
Myra sangat kesal karena tidak di hiraukan dari tadi, ia kemudian menuntut penjelasan yang sejelas-jelasnya dari sepasang pria dan wanita di depannya.
Novita sedikit tidak enak untuk membicarakannya karena bagaimanapun adiknya itu sudah mengatakan jika pria yang dicintainya adalah Aldo.
Namun Aldo tidak ragu untuk menceritakan masa lalunya dengan Novita kepada Myra seperti kata Alexa, lebih baik jujur.
"Oke ... biarkan aku memikirkan ini sejenak ..."
Myra tidak tahu bagaimana harus menanggapi penjelasan Aldo karena bagaimanapun terlalu membingungkan baginya untuk mengolah informasi yang barusan terjadi.
"Jadi kakakku adalah orang yang dulu pernah Om cintai dan sekarang dia pergi tiba-tiba meninggalkanmu sama seperti meninggalkan keluarganya?"
"Sebenarnya sampai sekarang juga aku masih cinta." kata Aldo mengkoreksi.
Karena perkataannya itu membuat Novita menatapnya secara refleks, Aldo juga membalas tatapan Novita dengan santai lalu berkata, "Aku serius."
"Baik aku mengerti! Om mencintai kakakku, begitu juga sebaliknya, itu artinya aku harus mundur dari ini dan mengalah!" jelas Novita membuyarkan keduanya.
Ia memantapkan hatinya untuk mengalah demi kebahagiaan kakaknya, namun kesedihan yang teramat sangat langsung menyelimuti seluruh hatinya begitu mengatakan hal itu.
Myra tidak kuat lagi berlama-lama di depan pasangan itu, jadi dia ingin berbalik untuk pergi namun Novita menahannya.
"Myra, apa maksudmu? Aku tidak mencintainya sama sekali."
Myra berbalik dan menatap wajah kakaknya dalam-dalam lalu berkata, "Kakak tahu kalau aku tidak mudah untuk dibohongi, mata kakak mengatakan dengan jelas kalau kakak mencintainya. Aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian jadi sebaiknya aku mundur."
"Myra, kau tidak boleh menyerah begitu..." ucap Novita sedih.
Ia kembali mengingat bagaimana Myra menceritakan tentang kisah cintanya dengan penuh semangat dan antusias, itu adalah pertama kalinya ia melihat adiknya seantusias itu jadi ini pasti sangat melukai hatinya.
Novita dan Myra sama-sama ingin mengalah demi saudari mereka. Myra berpikir jika yang pantas memiliki Aldo adalah kakaknya karena bagaimanapun juga Alex membutuhkan seorang ayah, lagipula Alex juga sudah mengakui Aldo sebagai ayahnya.
Disisi lain Novita tidak ingin cinta pertama adiknya kandas begitu saja, jadi dia juga berniat untuk mengalah.
"Aldo, lakukan sesuatu." pinta Novita dengan wajah memelas karena semua permasalahan ini ada di Aldo, jadi dia pasti bisa meredakan suasana.
Aldo berpikir sejenak lalu berkata, "Aku tidak ingin melukai salah satu dari kalian, jadi bisakah kita bertiga menjalin hubungan bersama?"
Aldo sedikit ragu ketika mengatakan itu namun ia menguatkan dirinya untuk tetap mengeluarkan solusi untuk masalah yang melanda mereka berdua.
Tidak ada lagi suara pertengkaran dari Novita dan Myra, mereka berdua berdiam diri sambil memandangi Aldo.
__ADS_1
Suasana tiba-tiba menjadi canggung, sebelum Aldo membuka suaranya Alex tiba-tiba menyela.
"Itu hal yang bagus!" teriaknya dengan keras.
Mereka bertiga memandangi Alex yang sedari tadi duduk di sofa sambil menyaksikan drama yang terjadi di depannya secara langsung.
"A- Alex, apa maksudmu nak?" tanya Novita gugup.
"Aku rasa kalian bertiga sangat cocok, jadi tidak ada salahnya untuk bersama-sama, bukan? Lagipula dengan ini kita akan menjadi keluarga yang besar."
"A- apa kau mengerti maksud kata-katamu itu?" sekarang giliran Myra untuk bertanya dengan gugup.
"Tentu, kalian ingin membangun keluarga, kan? Aku ingin ibu dan bibi bisa akrab selamanya, jadi kenapa kita tidak membangun keluarga bersama daripada harus meninggalkan satu sama lain?"
Alex menunjukkan ekspresi sedih dan melanjutkan perkataannya, "Sudah lama aku sangat kesepian dan sekarang aku sangat bahagia karena ada bibi yang selalu merawatku ketika ibu pergi bekerja, aku tidak ingin berpisah dari bibi yang baik hati."
Myra menjadi terharu, ia kemudian memeluk Alex dengan penuh kasih sayang.
