
Alex tampak santai berada di kamarnya ia tersenyum kecut senang Hamdan tertembak dan ia sedang menunggu mendengar kematian Hamdan. Penjahat yang ia sewa sudah ia bayar mahal tiga kali lipat dari biasanya mereka terima, dan licik nya Alex ia mengancam akan menghancurkan keluarga penjahat jika ia menyebutkan namanya. Sepenjahat apapun ia pasti menginginkan anaknya untuk jadi anak baik keluarganya aman terlindungi.
" Aku ingin mendengar berita kematian mu hamdan". seru Alex di dalam kamarnya sembari menghisap nikotin.
Zidan dan Tomi sepulang dari awak media langsung menuju rumah sakit sebelumnya ia menghubungi Rendi karena nanti Rendi yang akan melakukan aksi ini. jika pihak kepolisian menyetujui rencana yang sudah mereka bicarakan maka akan berjalan lancar nanti proses nya tanpa mereka takutkan. Antara yakin dan tidak, berharap cepat selesai masalah Hamdan agar mereka hidup dengan tenang tanpa was-was.
" Itu yang kak riko bicarakan dengan kita tadi ren, makanya saya bicara sama kamu sekarang". tanya Tomi meminta pendapat Rendi.
" kami juga sedang melakukan penyidikan tentang keluarga napi itu, tapi usulan kalian ini juga bagus. lebih baik kita minta persetujuan dulu dari Hamdan dan kawan-kawan setelah itu saya coba bicara dengan atasan". ucap Rendi siap untuk menjalankan tugas.
" Baiklah kita sekarang ke rumah sakit". Rendi membawa motor sportnya, Zidan dan Tomi menaiki mobil yang sama.
Zakia masih menyuapi Hamdan makan siang, yang lain makan siang di ruangan yang tersedia. luas ruangan VVIP fasilitas yang komplit mereka bisa bebas melakukan aktivitas apapun, makan siang di kirim dari kafe Hamdan.
" Makan sayang jangan malas ya". ucap Hamdan ia masih melahap makanannya.
" iya mas nanti setelah kia suapin mas, mas harus makan yang banyak kia mau mas cepat sehat".
" Mas sudah sehat sayang mas kan ngga sakit cuma luka".
" masih bilang ngga sakit terus" Hamdan terkekeh ingin rasanya liat wajah istrinya yang sedang cemberut tapi tertutup cadar dan di situ masih banyak orang gak mungkin ia membukanya meskipun semua sudah pernah tau wajah kia. Karena kecantikannya akan membuat para lelaki tak bisa berpaling.
" Kak Azzam sudah ke sini belum, kakak mau minta pulang". kata Hamdan.
" sembuh dulu baru pulang mas jangan kayak anak kecil, luka mas ini serius". bantah kia tak ingin sesuatu terjadi kepada suaminya.
" mas kangen sayang, mana anak kita sudah gerak-gerak terus ingin di jenguk sama abinya".
" uhuk..." terdengar suara orang tersedak, ternyata Aris ia masih makan tapi telinga mendengar celotehan Hamdan. Aulia sigap mengambil kan air untuk suaminya.
" pelan-pelan kak makannya jangan lupa pakai bismillah". ucap Aulia sembari membantu Aris minum.
" emang kalian ngga dengar tadi"
" dengar..." semua serentak menjawab pertanyaan Aris.
" kenapa kamu yang panik Aris" tanya Yara sembari terkekeh.
__ADS_1
" panas Yara,,, " Niko dan Anita tertawa, Aulia hanya tersipu malu.
" tadi kami udah nawarin kamu untuk pulang loh ris, kamu aja yang kekeh ada di sini." ucap Niko justru menggoda Aris ia menyuapi Anita. Untuk Yara sudah terbiasa dengan mesra-mesraan pasangan karena ia bekerja di kafe banyak pasangan romantis yang datang ke kafe untuk makan.
" Ya kan ngga gitu juga kali Hamdan.....". Aris berteriak Hamdan dan kia kaget mereka juga lupa jika ada teman-temannya di sana.
