
KEDIAMAN RYAN•
...•••••...
Kaleea tengah komat kamit layaknya mbah dukun yang sedang membaca mantra, namun sebenarnya Kaleea sedang menggerutu tak jelas pada layar ponselnya, membuat Ryan yang baru masuk kamar terkekeh melihat istrinya menggerutu seperti itu.. Entah mengapa melihat Kaleea mengoceh membuat Ryan merasa lucu pada istrinya, apa lagi dengan perut membuncit yang mana membuat Ryan gemas sendiri..
''Hon, kenapa belum tidur sayang.'' Ryan naik ke atas peraduan lalu mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut.
''Aku sedang menghubungi Siska kenapa dia tidak menjawab telpon dariku. Aku sangat khawatir pada Siska dan takut terjadi sesuatu padanya, seharusnya dia sudah sampai dari tadi bukan.'' Ucap Kaleea dengan mimik muka sedih..
''Mungkin dia sedang sibuk Hon, aku yakin besok Siska menghubungi mu balik. Ayo kita tidur, bukannya besok kita akan membeli keperluan Baby G.''
''Haaah, yaa sudah ayo kita tidur.''
Ryan dan Kaleea tertidur saling berpelukkan, menunggu hari esok akan tiba karna besok bisa di pastikan jika mereka akan sibuk mengurus keperluan Baby G. mulai dari persiapan kamar, baju, dan keperluan lainnya..
Terlebih Ryan akan mengundurkan diri dari perusahaan yang sudah membesarkan namanya, dan meneruskan cabang perusahaan mertuanya..
Awalnya Ryan menolak, namun Omar memaksanya karna cabang perusahaan di Indonesia tidak ada yang memimpin. Terlebih Omar tidak mempunyai orang kepercayaan di cabang perusahaan nya, kalau ia menunjuk orang yang salah bisa-bisa Omar akan rugi.
Ryan pun mau tak mau menerima tawaran Omar dan memimpin perusahaan nya, itu pun Tuti sang ibu mendesak untuk menerima tawaran mertuanya itu..
Tuti kan matre heheh..
•
•
•
•
Di sisi lain•
__ADS_1
Sejuknya malam hari, tak bisa menyejukkan suasana panas penuh desah di kamar bernuansa broken white dengan corak abu yang di desain sedemikian rupa dan nyaman untuk di tempati..
Di tengah ranjang berukuran besar King size dua insan manusia berlainan jenis tengah bertukar saliva dengan tetesan keringat membasahi sprai yang sudah tidak beraturan pada tempatnya..
Bantal, baju dan selimut serta handuk berceceran di lantai. Pria gagah dengan postur tubuh tinggi besar berambut gondrong tengah menghentakkan pinggulnya pada wanita yang tengah menjerit memintanya untuk berhenti melakukan pelecehan padanya..
Siska yang berada di bawah rengkuhan Gano, di paksa untuk menikmati apa yang sedang Gano lakukan pada tubuhnya. Gano dengan rakus dan penuh gairah terus mendaratkan kecupan dan membuat beberapa maha karya di setiap jengkal tubuhnya..
Tak bisa di ragukan lagi jika Gano sudah handal dalam hal melakukan adegan intim, karna ia sering berlabuh dengan Maria tanpa henti. Bahkan Gano tahu dimana titik lemah bagian wanita dan bagaimana cara memuaskan wanita yang sedang ia gauli.
Siska menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit hati karna Gano telah maksakan kehendaknya, Siska sudah tidak kuat lagi berada di bawah rengkuhan Gano yang bermain dengan kasar tanpa adanya kelembutan di setiap permainan nya.
Bukan hanya sekali, tapi ini sudah yang ke tiga kalinya Gano menggauli nya tanpa henti. Karna sedari sore Gano benar-benar menjajahnya bahkan tidak memberikan Siska untuk beristirahat sejenak saja..
Mata Gano menatap menyelami mata Siska, gerakkan kencang dan tergesa-gesa menandakan jika Gano akan mendapatkan pelepasannya hingga desah panjang yang keluar dari mulut Gano bersamaan ia menyebutkan nama perempuan lain saat ia mendapatkan pelepasannya..
