
Merlin tertegun karena merasakan sekilas ada yang aneh ketika dia baru memasuki ruangan pesta, bulu kuduknya tiba-tiba merinding dan keringat dingin mulai mengalir di tubuhnya.
Dia merasa ada yang mengawasinya dari jauh dan penuh akan dendam yang mendalam, tapi dia tidak tahu siapa orangnya.
"Apa ada masalah Tuan Merlin?" Merasakan ada yang salah, asisten pribadi Merlin bertanya penuh kekhawatiran.
"Tidak ada." jawab Merlin mencoba berpikir positif meski bulu kuduknya sudah menegang dari tadi.
Dari pandangan matanya, Merlin tiba-tiba melihat keberadaan Aldo yang juga tengah menatapnya dengan cukup intens. Merlin menunjukkan tatapan permusuhan, sementara Aldo masih santai menghadapi pria itu.
*Sepertinya dia sangat membenciku padahal kami berdua tidak pernah bertemu sebelumnya, apa yang membuatnya begitu membenciku*? - pikir Aldo sedikit kebingungan.
Seolah mengetahui pikiran Aldo, system kemudian menjawab kebingungan Aldo.
[Anda telah merebut posisinya sebagai aktor terbaik, oleh karena itu dia menyimpan dendam kepada anda.]
*Begitu ya ... bagaimanapun dia harus membayar perbuatannya dahulu karena membunuh Maria, aku tidak akan segan membunuhnya tapi pembalasan dendam Maria jauh lebih penting* - pikir Aldo membatin.
Tak lama setelah kedatangan Merlin dalam pesta, seorang wanita cantik juga menyusul dengan suasana yang jauh lebih heboh daripada kedatangan Merlin.
"Bukankah itu Nona Melody?"
"Itu benar, aku dengar dia sibuk mengadakan konser di seluruh dunia sehingga jarang pulang ke Indonesia."
"Tapi sekarang dia di Indonesia kan? Apa dia datang ke pesta ini sebab perintah agensinya?"
"Agensi VenoMusic memang semena-mena terhadap bawahannya..."
Semua orang membicarakan Melody, ada yang memujinya ada juga yang mencibirnya.
Bagaimana tidak, Melody adalah seorang penyanyi dari Indonesia namun sangat jarang dirinya mengadakan konser di Indonesia. Dia lebih sering mengadakan konser di luar negeri.
Seiring dengan kepopulerannya, ada juga yang membencinya dan menyebutnya sebagai 'kacang lupa kulitnya'
__ADS_1
"Sepertinya mereka tidak menyukaiku." gumam Melody tampak cemberut.
"Sudahlah, kau hanya tinggal bersikap formal di depan Tuan Daniel selama pesta. Setelah itu kau akan pergi ke Swedia untuk menggelar konser." Rini yang mendengar gerutu Melody langsung menyelanya.
Melody merasa tidak senang, "Sekali-kali aku ingin mengadakan konser di negara asalku, apa itu tidak boleh?"
"Tidak, ini adalah perintah atasan." sergah Rini cepat.
Melody hanya bisa berdecak kesal. Semua kegiatannya selalu saja diatur oleh atasannya, dia tidak pernah memiliki kebebasan untuk bertindak.
Dari awal Melody telah salah dalam memilih agensi, VenoMusic adalah perusahaan yang besar dan tertutup dari dunia luar. Tidak ada yang mengetahui kebusukannya kecuali orang-orang dalam.
Seandainya dia bisa keluar dalam perusahaan itu maka dia sudah melakukannya dari dulu dan memilih untuk bergabung dalam perusahaan yang lebih ramah seperti perusahaan FGC. Tapi untuk keluar dalam perusahaan VenoMusic sangat sulit dan mendekati mustahil.
Padahal wanita itu sangat menyukai musik sama seperti kakaknya yang telah tiada, namun sekarang ia sangat menderita dalam hobinya itu...