"Bibi tidak akan pernah meningkatkanmu, jadi bibi akan menerima semua saranmu."
Novita juga terharu melihat hal itu karena dia sadar jika sudah membiarkan anaknya kesepian ketika mereka tinggal bersama di luar negri, jadi dia ikut memeluk anaknya yang polos dan baik hati itu.
Kedua hati wanita sekeras batu itu akhirnya luluh dengan bujukan dan rayuan dari seorang anak kecil yang berwajah polos, namun di balik kepolosannya itu terdapat sosok yang cerdik.
Aku berhasil sesuai rencana, Ayah! - batin Alex sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Aldo.
Aldo juga mengedipkan sebelah matanya untuk merespon.
Anak yang cerdas! - pikirnya.
...
...
...
Aldo pergi dari rumah keluarga Pak Suman ketika hari sudah menjelang sore, saat itu juga dia sudah bertemu dengan kedua orang tua Novita dan langsung membicarakan tentang keputusan Novita dan Myra untuk berbagai pria.
Awalnya mereka berdua sangat terkejut tapi setelah mereka bertiga menjelaskan situasinya lebih jauh, akhirnya pasangan paruh baya itu paham akan situasinya dan merestui hubungan tidak normal mereka.
Tentu saja Aldo juga membicarakan tentang wanitanya yang lain seperti Ashlee, Katharine, dan Melody agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya.
__ADS_1
Meskipun sempat terjadi keributan diantara mereka, tapi akhirnya situasi kacau itu kembali mereda berkat si kecil Alex yang mengatakan kalau dia bahagia memiliki banyak ibu, dengan begitu dia tidak akan kesepian lagi ketika ditinggal bekerja oleh Novita.
Sebagai ibu yang baik dan sayang anak, Novita tentu saja tidak bisa menentang keinginan Alex dan berakhir menyetujuinya.
Untuk sekarang mereka akan mengawasi situasi terlebih dahulu dan mengamati bagaimana sikap ketiga wanita Aldo, jika mereka ramah maka Novita bisa beradaptasi dengan mereka dan sebaliknya jika mereka jahat, maka ia dan Myra akan memilih pergi.
Sebelum pergi meninggalkan rumah keluarga Pak Suman, Aldo sudah menyampaikan akan mengajak Novita pulang ke rumahnya di kampung dan menemui keluarganya.
Novita menyetujui ajakan Aldo, lagipula dia juga merindukan sosok wanita yang telah menganggapnya sebagai anaknya sendiri 10 tahun lalu.
Dan disinilah mereka berdua keesokan harinya, di bandara pesawat dengan tujuan penerbangan Surabaya karena disanalah kampung halaman Aldo.
Mereka tidak mungkin melalui jalur darat karena pastinya akan memakan banyak waktu sementara Aldo hanya memiliki sedikit waktu untuk pergi.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Novita ketika mereka sudah duduk di kursi penumpang.
"Aku sudah menyuruh Aria mengurusnya?"
"Aria?" tanya Novita sambil mengerutkan keningnya, ia kemudian menatap Aldo dan bertanya lagi, "Apa dia juga wanitamu?"
"Apa? Tentu saja tidak, dia rekan kerjaku di perusahaan dan aku memintanya untuk mengambil posisiku selagi aku pergi. Dan coba tebak, dia memerasku 100 juta untuk 1 hari kepergianku sebagai upahnya." jelas Aldo menekankan jika Aria bukanlah wanitanya.
Novita mengalihkan pandangannya dari Aldo lalu hanya bergumam, "Oh..."
Sepertinya Novita belum terlalu mempercayai kata-kata Aldo, ya dilihat darimanapun seorang pria yang telah memiliki 4 orang kekasih sulit untuk dipercayai lagi jika suatu ketika ia akan kembali menambah jumlah kekasih lagi.
"Bagaimana dengan Alex?" tanya Aldo mengalihkan pembicaraan.
"Dia akan dirawat oleh Myra selagi aku pergi." jawab Novita, dia terdiam sejenak lalu melanjutkan tanpa menatap mata Aldo, "Apa kau serius ingin menjadi ayahnya?"
"Apa kau meragukanku?"
"Tidak, bukan begitu, aku senang jika Alex akhirnya memiliki seorang ayah. Dulu aku sempat khawatir karena Alex selalu di ejek oleh teman-temannya karena tidak memiliki ayah, jadi dia sering berkelahi karena itu."
Aldo menatap wajah Novita, ada jejak kerinduan yang terpancar dalam matanya.
"Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan ayahnya?"
Novita melebarkan matanya tanpa sepengetahuan Aldo ketika mendengarnya menanyakan hal itu, namun belum sempat bereaksi, suara pramugari dengan cepat mengalihkan perhatian mereka.
"Tuan tuan dan nyonya nyonya, pesawat akan segera lepas landas, harap pasang sabuk pengaman dan matikan telepon genggam anda..."
__ADS_1