
Bunyi telepon yang menganggu dirinya, ia lihat nama yang tertera ternyata umma. Hamdan pun langsung menekan tombol berwarna hijau untuk mengangkat telepon dari umma.
" assalamu'alaikum umma"
" wa'alaikumsalam nak kalian sudah sampai".
" Alhamdulillah sudah sejak tadi maaf Hamdan lupa kasih kabar".
" syukurlah jika sudah selesai langsung pulang saja ya, umma kangen sama menantu umma".
" ya ampun umma baru saja sehari, aman kia ngga bakal Hamdan apa-apain".
" kok gitu ya harus di apa-apa in dong". kia yang mendengar di sampingnya terkekeh. Hamdan mengusap wajahnya dengan kasar, umma terlalu bar-bar.
" umma Alhamdulillah kia sudah sampai".
" MasyaAlloh nak umma kangen, hati-hati ya langsung pulang kalau sudah selesai"...
" iya umma insyaallah".
" Hamdan, jaga menantu mama ya"
" iya umma sayang pasti, ". umma nerocos berbicara ke sana kemari, Hamdan sedikit jengah ia belum berhasil dengan apa maunya.
Malam yang di nanti oleh Hamdan, Zakia memang sangat cantik kulitnya yang mulus putih membuat kelakian Hamdan bekerja. kini gantian suara handphone kia yang berbunyi ternyata Zidan yang menelepon, mereka berbincang hingga dua jam lewat video call. ketika sudah di tutup Hamdan merasa lega, baru saja lima menit handphone itu istirahat kini berbunyi lagi ternyata Aulia sahabat kia.
" kia apa kabar,"
" ya Allah Aulia alhamdulilah aku udah sampai di Mekah." melihat istrinya yang bahagia Hamdan tersenyum.
" wah bagaimana kadonya sudah kamu buka".
" iya sudah, kenapa kamu belikan ini untuk ku aku tak bisa memakai nya".
" isshhh... kia ayo pakai suamimu pasti senang, kalau ngga percaya coba tanyakan padanya".
" aku bisa masuk angin pakai yang beginian Aulia, kamu tu ya aneh-aneh ini baju belum jadi kenapa di beli". Aulia menepok jidatnya geli mendengar sahabat nya yang begitu polos.
" percaya sama sahabat mu ini pokoknya malam ini kamu pakai ya aku jamin suamimu senang". kia menatap Hamdan yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
" Aulia ada-ada saja kamu ini, nanti coba ku tanya kan mas Hamdan ya. kalau dia tak suka maaf aku juga tak mau memakainya, risih aku Aulia". Aulia terkekeh.
" ya sudah aku tutup teleponnya dulu, selamat bersenang-senang. ibadah umroh plus-plus ibadah pengantin baru. ha..."
__ADS_1
" iissshh... Aulia, oke deh terimakasih banyak sahabat ku". akhirnya berakhir lah teleponnya. Hamdan mengambil telepon milik kia ia matikan tak ingin ada yang mengganggunya lagi.
" kenapa di matiin mas"
" nanti ada yang ganggu lagi, udah geh kamu siap-siap pakai hadiah dari Aulia". kia terbelalak.
" mas Hamdan serius kia suruh pakai begini, " kia menenteng lingerie membuat Hamdan jadi tertawa.
" kalau tak mau pakai, apa mau mas pakaikan".
" ih mas..." zakia tersipu malu kemudian masuk ke kamar mandi. hampir satu jam Zakia tak keluar, membuat Hamdan khawatir kemudian mengetuk pintu kamar mandi.
" sayang kenapa lama sekali, kamu tak apa-apa".
" iya mas kia malu"
" malu kenapa tak ada siapa-siapa kecuali mas suamimu, dan kamu tak akan berdosa sayang. kita akan meraup pahala, satu langkah pergerakan kita pahala yang besar". kemudian suara pintu dari kamar mandi di buka. Zakia bingung mau keluar bagaimana dengan bajunya yang begini. Hamdan sengaja tak menoleh ke arah istrinya ia pura-pura memainkan ponselnya.
" mas.." Hamdan baru menoleh ke arah kia.
" udah sini ngga perlu malu, kamu terlihat sangat cantik." Hamdan mencoba untuk menetralisir kan ritme jantung nya dan dirinya yang sudah tak karuan rasanya panas dingin melihat istrinya. kia masih mematung kemudian Hamdan mendekati ia menggendong istrinya langsung meletakkan ke ranjang. kia menarik selimut di sampingnya menutupi tubuhnya, Hamdan tertawa kecil rupanya istrinya sangat takut.
