
Hamdan mendekat menyusuri jemari sang istri, jantung Zakia pun berdegup kencang.
selanjutnya ia pegang jemari dengan kedua tangannya, Zakia kaku tak bisa pergi ataupun berucap lidahnya kelu badannya lemas. Zakia masih terus menunduk, di pegang nya dagu Zakia agar matanya sejajar dengan hamdan. Tatapannya begitu dalam membuat hati Zakia berdesir, zakia yang masih memakai cadarnya masih terdiam tangannya dingin seakan tubuhnya gemetar ini adalah hal pertama bagi dirinya di sentuh oleh laki-laki selain kakak dan abinya.
" maafkan aku kia, maaf aku sudah membuat mu marah dan menangis". Zakia masih dalam mode yang sama ia hanya mengangguk tak tega melihat suaminya yang merajuk dari kemarin.
" Boleh aku lihat wajahmu." Zakia hanya mengangguk lagi. Di lepaskan genggaman hamdan, jemarinya yang tadi ia tautkan kepada Zakia, Hamdan membuka cadar sang istri kembali Zakia menunduk.
" MasyaAlloh... tak hanya matamu saja yang cantik tapi karunia Allah kamu bener-bener cantik bak bidadari" . Hamdan tak henti-hentinya memuji Sang istri mode merayu. Zakia tersenyum suaminya memuji kecantikan nya.
" Terimakasih kamu telah menjaga wajahmu yang cantik ini untuk ku, kamu tutupi agar tidak di nikmati oleh laki-laki lain yang bukan mahram." Zakia semakin menunduk.
deg
' kenapa sepertinya wajah ini tak asing, dimana aku pernah bertemu' batin hamdan. Hamdan mencoba mengingat tapi tidak menemukan jawabannya.
Kembali tangan Hamdan memegang dagu Zakia untuk di angkat agar sejajar dengan nya. Hamdan begitu mengagumi keindahan
wajah Zakia yang sangat cantik bibirnya begitu seksi berwarna merah muda polos tanpa make up dan polesan apapun.
glek.
Hamdan menelan salivanya rasanya jiwa kelakiannya merespon. Tanpa sadar Hamdan mendekati Zakia ia ingin meraup bibir sexsi milik Zakia yang ia bayangkan terasa manis.
kruk...kruk...
Hamdan tersadar itu bunyi perut zakia, ia lapar sepulang kampus memang mereka belum makan. Hamdan mundur membatalkan aksinya.
" kamu lapar ya kia". kia mengangguk.
" maaf, maaf, aku lupa kita belum makan siang. Ya udah ayok kita makan dulu." Hamdan menggaruk tengkuknya pura-pura seakan tidak terjadi apa-apa. kia pun kembali mengambil cadar nya untuk di pakai. namun Hamdan menghentikan tangan Zakia agar tetap meletakkan cadarnya.
" Pintu depan aku kunci di rumah cuma ada aku, ngga usah di pakai cadar nya biar aku bisa menikmati kecantikan mu hingga puas". Zakia menurut saja kemudian ia mengikuti Hamdan berjalan menuju meja makan.
Sayur lodeh, sambal, ayam goreng umi sudah menyiapkan nya untuk makan siang. Kini Hamdan yang menyiapkan makanan nya untuk mereka ia ingin melayani istrinya untuk menebus kesalahannya. Zakia hanya memperhatikan saja gerak suaminya.
" makan yang banyak lalu istirahat supaya kepalanya lekas sembuh tak pusing lagi. Nanti sore kita pulang ke rumah Abah ya, umma pasti khawatir denganmu". kia mengangguk kembali.
Hamdan terus memandangi wajah Zakia baginya istrinya benar sangat cantik, ia bersyukur beruntung punya istri yang menjaga diri untuk untuknya.
" mas cepat di makan makanannya kasihan nasinya kedinginan dari tadi kena siram sayur lodeh". Hamdan terkekeh. benar juga dari tadi Hamdan hanya terus memandangi Zakia makannya baru berkurang sedikit saja...
" Menatapmu saja aku sudah kenyang kia". Zakia tersenyum tersipu malu mendengar rayuan gombal suaminya.
__ADS_1
Mereka selesai makan siang Zakia mengangkat piringnya untuk di bersihkan Hamdan menahan tangan Zakia.
" sudah kamu istirahat saja biar kau yang mengerjakan".
" tapi mas ini pekerjaan ku".
" kali ini aku yang akan mengerjakan ini"
" mas..."
