
"Hei apa yang kalian berdua lakukan disini?! Apa kalian tidak melihat garis kepolisian disana?!"
Zack menoleh sambil mengernyitkan keningnya karena kesal, "Aku lihat, memangnya kenapa?!"
"Apa kalian tidak pernah bersekolah? Garis polisi artinya tempat ini tengah berada dalam penyelidikan kepolisian, orang yang tidak berkepentingan tidak boleh masuk kesini."
Keributan diantara Zack dan petugas polisi yang datang menegur itu membuat semua pasang mata menoleh ke arah mereka bertiga.
Semua orang menatap Zack dan Exel dengan pandangan aneh.
"Kau! apa kau tidak tahu siapa kami!" Zack yang kehilangan kesabaran ingin segera menghajar petugas di depannya itu, namun Exel segera menghentikannya.
"Exel, dia baru saja merendahkan kita..."
"Diamlah, biar aku sendiri yang mengurus ini." ujar Exel kemudian berdiri di hadapan petugas polisi yang menegur mereka.
"Kau bilang kalau kalian sedang melakukan penyelidikan di tempat ini?" tanya Exel tenang.
"Itu benar." jawab petugas itu sedikit terpana dengan kecantikan yang dipancarkan oleh Exel.
"Kalau begitu, bisa kau beritahu padaku hasil penyelidikan kalian selama ini?"
"I- itu tidak mungkin Nona. Apapun hasil penyelidikannya harus dirahasiakan sebelum diserahkan kepada hakim."
"Jadi kau menolak permintaanku ya..." gumam Exel seiring bola matanya sedikit bersinar merah pekat.
Pikiran petugas yang melihat itu dengan mata kepalanya mulai kosong, kini hanya satu suara yang terdengar dalam kepalanya.
"Tunjukkan hasil penyelidikanmu..."
Exel tersenyum licik ketika melihat seorang pria dewasa yang berdiri tepat di depannya telah terpengaruh dalam hipnotisnya.
Ini adalah kemampuan khusus yang dimiliki oleh Exel, Perfect Hypnosis.
"Silahkan itu aku..." ujar petugas yang telah terkena hipnotis lalu berbalik pergi menuntun Exel dan Zack menuju tempat dimana hasil penyelidikan mereka disimpan.
"Apa tidak masalah memperlihatkan kemampuanmu di hadapan banyak orang?" tanya Zack.
Exel tersenyum, "Tidak masalah jika semua yang melihatnya tewas kan?"
"Apa maksudmu?"
Zack melihat ke sekelilingnya, puluhan petugas yang ada di tempat itu terlihat sedikit aneh.
Ternyata mereka semua juga terkena hipnotis dari Exel.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang maukah kalian mati untukku?" ucap Exel dengan senyuman lembut sambil menatap orang-orang yang terkena hipnotisnya.
Dengan serentak mereka langsung mengambil pistol yang tersarung di pinggang mereka dan mengarahkan moncongnya ke kening mereka.
Dan dengan satu tarikan pelatuk secara bersamaan.
Dor!
Puluhan petugas kepolisian telah tewas dengan sendirinya...
'Dia pernah bilang untuk jangan membuat tindakan yang mencurigakan sebelum datang ke negara ini, apakah membunuh puluhan polisi bukan termasuk tindakan mencurigakan?' batin Zack.
"Sudah sampai, dokumen hasil penyelidikan ada di dalam sana." ucap petugas yang menuntun mereka sambil menunjuk ke sebuah mobil polisi.
Di dalam mobil tersebut terdapat sebuah dokumen yang berisi hasil penyelidikan dari kasus yang menimpa para tamu undangan di pesta pernikahan Aldo.
"Kurasa kita sudah menemukan petunjuk..." gumam Zack setelah membaca isi dokumen tersebut.
"Baiklah, kau bisa mati sekarang." perintah Exel kepada petugas terakhir yang masih hidup.
Seperti petugas lainnya, ia mengambil pistolnya dan menembak kepalanya sendiri hingga tewas.
...
...
...
"Bunuh diri masal? Siapa yang percaya dengan berita bodoh ini?" gumam Melody yang bersantai sambil menyantap keripik kentang.
