
Waktu sudah malam saatnya beristirahat, Zakia sejak tadi tidak keluar kamar. Hamdan tak akan menunggu Zakia keluar, Hamdan masuk ke kamar ia merebahkan tubuhnya. Mengambil handphone yang sejak tadi dikantonginya, ia memandang mata milik Zakia yang ia abadikan di kamera saat ada acara di rumah dokter Azzam. Hamdan tersenyum sangat ingin sekali melihat seperti apa wajah istrinya, matanya saja sudah sangat indah. Di balik kamar Zakia pun sedang memandangi foto milik suaminya dengan motor sport nya, foto itu ia ambil dari dinding kamar yang terpajang. Zakia tersenyum melihat foto suaminya yang sangat tampan menurutnya.
' ya Allah apakah ini benar-benar dosa besar, aku marah dengan suamiku juga mengabaikannya' batin zakia.
' tak kan pernah aku lepas dirimu lagi kia, setiap malam aku selalu memanjatkan doa untukmu agar engkau bahagia.' batin Hamdan dengan senyum-senyum memandang foto istrinya.
Keduanya masih sama-sama mengagumi pasangannya masing-masing. Hingga waktu sudah jam 10 malam akhirnya masing-masing dari bilik pintu yang berbeda mengambil air wudhu lalu tidur.
***
Hari ini kia akan pergi ke kampus ada mata kuliah hanya satu saja. Kia langsung saja masuk ke mobil Zidan saat Zidan sedang memanasi mobil, Hamdan tau hal itu namun Hamdan membiarkannya. Hamdan pamit dengan Abi dan umi akan pergi ke kantor begitu juga dengan zidan.
" Bini lu ada di mobil ku."
" Biarin saja Zidan antar dia kemanapun"
" Sepertinya dia akan pergi ke kampus," jelas Zidan.
" kamu antar saja aku tidak apa-apa, kamu handel kantor ya aku tidak datang hari ini ada yang harus aku selesaikan di kampus. sepertinya Tomi juga tidak datang hari ini ada urusan kampus".
" akhirnya aku yang lelah sendiri, kalian cepat baikan dong."
" iya akan aku usahakan".
" nah itu baru adik ipar" Zidan senang ia menepuk pundak hamdan.
Hamdan menaiki mobilnya sendiri sedangkan Zidan mengantar kia ke kampus. Hamdan mengikuti mobil Zidan dengan amat pelan.
" dek cepet baikan kenapa, biar kakak tak repot"
" hmmm..."
" dek ini sudah dua hari Lo"
" belum tiga hari kak"
" tak boleh marah sama suami, semua bisa di bicarakan dengan baik-baik".
" iya kak, jika mas Hamdan bisa mengambil hatiku lagi."
" oke lah terserah kalian pengantin baru yang malang" Zakia menghembus nafas kasar sebenarnya ia juga tak ingin membuat suaminya merajuk, kasihan. Hamdan terlihat sangat lelah apalagi ia baru pulang dari Luar Negeri.
Zakia sampai di kampus ia langsung turun masuk, Hamdan masih memarkirkan mobilnya. Ia bertemu Tomi yang juga baru datang dengan motor sportnya.
" tumben udah sampai duluan bro".
" iya tadi langsung ke sini"
__ADS_1
" aku ke kantor siang ya mau selesaikan urusan dulu".ucap Tomi yang berjalan berdampingan dengan Hamdan memasuki area kampus.
" Gimana kerja di kantor Tomi, melelahkan, membosankan atau..."
" yah yang kamu sebutkan semua itu ada, tapi aku demen banyak cewek cantik buat cuci mata juga kamu kasih aku gaji cukup fantastis. trimakasih sobat."
" cewek mulu otak mu tom. kalau soal gaji sudah sebanding dengan pekerjaan mu, semoga ngga kurang juga ngga kebanyakan. balikin aja kalau kebanyakan."
" jangan nanti bintitan, buat modal nikah bro. aku ngga mau nikah tua. ngga asyik energiku habis nanti buat bikin anak" Tomi terkekeh.
" Ku doakan supaya kamu cepat menikah tom dengan gadis yang kamu cintai".
" aamiin, trimakasih sahabat ku yang paling tampan"
" lalu kau bagaimana dengan Anita" tanya Tomi, pasalnya Anita sangat menyukai Hamdan.
" apa maksudmu tom kami hanya berteman, aku tak bisa".
" Anita cantik bro juga berasal dari keluarga yang bibit bebet bobot nya unggul".
" Semoga dia mendapatkan yang lebih baik tom". ucap hamdan, memang Tomi belum tau status Hamdan saat ini.
