MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA

MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA
rindu balapan


__ADS_3

happy reading


______


Suara adzan Maghrib berkumandang Hamdan sudah siap untuk berangkat ke masjid dekat rumah, bersama Abah Hamdan berangkat. Umma juga kadang ikut ke masjid namun Zakia tak di perkenankan oleh hamdan. Wanita itu memang lebih baik shalat di kamarnya. Setelah shalat Maghrib Zakia selalu menyempatkan untuk membaca Al Qur'an apalagi sekarang dia sedang hamil ia selalu melantunkan ayat suci Al-Quran. biasanya Hamdan juga saat tilawah selalu mengusap perut kia, saat mau tidur setelah membaca surat Al Mulk bersama Hamdan tak lupa untuk bershalawat sembari mengusap perut kia hingga kia tertidur. Sungguh indah dunia ini berasa Hamdan merasa dirinya begitu sempurna atas berlimpah nya rezeki.


Drrrrttttt...


suara handphone Hamdan berbunyi sesaat dia habis makan malam, dia angkatnya itu nomor Aris sahabat nya.


" hallo di mana kamu Hamdan". tanya Aris di seberang telepon.


" di rumah ada apa" tanya balik Hamdan kemudian.


" keluar yuk pingin balapan kangen aku dengan kalian kita balap motor". ucap Aris .


" malam ini ". Hamdan terkejut mendadak sekali Aris, Hamdan belum bicara dengan kia.


" iya aku sudah menghubungi Tomi dan ia akan datang. kamu datang ya kemari kangen aku balapan sama kalian". sebenarnya sudah lama juga Hamdan tak turun ke jalan semenjak dia sibuk dengan bisnisnya. tapi ketika Aris mengajak jiwa mudanya kembali meronta, ingin sekali dia melajukan motor kesayangan nya. Setelah makan rujak dengan kia kebetulan sore tadi Hamdan mengecek motornya, rindu seakan seperti masa lampau. motor itupun yang membawanya bertemu dengan kia saat di desa, memnag sudah lama karena motor itu di rawat oleh Hamdan masih sangat kelihatan bagus. Hamdan tak mau ganti motor ia mencintai motornya itu layaknya pacarnya tempo dulu.


" aku sudah tidak sendiri lagi ris, sebentar ya aku izin dulu dengan istriku." ucap Hamdan melirik ke arah kia yang juga mendengarkan pembicaraan mereka.


" oke aku tunggu ku harap istri mu mengerti". ucap Aris ia menengadah kan tangannya ke atas berdoa semoga kia mengizinkan Hamdan malam ini.


" sayang barusan Aris telepon ngajak mas keluar malam ini, ". Hamdan tak melanjutkan kata-katanya ia tak berani karena ia ingat kata Almira jika orang hamil itu sensitif bawaannya jadi harus sabar ngadepin nya.


" iya kia denger kok mas, lalu..." kia juga menggantungkan kata-katanya ia ingin tau bagaimana cara suaminya meminta izin kepada nya.


" mas boleh keluar tidak malam ini kangen sama temen-temen". ucap Hamdan ia masih hati-hati dalam bicara takut menyinggung kia.


" harus malam-malam keluarnya, memang ada hal penting". lanjut kia bertanya lagi.


" Aris ngajak kita motoran seperti dulu kangen katanya, mas memang sudah lama tak melajukan motor mas".


" sama siapa saja mas, mau balapan liar seperti di televisi itu ". tanya kia mulai dia sedikit emosi.


" bukan sayang mas hanya bertiga Aris dan tomi saja kita hanya keliling kota naik motor saja, tak akan kebut-kebutan. cuma kangen saja masa masih sekolah sayang". Hamdan memegangi jemari kia seperti anak kecil yang minta di belikan sesuatu. Kia menahan tawa melihat wajah Hamdan yang memelas, mungkin memang butuh refreshing juga setiap hari masih di sibukkan dengan kerjaan.


" ya sudah tapi bacain kia shalawat dulu, silahkan mas berangkat kalau kia sudah tidur". dalam hati Hamdan mengatakan yes sebanyak-banyaknya rasanya ia ingin guling-guling. Sudah lama memang Hamdan tak melanjukan motor kesayangan nya.


" Alhamdulillah terima kasih sayang". Hamdan mengecup wajah kia hingga buat kia cekikikan, kia senang melihat Hamdan berbinar. jika memang tak terlalu ekstrim tak apa kia mengizinkan asal ingat waktu, ingat batasan.


" mas geli". Hamdan justru malah menggelitiki kia hingga kia tak tahan tertawa sampai keluar air mata.


" sekarang ambil air wudhu lalu tidur mas bacakan shalawat" ucap Hamdan berharap kia cepat tidur.

