
Sudah beberapa hari semenjak Aldo melihat Melody di pesta pernikahan Daniel dan Evelyn, dari yang dia dengar seharusnya Melody sudah pergi ke luar negeri usai pesta tersebut.
Tapi apa yang ia lakukan di restoran Johan? Terlebih lagi ia memesan minuman beralkohol dengan jumlah yang cukup banyak hingga membuatnya mabuk berat.
Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Aldo, ia masih asyik menuang minuman di gelas lalu meneguknya. Wajahnya memerah padam sementara matanya sayu.
"Alexa, tolong beli pil pereda mabuk di toko system." gumam Aldo.
[Baik Tuan!]
Tak lama setelah itu muncullah sebuah pil kecil berwarna putih di tangan Aldo, itu adalah pil pereda mabuk dengan harga sekitar 100 Poin Magis karena itu merupakan barang Magis.
Benda biasa akan di jual dalam Poin System, namun benda Magis akan dijual dengan Poin Magis.
Dilihat dari kondisinya, tidak mungkin Melody mau mengonsumsi pil pemberian Aldo. Jadi dia memilih untuk melarutkannya ke dalam gelas berisi alkohol yang akan di minum olehnya.
Dan berhasil, Melody kini berangsur-angsur mulai membaik.
"Sebaiknya jangan minum terlalu banyak." ujar Aldo berbicara kepada Melody yang telah pulih.
Melody sedikit linglung, ia menatap Aldo dengan wajah penasarannya seolah pernah melihat Aldo namun dia lupa.
"Ah, bukankah kamu adalah orang yang ada di video musik itu?" Melody tampaknya mulai mengenali Aldo.
"Jika itu video musik yang berada di bawah naungan perusahaan FGC, maka itu benar." jawab Aldo.
Sepertinya lagu yang di nyanyikan Aldo sudah cukup terkenal hingga diketahui oleh Melody. Dan sepertinya penyanyi terkenal itu sangat mengagumi Aldo dari caranya menata pria di depannya tersebut.
"Aku tidak pernah mendengar lagu seindah itu sebelumnya. Apakah kamu menciptakannya sendiri?"
"Itu benar. Lagu-lagumu juga bagus, jadi tolong jangan merendah."
"Benarkah? Senang mendengarnya."
Melody tersenyum lembut seolah beban berat di pundaknya telah hilang.
Aldo sedikit terpesona melihat senyuman gadis itu sebelum dia menggelengkan kepalanya, berusaha untuk sadar.
"Ngomong-ngomong kenapa kau masih ada di Indonesia, dan sepertinya kau sedang punya masalah sehingga membuatmu mabuk-mabukan."
Aldo mengalihkan pembicaraan. Seolah ingat sesuatu yang penting, Melody menunduk dengan sedih.
"Aku tidak ingin pergi dari tempat asalku lagi ... mereka selalu menyuruhku untuk bekerja tanpa memberiku waktu luang, aku benar-benar tidak betah bekerja di sana lagi..." ungkap Melody berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
Aldo menepuk pundak gadis itu untuk menenangkannya.
"Kalau kau tidak betah, kenapa kau tidak pergi saja dari sana."
"Bukannya tidak mau, tapi aku tidak bisa melakukannya. Mereka mempunyai ribuan cara untuk membuatku tetap tinggal."
"Percayalah jika sekarang kau pasti bisa pergi dari agensimu. Karena kau tidak sendirian."
Melody menatap Aldo dengan serius, pandangannya matanya yang sayu tidak menghilangkan kecantikan yang sudah melekat dalam dirinya semenjak lahir.
"Maksudmu?"
"Kau akan melihatnya langsung nanti." jawab Aldo, ia tidak ingin memberitahu gadis itu secara langsung.
__ADS_1
Aldo berdiri dari tempat duduknya lalu beralih duduk di kursi sebelah Melody.
"Melody." Aldo menyebut nama gadis di depannya dengan hangat.
Mendengar namanya dipanggil, Melody kemudian
menoleh kesamping dan melihat wajah Aldo
dalam jarak yang cukup dekat.
Melody tidak pernah melihat ada wajah seorang pria yang sangat dekat dengannya.
"Pilihlah keputusanmu berdasarkan hati nuranimu." ucap Aldo sambil tersenyum hangat.
Dalam jarak yang dekat itu, Aldo mengeluarkan perkataan dan senyuman yang bisa dibilang sangat berbahaya bagi seorang perempuan.
Perkataan Aldo sukses membuat Melody tertegun dan tersipu, perkataannya itu berhasil membuat hati kecil Melody tergerak dan berani untuk mengambil keputusan yang ia pilih untuk kedepannya.