Ia ditemani oleh Katharine yang ikut menonton berita di televisi bersamanya, hari sudah mulai sore tapi berita di layar televisi menunjukkan sesuatu yang tidak masuk akal.
"Mereka hanya mengincar jumlah penayangan dengan menyajikan berita yang tidak masuk akal." sahut Katharine.
"Itu benar, dilihat darimanapun tidak mungkin seseorang bisa melakukan bunuh diri secara bersama-sama. Apakah mereka semua sudah gila?"
"Selain itu, kenapa para polisi tetap melanjutkan penyelidikan walau kejadian itu sudah berlangsung selama satu Minggu? mereka hanya membuang-buang waktu."
Disaat Melody dan Katharine saling berargumen setelah menonton berita di televisi, bel mansion tiba-tiba berbunyi.
Melody menghela nafas kasar karena malas untuk beranjak dari sofanya yang nyaman, tapi tidak ada siapa-siapa lagi yang dekat dengan pintu.
Novita dan yang lainnya sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Biar aku saja yang bukakan." Katharine mengajukan diri, namun Melody dengan cepat menghentikannya.
__ADS_1
"Kau beristirahat saja dulu, biar aku saya yang buka." Melody tidak tega membuat seorang gadis muda yang sedang mengandung itu melakukan sesuatu untuk dirinya.
Melody sedikit merenggangkan tubuhnya usai bangkit dari sofa yang didudukinya selama beberapa jam itu.
Ia kemudian berjalan ke pintu dan membukanya dengan perlahan, dan alangkah terkejutnya Melody ketika melihat orang yang membunyikan bel mansion itu.
"Kakak!" ucap Melody sambil memeluk kakaknya, Maria.
"Kau terlalu bersemangat, Melody." ujar Maria dengan senyuman lembut sambil mengelus rambut Melody.
"Habisnya kau tiba-tiba menghilang tanpa mengabariku, kemana saja kau selama ini?" kata Melody sambil mengembangkan pipinya karena jengkel.
Terakhir kali Melody melihat kakaknya adalah saat di pesta pernikahannya, setelah itu Maria menghilang selama seminggu ini tanpa kabar.
Melody sudah menanyakan tentang kepergian Maria kepada Aldo, namun Aldo hanya mengatakan jika Maria memiliki pekerjaan penting di luar negri.
"Bukankah Tuan Aldo sudah mengatakan alasan kepergianku?"
"Itu benar, tapi kenapa kau pergi tanpa mengabariku? apa kau tahu kalau aku sangat khawatir, aku sempat mengira kalau kau terluka karena insiden itu..." Melody mulai menitihkan air matanya yang membuat Maria merasa bersalah.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak meninggalkanmu dalam kondisi itu, tapi tidak apa-apa, aku sudah kembali sekarang dan akan selalu bersamamu."
Maria memeluk erat tubuh adiknya, adik yang dulunya sangat kecil dan manja kini telah berubah menjadi wanita dewasa dan hebat.
Setelah Melody tenang, Maria kemudian bertanya, "Oh iya, dimana Tuan Aldo?"
"Dia baru saja pergi tadi pagi, dia tidak akan pulang untuk beberapa hari ini karena pekerjaannya."
Maria sedikit terkejut, ia tahu pasti jika kata 'bekerja' yang ditujukan oleh Aldo adalah kegiatan lain yang dirahasiakan dari semua orang.
Tapi Maria berpikir jika tidak mungkin Aldo pergi meninggalkan para istrinya tanpa perlindungan sama sekali.
"Apa ada orang lain yang bersama kalian di tempat ini? misalnya orang kepercayaan Tuan Aldo?" tanya Maria.
"Leon ada disini untuk menjaga kita."
"Leon?"
"Oh, sepertinya kau belum pernah bertemu dengannya. Dia adalah orang yang hebat, Aldo sangat mempercayainya karena dia adalah teman dekatnya." kata Melody memuji Leon.
Maria berpikir jika Leon adalah orang yang diperintahkan oleh Aldo untuk tinggal disana dan melindungi para istrinya.
"Bisakah aku bertemu dengannya?"
"Tentu saja!"
__ADS_1
Melody kemudian mengajak Maria ke halaman belakang untuk bertemu dengan Leon.