Dengan aksi yang sangat lembut Hamdan mengajak kia bercanda terlebih dahulu, cukup 30 menit Hamdan sudah panas tak bisa menahan lagi. di remas jemari sang istri kia hanya diam dan pasrah mengikuti permainan suaminya, ia pun terlena dengan d*****n keduanya yang memenuhi kamar hotel. dan
( ye akhirnya golll*...)
Zakia menitikkan air matanya harta berharga yang ia jaga kini sudah di miliki suaminya seutuhnya. Hamdan menghapus air mata Zakia kemudian mencium keningnya.
" terimakasih sayang, terimakasih sudah menjaganya untuk ku". Hamdan memeluk sang istri agar Zakia terasa nyaman.
***
Rangkaian ibadah umroh mereka laksanakan kini waktunya pulang lagi. Hamdan begitu bahagia, bersanding dengan orang yang benar-benar ia cintai. kembali ke kehidupan nyata nya, kia akan tetap melanjutkan kuliahnya Hamdan tetap bekerja. kuliahnya sudah beres tinggal menunggu wisuda saja. yang menjemput mereka di bandara adalah Zidan saat kia mengabari bahwa dia pulang hati ini kia siap jemput adiknya.
" wah pengantin baru nampaknya bahagia ini, bikin kakak iri saja kia". kia tersipu malu.
" cepetan nyusul Zidan ingat tuh umur udah hampir kepala tiga".
" maunya sih tapi..."
" kenapa tak berani ngomong sama Kiran, nanti aku yang akan melamar kannya untuk mu".
" dia tak akan mau Hamdan, kemarin aku coba buat menyelidiki".
__ADS_1
" kenapa tidak mau, berarti kamu sabar aja. ha..."
" issshhh... ejek terus, itu juga gara-gara kamu".
" kok aku, emang kenapa akunya".
" kamu yang bilang ke Kiran harus fokus satu hal dulu untuk mencapai impian".
" benarkan aku bilang begitu, dimana salahnya".
" ya salah akhirnya Kiran mengambil kesimpulan jika dia tak mau menikah sebelum lulus kuliah".
" ha... karatan dong".
" dasar adik ipar tak punya akhlak" kia yang mendengar perbincangan tersebut terkekeh.
" yang sabar kak Zidan, sabar itu banyak pahalanya". ucap kia menirukan kata-kata Zidan tempo hari.
" betul emang aku harus banyak puasa".
" yakin saja kak jika memang jodoh kakak akan di pertemukan dengan caraNya". ucap kia menguatkan.
" entahlah aku hanya pasrah kali ini".
" tapi tak boleh pasrah juga kakak harus ikhtiar". Hamdan mendengus ia sudah berusaha untuk ta'aruf dengan orang lain tapi ia tak bisa belum ada yang klik di dalam hatinya, tak ada satupun wanita yang masuk dalam istigharah nya.
kini semenjak bertemu dengan Kiran ia merasa rasa itu telah ada entah kapan waktunya yang tepat. Saat melihat Kiran jantungnya berdetak lebih cepat, ritme nya sangat tak beraturan. Zidan mencoba keberuntungan nya, dengan terus memperbaiki diri. kini semua ia serahkan kepada Allah, ia memohon agar siapapun yang di jodohkan untuk nya Allah menjaganya dan di pertemukan di waktu yang tepat. Hamdan meminta Zidan untuk ke kafe dulu karena ia sangat lapar dan sekalian mengecek kafe.
" istrinya pak Hamdan kelihatan nya cantik ya, meski di balut dengan cadar terlihat banget auranya". bisik Zahwa terhadap Rini.
" setau ku dia baik, beberapa kali si ke sini sama pak Zidan kan ia adiknya pak Zidan"
" oh jadi adiknya pak Zidan pantas saja pak Zidan juga tampan adiknya pasti juga cantik".
" udah jangan berisik tak baik ".
kia yang datang langsung menyapa seluruh karyawan, terlihat dari matanya yang menyipit saat tersenyum. Karyawan senang ternyata istri bosnya baik ramah juga tak beda dengan Bu Aisha.
" sayang mau makan dulu apa istirahat, mas mau mengecek kafe sekalian. kia bisa istirahat di dalam, ada tempat peristirahatan juga".
" ngga papa mas kia tunggu mas saja". akhirnya mereka makan siang terlebih dahulu lalu hamdan mengecek pembukuan nya juga setiap ruangan kafe.
____
__ADS_1
bersambung