MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA

MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA
rindu menggebu


__ADS_3

Saatnya makan malam kia keluar menuju meja makan, makanan kesukaan kia umi hidangkan. kia yang menghirup bau nya sangat khas ikan gabus panggang pedas di beri santan sedikit.


" umi kapan masaknya perasaan tadi kia ke dapur tidak ada". ucap kia tadi ia ke dapur namun tidak ada uminya di sana.


" saat kamu tidur siang umi memasak, sore emang umi ngga ke dapur umi mengaji di komplek depan bersama ibu-ibu". ucap umi sembari menyiapkan makanan untuk kia.


" kia kangen makanan ini umi". umi mengerutkan keningnya.


" kenapa saat kepengen kamu ngga telepon kakakmu Zidan, umi masakin nanti biar di antar sama kakak mu Zidan".


" kia itu selalu merepotkan kak Zidan mi, menikah pun kak Zidan masih kia repotin". ucap kia sembari menuangkan air minum ke gelasnya.


" siapa yang bilang kakak di repotin, ngga akan kakak merasa kamu repotin kia. semua menyayangi mu apalagi suamimu jika dia tau kamu tak berani ngomong pingin sesuatu pasti dia akan kecewa kia. Hamdan berusaha menjadi suami yang baik, jangan sampai kamu kecewakan dia dek". Zidan yang baru keluar dari kamarnya langsung menyahut.


" Kalian semua baik sama kia, kia berpikir tak ingin ngerepotin mas Hamdan. apalagi saat dia pulang kerja seharusnya istirahat malah kia repotin minta hal-hal yang harusnya bisa kia tahan".


" besok lagi jangan gitu dek, kamu sedang hamil suamimu akan senang jika ia bisa menuruti apa yang kamu mau. kakak juga ngga mau nanti keponakan kakak ileran, isss... ngga etis kali dek anak pengusaha terkenal ileran padahal jika mau beli pulau saja dia bisa". umi dan abah jadi tertawa mendengar kata ileran.


" ih kakak ya ngga lah kak".


" makanya besok lagi jangan di tahan jika tak berani ngomong sama Hamdan bilang sama kakak ya, kamu takut sama suamimu ". tanya Zidan mengetes kia saja.


" kia bukan takut kak cuma ngga enak saja kesannya kia itu manja, mas Hamdan terlalu baik untuk kia kak." ucap kia ia sudah mulai mengambil ikan nya lalu kuahnya di siramkan ke nasi.


" ngga ada istri manja, yang ada istri itu memang harus jadi ratu bagi suaminya. hamdan berusaha memenuhi semua itu dek, kakak mengenal Hamdan lebih dari dirimu. Ingat tidak saat ia tahunya kamu istri kakak, Hamdan meskipun ia mempunyai rasa dengan mu tapi ia tepis. di belakang ia memberikan semuanya demi kebahagiaan wanitanya". Semua fasilitas Hamdan berikan untuk Zidan ia tidak tega melihat kia dengan kehidupan yang sederhana, rumah mobil Hamdan berikan atas nama Zidan yang menerima nya padahal itu karena Hamdan peduli sama kia.


" iya kak esok tak akan, mas Hamdan emang terlalu baik pada kia mas.". kia melanjutkan makannya ia begitu lahap hingga lupa dengan rasa mualnya.


" nak apa kamu tak ambil cuti dulu kuliahnya, lanjutin setelah melahirkan". ucap Abim

__ADS_1


" kemarin mas Hamdan menyarankan begitu memang bi tapi kia tak mau, tinggal dua semester lagi kia pengen cepet lulus".


" asal tidak menggangu kehamilanmu, Abi tidak mau terjadi apa-apa dengan cucu Abi juga".


" insyaallah tidak akan terjadi apa-apa bi semua orang menjaga kia, Abah umma mas Hamdan semua menyayangi kia apalagi kalian keluarga ku tak ada yang perlu di khawatir kan". ucap kia sembari tersenyum.


