Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System

Menjadi Pria Sejati Dengan Bantuan System
Chp 89: Menjadi Hidup


__ADS_3

"Hai, lama tidak bertemu."


Aldo menyapa Melody yang sedang mendata semua penyanyi yang telah dia rekrut bersama dengan Aria.


Mendengar suara Aldo, gadis itu mendongak menatap wajah Aldo.


"Ya, aku jarang melihatmu di perusahaan akhir-akhir ini."


"Itu karena aku sibuk, maaf."


Setelah pertukaran kalimat singkat itu, tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Melody menghentikan kegiatannya dan hanya menunduk malu melihat wajah Aldo lebih lama lagi.


Merasa situasi mulai menjadi canggung, Aldo berusaha mencairkan suasana dengan basa-basi ringan.


"Ngomong-ngomong bagaimana perasaanmu bekerja di tempat ini? Kau pasti belum terbiasa di tempat baru seperti ini."


Melody tersenyum menanggapi perkataan Aldo lalu berkata, "Aku senang bekerja disini, semua orang tampak ramah terutama tim 3, tim-mu. Tidak seperti orang-orang dari VenoMusic yang tidak punya sopan santun."


"Senang mendengarnya." balas Aldo.


Mereka berdua terdiam sejenak sebelum Melody teringat sesuatu dan menanyakannya kepada Aldo.


"Ngomong-ngomong bagaimana caramu membuatku pindah kesini? Setahuku aku sudah melakukan kontrak jangka panjang dengan perusahaan VenoMusic, dan mereka tidak menghubungiku lagi setelah kecelakaan yang di alami oleh asistenku."


Aldo tersenyum, "Suatu kebetulan terjadi kecelakaan juga di perusahaan tersebut, kantor mereka kebakaran dan membuat banyak dokumen penting hangus terbakar termasuk dokumen kontrakmu. Juga, CEO dari perusahaan itu mengalami kecelakaan mobil dan membuat kakinya lumpuh."


Melody menunjukkan ekspresi terkejut ketika mendengar penjelasan Aldo, "Bagaimana mungkin itu terjadi? Dan aku tidak mengetahuinya sama sekali."


"Mungkin kau terlalu sibuk bekerja dan jarang memperhatikan berita di televisi." jawab Aldo santai.


"... apakah itu karena dia..."


Melody bergumam kecil yang seharusnya tidak dapat di dengar oleh orang lain, namun Aldo dapat mendengarnya karena kelima inderanya sekarang sudah sangat tajam.


"Dia siapa?" tanya Aldo.


Melody sangat terkejut lalu berpura-pura tidak pernah mengatakan apapun, "T- tidak ada, lupakan saja."


Meski Melody sudah berkata begitu, namun Aldo tahu dengan jelas siapa yang di maksud wanita itu.

__ADS_1


Yang dia maksud adalah kakaknya, Maria. Melody juga melihatnya saat kecelakaan yang menewaskan asistennya, Rini. Namun saat itu dia hanya beranggapan kalau hal itu adalah sebuah ilusinya dari kerinduan terhadap kakaknya.


"Melody, aku pernah mengatakan kalau kau tidak sendirian bukan?"


Melody menganggukkan kepalanya, "Hm, kau pernah mengatakan itu ketika di restoran."


"Menurutmu siapa yang aku maksud selalu bersamamu?" tanya Aldo tersenyum lembut.


Melody sedikit tertegun mendengar kalimat Aldo, ia kemudian memikirkan kembali kenangan masa lalunya dan hanya satu orang yang pernah berkata akan selalu bersamanya di saat suka ataupun duka.


"Kakak..." ucap Melody tanpa sadar meneteskan air matanya.


Aldo menggenggam tangan Melody untuk menenangkannya dan berkata, "Benar, kakakmu, Maria akan selalu bersamamu dan menjagamu dari segala bahaya yang ada di masa depan nanti."


"Tidak ... kakakku sudah lama meninggal..."


"Apa mereka sudah menemukan jasadnya?" tanya Aldo sukses membuat Melody terbelalak.


Sebelum Melody sempat bicara, Aldo telah bicara terlebih dahulu dan membuat pikiran Melody semakin bimbang.


"Jika kau belum melihat jasadnya dengan mata kepalamu sendiri, bagaimana mungkin kau mengatakan kalau dia sudah meninggal?"


"Siapapun bisa lolos dari kebakaran Melody, tak terkecuali Maria." potong Aldo lagi.