Seperti biasa Hamdan berkumpul dengan teman-teman nya di bawah pohon, mereka ngga tau jika ada kia di sebelah pohon itu. Mata Hamdan menatap kia yang sedang belajar sendirian, ingin rasanya ia menghampiri tapi itu tak mungkin baginya. Kia menoleh ke samping saat dirinya mendengar suara agak berisik. kia mendapati suaminya sedang bersama teman-temannya, tatapannya bertemu dengan Hamdan. Hamdan tersenyum namun tak di balas oleh kia, kia mengambil tas dan bukunya lalu pergi masuk ke kelas.
" Hoe... hamdan kamu liat apa sih, di ajak bicara malah bengong"
" apa gimana, maaf aku ngga fokus".
" Iya terima kasih atas keseriusan mu bekeja dengan ku".
" meskipun aku selengekan tak mungkin lah aku bekerja sembarangan, aku juga pingin punya banyak uang kayak kamu bos".
" Maksudnya sekarang kamu kerja ikut Hamdan tom" tanya Aris yang masih penasaran.
" iya aku bantu dia di kantor".
" baguslah daripada lu main aja mending ikut Hamdan bantuin dia kerja."
" Aku udah banyak ngabisin duit ortu sekarang giliran aku nyariin ortu ku"
" Alhamdulillah, sahabat ku satu ini sudah tersadar dari gilanya" kata Aris saling menengadah kan tangan ke langit. Tomi langsug menjitak kepala Aris.
" gini-gini juga aku punya hati Aris dodol, aku bukan berasal dari orang berada seperti kalian alhamdulilah orang tua ku sekuat tenaga bisa menyekolahkan aku sampai bisa sarjana".
" belum sarjana ingat itu"
" sebentar lagi dodol, udah yuk kita temui dosen keburu pergi lagi itu dosen aneh". mereka bertiga akhirnya berjalan menyelesaikan tujuan nya ke kampus.
__ADS_1
-
-
-
Kelas Zakia sudah selesai ia keluar dari kelas bersama Aulia sahabatnya. Zakia pergi menuju perpustakaan ada buku yang ia cari Aulia mengikuti kia.
" Cari apa kia ke perpustakaan"
" buku ini" kia menunjukkan buku yang di carinya. Kia duduk di sebuah bangku yang di ikuti Aulia di sebelahnya.
" kamu itu pandai masih aja terus belajar kia".
" Buku adalah jendela dunia, kalau tidak ada buku mana mungkin aku bisa menjawab semua pertanyaan dosen. belajar itu harus terus menerus tak pandang usia." jawab kia sambil tersenyum di balik cadar nya, menampakkan mata nya yang menyipit.
" okey ustadzah ". kia kembali membaca mencari apa yang ia butuhkan.
Hampir sekitar tiga puluh menit Zakia berada di perpustakaan, ia selesai kemudian meletakkan buku pada tempatnya. ia mengajak Aulia untuk pulang.
" ke kafe dulu yuk, " ajak Aulia.
" aku harus pulang Aulia maaf aku tak bisa menemanimu".
" kamu ngga asyik sih kia, aku telpon umi ya minta izin".
" jangan Aulia aku mau lekas pulang ada hal penting".
" tumben, apa ?".
" ngga boleh kepo-kepo ngga baik".
"baiklah aku juga pulang aja, kerumah mu juga pasti tak kamu izinkan ". Zakia membalas dengan senyuman dengan menarik pipi Aulia.
" sakit kia".
" jangan marah ya, kapan-kapan kita jalan". Aulia mengangguk, mereka keluar kampus berjalan beriringan.
Ruangan dekat perpustakaan adalah tempat dimana Hamdan dan sahabat nya berdiskusi bersama dosen. Ia melihat kia yang melintas, Hamdan terus saja berjalan bersama temannya tak mungkin ia mengejar istrinya itu pasti akan membuat kia tambah marah.
Di lapangan ada mahasiswa yang melemparkan bola basket begitu kencang yang memantul ke tembok dan mengenai kia, kia yang sedang berjalan tentu kaget bola itu mengenai kepalanya yang membuat kia langsung tergeletak pingsan. Hamdan yang mengetahui berlari sekuat tenaga menghampiri sang istri, ia angkat kepala di letakkan di pangkuan nya dengan posisi Hamdan berjongkok.
" kia bangun kia bangun..." teman-temannya pun ikut berlari menghampiri.
_______
bersambung
__ADS_1
tinggalkan jejak like komen hadiah dan vote ya kakak readers.
terimakasih 🥰.