Kesedihan ada penderitaan dalam diri Melody tak luput dari pandangan Maria yang menatap adiknya dengan penuh kasih sayang.
Sekarang bukan hanya Merlin Northern yang ingin dia singkirkan dari dunia itu, namun juga seluruh orang yang telah membuat adiknya menderita...
Tampaknya Melody adalah tamu terakhir yang datang sebelum acara utama dimulai.
Tuan Daniel beserta istrinya Evelyn muncul di tengah-tengah pesta dengan suasana yang megah, diantara mereka berdua juga terlihat seorang anak perempuan yang sangat imut, namanya adalah Lia.
Lia adalah anak Daniel dan Evelyn yang sekarang usianya sudah menginjak 4 tahun, ia mengenakan Tiara kecil di kepalanya dan membawa karangan bunga mawar yang sangat indah.
"Terima kasih sudah hadir dalam acara spesial ini, semoga dengan kebersamaan ini semua orang bisa menjalin kerjasama bisnis dengan baik."
Daniel memberikan ucapan sambutan kepada para tamunya. Semua orang sangat senang karena dengan pesta itu mereka dipertemukan dengan para pebisnis dari seluruh dunia, tentunya itu juga meningkatkan peluang untuk saling bekerjasama.
"Silahkan nikmati hidangan yang disajikan!" lanjut Daniel bersamaan dengan para pelayan yang datang dan menyajikan makanan serta minuman bersoda.
Bersamaan dengan itu acara pemberian hadiah juga langsung diadakan.
__ADS_1
Satu persatu dari para tamu datang dengan bangganya ke hadapan Daniel dan Evelyn, mereka semua memberikan hadiah-hadiah mahal kepada pasangan suami istri itu dan berharap bisa menjalin kerjasama bisnis.
"Apa kalian sudah menyiapkan hadiah seperti yang aku sarankan?" tanya Aldo kepada Ashlee dan Katharine.
"Sudah, tapi apa kau yakin mereka akan menyukai hadiah pemberian kami?"
"Hummu, hadiah kami tidak semewah hadiah dari tamu lainnya."
Ashlee dan Katharine tampak tidak percaya diri dengan hadiah yang sudah mereka persiapkan. Namun Aldo meyakinkan mereka.
"Tidak ada aturan yang mengatakan harus memberikan hadiah mahal dan mewah, hadiah sederhanapun akan menjadi sangat berharga bagi orang yang tepat."
"Begitu kah? Kalau begitu aku akan memberikannya sekarang!"
"Hm, aku juga!"
Bagaikan anak kecil yang senang mendapatkan mainan baru, Ashlee dan Katharine langsung berlari riang menghampiri keluarga Tuan Daniel.
"Lia!!"
Mereka berdua bersimpuh di depan anak perempuan Daniel dan Evelyn yaitu Lia lalu masing-masing mengeluarkan boneka Teddy dan menyerahkannya kepada gadis kecil tersebut.
"Ini untukku?" Lia masih tak percaya.
"Tentu, tidak mungkin ayahmu akan bermain dengan boneka ini kan?"
"Kami telah menyiapkan ini dari jauh-jauh hari!"
Secara bersamaan, Ashlee dan Katharine Katharine mengelus lembut rambut Lia yang pipinya kini memerah tampak sangat imut.
"Terima kasih kakak..." balasnya dengan senyuman tulus.
Semua orang terdiam termasuk Daniel dan Evelyn, sementara Aldo hanya tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
*Agar bisa menjalin kerjasama bisnis, semua orang hanya fokus memberikan hadiah kepada Daniel dan Evelyn, tanpa mereka sadari Lia pasti merasa cemburu karena tidak mendapatkan hadiah satupun. Padahal anak adalah sumber kebahagiaan dari orang tua, dengan membahagiakan sang anak sudah cukup untuk membuat orang tuanya bahagia*... - pikir Aldo sambil meneguk secangkir wine di tangannya.