MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA

MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA
rindu menggebu


__ADS_3

Zidan berjalan ke ruangan Aulia ia mendapati Aulia sedang tidur beristirahat di sampingnya ada Aris yang masih setia menunggu. tanpa lelah Aris tak memejamkan mata kecuali ada yang menggantikan nya, Yara belum datang sejak tadi mungkin ia menunggu Tomi menjemput nya.


" ris makanlah dulu bersama Hamdan di sebelah aku gantikan menunggu Aulia, cepetan aku mau ke kantor lagi".


" oke tungguin Aulia ya jangan kamu tinggal tidur". pinta Aris begitu perhatian nya.


" iya aku akan melek, udah sana buruan". sebelum pergi Aris mengontrol Aulia terlebih dahulu.


" ya ampun Aris cepetan". Aris terkekeh.


Hamdan menunggu Aris ia menyiapkan terlebih dahulu. ayam goreng dan sayur capcay ada juga makanan penutup nya cake juga puding kesukaan Hamdan.


" makanlah yang banyak ris masih semalam lagi menunggu Aulia".


" pasti bro aku juga udah sangt lapar, wah banyak sekali makanannya perhatian sekali kakak ipar mu itu" . Aris selalu melek jika ada makanan.


" ini umi yang memasak menyiapkan semuanya, Zidan mana dia ngerti". Hamdan mencebik. Aris terkekeh ia tak bicara lagi dan melahap makanannya, rasanya hatinya tak rela jika Zidan yang menunggu Aulia.


***


Hari yang di nanti tiba akhirnya Zakia juga Aulia sudah di perbolehkan pulang kerumah. kia dan hamdan pulang ke rumah orang tua Zakia karena tak ingin juga umma dan Abah khawatir. sedangkan Aulia pulang ke rumah orang tua nya, Hamdan menyewa suster untuk merawat Aulia hingga sembuh.


Ada hati yang sedang rindu kala mengingat masa-masa berada di rumah sakit, cintanya tumbuh tak beraturan begitu saja. namun Aris menepisnya itu adalah kagum saja seperti yang di alami setiap ia melihat wanita. Tapi yang beda ada rindu dalam relung hatinya, rindu menggebu mengingat senyuman nya. Hari ini hari dimana untuk pertama kalinya setelah dari rumah sakit Aris tak menyuapi Aulia.


" ris..." sapa papa nya yang membuat Aris kaget.


" papa ada apa pa". tanya Aris melihat papa yang masuk ke kamarnya.


" jangan ngelamun pagi-pagi, ini hari libur biasanya kamu lari pagi".


" lagian papa tak ketuk pintu dulu masuk kamar, lagi malas pa mau lari pagi". ucap Aris ia memeluk gulingnya lagi.


" papa sudah ketuk beberapa kali kamunya tak dengar eh ternyata masih ngelamun. ikut papa yuk jenguk anak teman papa yang mau papa kenalkan sama kamu, kemarin papa nya bilang sedang sakit". ucap papa.


" malas pa, papa saja. kenapa sih harus pakai harus jodohin Aris segala kayak Aris ngga laku saja. ini bukan zaman Siti Nurbaya pa, Aris bisa cari sendiri".

__ADS_1


" siapa tau kalian cocokkan, ia anak yang baik papa sudah mengenal nya lama. papa percaya kamu bisa cari sendiri tapi papa ngga ngejamin akan sebaik sesoleh pilihan papa". Aris berdecak kesal, pikirannya masih menuju Aulia.


" kenapa ngga papa saja menikah sama anaknya temen papa itu". ucap Aris sekenanya.


" ngawor kamu, dasar anak zaman sekarang dikit-dikit ngebantah. bisa-bisa sosis papa di potong-potong sama mama mu". ucap papa sembari terkekeh.


" sosis yang mana pa, sini mama mau masukin ke nasi goreng saja". mama yang melewati kamar Aris mendengar langsung menyahut saja.


" sosisnya papa ma, katanya papa mau nikah lagi"


" apa, beneran pa.." teriak mama, mama membawa pisau yang saat itu sedang mengiris cabe.


