keningnya, "Menyaksikan apa?"
Si paman sedikit tertawa lalu melanjutkan sambil merentangkan kedua tangannya, "Hukum yang sesungguhnya!"
Suasana menjadi hening ketika si paman mengatakan hal yang dianggap lucu oleh oknum polisi, namun perlahan namun pasti sorakan dukungan dapat terdengar dari kerumunan pasar.
"Ya, itu benar, hukum yang sesungguhnya akan ditegakkan malam ini juga!"
"Ya, itu benar!!"
"Yaaa!!"
__ADS_1
Tak lama kemudian, pasar menjadi sangat heboh dengan sorakan para pedagang dan pembeli seolah mereka telah merdeka dari penindasan yang selama ini mereka alami.
Seorang pria yang mereka temui tadi sungguh mengubah cara pandang orang-orang dengan tindakannya yang berani.