
Tak berselang lama kemudian beberapa petugas kebersihan datang untuk membereskan mayat yang tergeletak begitu saja di lantai seolah-olah kejadian seperti itu sudah biasa terjadi.
Sementara itu si Bos membuka kain yang membalut lengannya sambil menatap bawahannya dengan sangar, "Siapa yang membunuhnya? Apakah itu musuh kita bajingan Devon serta kelompok mafia sialannya itu?"
"Tidak tuan, kelompok Insigne sama sekali tidak terlibat kali ini." jawab bawahannya yang membuat pria itu mengerutkan keningnya.
"Lalu siapa? Jangan bilang kalau di kota ini ada kelompok mafia lainnya?" tanyanya namun dibalas dengan gelengan kepala bawahannya.
"Yang membunuh salah satu anggota kita itu tidak lebih dari seorang pria biasa." ungkap bawahannya yang membuat pria itu sangat tercengang.
Dia adalah ketua dari kelompok mafia yang paling ditakuti di seluruh Prancis, namanya adalah Gerald sementara namun kelompok mafianya adalah El Causse yang sudah memiliki anggota lebih dari 5 juta orang.
Meskipun orang yang tewas hanya anggota rendahan tapi bukan berarti ia adalah orang yang lemah karena sejatinya setiap anggota El Causse memiliki kemampuan bela diri yang sangat handal.
Satu satunya kelompok mafia yang bisa menandingi El Causse hanyalah kelompok mafia Insigne yang dipimpin oleh pria bernama Devon, tapi sekarang mereka sedang berada di luar negeri karena suatu urusan.
"Aku tidak percaya ini, apa kau punya bukti yang pasti?" tanya Gerald masih belum percaya jika ada orang biasa yang membunuh anggotanya.
"Jika anda tidak percaya, silahkan lihat video rekaman CCTV ini." bawahannya menyodorkan sebuah tablet dengan dan memutar sebuah rekaman untuk Gerald.
Di dalam rekaman tersebut terlihat anggotanya yang sedang menggoda seorang wanita namun dihalangi oleh kedatangan seorang pria yang entah datang darimana.
Singkat cerita konflik terjadi diantara mereka, salah seorang anggota mafia El Causse ingin memukul pria itu namun tidak berhasil karena kelincahan pria itu yang melakukan pukulan balik dan menewaskan anggotanya.
Gerald membelalakkan matanya melihat kelincahan dan kekuatan pria itu, "Dia adalah seorang ahli seni bela diri. Apa kau tahu identitasnya?"
"Identitasnya kurang jelas dan kami sedang menyelidikinya untuk saat ini."
"Temukan identitas pria ini dengan cepat." perintah Gerald lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah wanita dalam rekaman.
"Ternyata putri pak tua itu masih hidup dan sedang bersembunyi sekarang, aku harus menyingkirkan dia secepatnya sebelum dia merebut perusahaanku..." gumam Gerald tersenyum licik.
...
...
__ADS_1
...
"Ashlee, kita tidak boleh melakukan ini..." ujar Aldo lirih namun tidak melakukan perlawanan yang signifikan.
Perlahan, tangan Ashlee merayap melewati lengan Aldo yang kekar. Ia bisa merasakan lekuk pembuluh darah yang semakin memanas setiap kali ia bergerak.
Ashlee berdiri menikmati aroma keringat Aldo yang terus keluar seiring tubuhnya memanas sebab efek samping obat yang di berikan, membuat sel-sel di otak wanita itu memburu dengan wajah yang memanas.
Ashlee mendorongnya perlahan sampai terduduk di sofa ruangan. Aldo menahan nafas ketika Ashlee membentangkan kakinya kemudian duduk di pangkuan Aldo.
Ditekannya dada bidang Aldo dengan gunung besar Ashlee yang berisi dan montok, membuat detak jantung Aldo mengalir ke tubuh Ashlee yang hanya dibalutkan bikini.
Nafas mereka berdua mulai berlomba.
Mata Ashlee menjadi sayu seiring pipinya yang memerah.
Ashlee menarik kepala Aldo hingga wajahnya terbenam di antara gunung besar wanita itu.
"Ahn!" jerit Ashlee merasakan tangan Aldo mulai meremas pinggulnya, bergerak-gerak pelan nan lembut.