__ADS_1


" ini masih jam berapa mas, kia belum ngantuk". Hamdan melihat jam dinding ternyata memang masih sore, ia terkekeh tak sabar ingin memutar gas motornya. kia membuka buku kuliahnya, memang masih habis isya, wajar saja jika belum ngantuk. biasanya kia tidur di jam sepuluh malam.


Hamdan membuka laptopnya ia memeriksa pekerjaannya, di biarkan saja kia yang masih belajar. sudah jam setengah sepuluh Hamdan tak mendengar kia lagi, ternyata kia sudah tertidur tanpa harus di bacakan shalawat. Namun ketika Hamdan bergerak ingin meletakkan laptop nya kia terbangun, Hamdan lemas lagi harus tunggu kia tidur lagi.


" maaf mas, kia ketiduran". kia meletakkan bukunya di meja ia berlalu ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual sebelum tidur nya. ganti baju, gosok gigi dan berwudhu.


" sini mas bacakan shalawat". kia mendekat ia segera tidur lagi di pejamkan nya matanya, hamdan terus membacakan shalawat. tangan kiri mengusap puncak kepala kia dan tangan kanan mengusap perutnya kia. Sekitar lima belas menit kia akhirnya terlelap, di selimuti nya sang istri ia mengecup keningnya kemudian bersiap untuk menemui sahabatnya.


Hamdan memakai jaket putih lengkap dengan helm, motor lama tidak di pakai untuk jalan jauh di lihatnya BBM tinggal sedikit namun cukuplah sampai ke Pertamina untuk di isinya terlebih dahulu. Aris sudah menunggu di tempat biasa ia datang terlebih dahulu dengan si hitam kesayangannya. Tomi yang selalu tampil cool dengan si Ducati merahnya lengkap pakaian balap yang biasa ia kenakan saat akan balapan. Kalau Hamdan tipe orang yang santai jadi ia hanya memakai pakaian sederhananya.


Mereka bertemu tepat di jam 10 malam di tempat biasa mereka, senyum mengembang dari ketiganya. salam adu jotos tangan masih mereka pakai sewaktu malam bertemu begini. Tomi datang lebih dulu dari Hamdan karena Hamdan harus mengisi BBM terlebih dahulu.


" Hay bro sory tungguin lama aku nidurin istri dulu". kata Hamdan sambil terkekeh, serasa lucu saja baginya harus nidurin istri kayak nidurin anak kecil saja.


" tak apa namanya punya istri, tapi kia ngizinin kamu aku udah seneng bro. tak ada penghalang bagi kita buat ketemuan kayak gini lagi". ucap Aris dia senang akhirnya terobati rasa kangen ingin ngebut bareng sahabatnya.


" makanya ris kalau cari istri jangan cuma cantik saja, yang baik saliha sayang kamu selebihnya juga sayang orang tua dan keluarga. yang terpenting ngizinin kita buat ketemuan begini, ha...." Aris mencebik Hamdan tersenyum liat sahabat nya Tomi berucap walaupun selengekan dia memang hati-hati terhadap wanita, gayanya yang selalu cool membuat para wanita makin meleyot saat ngeliat Tomi. namun Tomi sejak dulu hanya suka tebar pesona ia tak ingin menjadi kan para wanita pacarnya, cukup cerdas lah Hamdan salut dengan Tomi.


" aku belum bertemu orang yang pas untuk ku, ". kata Aris sembari mengecek motornya.


" terus cewek yang kemarin itu saudara anita, kamu bertemu saat acara Niko sama Anita gimana". tanya Tomi sahabatnya satu ini paling susah menentukan pilihan, tingkahnya yang absurd itu bikin susah ditebak juga.


" mana berani aku deketin dia, kasta kita berbeda pastinya tom. takut ah nanti sakit hati bikin tak enak makan". Aris sudah pernah saat kuliah ngedeketin seorang wanita namun cintanya bertepuk sebelah tangan, wanita itu justru menyukai laki-laki dewasa.


" iya betul katamu Hamdan, tapi memang kamu cocok dengan kia. kia itu meskipun penampilan memakai cadar tapi orang nya tak saklek, ia bisa mengerti kamu sayang kamu juga orang tua". Tomi membenahi sarung tangan nya, jika ia di ajak balapan sudah komplit costum yang ia pakai.


" jodoh pasti bertemu sobat, ayo sekarang kita fokus balapan ya aku sudah kangen kebut-kebutan mumpung ada ridho istri". Hamdan terkekeh tak menyangka dia sudah punya istri saja, seharusnya hari gini dia masih asyik bersama teman-teman nya nongkrong. Untung lah kia tadi mengizinkan jika tidak mungkin dia akan lemas wkwkwk.


