
"Pukul 13:30. Nona Ashlee dan Nona Katharine pergi dari mansion untuk berbelanja di mal, mereka menaiki taksi pribadi yang dikemudikan oleh supir pribadi mereka."
"1 jam setelah pergi dari mansion, tepatnya pukul 14:30 terjadi kecelakaan di persimpangan lampu merah, sedan hitam kehilangan rem dan melanggar lampu merah lalu menabrak mobil yang di tumpangi oleh Nona Ashlee dan Nona Katharine."
"Kejadian itu menewaskan sang supir dan membuat 7 orang mengalami luka-luka."
Aldo menyimak dengan baik apa yang sang detektif simpulkan dari kejadian yang menimpa wanitanya tersebut.
Pria di depannya itu adalah Jack, seorang detektif handal yang Aldo sewa untuk menyelesaikan kasus kecelakaan mobil yang menimpa Ashlee dan Katharine.
"Apa hanya itu?"
"Barang buktinya masih sangat minim, tapi saya dapat menyimpulkan jika ini bukanlah sebuah kecelakaan." jawab Jack serius.
"Apa ini pembunuhan berencana?"
"Lebih tepatnya kecelakaan berencana. Ada orang yang memicu terjadinya kecelakaan itu dengan target Nona Ashlee dan Nona Katharine."
Aldo sedikit berpikir, jika orang itu bisa merencanakan kecelakaan dengan sangat baik maka ia pasti adalah orang yang sangat pintar.
"Bisakah saya bertanya, Tuan?"
"Tentu."
"Apakah anda memiliki musuh?" tanya Jack menyelidiki relasi Aldo dengan orang-orang di sekitarnya.
Aldo sedikit berpikir, sejauh ini dia tidak memiliki musuh sama sekali. Jikapun ada, itu adalah Merlin. Namun mustahil dia pelakunya karena pria itu tengah putus asa karena mengalami lumpuh untuk seumur hidupnya.
"Sepertinya tidak ada."
"Kalau begitu ini akan menjadi sedikit sulit." kasus tersebut benar-benar membuat detektif hebat seperti Jack sangat kesulitan karena kecelakaan tersebut di buat sangat rapi dan tanpa celah sedikitpun.
"Ngomong-ngomong bisakah aku melihat supir yang tewas itu?" tanya Aldo.
"Bisa tuan." jawab Jack.
Detektif tersebut kemudian mengajak Aldo untuk menuju rumah sakit tempat dimana mayat supirnya di otopsi.
Kini di hadapannya terbaring mayat supir yang tewas dalam kecelakaan kemarin, sekilas tidak ada yang aneh dari mayat tersebut sampai Aldo mengaktifkan mata batinnya untuk melihatnya.
Mayatnya di selimuti aura iblis yang sangat pekat - pikir Aldo.
Normalnya makhluk hidup yang telah mati tidak akan memiliki aura lagi, jelas mayat di depannya itu sangat tidak masuk akal.
Aldo kemudian menyerap aura iblis yang tertinggal di mayat supir tersebut.
"Tolong kirim kompensasi kepada keluarga korban." kata Aldo sebelum pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.
Bagaimanapun bukan dia penyebab kecelakaan itu terjadi, dia juga korban dari kekejaman iblis neraka - pikir Aldo.
Sementara Jack kembali bekerja untuk mengumpulkan petunjuk tentang kecelakaan yang menimpa kedua wanita Aldo, Aldo pergi ke restoran Johan untuk melepaskan masalahnya dengan ditemani oleh sahabatnya itu.
"Kau tampak kacau, Aldo ... apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Johan menghadapi Aldo yang tengah meneguk minumannya.
__ADS_1
Aldo menyimpan gelasnya di meja dengan cukup keras, wajahnya sedikit memerah karena mabuk namun berangsur-angsur mulai pulih.
[Kadar alkohol telah dinetralisir!]
"Setidaknya biarkan aku mabuk sekali saja." gumam Aldo kesal.
"Aldo?"
"Ya?"
"Kau sehat?" tanya Johan sedikit mengernyitkan keningnya.
"Ya, kenapa kau bertanya begitu?"
"Baru kemarin kau terlihat sangat senang saat kita minum bersama, tapi sekarang sepertinya kau sedang ada masalah. Katakan pada sahabatmu ini, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Johan tampak sangat perhatian.
Aldo meneguk minumannya sekali lagi sebelum akhirnya dia menatap Johan dalam-dalam dan berkata, "kau akan menyebutku sebagai bajingan ketika aku menceritakannya."
"Tidak akan, aku janji." Johan mengangkat satu tangannya.
Aldo menghela nafas lalu berkata, "Aku memiliki dua orang kekasih saat ini."
"Apa?!" Johan terperanjat kaget hingga berdiri dari tempat duduknya.
"Kau sedikit berlebihan, Johan."
