MENUNGGU SENJA BERSAMAMU

MENUNGGU SENJA BERSAMAMU
Tidak ada seandainya


__ADS_3

"Ayo bantu aku mengambilnya barangnya ada di kamar, aku nggak kuat membawanya sendiri" ajak Wulan kepada Rangga untuk masuk ke dalam kamarnya


Rangga mengerutkan keningnya "memangnya barang keyra begitu besar?" tanya Rangga heran sambil menebak nebak dalam hati sebenarnya barang apa punya keyra yang ketinggalan di sini


Wulan tidak menjawab pertanyaan Rangga, dia langsung melangkah memasuki kamarnya


Karena tidak mendapat jawaban dengan malas Rangga mengikuti Wulan masuk ke dalam kamar


"Di mana barang keyra?" tanya Rangga langsung setelah masuk ke dalam kamar Wulan


Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar Wulan mencari tahu barang apa yang dimaksud Wulan


Tiba tiba Wulan memeluknya dan mencium bibir Rangga dengan penuh gairah


Rangga yang sebenarnya dari tadi sedang menahan gairahnya karena pengaruh dari obat perangsang yang diberikan Wulan di kopinya, segera menyambut ciuman Wulan


Ketika Wulan mendesah dan mencoba membuka kancing kemeja Rangga, seketika Rangga tersadar akan perbuatannya


Dia segera menghempaskan tubuh Wulan agar menjauh darinya, Wulan terkejut sesaat kemudian dia kembali mendekati Rangga dan menekan payudaranya ke dada Rangga bermaksud kembali menggoda


"Minggirlah, gue mau pulang!" hardik Rangga dengan marah dan keluar dari kamar Wulan


"Rangga tunggu! Aku mencintai mu" Wulan memeluk Rangga dari belakang


"Tapi gue tidak dan gue tidak akan pernah mengkhianati keyra" tegas Rangga dingin


"Kau tidak mengkhianati keyra, keyra yang meninggalkan mu" Wulan memeluk Rangga lebih erat


Rangga membalikkan badannya menghadap ke arah Wulan dan mengangkat dagu Wulan hingga bibir mereka sangat dekat


Wulan tersenyum dan memejamkan matanya mengira Rangga akan menciumnya lagi


"Keyra tidak meninggalkan gue, dia menyelamatkan gue dari Devano" bisik Rangga dingin kemudian melepaskan Wulan dengan kasar, berbalik dan meninggalkan rumah Wulan


Wulan berteriak memanggil Rangga dengan marah tapi Rangga tidak memperdulikannya

__ADS_1


Di dalam mobil selama perjalanan pulang, Rangga membuka jendela mobilnya membiarkan udara dingin menerpa tubuhnya, dia juga menyalakan rokoknya, dia menyetir sampai rumahnya sambil terus merokok


Sesampainya di rumah, dia langsung menyalakan shower di kamar mandi, dia berdiri cukup lama di bawah guyuran air dingin dari shower


Dia menyelesaikan mandinya setelah dia merasa pengaruh obat perangsang itu sudah tidak lagi dia rasakan


Begitu keluar dari kamar mandi dia langsung tertidur kelelahan menangani gairahnya sendiri akibat pengaruh obat perangsang yang diberikan Wulan


🌻🌻🌻🌻🌻


Esok paginya Rangga berjalan keluar dari lift khusus menuju ruangannya dengan diikuti Nathan


Rangga berhenti sebentar di depan meja kiki " kiki mulai sekarang larang Wulan yang kemarin sore menemuiku, untuk masuk ke kantorku lagi" perintah Rangga pada kiki


Kiki merasa sedikit heran dengan perintah itu karena kemarin sore bosnya itu tampak ramah menerima Wulan tapi kiki hafal karakter bosnya itu jadi dia tidak berani bertanya