Dengan wajahnya yang masih tenggelam dalam himpitan gunung Ashlee, Aldo membuka mulutnya dan menikmati kenyalnya gunung wanita agresif itu dengan lidahnya, membuat Ashlee mendesah sambil meremas rambut Aldo.
Hebatnya, nafas Aldo kembali teratur, seolah memanfaatkan waktu yang dia punya sebaik mungkin untuk menikmati suguhan di depan matanya.
"Badanmu bagus." pujinya pelan membuat Ashlee sangat terkejut.
"K- kau masih sadar setelah mengonsumsi obat sebanyak itu?" Ashlee sangat tidak percaya, seharusnya dengan jumlah obat yang diberikannya akan mampu membuat siapapun langsung menggila.
"Seharusnya kau tidak melakukan hal ini hanya untuk mendapatkan perhatianku, aku akan melakukannya dengan senang hati jika kau yang memintanya..." ujar Aldo menatap balik Ashlee dengan berani.
Aldo bisa terbebas dari efek obat pemberian Ashlee tidak lain adalah karena system yang menyembuhkannya beberapa saat lalu.
Aldo terpaksa mengorbankan cukup banyak Poin System untuk melakukan pengundian dan mendapatkan beberapa kemampuan hebat.
Tapi bukan saatnya membahas tentang itu.
__ADS_1
Aldo menggerakkan tangannya menggapai pinggul Ashlee dan menekan benda kenyal itu ke bagian sensitifnya sehingga Ashlee dapat merasakan sesuatu yang keras di bawah sana.
Setelah itu Aldo mencumbu bibir merah muda Ashlee, ia memakai lip gloss beraroma stroberi hari ini sementara Aldo juga menyukai stroberi yang membuat pria itu semakin lahap dengan bibir Ashlee.
Cumbu4n panas Aldo membuat hormon di dalam diri Ashlee naik-turun, tangan besar dan kekarnya menyusuri gunung Ashlee yang mulai mengencang.
Aldo berhenti sejenak untuk membiarkan wanita di pangkuannya mengatur nafas.
"K- kurasa sudah cukup sampai disini..." kata Ashlee dengan nafas tersengal-sengal.
Aldo tersenyum licik, "Kaulah yang memulai semuanya, jadi kau harus bertanggung jawab."
"Nngh!"
Aldo semakin liar dengan tubuh Ashlee yang membuat wanita itu semakin mengerang nikmat, Ashlee mencoba menolak namun apalah daya karena dialah yang telah memulai semuanya.
Jadi dia harus bertanggung jawab karena telah membangunkan singa yang tertidur.
Mereka berdua kembali dalam nikmat masing-masing tanpa komentar. Hanya ******* tipis yang kadang keluar tak tertahankan.
"APA-APAAN KALIAN!?"
Aldo spontan menarik dirinya lalu mengalihkan matanya ke arah sumber suara. Terlihat suami Ashlee tengah berdiri di ambang pintu dengan wajah murka.
Aldo terdiam dan tidak tahu harus bertindak seperti apa, tapi di sisi Ashlee dia sama sekali tidak terkejut, sebaliknya wanita itu berdiri dengan santai dan memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai.
Ashlee memakai pakaiannya dengan perlahan yang membuat suaminya semakin murka, "Ashlee, apa sebenarnya maksudmu!" teriaknya.
Ashlee tersenyum untuk menanggapi pertanyaan yang dilontarkan pria di depannya, "Akhirnya kau menyebut namaku setelah sekian lama memanggilku jal4ng dan lain sebagainya..."
"Apa?"
"Seperti yang kau lihat, pria ini adalah kekasih baruku." ujar Ashlee menunjuk ke arah Aldo dengan senyuman penuh arti.
Seakan paham isyarat yang diberikan Ashlee, Aldo berdiri menghampiri Ashlee dan merangkul pinggulnya dengan mesra, "Benar, sekarang Ashlee adalah pacarku. Jadi tolong menjauhlah darinya."
__ADS_1
"Omong kosong, A- Ashlee adalah i- istriku!" bantah pria itu terbata-bata yang dibalas dengan tatapan jijik Ashlee.
"Istri? Kau bahkan tidak pernah menganggapku sebagai istrimu semenjak keluargaku hancur!" cibir Ashlee membuat pria itu tertegun.