
" bahagia umma jangan nangis ya Hamdan tak mau liat umma menangis".
Umma mengangguk kemudian di peluk Hamdan, Hamdan tau jika umma nya pasti mengingat kakaknya Hanafi.
" sekarang kamu ngerti kan kenapa umma segera mengkhitbah kia, karena umma tau kia adalah gadis yang baik juga sederhana ia menyayangi mu juga umma dan Abah sama seperti kak Aisha. namun Aisha sekarang sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, umma juga bahagia melihat kakakmu Aisha bahagia Hamdan".
" mulai sekarang jangan ada tangis karena kesedihan umma, namun tangis bahagia."
" iya, umma mau masak makanan kesukaan kia kamu undang Zidan dan orang tua nya supaya datang untuk makan malam ya". umma sangat bersemangat hari ini.
" iya ma Hamdan akan kabari Zidan". Hamdan berlalu ia ingin menelepon Zidan menanyakan perusahaan.
***
" bagaimana dengan perusahaan, hari ini aku tak bisa berangkat izin ya istriku tak enak badan". ucap Hamdan menghubungi Zidan.
" ada apa dengan kia Hamdan, kau apakan adikku sampai sakit begitu". tanya Zidan antusias.
" tak aku apakan cuma aku kungkung tiap malam, ha..."
" awas jika kia kenapa-napa"
"ia demam kelelahan, oh ya nanti malam datang ya umma undang Abi dan umi juga buat makan malam".
" tapi kia tak apa-apa kan Hamdan". Zidan selalu khawatir jika itu menyangkut adiknya.
" iya kia nya lagi istirahat tadi sudah ku bawa ke dokter, yang penting nanti malam datang".
" acara apa tumben".
" bukan apa-apa cuma pingin makan malam aja, wajib datang harus".
" oke-oke jaga adikku ya".
" dia istriku Zidan".
" tapi dia adikku Hamdan".
" ya ampun ngerebutin satu istrinya satu adiknya, kalian ini adik ipar dan kakak ipar aneh". ucap Tomi membuat Kiran tertawa.
" kau tak masuk kantor Hamdan". tanya Tomi menyahut telepon yang di pegang Zidan.
" aku izin istriku lagi tak enak badan".
" oke deh syukur tak ada yang serius di kantor Zidan bisa selesaikan kok, semoga kia lekas sehat".
" aamiin, terimakasih aku tutup dulu teleponnya takut kia nyariin".
__ADS_1
" oke sobat".
" coba kamu liat Zidan sepertinya ada masalah proyek kita yang ini". Tomi memberitahu Zidan jika benar ada sedikit masalah.
" okey kita selesaikan berdua sebaiknya jangan kasih tau Hamdan biar dia urus istrinya dulu".
Zidan dan Tomi rencana mau datang ke proyek yang akan di bangun di pinggiran kota itu, ini adalah proyek yang baru saja di menangkan oleh Hamdan kemarin. Sepertinya memang ada yang mengacaukan pengerjaannya, yang jelas ada pengkhianat namun Tomi dan zidan akan bermain halus untuk menemukan pengkhianat dalam kantor itu. Selama bertahun-tahun tidak pernah ada masalah seperti ini namun semenjak nama Hamdan keluar di majalah banyak sekali musuh di balik selimut.
***
Zakia bangun ia tidur cukup nyenyak, karena sudah siang ia merasa lapar kini mualnya sudah cukup berkurang setelah Almira memberi nya obat pereda mual.
" sudha bangun sayang, masih pusing tidak". Hamdan membantu kia untuk duduk menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
" mas kia haus, lapar".
" minum dulu ini minuman jahenya masih, di sini saja mas ambilkan makan". kia mengangguk ia minum dan Hamdan turun untuk mengambil makanan.
Beberapa menit Hamdan datang membawa makanan. Dari pagi kia tak bisa makan karena hanya mual dan muntah saja, Hamdan menyuapi istrinya.
" mas sudah makan" tanya kia Hamdan dari tadi hanya menyuapi nya saja.