"Ah, maaf. Itu benar-benar mengejutkanku ... maksudku normal untuk orang kaya dan hebat sepertimu memiliki lebih dari satu wanita." kata Johan berusaha berpikir positif.
"Tentu, silahkan." jawab Johan menuangkan segelas alkohol lalu meminumnya.
Belum sempat meneguk minumannya, Aldo kembali membuka suara.
"Kami telah menjalin hubungan cukup lama, dan sekarang mereka berdua tengah mengandung anakku."
"Pfft!! What The F**K."
Johan mengumpat kaget sambil menyemburkan alkohol di mulutnya ke arah Aldo, beruntung Aldo cepat menghindar jadi dia tidak harus basah kuyup karena semburan pria di depannya.
"Johan, ada apa denganmu?" protes Aldo.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Ada apa denganmu?!"
"Ada apa? Apa maksudmu?"
Johan berdiri lalu menunjuk Aldo dengan wajah murka.
"Kau, seorang pria dengan usia hampir menginjak 30 tahun memiliki 2 orang kekasih? Itu wajar mengingat kau itu kaya dan terkenal, juga parasmu cukup tampan ... tapi tidak mengubah fakta jika kau itu pria brengsek yang menghamili 2 orang wanita di luar nikah!"
"Bagaimana kau membuat kedua wanita itu mau mengandung anakmu? Apa kau menculik mereka? Apa mereka anak di bawah umur? Apa kau seorang pedofil?!"
"Cukup, CUKUP!! Aku tidak seperti yang kau bilang!" Aldo menghentikan tuduhan Johan sebelum itu menjadi semakin liar.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Serius!" jawab Aldo tegas.
"Kau bukan seorang pedofil yang menyukai anak di bawah umur kan? Atau seorang pecinta Milf?" Johan masih tidak percaya.
"Ugh..."
"Tuh kan! Kau mengalihkan pandanganmu, itu artinya apa yang aku tuduh memang benar!" ujar Johan semakin heboh.
"Aku menyesal memberitahumu hal ini..." Aldo hanya bisa memijit keningnya.
Entah kenapa sikap Johan sekarang hampir mirip dengan Leon yang menjengkelkan, tidak, dari dulu sikap Johan memang sudah begitu. Dirinya sekarang hanya berbalutkan pakaian jas kantor yang mewah dan terlihat dewasa.
Beberapa menit kemudian, entah karena lelah atau apa, Johan berhenti mengoceh dan kembali duduk dengan tenang.
"Sudah selesai?"
"Humu." Johan mengangguk.
"Bisakah aku melanjutkannya sekarang?" tanya Aldo lagi.
"Lanjutkan."
"Kau tidak akan mengoceh seperti tadi lagi, janji?"
"Aku janji."
Aldo menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum melanjutkan.
"Seperti yang ku katakan sebelumnya, aku memiliki dua orang kekasih, salah satunya anak usia 18 sampai 19 tahun dan satunya seorang wanita dewasa yang hampir seumuran denganku."
Johan menyimak ketika Aldo melanjutkan.
"Kemarin aku sangat senang karena akhirnya mereka berdua mengandung anakku, aku juga berniat menikahi mereka berdua tidak lama lagi. Tapi sesuatu yang tidak terduga tiba-tiba terjadi...."
Aldo menceritakan semuanya kepada Johan kecuali tentang iblis dari neraka yang menjadi penyebab semua hal buruk itu terjadi.
Perlahan-lahan Johan mulai memperlihatkan rasa empati dalam dirinya, dia juga ikut bersedih atas apa yang dialami sahabatnya itu.
"Oh Aldo ... tadinya aku kira kau itu seorang bajingan, tapi ternyata salah, kau itu adalah bajingan yang berkelas."
"Sekali lagi, aku menyesal menceritakan semuanya kepadamu." balas Aldo datar.
"Tidak peduli apa yang telah terjadi, akan tetap mendukungmu melalui semua masalah ini. Kau tahu kau bisa mengandalkanku untuk saat-saat sulit. Nanti aku akan menjenguk kakak ipar di rumah sakit bersama dengan istriku."
Terlepas dari kekesalannya, Aldo senang jika Johan sangat perhatian kepadanya.
"Terima kasih, Johan."
Suasana langsung mereda setelah semua kesalahpahaman terselesaikan. Mereka kemudian kembali minum sebelum sebuah berita di televisi ruangan itu mengalihkan perhatian Aldo.
"Dini hari pukul 07:25 seorang wanita berusia 24 tahun tiba-tiba tewas secara misterius, wanita tersebut terlihat terjatuh dan tak sadarkan diri di pinggir jalan dan setelah di periksa, ia telah meninggal. Wanita tersebut bernama Alyssa!"
Sontak Aldo menjatuhkan gelasnya ketika mendengar nama dan foto seorang wanita yang terlihat di layar televisi...
__ADS_1