" hayuk kita siap berjejer di jalan seperti biasa ya dan berhenti di warung bang jali". ucap Aris sudah siap memstarter motor gedenya.


" yeh ujung-ujungnya makan kamu itu ris" Tomi sedikit mendorong Aris membuatnya cekikikan.


" kali ini aku yang traktir tom serius, gaji pertama ku untuk sahabat ku kalian ". biasanya dari mereka Hamdan yang selalu traktir makanya bikin Tomi melotot Aris mau traktir mereka hari ini.


" tom kamu tadi tak ajak Niko, aku baru kepikiran ". Hamdan ingat satu sahabatnya itu, semenjak pulang ke Indonesia selain teman bisnis hanya Tomi dan Hamdan sahabat Niko.


" aku tadi kepikiran juga sih, tapi takut ganggu mereka kan pengantin baru. ngga enak aku sama Anita bro." sembari garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" seharusnya kamu ajak dia meski bisa datang atau tidak, dia tak ada teman dekat selain kita di Indonesia." Hamdan tau jika Niko pasti akan senang jika di ajaknya.


" oke aku hubungi dulu Niko ya". Tomi mengambil handphone di sakunya.


drrrrttttt...


Suara handphone Niko berbunyi saat itu memang dia sudah tertidur di pelukan sang istri. pengantin baru jika sudah melakukan hajatnya pasti kelelahan dan tertidur. Niko mengerjapkan matanya, mengambil handphone di atas nakas yang berbunyi di lihatnya sudah pukul 11 malam nama Tomi terpampang di layar.

__ADS_1


" apa bro malam-malam telepon ada yang mendesak". Niko mengucek matanya yang sudah penuh dengan belek.


" kamu ada di mana Niko bisa keluar tidak kami sedang nongkrong". ucap Tomi langsung to the point saja tak mau basa basi.


" di rumah lah bro tepatnya di kamar". Niko terkekeh membuat panas sahabat nya itu.


" isshhh... pengantin baru kungkung terus istri". ucap Tomi sedikit keras ia tau jika Niko membuatnya memanas.


" ya iyalah ada yang halal di sediakan pula ha..." Niko tertawa saat ia sudah keluar berdiri di balkon.


" terserah... aku Aris juga Hamdan sedang nongkrong di jalan Tamrin biasa mau balapan sudah kangen. Kalau mau ikut datang lah ke sini kita balapan". ucap Tomi menekankan kata balapan


" aku tak ada motor Tomi, kalau kamu ngabarin aku tadi siang aku bisa beli dulu kenapa mendadak gini." ucap Niko sembari membelai rambut nya yang acak-acakan.


" sory bro tadi tak enak aku mau ngabarin pengantin baru, ini Hamdan minta aku suruh hubungi kamu. ya sudah kalau tak bisa tak apa kami mau balapan".


" eh aku ke sana mau lihat kalian saja, jadi wasit. sebentar aku mandi dulu ya. "


" dasar asem,,,, pengantin baru jam segini mandi bikin tambah panas saja". teriak Tomi membuat Hamdan dan Aris terkekeh.


" ha..... tau sendiri kan pengantin baru Tomi mumpung masih baru reyen terus". ucap Niko tanpa dosa.


" ya sudah buruan cepat mandinya". Tomi menutup teleponnya mendengus kesal.


" kenapa kamu tom ha...." Hamdan tertawa.


" Niko masih mau mandi, jelas habis tempur dia tiap malam pastinya".


" namanya pengantin baru tom kamu belum ngerasain sih".


" isshhh.... nantilah kalau sudah waktunya". Aris dan Hamdan cekikikan.


Niko bergegas mandi ia menyelimuti istri nya yang masih tanpa busana itu, setelah lelah dengan aktivitas panas mereka langsung tertidur saja. Niko menulis memo di meja takut jika Anita terbangun mencarinya, jika mau bangunkan dia tak tega Niko habis gempur abis-abisan malam itu.


( wkwkwk apa ya bahasa gempur abis-abisan itu othor bingung )


Di kecupnya kening sang istri Niko mengambil kunci mobilnya dan keluar menyalakan mesin mobil. Anita terbangun mendengar suara mobil, ia menoleh ke arah sebelah sudah tak ada suaminya. Anita mengernyitkan dahinya melihat memo di atas meja, Anita hanya tersenyum saja ia percaya jika perginya bersama Hamdan dan kawan-kawan nya. Anita lalu mandi setelah itu kembali tidur lagi, badannya rasanya remuk Niko tak biarkan Anita lolos setiap malam.


______


bersambung...


terima kasih banyak hadiahnya kakak readers.


beri komentar untuk novel ini kaka supaya ramai, biar hidupku tak sepi wkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2