" yang penting sayang makan dulu habiskan biar sehat juga anak kita". Hamdan mengusap perut istrinya yang masih rata itu.
" beneran mas kia apa hamil".
" iya kan tadi sudah liat kita ke dokter kak Almira, kia juga liat janinnya kan". kia tersenyum.
" dan mas akan jadi ayah". Hamdan mengusap kepala istrinya.
" kia laper sekali mas".
" ayo habiskan sudah ngga mual kan"
" Alhamdulillah udah ngga, terasa lapar saja". ucap kia ia terus mengunyah makanannya.
" sekarang kamu harus terus perhatikan kesehatan jangan malas makan supaya tumbuh sehat anak kita sayang". kia mengangguk membuat Hamdan senang. satu piring habis dilahap oleh kia, Almira memberikan obat anti mual terbaik. mungkin memang hanya morning sicknes saja siangnya sudah bisa makan dengan lahap.
" mas kia mau turun bantu bibik".
" kali ini tidak, biarkan umma yang bantu bibik ya, hari ini di sini saja mas temani sayang". Hamdan menidurkan kepalanya di pangkuan istri nya, dulu ia suka begitu di pangkuan umma saat punya istri kini ke istrinya. Di usapnya kepala suami, Hamdan merasakan kedamaian...
" Sayang kuliahnya mau cuti dulu ".
" ngga mas kenapa cuti, kia itu ngga sakit tapi hamil". ucap kia sembari mengusap kepala suaminya.
" mungkin mau cuti dulu saja sampai melahirkan".
__ADS_1
" ngga mas nanti cuti sebentar saja jika melahirkan, kia juga pingin cepet selesai mas".
" oh ya sudah penting tak membuatmu kelelahan dan kesusahan"
" insyaAlloh tidak kan ada suamiku yang siaga". Hamdan tersenyum ia memegang jemari istrinya kemudian mengecup tangan kia.
" tapi mas minta tolong jangan di paksakan utamakan kesehatan mu dan calon bayi kita"
" insyaAlloh mas, kia akan jaga selalu anak kita"
" terimakasih sayang, aku mencintaimu".
" kia juga mencintai mas".
***
malam pun tiba Zidan dan keluarga nya sudah siap untuk datang ke rumah Abah, umi tak lupa membawa oleh-oleh kue kesukaan kia dan besannya.
" acaranya hanya makan malam saja Zidan," tanya Abi.
" tadi si begitu Hamdan kasih kabarnya bi". Zidan bersiap memasukkan kue nya. Abi dan umi masuk ke dalam mobil.
" ramai, siapa saja yang di undang".
" Zidan juga tak tau bi, hanya gitu tadi ngabarinnya Hamdan".
" ya sudah yang penting kita datang saja bi, mungkin hanya makan malam saja. silaturahmi itu juga penting kan, kita juga sembari tengok kia". ucap umma.
" oh iya Zidan tadi lupa bilang, Hamdan tadi tak masuk kantor katanya kia tak enak badan".
" sakit apa nak kenapa baru kamu kasih tau sekarang" ..
" Zidan lupa mi, lagian kata Hamdan cuma kelelahan saja"
" syukurlah kalau kia tak apa, kasihan kalau sakit biasanya akan manja".
" tenang mi sekarang kia itu udah punya keluarga baru, mertuanya menyanyangi kia apalagi suaminya" ..
" bener kata Abi mi jangan di tanya Hamdan itu sangat mencintai kia, bahkan ia sangat patah hati dulu saat taunya kia itu istri zidan". Zidan tertawa.
" iya ada-ada saja anak itu, ngga tanya dulu main tebak saja".
" Abi dan umi tak perlu khawatir Zidan sangat tau siapa Hamdan, meski begitu Zidan juga masih terus mengawasi kia".
Mobil melaju dengan kecepatan sedang sekitar tiga puluh menit sudah sampai di depan rumah Abah, kia yang tidak tau dengan acara yang di susun mertuanya masih berada di dalam kamar.
___
__ADS_1
bersambung
dukung cerita ini kasih hadiah ke author ya kak.