
Aldo sedikit tersentak mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Johan dengan mulut bau alkoholnya, Aldo belum mengatakan apapun tentang para wanitanya kepada keluarganya di kampung.
Entah apa yang akan mereka pikirkan jika mengetahui tiba-tiba putra tertua mereka menikah dengan 3 orang wanita sekaligus, sementara setahu mereka sekarang Aldo tengah menjalin hubungan kasih dengan Novita.
Aldo tidak bisa mundur lagi, dia sudah berjanji kepada ketiga wanitanya agar segera menikahi mereka dan menjadi keluarga yang besar dan harmonis.
"Aku harus pulang dan membicarakan hal ini dengan mereka." gumam Aldo kemudian bangkit dari kursinya.
Sebelum pergi, Aldo melirik ke arah sahabatnya, Johan yang sejak kapan sudah tertidur pulas karena mabuk.
"Terima kasih, Johan." ucap Aldo sebelum pergi.
Aldo keluar dari restoran Johan, itu adalah tempat yang sering dia kunjungi akhir-akhir ini sekedar untuk berbincang-bincang dan bertukar kisah dengan Johan sambil di temani dengan beberapa botol alkohol.
Dan seperti biasa, Aldo sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda mabuk meski sudah minum lebih banyak dari Johan.
Di dalam mobilnya, Aldo menghubungi nomor telepon ibunya.
Tut...
"Halo Aldo, selamat atas semua kesuksesanmu, ibu dan ayah benar-benar bangga kepadamu karena telah berhasil menjadi bintang besar, maaf karena baru menyampaikannya sekarang."
Aldo dengan sabar menunggu ibunya menyelesaikan kalimatnya terlebih dahulu sebelum ia mengatakan tujuannya.
"Bu, aku ingin bicara-"
"Nak, bagaimana hubunganmu dengan Novita?" potong ibunya.
"H- hubunganku dengannya sangat baik." jawab Aldo gugup, ia masih ingat dengan perkataan ibunya beberapa bulan lalu. Ibunya itu ingin segera memiliki cucu.
"Kamu tahu sendiri kan kalau ibu dan ayah sudah tua, jadi ibu dan ayah sangat mengharapkan seorang cucu..."
Ibu Aldo kembali mengutip kata-kata yang pernah ia katakan sewaktu membicarakan tentang Novita pertama kali, karena itu juga Aldo memperoleh misi yang sangat sulit.
"Ibu ingin seorang cucu? Baiklah, berikan aku waktu dan akan kuberikan kalian cucu sebanyak yang kalian mau." hanya itu yang dapat Aldo katakan untuk menghentikan ceramah ibunya yang selalu muncul ketika mereka bertukar pesan.
"Benarkah? Terima kasih banyak nak, kamu adalah harapan terbesar keluarga kami!"
Setelah pembicaraan itu, suasana hening mulai menyelimuti percakapan mereka, Aldo hanya diam tidak bersuara yang membuat ibunya sedikit kebingungan.
"Ada apa, nak?"
Ibunya bertanya sementara Aldo masih diam, dia kesulitan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada ibunya.
Dia berpikir jika ibunya pasti akan kecewa setelah mendengar yang sebenarnya terjadi, dan Aldo tidak bisa membiarkan itu.
"Bu, kurasa aku harus menemuimu untuk membicarakan sesuatu yang penting."
"Ada apa nak? Kenapa tidak bicara disini saja?" tanya ibunya keheranan, tidak biasanya Aldo berniat untuk pulang.
"Ini penting dan harus di bicarakan secara langsung." balas Aldo.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kau juga belum pulang selama bertahun-tahun dan kami sangat merindukanmu, cepat pulang nak..." itulah kata-kata terakhir yang di ucapkan oleh ibunya sebelum Aldo memutus sambungan telepon.
Aldo menghela napas panjang sambil bersandar di dalam mobilnya. Ia berpikir apa yang seharusnya ia lakukan agar semuanya berjalan dengan baik.
"Alexa, kau punya saran?"
[Lebih baik jujur, tuan.]
"Kalau kau sudah berkata begitu..." Aldo menggantung kata-katanya, lalu menghidupkan mesin mobilnya.
"Aku harus menemui Novita!" lanjut Aldo mulai berkendara ke tempat kerja Novita.
Sesampainya di sana seperti sebelumnya Aldo melihat senior Novita lalu menghampirinya.
"Permisi, boleh aku bertemu dengan Novita?" tanya Aldo.
"Ah, tuan Aldo!" Melihat kedatangan Aldo kembali membuat sang senior menjadi sangat antusias, namun ia segera merubah ekspresinya menjadi kecewa dan sedih.
"Maaf, tapi ... Novita sudah tidak bekerja di sini lagi..."
"Hah, lalu dimana sekarang dia bekerja?" Aldo sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh senior Novita, ia baru bekerja di tempat itu selama beberapa hari dan sekarang sudah keluar.