"Baik pak, saya akan ingat dengan baik" jawab kiki profesional


Rangga melanjutkan langkah nya masuk ke dalam ruangannya


"Bro kenapa lu larang Wulan kesini?" tanya Nathan heran ketika mereka berdua sudah berada di dalam ruangan Rangga


"Terus lu meminumnya bro?" tanya Nathan kaget


"Untung nya gue minum cuma sedikit jadi reaksi obat itu tidak terlalu kuat" Rangga menjawab pertanyaan Nathan tanpa menoleh, dia sibuk menunduk memeriksa dokumen di depan nya


"Selanjutnya apa terjadi sesuatu di antara kalian berdua?" Nathan yang masih penasaran menarik kursi dan duduk tepat di depan Rangga


"Gue hanya menciumnya itu juga karena pengaruh obat, setelah gue sadar gue tinggalin dia" Rangga menceritakan peristiwa tadi malam dengan wajah jijik


"Gila! Wulan benar benar tergila gila dengan lu! Walaupun kita semua tahu perasaan Wulan pada lu tapi gue nggak nyangka dia bakal nglakuin hal seperti itu, secara dia selalu tampak feminim dan sedikit pemalu" Nathan geleng geleng kepala


"Kalian tau perasaan Wulan ke gue ?" tanya Rangga


"Iya kita semua merasa kalau Wulan bersikap agak over acting pada lu, emangnya lu nggak ngerasain?" Nathan balik bertanya pada Rangga

__ADS_1


Rangga menggelengkan kepalanya "aku nggak merhatiin, aku anggap dia sama seperti Laras dan Norma"


"Lu sih hanya fokus pada keyra sehingga tidak peka dengan yang lain, kadang peka itu penting bro buat sikap hati hati" nasihat Nathan


"Aku akan memberitahu Norma masalah ini biar kalau mereka kumpul bareng jika mengundang Wulan berarti mereka tidak undang lu begitu juga sebaliknya kalau mereka undang lu mereka tidak boleh undang Wulan"


Rangga menyetujui usul dari Nathan "iya sebaiknya begitu"


"Gue nggak nyangka dia bisa mengkhianati keyra, mereka bersahabat sudah beberapa tahun" gumam Rangga


"Namanya juga cinta bro, cinta itu buta"


"Tapi kalau seandainya, aku bicara seandainya ya ini, seandainya keyra tidak kembali apa lu mau menerima Wulan?" tanya Nathan hati hati


"Tidak ada seandainya, gue cuma mau keyra" tegas Rangga


"Bro gue tanya satu lagi ya.... Gimana cara lu menyalurkan hasrat lu itu karena pengaruh obat itu?" Nathan mengerling usil ke arah Rangga


"Lu nggak perlu tau!" jawab Rangga ketus dan kembali memeriksa dokumen nya


"Ayolah bro beritahu gue, kita kan sohib siapa tau suatu saat nanti ada yang kasih gue obat perangsang jadi gue tau cara menyalurkannya" Nathan terus menggoda temannya yang tampak salah tingkah itu


"Tinggal tubruk aja tuh sih Norma" jawab Rangga asal


"Emang Norma angkot bro main tubruk aja" gerutu Nathan membuat Rangga terkekeh


"Jadi gimana caranya bro?" Nathan kembali menggoda


"Itu urusan gue bukan urusan lu!" Rangga terlihat makin jengkel


"Pelit amat ama temen sendiri nggak ngasih tahu" Nathan tertawa ngakak melihat Rangga jengkel


"Keluar sana atau gue pecat lu!" ancam Rangga yang membuat Nathan makin keras tertawa


"Ok bos gue keluar, jangan marah marah terus ntar gue mengira kalau obat itu sekarang masih bereaksi" kata Nathan sambil membalikkan badannya menuju pintu dengan tertawa

__ADS_1


Sebelum sampai pintu Rangga sudah menimpuk kepala Nathan dengan pena


Nathan mengaduh, mengambil pena itu dan melempar balik ke arah Rangga tapi dengan sigap Rangga menangkapnya


__ADS_2