Selesai makan yang biasa mereka lakukan ngobrol di ruang keluarga, kia selalu membawa handphone nya takut jika sewaktu-waktu Hamdan menelepon. dan benar Hamdan menelepon di angkat nya oleh kia.


" assalamu'alaikum sayang".


" wa'alaikumsalam mas". Zidan mendekat ke adiknya ngeliat Hamdan dari layar kaca.


" adik ipar tak kuat rupanya pergi jauh". goda zidan membuat Hamdan kesal padahal Hamdan ingin bicara dengan istri nya ia rindu yang teramat dalam.


" kakak ipar belum tau sih rasanya, di sini pingin cepet pulang. makan ngga ada yang nemenin apalagi tidur, aku mau bicara sama istri ku Zidan". Hamdan menekankan nama zidan membuat Zidan terkekeh paling seneng Zidan buat Hamdan marah. Kia izin sama kedua orang tuanya ke kamar, malu kia jika ada umi Abi di sebelahnya.


" sayang sudah makan, gimana masih mual dan pusing".


***


Ini adalah hari ke tiga hamdan berada di Australia ia akan pulang setelah Zuhur, pekerjaan nya telah selesai semua ia cek secara detail ada yang membantunya di sana yaitu orang kepercayaan Mr Jack. juga Mr Jack selalu memantau dari laptopnya, meski lebih sering dirumah mr Jack sembari bekerja sudha banyak sekali kaki tangan pengusaha itu.


Kia dua hari ini berangkat ke kampus, Zidan selalu menemani saat kia masuk ke kelas Zidan ke kantor sebentar untuk mengecek pekerjaan para karyawan nya. Aulia sahabat kia tak pernah jauh dari KIA mereka selalu bersama saat di kampus.


semenjak kepergian Hamdan ada orang mengikuti kia tanpa sepengetahuan mereka. Zidan pun tak tau ada pengintai dari jauh.


" lapor bos target hari ini ke kampus lagi". ucap mata-mata itu yang mata nya mengarah kepada kia yang sedang duduk di bawah pohon dengan Aulia.


" bagus ikuti terus jika lengah dan kalian bisa, bawakan dia untuk ku". ucap seseorang dari seberang telepon itu.

__ADS_1


" baik bos tugas akan saya laksanakan".


" ingat saya tidak mau kalian gagal, ini adalah kesempatan emas". lagi-lagi pengintai itu mengawasi kia dari jauh.


Dan saat zidan berjalan dari kantin untuk membeli minuman ia menabrak orang yang bertubuh besar itu dan membuat zidan sedikit terpental, orang nya tinggi besar melotot melihat Zidan.


" maaf pak saya tidak sengaja". tak ada jawaban dari orang itu ia langsung berlalu pergi meninggalkan Zidan, takut ada yang mencurigai nya.


" ternyata tak bisa bicara". Zidan terkekeh ia kembali ke mobilnya menunggu kia di sana, hari ini juga Kiran ke kampus tapi mereka beda tingkat.


" kia suamimu pergi lama". tanya Aulia .


" cuma tiga hari Aulia hari ini pulang, berangkat dari Australia setelah Zuhur".


" aku yakin kamu pasti bahagia, wah aku jadi pingin kayak kamu punya suami tampan sukses juga Soleh". kia terkekeh, setiap orang mungkin hanya liat di luar saja ia tak tahu jika di awal pernikahan mereka terjadi konflik banyak kesalahpahaman.


" Alhamdulillah Aulia, bahagia itu datangnya dari sini". kia memegang dadanya.


" iya memang benar itu kia".


" intinya kita ikhlas menerima semua takdir Allah jika aku di minta saat itu dengan keegoisan ku, aku gak akan mau menikah semuda ini. masih pingin seperti kamu bebas bisa kemanapun tanpa ada yang melarang. dulu aku juga punya impian setelah lulus kuliah akan kerja".


" sebelum lulus kamu juga bekerja kia". ucap Aulia


" kerja apa aku hanya di rumah saja, ".


" kerja melayani suami". Aulia terkekeh, kia malu ia menimpuk sahabat nya itu dengan buku besarnya.


____

__ADS_1


bersambung


__ADS_2