" ngga ma, itu Aris mau ajak papa tengokin anak temen papa yang kemarin anaknya mau kita jodohkan ke Aris".


" oh kalau papa beneran mama siap motong sosis papa sampai jadi banyak". papa lalu melipir menghindari mama.


" cepetan mandi kita tengokin anaknya temen papa, mama langsung setuju ketika melihat anaknya ris. sebelum ada yang melamar kamu duluan ya jangan sampai ada yang mendahului nanti kamu nyesel". ucap mama.


" ma... bisakah tidak ada perjodohan ini bukan zamannya mama dan papa". bantah Aris lagi ia sangat malas memberi harapan kepada wanita yang orang tua nya jodohkan.


" ya ampun ma belum saja ke pakek udah mau cidera nanti mama ngga punya cucu dari Aris".


" makanya ayo buruan mandi". Aris langsung menyahut handuknya lalu pergi mandi sembari berlari.


***


Zakia berdiri di samping jendela menghirup udara segar yang kini dalam dua hari ia hanya menghirup udara rumah sakit yang baunya penuh dengan obat. Hamdan masuk langsung melingkar kan tangannya dari belakang memeluk sang istri. Zakia merasakan kenyamanan dalam dirinya, ia merasa bersyukur masih Allah beri kesempatan untuk bersama suami.


" sayang makan yuk mas sudah lapar".


" sebentar saja mas, kia masih ingin menghirup udara segar pagi ini". ucap Zakia sembari memejamkan matanya menikmati udara yang ia hirup.


" Dede nya pasti juga sudah lapar sayang". ucap Hamdan sembari mengusap perut sang istri dan berkali-kali mengecup tangan kia.


" tadi pagi kia sudah minum susu mas laparnya tak begitu terasa". Hamdan membalikkan badan sang istri agar menghadap nya.

__ADS_1


" tapi ibunya juga butuh nutrisi biar lekas sehat, cepat bisa...." Hamdan tersenyum jahil.


" mas... mesum terus".


" mesumnya sama istri itu boleh sayang, justru malah berpahala. tanya saja pak ustadz kalau ngga percaya". ucap Hamdan membelai wajah kia yang tak tertutup cadar.


" iya mas kia sudah baikan kok".


" berarti nanti malam bisa ya mas kangen, beberapa hari di negeri orang tanpa ada yang meluk saat tidur pulang-pulang di suguhkan masalah yang mas tak bayangkan sebelumnya. sudah hampir satu minggu sayang." Hamdan tanpa jeda langsung meraup bibir ranum milik sang istri yang selalu menjadi candunya.


" kia lapar sarapan yuk". Hamdan terkekeh istri nya masih saja selalu malu saat ia rayu, padahal sudah beberapa bulan hidup bersama.


Semua anggota keluarga yang menunggu untuk sarapan pagi. ini hari libur Zidan juga ada di rumah, pagi ini yang biasanya ia lari pagi untuk kali ini tidak, Zidan lelah dia rebahan lagi setelah shalat subuh.


" lama bener sih Hamdan panggil kia saja, kami sudah setengah jam tungguin kamu". kia melotot menoleh ke arah suaminya, ia tak tau jika di tunggu anggota keluarga.


" menu pembuka dulu kakak ipar".


" issshhh..." Hamdan terkekeh di ikuti yang lainnya.


" udah ayo makan umi sudah masak menu kesukaan kalian semua". ucap umi yang menyiapkan nasi untuk Abi.


" umi masak sendiri bangun jam berapa". tanya kia ia yang melihat begitu banyak menu di meja makan.


" ngga sendiri di bantuin sama menantu umi". Hamdan cengengesan.


" mas..." kia tersenyum tak menyangka ia CEO seperti Hamdan masak bersama mertua.


" mas cuma bantu saja".


" makan dulu tak usah di bahas, yang banyak biar lekas sehat". ucap umi mengambil kan nasi untuk semuanya. mereka makan dengan lahap ada kelegaan dalam diri masing-masing dengan keharmonisan selalu keluarga ini.


___


bersambung

__ADS_1


bangun tidur gempur bikin satu bab, minta vote nya ya kakak ini hari Senin.


__ADS_2