
Mendengar berita tertangkapnya Alex Hamdan dan kia bahagia kini mereka akan melanjutkan hidup tanpa harus ada was-was lagi. Hamdan mencoba untuk duduk di bantu oleh kia ia ingin memandang istri nya lebih lama lebih dalam. Bersyukur masih di berikan kesempatan untuk bersama kia juga menanti sang buah hati.
" kenapa mas senyum-senyum". hamdan terus saja memandang istri nya membuat kia jadi bingung, ia mengucek matanya kali ada belek.
" Alhamdulillah kita masih bisa berkumpul lagi, mas bisa melihatmu lagi. di saat mas pingsan yang ada di pikiran mas cuma kamu, teriakan kamu terngiang-ngiang di saat mas tak sadarkan diri sayang". Hamdan mengusap pipi istrinya meski terhalang oleh cadar.
" iya mas kita masih di berikan kesempatan untuk terus memperbaiki diri". kia memegang tangan suaminya yang masih berada di pipinya lalu mengecup nya.
" sayang bagaimana anak kita hari ini sudah bergerak". tanya Hamdan ia ingin merasakan pergerakan sang bayi. kia lalu berdiri meletakkan tangan Hamdan ke perutnya, seketika terasa bayi itu menedang. Hamdan sangat bahagianya ia bisa merasakan lagi gerak bayinya.
" Nak jangan keras-keras nendangnya ya kasihan umi, baik-baik di dalam tunggu Abi sembuh. Abi juga kangen pengen tengokan anak Abi". seketika kia memukul lengan suaminya ia malu.
" mas ini di rumah sakit nanti ada yang denger". ucap kia ia melihat ke sekitar arah.
" emangnya kenapa sayang kalau ini rumah sakit tak ada orang juga di sini hanya kita bertiga. Kalau pun ada yang denger ya biarin aja, kita suami istri sayang". kia lalu duduk kembali setelah Hamdan mengusap beberapa kali perut kia agar bayi yang di dalamnya tenang.
" tapi jangan terlalu vulgar bersikap mesra di luar, tak baik kasihan mereka yang tak punya pasangan juga janda nanti iri. apalagi pembaca noh ada yang demen ada yang mencebik. tuh kak Feni mencebik.". lagi-lagi penulis di bawa-bawa ya.
" okey kita akan vulgar di kamar ya, ingat itu vulgar". Hamdan menekankan kata terakhirnya sembari terkekeh.
Temannya yang lain setelah dari rumah Abah makan mereka semua langsung ke rumah sakit menjenguk Hamdan. Aris datang langsung memeluk Hamdan membuat yang lain terkekeh.
" aw..." pekik Hamdan bekas lukanya masih sakit.
" maaf..maaf aku lupa saking bahagianya Hamdan, aku kira kamu mati beneran. aku sangat merasa bersalah semalam aku pulang sama Aulia tidak menunggu mu. mereka tak bicara padaku". yang lainnya terkekeh bahkan tertawa.
" maaf Aris kami tak ingin mengganggu mu, karena aku acara pernikahan mu jadi kacau makanya kami tak ingin mengacaukan malam pertama mu". Hamdan terkekeh.
" tapi jangan gitulah kita ini sahabat, satu sakit akan merasakan sakit semua. harus kah aku bahagia di atas penderitaan kalian".
" tapi enakkan". goda hamdan
" huh... luar biasa". Hamdan terkekeh yang lainnya tertawa hanya Tomi yang mencebik.
" tau ah gerah..." ucap Tomi membuat Aris tertawa.
" ayo tom cepet rugi kamu beneran apalagi pas ini musim hujan". ucap Aris.
" iya bismillah aku akan ke rumah Yara segera, doakan ya teman-teman".
__ADS_1
" aamin semoga berhasil kawan". Aris memberi semangat, Yara ini turunan orang Medan ayahnya sedikit keras. Tomi butuh perjuangan nanti, nyesek Tomi di bikin cerita sama kak Feni wkwkwk.