" kalau kamu ngga mau istirahat akan ku buat dirimu siang ini benar-benar tak istirahat". Zakia melebarkan matanya kemudian ia meletakkan piringnya dan berjalan masuk ke kamar. Hamdan terkekeh melihat Zakia yang masih takut untuk ia dekati.
Hamdan menyelesaikan merapikan meja makan ia mencuci piring dan gelas, ia ingat jika pintu depan tadi ia kunci. lalu ia berjalan ke depan untuk membukanya ngga enak aja jika mertuanya pulang ia malu. kemudian Hamdan masuk ke kamar kia untuk melihat istrinya itu ternyata benar Zakia sudah terlelap. di dekatinya Hamdan menikmati lagi kecantikan sang istri lalu ia mengecup keningnya. Hamdan ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
***
Tomi datang ke kantor dan mendapati Zidan yang masih sibuk namun Kiran tak ada.
" ke mana Kiran"
" dia ada kelas jadi pulang untuk ke kampus, syukurlah kamu datang".
" kamu kenapa ngga cerita sama aku Zidan"
" soal Hamdan dan kia"
" oh itu, mungkin karena mereka memang berjodoh. apa untungnya juga aku cerita sama kamu bentar lagi juga resepsi akan di gelar dan kamu yang akan mengurus semuanya".
" Padahal aku sahabat nya tapi telat aku tahunya hal ini, terus kenapa aku yang mengurus semuanya. kamu..."
" yah aku duduk manis sebagai kakak ipar lah Tomi, masa' aku yang mengurus nya kan ada kamu".
" issshhh... merepotkan lagi"
" kalau ngga mau juga ngga papa nanti ku kasih tau Hamdan".
" jangan..jangan.. yah akan ku lakukan demi sahabat ku. kapan akan di laksanakan"
" kami belum menentukan tanggal nya, tunggu saja nanti di kasih kabar." Zidan yang masih sibuk dengan laptopnya, kemudian Tomi berlalu masuk ke ruangan nya.
_
_
__ADS_1
Abi dan umi pulang ia mendapati mobil menantunya yang terparkir di depan rumah, Abi dan umi masuk rumah sangat sepi. umi mengira Hamdan sedang istirahat begitu juga Zakia di kamarnya masing-masing.
" lucu ya bi tadi liat cucunya jeng Ratna, gemes umi pingin cium-cium".
" udah pingin punya cucu ya um" umi tersenyum tak berani ia mengungkapkan hal itu.
" Semoga kia lekas memberi kita cucu ya bi".
" aamiin, kita doakan saja umi. seharusnya Zidan yang udah ngasih kita cucu, umur segitu belum juga dia mikirin pasangan".
" mungkin memang belum datang jodohnya bi, kita doakan saja setelah kia semoga Hamdan menyusul"
" aamiin ya Allah, rasanya sudah ke pingin nimang cucu. apalagi kemarin pas liat anaknya Aisha dan dokter azzam gemes."
" Semoga semua anak-anak kita subur ya bi cepat dapet momongan, umi siap buat bantu jagainnya".
" apalagi abi mi, pingin ajak mainan mereka". Alhamdulillah Abi sudah bisa berjalan dari semenjak pengobatan rutin yang di lakukan, Abi tampak sehat kembali.
Umi dan Abi beristirahat di ruang televisi sambil menyalakan televisi. meski umur mereka yang sudah tua tapi kemesraan selalu ada, umi bersender di lengan Abi.
Kia bangun di dapati nya suami yang tidur di sampingnya, sebentar lagi ashar. Zakia mencoba membangunkan hamdan dengan menggoyangkan tubuh nya.
" mas bangun sebentar lagi ashar" Hamdan pun menggeliat ia bangun melihat jam dinding ternyata sebentar lagi ashar. Kia merasa haus ia akan keluar kamar di ikuti Hamdan yang akan pergi ke kamar tamu untuk mengambil peralatan sholatnya yaitu sajadah.
mendengar suara pintu di buka umi menoleh ke kamar nya kia, umi tau jika kia dan menantunya keluar dari kamar yang sama.
" bi liat mereka" umi berbisik ke arah Abi.
Abi yang tanggap langsung menoleh ke arah keduanya.
" Alhamdulillah" suara lirih Abi.
" umi , Abi udah pulang. maaf kia tadi ngga tau".
" ngga apa-apa nak lanjutin aja" umi terkekeh.
" kami tadi istirahat". ucap kia yang masih gugup malu ia rasanya, Hamdan hanya nyengir-nyengir saja.
ketauan deh 😁
________
bersambung
__ADS_1