MENUNGGU SENJA BERSAMAMU

MENUNGGU SENJA BERSAMAMU
bagaimana putrimu bisa bangga padamu


__ADS_3

Laras dan Ivan langsung pulang ke rumahnya sedangkan Nathan dan Norma ikut daddy Andrew ke rumah Keyra dulu


"dimana keyra mom?" tanya Andrew kepada Gendis


"Keyra sedang tidur tadi begitu sampai rumah aku menyuruhnya istirahat kasihan karena Valea masih banyak terbangun di malam hari" Gendis menghidangkan es sirup dan makanan kecil di meja tamu


"baru saja mommy lihat berita klarifikasi kamu ke media soal Keyra, terima kasih ya Nathan" Gendis bersungguh sungguh menatap Nathan dengan hangat


"itu semua tidak sebanding dengan kesalahan saya yang tidak bisa menjaga Rangga, setiap melihat Keyra bersedih hati saya ikut sakit karena kehilangan Rangga" ujar Nathan lirih, Norma menepuk bahu suaminya lembut bermaksud menenangkannya


"jangan berlarut dengan kesedihan Nathan, kau bertahun tahun menjadi sahabat dan orang kepercayaan Rangga, pastilah sudah banyak yang kau lakukan untuknya" Andrew dengan bijaksana menasehati


Nathan menggelengkan kepalanya lemah, "Rangga yang melakukan banyak hal untuk saya dad, dan saya tidak bisa membalasnya"


"sekarang yang terpenting kita bersama sama menjaga Keyra dan Valea agar Rangga di sana juga tenang" Norma mencoba menenangkan suaminya


"Norma benar, semoga Keyra bisa melewati semua ini dengan baik" mommy Gendis mengangguk setuju


"apa Keyra tau kalau kemarin dia jadi pembicaraan di medsos mommy?" tanya Norma khawatir


"mommy rasa Keyra belum tau, selama di rumah sakit dia tidak menyentuh ponselnya, baru setelah sampai rumah tadi dia sadar kalau ponselnya mati"


Nathan dan Norma menghela nafas lega mendengar jawaban mommy Gendis


"setelah diselidiki ternyata ada seorang perawat yang mendengar Keyra menangis kemudian perawat itu mengintip dan merekamnya selanjutnya dia share di medsos dan karena ini tentang presdir RK grup maka jadilah viral" jelas Nathan


"lalu apa RK grup protes pada pihak rumah sakit, Nathan?" tanya Andrew

__ADS_1


"sudah dad, pengacara kami sudah mensomasi pihak rumah sakit dengan tuduhan tidak melindungi privasi pasien vvip dan pihak rumah sakit sudah memohon maaf juga memberi sangsi pada perawat itu"


Setelah bertahun tahun bekerja dengan Rangga, Nathan sudah terbiasa menghadapi segala persoalan dengan cepat, efisien dan efektif


"syukurlah kalau begitu, bagaimanapun mommy tidak ingin Keyra semakin sedih mendengar orang menggunjingnya depresi" mommy Gendis tersenyum miris memikirkan nasib Keyra


*****


Malam baru saja turun, begitu melihat sosok wanita yang dihafalnya dengan baik Tomo segera membuka tiap lapisan pintu


Di depan pintu terakhir Wulan bersama Joni asistennya berhenti dan menoleh ke arah Tomo, "kau belum memberi jatahnya untuk malam ini bukan?"


Tomo menggeleng dan tersenyum jahat "seperti pesan anda nona, saya belum memberikannya walaupun dari tadi dia terus meraung seperti anjing sekarat"


"bagus, itu akan membuat dia bisa lebih patuh lagi, berikan jatahnya padaku dan bukakan pintunya" perintah Wulan


Pintu terbuka, terlihat sosok yang semakin kurus sedang tidur dengan menekuk kedua lututnya di depan dada dan kepalanya menunduk nyaris menyentuh lututnya membentuk tubuhnya meringkuk seperti bola


"kenapa harus buru buru cintaku?" sapa Wulan dengan suara lembut


"aarrgghh!!! berikan padaku" erang Rangga dengan mata nanar, bangun dari tidurnya dan duduk di atas kasurnya masih dengan kedua lutut yang tertekuk di depan dada


"bersabarlah cintaku, aku akan memberi tau sebuah berita" seringai Wulan licik


Wulan duduk di kursi tepat di depan tempat tidur Rangga dengan menyilangkan kakinya secara anggun, "istri tidak bergunamu baru saja melahirkan"


Pandangan Rangga melembut mendengarnya, "benarkah?" tanyanya pelan ada nada bahagia di dalam suaranya

__ADS_1


Wulan mengangguk, "hmm iya, kau suka?"


Sesaat kemudian Wulan tertawa keras, "kau terlihat senang tapi bagaimana putrimu bisa bangga padamu jika dia tau ayahnya seorang pecandu narkoba?"


Sinar bahagia di mata Rangga seketika meredup, dia mengeratkan pelukannya ke arah kedua lututnya


Tawa Wulan semakin keras, "jangan khawatir cintaku walau wanita itu dan anaknya tidak sudi lagi melihatmu, ada aku yang selalu mencintaimu bagaimanapun keadaanmu"


"masa bodoh dengan omonganmu, cepat berikan padaku" Rangga berteriak marah


Wulan melambaikan bungkusan plastik kecil berisi bubuk putih di depan mata Rangga, Rangga berusaha mengambilnya tetapi dengan gesit Wulan menghindari tangan Rangga, "kau mau ini? kau harus menciumku terlebih dulu"


"enyahlah kau" desis Rangga marah kemudian dengan cepat Rangga kembali berbaring tetap dengan posisi badan seperti bola menghadap ke arah tembok membelakangi Wulan


Wajah Wulan berubah gelap melihat reaksi penolakan dari Rangga, sudah hampir sepuluh bulan bersama tapi Rangga masih juga menolaknya


Dengan geram Wulan mendekati Rangga, "kau benar benar keras kepala, kita lihat suatu hari nanti kau akan sadar bahwa hanya aku satu satunya yang kau punya" Wulan melemparkan bukusan plastik kecil itu ke arah Rangga


Dengan sigap Rangga mengambilnya dan dengan tidak sabar menuangkan seluruh isi bubuk putih itu ke dalam mulutnya


"kau sungguh menjijikkan" cemooh Tomo melihat Rangga


Wulan tertawa mendengar perkataan Tomo untuk Rangga, "biarkan dia menikmatinya setelah itu berikan pekerjaan yang dibawa Joni padanya"


Tomo mengangguk mendengar perintah Wulan kemudian kembali mengunci pintu kamar Rangga


"bolehkah saya sedikit bermain main dengannya, saya suka mendengarnya meraung raung seperti tadi jadi hiburan untuk kebosanan saya" Tomo bertanya dengan senyum licik

__ADS_1


"boleh saja asalkan tetap berhati hati, dia tidak boleh cedera atau mati, kita masih butuh dia" jawab Wulan dengan senang


Joni menyerahkan laptop dan setumpuk dokumen kepada Tomo, kemudian Wulan dan Joni pergi meninggalkan rumah itu


__ADS_2