-
-
Hari ini Hamdan di perbolehkan pulang ia sudah sehat, Azzam memberikan resep obat untuk Hamdan. Zidan menjemputnya, Hamdan di dorong kursi roda oleh Azzam menuju mobil.
" kak Azzam terima kasih sudah merawat Hamdan dengan baik ". ucap hamdan.
" sudah menjadi tugas kakak, kamu masih adikku sampai kapanpun Hamdan". Azzam tersenyum ia mengingat Hanafi sahabatnya dulu, ada sisi yang sama dengan Hamdan.
" Hamdan permisi pulang ya kak."
" salam buat Abah sama umma, dan kamu jangan lupa minum obat jangan banyak bergerak dulu".
" iya kak insyaAlloh".
" ingatkan suamimu ya kia, jewer saja jika bandel". kia terkekeh di ikuti Hamdan.
" iya kak, kia akan selalu ingatkan".
Mereka pamit karena Azzam harus operasi beberapa pasien jadi tak bisa mengantar Hamdan langsung.
Hamdan turun di tuntun oleh kia, memang masih belum di perbolehkan banyak bergerak.
" di sini saja dulu sayang." pinta Hamdan ia ingin mengobrol dulu dengan mertua nya.
" istirahat di dalam saja nak Hamdan Abi tak apa-apa, dengar kamu sudah di perbolehkan pulang kita sudah senang. gimana sudah lebih baik". tanya Abi.
" Alhamdulillah sudah Abi, Hamdan hanya harus mengeringkan luka dalamnya saja. sudah bisa beraktivitas hanya belum boleh full". jawab Hamdan ia akan istirahat lebih lama di rumah.
" sembuh dulu baru boleh ke kantor biar Abah yang bantu zidan dan Tomi,".
" Abi juga bisa bantu nanti di kantor".
" kamu masih bisa mikir". ejek Abah kepada Abi.
" jangan tanya kita sama tuanya, aku tak lebih buruk juga darimu". semua tertawa melihat Abah dan Abi beradu mulut.
__ADS_1
" tua gini aku masih kuat pikiran ku masih oke". sombong Abah.
" kuat apaan duduk lama aja udah encok". kembali tawa menggelegar mendengar ribut antar besan.
" sudah-sudah semuanya sudah tua tak ada yang muda, kita udah mau punya cucu tuh". tunjuk umma ke perut kia.
" gimana sayang sehat kan cucu umi"
" Alhamdulillah sehat umi, ia aktif sekali". semua mengucap Alhamdulillah rasa syukur terucap.
" aku mau punya cucu banyak biar rame rumah ini". ucap Abah tangannya sembari memeragakan luas nya rumah.
" kenapa kamu ikut-ikutan dengan ku, aku juga mau cucu banyak". ucap Abi mulai lagi beradu mulut.
" banyak sedikit itu sama saja Abah, yang penting semua sehat dan kita bisa merawat dengan baik. kalau banyak tapi terlantar kan kasihan juga anaknya apalagi ibunya mana sempat ia nyisir rambut".
" tenang kawan, cucuku juga cucumu tak hanya anak kia tapi anak Zidan juga."
" oh iya Zidan kapan kamu menikah nak". tanya abah.
" belum abah jodoh nya belum".
" memangnya siapa Zidan." tanya Abah penasaran.
" ada deh bah nanti kalau sudah saatnya pasti Zidan kasih tau". ucap Zidan.
" masih lama ya nak."
" lagi tunggu kak Feni rilis novelnya, katanya sih prolog nya sudah jadi tinggal menuangkan cerita saja sebntar lagi". ucap Zidan.
" umi sudah tak sabar menanti kabar baiknya,".
" doakan saja umi, Zidan bisa membawa menantu buat umi."
" iya orang tua selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya" .
" aamin ". kia dan Zidan menjawab serentak.
Karena tak ingin menganggu Hamdan istirahat akhirnya Abi dan umi pamit pulang.
__ADS_1
___
bersambung