MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA

MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA
pamit pergi


__ADS_3

Hamdan pamit kepada kedua orang tuanya jika hari ini ia akan terbang ke Australia. Sebelum berangkat ke Australia Hamdan ke rumah mertuanya dulu untuk pamit. selama di Australia kia akan tinggal di rumah Abi nya.


" meskipun malas untuk makan sayang harus makan, kasihan anak kita sayang ia butuh asupan makanan yang bergizi. juga mas mau ibunya sehat selalu, mas tak akan lama hanya tiga hari insyaallah". Sebelum berangkat Hamdan memberi nasihat untuk kia. Hamdan mendekat memeluk sang istri, ini baru pertama kalinya semenjak mereka bersama Hamdan meninggalkan kia. Rasanya berat bagi Hamdan apalagi kondisi kia yang sedang dalam masa morning sicknes. apa boleh buat mau tak mau ia harus berangkat karena Jack tak bisa pergi.


" iya mas insyaAlloh, mas juga di sana jaga kesehatan makan yang teratur dan jangan lupa telepon kia selalu" . kia memeluk Hamdan di lingkarannya tangannya di pinggang sang suami.


" istri mas ini kenapa manja ya, biasanya begitu mandiri". dalam pelukan Hamdan menciumi puncuk kepala Zakia. Zakia mengeratkan pelukannya ia juga tak tau rasanya berat juga jauh dari suami, ia menitikkan air mata sedih. Hamdan melerai nya ia melihat istrinya yang menangis.


" kenapa sayang kalau gini mas ngga jadi pergi lo". di usap nya air mata sang istri, kia menggelengkan kepalanya pertanda tak setuju.


" kia ngga apa-apa mas tetap berangkat saja, cuma sedih ini pertama kalinya kia nanti malam tidur ngga di usap sama mas". Hamdan menoel hidung sang istri yang mancung itu.


" mas akan tetap bacakan shalawat sebelum kia tidur ya, kita masih bisa video call sayang." kia mengangguk kembali ia memeluk Hamdan , Hamdan pun semakin mengeratkan pelukannya.


Sudah pukul tujuh Abah dan umma sudah di meja makan menunggu untuk sarapan, semenjak kia hamil umma tak memperkenankan kia di dapur semua di kerjakan sama bibik. Kia menurut saja mungkin ke dapur hanya mbuat minum untuk suaminya. Kia segera memakai cadar dan turun bersama Hamdan, koper sudah Hamdan bawa turun. Di genggam erat sang istri saat menuruni tangga umma dan Abah yang melihat tersenyum, umma dan Abah saling pandang senag melihat anak nya bahagia.


" Sudah siap untuk berangkat Hamdan". tanya umma sedang menuangkan nasi di piring Abah.


" iya ma insyaAlloh setelah pamit ke Abi, Hamdan langsung berangkat". jawab Hamdan sembari nunggu piringnya di isi makanan.


" hati-hati nak jika sudah selesai segeralah pulang". nasehat umma.


" iya ma insyaAlloh Hamdan segera pulang, kia akan tinggal beberapa hari di rumah Abi saat Hamdan pergi ya ma". jelas Hamdan lagi, beberapa hari yang lalu Hamdan sudah mengatakan nya kini ia menekankan lagi.

__ADS_1


" iya tak apa kia jaga kesehatan jangan lupa makan bawa bekal jika ke mana-mana ya. harus sehat ibu dan cucu umma".


" iya ma insyaAlloh, umma dan Abah juga jangan lupa makan dan minum obat ya. setelah mas Hamdan pulang nanti langsung pulang ke sini".


" jika masih ingin menginap di sana ngga apa-apa kia kami tak melarang, di mana yang penting pikiran mu tenang orang hamil tak boleh stress". ucap Abah ia tidak akan menekan kia untuk terus tinggal di rumah itu, memang orang hamil tak boleh stress.


" iya bah" ucap kia mereka melanjutkan makannya. setelah kurang lebih 30 menit Zidan sudah datang untuk menjemput adik dan adik iparnya.