Arrrghhh Mariaaaaaa...
Nafas Gano memburu dan terengah saat ia telah berhasil menyemburkan benih di dalam rahim Siska, lalu dengan perlahan Gano mencabut si Jeki dengan perlahan hingga selai vanila mengembul keluar..
Sedangkan Gano yang sudah merasa puas, turun dari ranjang memakai celana lalu mengambil ponsel serta roko dan pematuknya berjalan ke arah balkon untuk menghisap roko sejenak..
Ia menerima pesan dari Maria yang menyuruhnya pulang secepatnya, namun Gano membalas pesan pada Maria bahwa dia akan kembali sekitar tiga atau empat hari lagi.
Entah mengapa Gano sangat menyukai tubuh Siska yang membuatnya berkali-kali lipat di buat gairah. Bahkan Gano sempat membandingkan kenikmatan itu saat bersama Maria yang benar-benar terasa berbeda, Namun Gano menampik dan membuang pikiran itu jauh-jauh selalu meyakini jika dia mencintai Maria..
Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikkan nama Maria dalam hatinya..
•
•
PAGI HARI•
__ADS_1
Perlahan mata Siska terbuka namun masih terasa berkunang kunang, Siska mengedarkan pandangan nya lalu bangun dari tidurnya dan merasakan nyeri di bagian sensitif nya..
''Ahhh, perih banget.'' ringis Siska menekan perut bawahnya..
Siska mengedarkan pandangan ke setiap penjuru dan tidak menemukan siapapun. ''Kemana dia? aku harap dia pergi untuk selamanya.'' Ucap Siska beranjak dari kasur menuju kamar mandi.
Tiga puluh menit berlalu, Siksa keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuhnya yang fresh walau area sensitif nya masih mengganjal dan terasa perih namun Siska tak begitu menghiraukan..
Ia keluar dari kamar mandi namun ia terkejut saat Gano berdiri di depan pintu dengan kedua tangan melipat di dada, menatapnya penuh selidik.
''Kenapa kau ada di depan pintu, mengangetkan ku saja.'' ketus Siska..
''Tiga puluh menit lebih 9 detik, apa saja yang kalau lakukan di kamar mandi selama itu?'' Tanya Gano penuh selidik..
''Tentu saja mandi, memang nya apa yang aku bisa lakukan di kamar mandi.'' Siska berjalan melewati Gano walau dengan langkah sedikit pincang..
''Terserah, jika kau sudah selesai keluarlah dan duduk di meja makan lalu habiskan sarapan mu dengan cepat.'' Ucap Gano.
Siska menoleh. ''Aku pikir kau tidak akan memberikan aku makan! dan membiarkan aku mati kelaparan.'' ketus Siska dari balik cermin.
Gano yang mendengar jawaban Siska, ia melangkah dan berdiri di belakang Siska dan meremas kedua gundukan yang entah sejak kapan menjadi favorit nya..
''Aahhkk.'' jerit Siska terkejut..
''Siskania Anjani putri, mana mungkin aku membiarkan mu mati sebelum aku puas dengan tubuh mu! kau hanya boleh mati dan terluka atas izinku, jadi berhati-hati lah mulai hari ini jangan sampai kulit mu tergores sedikit pun! karna jika kulit mu tergores sedikit saja, maka aku akan menghukum mu sepanjang malam. Apa kau mengerti!'' bisik Gano di telinga Siska, membuat Siska menahan nafasnya lalu menelan ludahnya susah payah.
Setelah Gano membisikkan ancaman pada Siska, ia keluar dari kamar meninggalkan Siska yang tengah diam mematung.. ''Brengsek!'' Umpat Siska dalam hati lalu dengan tergesa gesa memakai bajunya dan keluar dari kamar menyusul Gano ke ruang tengah..
•
...•••...
...JANGAN LUPA LIKE. LIKE. LIKE....
__ADS_1
...Komen...
...Kirim bunga jika kalian punya...