"Saya sudah menanyakan hal ini kepadanya, dan katanya dia tidak mencari pekerjaan di tempat manapun, dia hanya ingin membantu bisnis keluarganya. Hanya itu yang saya tahu tentangnya, kami bisa memberitahu alamat rumahnya kalau anda mau-"
"Tidak usah, aku sudah tahu rumahnya." sanggah Aldo langsung pergi dari kantor tersebut.
...
...
...
Myra sangat senang semenjak kedatangan anak kecil itu, ia selalu merawat dan memanjakan Alex penuh kasih sayang yang hampir melebihi Novita sendiri.
"Entahlah, kakak rasa menjadi pengangguran tidak terlalu buruk." balas Novita yang tengah asyik rebahan di sofa sambil menonton televisi.
Myra mendengus, "Ucapan kakak sudah seperti seorang otaku yang gemar mengurung dirinya di kamar seharian."
"Habisnya bekerja di luar sangat tidak nyaman, selalu ada serangga menjengkelkan yang menggangu pekerjaaanku..." Novita menunjukkan ekspresi jengkel dan menekankan kata 'serangga' di kalimatnya.
Myra sedikit melirik Novita dan menduga, "Apa itu laki-laki?"
"Aku bilang serangga!"
"Kebiasaan baru kakak semenjak kembali dari luar negeri adalah selalu menganggap seorang laki-laki sebagai serangga kecuali ayah dan Alex, jadi tidak usah berbohong lagi kak."
"Ugh ... kau benar-benar adikku, Myra..."
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"
Novita hanya bisa memberikan ekspresi wajah cemberut karena tidak ada gunanya menyimpan rahasia di hadapan adiknya, entah kenapa adiknya itu sangat mengenal dirinya padahal mereka baru tinggal selama kurang lebih 1 bulan.
__ADS_1
Novita bangkit dan duduk di sofa, lalu berkata, "Dia memang laki-laki yang sangat menjengkelkan."
"Lalu?"
"Dia juga menyebalkan karena selalu menganggu pekerjaanku..."
Myra menatap Novita yang tengah menundukkan kepalanya tampak sedih, wajahnya juga memerah padam.
"Sesuatu pasti terjadi diantara kalian." tebak Myra sukses membuat Novita sangat tercengang.
"B- bagaimana kau bisa tahu?"
Myra tersenyum lembut melihat kakaknya yang sedikit salah tingkah, namun senyuman itu di tujukannya untuk mengejek kakaknya itu.
"Ekspresi wajah kakak sangat mudah di tebak."
"B- benarkah?" ucap Novita sambil meraba wajahnya sendiri dan mencari cermin untuk bercermin.
*Ternyata kakak tidak berubah sejak dulu* - pikir Myra.
Awalnya Myra mengira jika kakaknya sudah jauh berubah semenjak ia kembali dari luar negeri, penampilannya juga sudah jauh berbeda dan nyaris tidak bisa dia kenali lagi sebagai kakaknya.
Namun ternyata tidak, Novita masih sangat ramah terhadap orang-orang di sekitarnya, bahkan jauh lebih ramah dan penuh pengertian.
Tapi di balik keramahan itu ada ketegasan yang tersembunyi di dalamnya...
Beberapa minggu lalu, sekelompok preman mendatangi kedai makan keluarga mereka dengan niat yang tidak baik, mereka ingin memeras keluarga pak Suman.
Tempat tinggal mereka berdua di tempat terpencil dan polisi jarang di melalui rute itu, jadi disana adalah tempat berkumpulnya para bajingan keji.
Mereka berani berbuat sejauh itu terhadap kedai makan keluarga Pak Suman karena mendapatkan informasi jika pria yang pernah mengalahkan geng Death Metal telah pergi dari keluarga itu.
Mereka mengira jika keluarga Pak Suman dapat di peras seperti dulu lagi.
Namun mereka salah karena disana sudah ada Novita yang dengan segenap kemampuannya berhasil menumbangkan sekelompok preman itu dan mengirim mereka semua ke rumah sakit sebelum pergi ke sel tahanan.
Setelah di tanya, Novita mengaku kalau dia pernah bekerja sebagai polisi sewaktu berada di Amerika serikat, dan semua keahlian bertarungnya dia dapatkan dari pelatihannya sebagai polisi.
Novita adalah seorang wanita yang telah melalui kerasnya hidup selama 10 tahun di luar negeri, semua jenis profesi sudah pernah dia jalani mulai menjadi dokter hingga menjadi polisi.
Tapi satu hal yang paling di gemarinya saat ini adalah menjadi seorang pengangguran!
Tok ... Tok ... Tok ...
Terdengar pintu rumah yang di ketuk, pertanda ada seorang tamu yang datang.
Pak Suman dan Bu Siska sedang berada di luar, jadi hanya mereka bertiga yang ada di rumah sekarang.
"Biar aku yang bukakan!" ujar Alex langsung berlari dengan kaki kecilnya ke arah pintu masuk.
Novita dan Myra hanya tersenyum gemas melihat tingkah si kecil itu, hingga tak lama kemudian teriakan Alex terdengar sangat nyaring di depan pintu.
__ADS_1
"Tolong aku ibu, Om jahat ada disini!"