Melody belum bisa mencerna kata-kata Aldo sepenuhnya, ia masih merasa bimbang dalam hatinya.


Kemudian dia mulai mengingat sosok yang muncul saat kecelakaan Rini, itu adalah sosok kakaknya. Bagaimana jika yang di lihatnya itu bukanlah arwah melainkan kakaknya sendiri? Melody semakin bimbang di buatnya.


"Begini saja!"


Aldo bangkit dari duduknya dan menatap Melody dalam-dalam.


"Nanti malam pukul 12 malam datanglah ke mansion di atas bukit indah, itu adalah kediamanku. Disana kau akan melihat sosok yang selama ini kau anggap telah meninggal, kau akan melihat kakakmu Maria."


Aldo kemudian pergi dari hadapan Melody sebelum mendengar tanggapan wanita itu.


Apa yang di lakukan Aldo mungkin bisa di bilang membohongi Melody dengan mengatakan jika kakaknya masih hidup. Tapi ia memerlukan itu karena dia sudah berjanji akan mempertemukan Maria dengan Melody.


Mereka berdua tidak akan mungkin bisa bertemu jika Melody masih beranggapan jika kakaknya telah meninggal, oleh karena itu Aldo harus meyakinkannya jika kakaknya masih hidup.

__ADS_1


Sebenarnya itu bukan sepenuhnya kebohongan karena Aldo bisa membuat Maria hidup kembali dengan bantuan systemnya.


Bukan berarti Aldo bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati sesuka hatinya, hanya saja dia akan membuat raga Maria dapat dilihat oleh orang biasa seperti Melody dan yang lainnya. Namun dia masih tetap arwah tanpa perubahan yang signifikan.


"Maria, sesuai janjiku padamu, aku akan segera mempertemukanmu dengan adikmu."


Maria tampak sangat bersemangat ketika Aldo ingin mewujudkan keinginan terbesarnya itu.


"Saya akan melakukan apapun untuk bisa bertemu dengannya, kumohon tuan!"


"Baiklah, lakukan sesuai arahanku."


Aldo menyuruh Maria untuk berdiri di hadapannya, ia kemudian mulai mengeluarkan aura emasnya dan menyuruh Maria untuk segera menyerapnya.


Maria tampak sedikit kesakitan saat menyerap aura yang sangat berlawanan dengan dirinya tersebut, namun tekadnya terlalu kuat untuk dikalahkan oleh rasa sakit.


Hingga beberapa menit kemudian, aura hitam yang menjadi penyusun tubuhnya telah tergantikan oleh aura emas yang sangat hangat dari Aldo.


Kulit Maria yang awalnya putih pucat menjadi putih bening dan penuh kehidupan, manik matanya cerah seperti bayi yang baru lahir sementara daster kumuhnya telah tergantikan oleh daster putih bersih.


Dan yang paling penting, kakinya sekarang menyentuh tanah!


Tidak ada lagi Maria yang menyeramkan dan mengerikan, sekarang di depan Aldo berdiri seorang wanita cantik berbalutkan daster putih halus nan bersih.


"Ini ... wujud yang asliku, sangat bersih dan terasa hidup..." gumam Maria takjub.


Ia mulai meraba-raba tubuhnya sendiri, ia bisa merasakan setiap sensasi rabaan yang ada di kulitnya.


"Tuan, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk membalas jasa anda kepada saya ... tapi yang pasti, mulai sekarang saya akan selalu setia terhadap anda dan seluruh keturunan anda nantinya!"


Maria telah memutuskan tujuan barunya, yaitu menjadi pedang dan perisai bagi Aldo dan seluruh keturunannya di masa depan, ia menyampaikan itu dengan penuh tekad dan membuat Aldo bangga.


"Sebelum kau melakukan itu sebaiknya selesaikan dulu urusanmu, sekarang tunggu apa lagi? Temuilah dia." kata Aldo sambil menatap jam di dinding yang menunjukkan hampir tengah malam.


"Baik Tuan." dengan penuh haru, Maria kemudian berlari pergi keluar dari mansion.


Walaupun sebenarnya dia bisa menghilang dan muncul di depan mansion seperti yang biasa dia lakukan, entah kenapa dia memilih berlari tanpa alas kaki.


Satu hal yang Maria rasakan saat berlari dengan kedua kakinya yang menyentuh lantai adalah -

__ADS_1


"Aku hidup!"


__ADS_2