Senyuman hangat yang Aldo keluarkan juga membuat perasaan Melody menjadi tidak karuan dan jujur saja, Melody tidak mengetahui perasaan apa yang ia rasakan kali ini.
Tangan Aldo kemudian membelai rambut hitam
milik Melody dengan lembut.
Melody tidak menolak ketika seorang pria yang baru dikenalnya itu membelai rambutnya malah Melody terkesan sangat menikmatinya. Entah kenapa sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan muncul didalam hati Melody
Senyuman hangat dan indah yang Aldo keluarkan dan belaian lembut yang ia lakukan kepada rambut Melody sukses membuat tubuh gadis itu memanas dengan alasan yang tidak ia ketahui.
Wajah Melody juga semakin memerah jauh lebih merah dari sebelumnya. Perasaan yang tidak karuan kembali merasuki tubuh Melody tapi kali ini lebih deras dari
sebelumnya.
Namun ekspetasi selalu tidak sesuai dengan kenyataan.
Triingg....
Sebuah suara panggilan masuk terdengar
di telepon Melody yang terletak di atas meja.
Melody mengambil telepon miliknya yang dari tadi
berdering dan segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Melody! Darimana saja kau, cepat kesini, kita harus berangkat ke Swedia secepatnya sebelum bos marah!"
Pekikan seorang wanita terdengar dari sebrang telepon, tubuh Melody sedikit bergetar ketakutan mendengar suara dari asistennya itu.
Ia tidak menjawab melainkan menatap Aldo seolah meminta bantuannya.
"Datang saja ke tempatnya." saran Aldo.
Melody mengangguk paham.
"A- aku akan kesana." jawabnya gugup.
__ADS_1
"Cepatlah atau kau akan dalam masalah besar!"
Tut...
Panggilan telepon telah diputus.
Melody diam membeku di tempatnya sebelum Aldo menyadarkannya.
"Sebaiknya kau menghadapinya, ini adalah momen yang tepat untuk berpisah dari orang-orang jahat itu."
"B- baiklah."
Melody ingin beranjak pergi, namun sebelum itu dia berbalik dan bertanya kepada Aldo, "Apakah kita bisa bertemu kembali?"
"Tentu." jawab Aldo tersenyum lembut.
Melody kemudian pergi dari restoran milik Johan dengan perasaan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya setelah berbincang dengan Aldo selama beberapa saat.
Melihat kepergian Melody, Aldo bertanya kepada Alexa.
"Apa dia juga salah satu pecahan jiwa istriku di masa lalu?"
[Tepat sekali.]
...
...
...
Sementara itu di sisi jalan raya yang padat, Melody tengah menunggu bis umum untuk ke tempat asistennya yaitu Rini.
Namun tiba-tiba dari kejauhan ia mendengar suara teriakan Rini yang berada di sebrang jalan.
"Melody, akhirnya aku menemukanmu!"
Wanita itu tampak sangat marah karena Melody melarikan diri selama beberapa hari ini dan tidak dapat dihubungi, ia menggertakkan giginya kesal ketika dengan terburu-buru menyebrang jalan untuk mencapai Melody.
"Aku melepaskan pandangan darimu sesaat tapi kau sudah kabur begitu saja, jangan harap kau bisa lepas dariku sekarang ini!" ancamnya.
Melody sangat ketakutan menghadapi kemarahan Rini karena sebelumnya dia pernah di aniaya olehnya karena membuat wanita itu marah.
Entah hal buruk apa yang menantinya sekarang.
Tin .... Tin .... Tin ...
Suara klakson terdengar sangat nyaring, Melody mengalihkan pandangannya ke sebuah bis yang di tunggunya melaju dengan kencang di jalan raya.
Terlebih lagi di tengah jalan tersebut masih ada Rini yang menyebrang jalan tanpa memperhatikan sekitarnya.
Wanita itu baru tersadar ada bis besar di jalurnya ketika jarak dirinya dengan bis tersebut hanya tinggal beberapa meter saja, alhasil tabrakan maut tidak dapat terhindari.
Tubuh Rini terlempar jauh karena tabrakan keras tersebut, juga membuat kepalanya pecah dan mengeluarkan banyak darah.
Tidak sampai disana, bis yang menabrak wanita itu tidak dapat di rem sehingga ia tetap melaju dan melindas tubuh Rini hingga kehilangan nyawanya dengan cara yang sangat mengenaskan.
Jalanan mendadak heboh, Melody menutup mulutnya dengan mata yang membulat sempurna karena menyaksikan kecelakaan maut tersebut di depan matanya.
__ADS_1
Dari kerumunan orang-orang yang berkumpul untuk menyaksikan kejadian itu, Melody melihat sosok wanita menyeramkan yang tengah memandangnya dengan aneh.
Itu adalah arwah kakaknya, Maria....