" Kenapa kamu ris"
" aku liat aja belum". semuanya tertawa.
" mas..." Aulia memukul Aris ia malu sama yang lainnya jadi bahan tertawa.
" malam ini kita pulang ya sayang". semua tertawa ngakak tak tertahankan.
" Udah kamu pulang aja, ada kami yang menunggu Hamdan. Menahan itu tak enak beneran serius, udah ada yang halal jangan di anggurin." Anita memukul lengan Niko suaminya, ia malu suaminya berkata seperti itu apalagi ada dua jomblo Kiran dan Yara.
" Udah jangan di bahas lagi kasihan ini yang jomblo, kita lanjut makan". kata Anita menyodorkan ikan nila.
" Sory ris aku tak ingat jika di ruangan ini ada kalian juga" Hamdan terkekeh.
" Sudah-sudah kasihan Aulia tu dari tadi kamu bikin ia malu, nanti malam pulang saja tak ada tempat buatmu di sini tidur".
" masih ada sayang tempatnya juga sepi". ucap Anita.
" di mana kayak kamu tau aj".
" kamar mayat, huaha...." semua tertawa lebih heboh lagi.
" Aulia jangan kaget ya jika kumpul sama kami, beginilah keadaan persahabatan kami. mereka semua ceplas ceplos". ucap Yara takutnya Aulia kaget dengan mereka.
" assalamu'alaikum". Zidan membuka pintu ruangan Hamdan.
" wa'alaikumsalam". jawab semua bersamaan.
" lagi asyik amat kalian ini sedang ngomongin apa". tanya Tomi ia melihat semuanya masih tertawa.
" ngomongin kamu yang masih belum nikah" ucap Yara nyeplos aja.
__ADS_1
" lampu hijau tuh tom".
" oh mau di nikahin sekarang nih". sahut Tomi.
" datang langsung ke orang tuaku". jawab Yara lagi.
" oke sayang besok aku akan datang menemui orang tua mu setelah masalah Hamdan selesai". Tomi bersemangat.
" nah gitu tom harus berani kalian ini apa yang di tunggu udah lulus juga, aku aja istriku belum lulus ". Aris terkekeh lagi-lagi mbuat Aulia tersipu malu
" enaknya nasibmu tak tragis Aris, cuma malam pengantin mu aja yang nyesek. huaha...." tawa Tomi memenuhi ruangan.
" nasib... nasib... okelah aku akan pulang nanti".
" katanya mau tungguin Hamdan". ejek Tomi.
" siangnya aja malamnya yang tungguin kalian yah, kalian ini memang sahabat ku yang pengertian."
" apa kamu baru nyadar kalau kita ini pengertian baik hati, suka menabung dan tidak sombong".
" Iyah tom tau"
" makanlah pasti belum makan kan". pinta yara menyiapkan makananya untuk mereka. Kiran menyiapkan makan untuk Zidan dan Rendi di ambilkannya nasi dan lauknya. namun Zidan merasa cemburu kala Kiran menyiapkan minum juga untuk Rendi tapi tidak untuk nya. beneran saat itu Kiran lupa pembaca, ada hati yang sedang menjerit cemburu.
" mau kerupuk kak". tawar Kiran pada Rendi.
" iya boleh dek". ucap Rendi ia tersenyum di layani oleh Kiran.
' kenapa cuma Rendi saja aku tidak hiks... ' batin Zidan Dengan malas menyantap makanannya ada pemandangan yang tak enak hati. Api cemburu berkobar ada tanduk keluar dari kepala Zidan itu alusinasi penulis ya wkwkwk.
Kiran dan Rendi santai saja ia tak tau jika Zidan menyukai Kiran. Rendi seperti biasa menganggap Kiran itu adiknya ia pun biasa bercanda bersama. Biasa mengusap kepala Kiran dari dulu, buat Rendi tak ada apa-apa perasaan nya sama sejak dulu menganggap Kiran hanya adik saja.
_
_
bersambung
__ADS_1