" Gimana kabarnya nak Zidan". tanya Abah karena sebelumnya mereka lebiih dulu kenal saat pertama Hamdan bekerja di perusahaan Abah.


" Alhamdulillah Zidan sehat Abah, bagaimana dengan Abah sehat juga kan". Zidan balik bertanya sembari mencium tangan Abah dan umma.


" seperti yang kamu lihat Abah semakin sehat, ". Abah menonjol kan badannya tampak menggagahkan dirinya.


" kok repot-repot sih umimu". Abah langsung mengambil satu bungkus kotak kue yang di taruh plastik. umma yang tau tingkah Abah mencebik, kia dan Hamdan tertawa.


" Abah ingat cukup satu potong".


" iya umma makannya ya demi satu potong". umma kesal Abah selalu saja begitu tak mau manurut, umma menjaga kesehatan Abah. zidan, kia, dan Hamdan tertawa melihat tingkah para paruh baya itu.


Hamdan memasukkan kopernya ke dalam mobil, kia pamit juga Hamdan mereka semua bersalaman tak terkecuali Zidan yang sangat menghormati Abah.


" hati-hati ya nak". umma melepas kepergian anaknya, anak tinggal satu-satunya setelah Hanafi meninggal umma selalu punya kekhawatiran yang lebih terhadap Hamdan. Hamdan duduk di belakang bersama kia, sudah menjadi kebiasaan bagi Zidan melihat sepasang suami istri itu begitu dekat bahkan Hamdan tak melepaskan genggaman tangannya kepada istrinya sesekali mengecup tangannya.

__ADS_1


" kakak ipar, aku nitip kia ya antar dan temani kemanapun kia pergi. untuk kantor biar Tomi yang menghandel, sepertinya tidak begitu repot Minggu ini". pesan Hamdan kepada Zidan.


" iya pasti adik ipar, sebelum kamu yang menjaganya aku lebih dulu menjaga adikku.". Zidan mengingatkan Hamdan lagi tentang itu.


" terima kasih kakak ipar telah menjaga jodohku dengan baik. semoga kakak ipar segera mendapatkan jodoh yang sangat baik". kia terkekeh.


" aamiin. terimakasih adik ipar atas doanya, semoga Allah lekas mengabulkan." hamdan juga terkekeh melihat raut wajah Zidan jika bicara soal jodoh.


Sampai di rumah orang tua kia, Abi dan umi sudah menunggu sebelumnya Zidan sudah mengatakan jika Hamdan akan berangkat hari ini. hamdan dan kia turun mereka Salim dengan umi dan Abi.


" umi, Abi hari ini Hamdan mau pamit. Hamdan berangkat ke Australia titip kia ya um selama Hamdan di Australia kia akan tidur di sini". ucap Hamdan dengan sangat sopan.


" iya nak di sini juga rumah kalian, kapanpun pintu rumah ini terbuka untuk kalian". Hamdan masuk ke rumah terlebih dahulu umi membuatkan minum untuk menantunya. mereka berbincang sebentar sebelum pesawat akan terbang, pesawat sudah siap di bandara tinggal menunggu jam terbang saja. setelah waktu cukup untuk berpamitan Hamdan di antar kia dan Zidan ke bandara.


" hati-hati nak Hamdan di sana jaga kesehatan dan jangan lupa makan". pesan umi untuk menantunya.


" iya umi Abi insyaAlloh Hamdan pamit, assalamu'alaikum".


" wa'alaikumsalam, " semua serentak menjawab, mereka menuju ke bandara disan Mr Jack sudah menunggu untuk melepas kepergian teman bisnisnya itu. semenjak Almira hamil Mr Jack tak pernah meninggalkan Almira sedetikpun, ia menyewa bodyguard untuk istri nya saat Mr Jack harus ke kantor. benar-benar kekhawatiran yang mendalam mengingat ia kehilangan cinta pertamanya.


____


bersambung

__ADS_1


setelah ini akan ada konflik tinggalkan jejak like komen kak, supaya othor semangat menulis.


__ADS_2