MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA

MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA
durian


__ADS_3

Almira keluar ia memperbolehkan yang lain masuk, Aulia pun sadar ia membuka matanya. Aris masuk langsung menemui istrinya tanpa peduli Almira akan mengatakan sesuatu, namun Hamdan dan kia duduk di depan meja kerja Almira menanyakan hal yang terjadi pada Aulia.


" ada apa dengan Aulia kak". tanya Hamdan pada Almira.


" Aulia hamil".


" Alhamdulillah". seketika Hamdan dan kia berteriak senang. sedangkan Aris belum tau apa yang terjadi pada istri nya.


" kenapa kalian teriak, sayang maaf kakak tadi sedang meeting dan hp kakak silent". ucap Aris masih mengkhawatirkan Aulia.


" Aulia tau kakak tadi kan sudah bilang, tadi yang menelepon itu kia kak. Aulia sudah pingsan ngga ingat apa-apa saat kelas sudah selesai."


" sekarang apa yang kamu rasain".


" mau makan durian". Aris terbelalak gini hari belum musim durian istrinya minta durian.


" durian sayang ini belum musim". Aulia cemberut.


" sehat dulu nanti kita cari durian jangan ngambek". ucap Aris melihat istrinya tak mau menatap nya justru malah membuang muka ke arah lain.


" cariin Aris kalau tidak nanti anakmu ileran".


" ileran, emang kamu hamil sayang". Aulia masih dalam mode ngambek tak mau berbicara.


" selamat ya Aris kini Aulia hamil kandungan nya berumur empat minggu". kata Almira ia mendekat.


" serius ini dok ngga becanda kan". wajah Aris menuntut meminta penjelasan. Almira hanya mengangguk mengiyakan.


" ya Allah Alhamdulillah”. Aris melakukan sujud syukur ia lalu membalikkan tubuh istrinya.


" sayang kamu hamil, Alhamdulillah trimakasih sayang". Aris tanpa sengaja menitikkan air matanya senang. ia menciumi tangan istri nya.


" cepat Carikan durian". ucap Hamdan.


" apa boleh dok orang hamil muda gini makan durian ". Aulia ngambek lagi membuang mukanya bahkan tubuh nya miring membelakangi suami nya.

__ADS_1


'aduh ngambek lagi' batin Aris.


" tak apa-apa asal tak kebanyakan, makan sedikit saja yang penting sudah terlaksana bisa makan durian". jelas Almira.


" ya sudah ayo kita cari durian sayang jangan ngambek." Aris membalikkan lagi tubuh Aulia, kini Aulia tersenyum entah kenapa tiba-tiba ia ingin makan durian.


Hamdan mengantar Aris mencari durian agak susah karena emang belum musim, di mall yang biasanya ada pun tak ada. Aris mengehla nafasnya istrinya pasti akan ngambek lagi, Aulia dan Zakia duduk di kursi belakang.


" Coba cari di mall ujung mas dekat rumah Abi, tadi kita belum ke sana" ucap kia hanya satu mall itu yang belum di datangi. Hamdan pun memutar setirnya, Aris masuk ke dalam tanpa di ikuti yang lainnya karena sudah sangat lelah. Aris senang di borongnya semua durian di mall itu membuat petugas mall jadi heran, padahal harga durian di mall harganya tiga kali lipat dari harga biasanya. tapi tak masalah Aris sekarang jadi orang kaya, uang yang nenek Aulia wariskan sangat banyak bahkan untuk beli mall beserta isinya pun bisa. ( wkwkwk tinggi banget ngehalu nya kak Feni, ngga papa itu doa semoga kita semua di berikan rezeki yang berlimpah juga berkah 🤲).


" kenapa kamu beli banyak banget dasar Aris, Aulia tak boleh makan banyak durian". Hamdan geleng-geleng melihat sahabatnya di bawanya semua durian hingga mobil baunya semerbak durian bikin Zakia jadi pusing.


" kia pusing mas". Hamdan tau pasti gara-gara bau durian kia jadi pusing, Hamdan meminta Aris untuk nyetir Aulia ia minta pindah ke depan. Hamdan ke belakang memijit kepala istrinya.


" kamu senang sayang". ucap Aris melihat wajah Aulia yang tampak cerah sudah tak sabar menyantap durian nya.


" makasih ya kak, Aulia tak sabar mau makan". Aulia senyum-senyum sendiri kayak habis dapat jatah bulanan saja.


" kalau kamu masih ingin anakmu di perut jangan di makan semua cukup kamu makan separuh saja".


" denger ngga tadi yang dokter katakan boleh makan tapi tak boleh banyak". Hamdan kesal kini kia yang pusing kepalanya.


" terus ini untuk apa durian aku udah beli semua aku pikir buat Aulia semua".


" terserah jika kamu masih menginginkan Aris junior kasihkan sama anak-anak saja". ucap Hamdan biar ngga mubadzir. Akhirnya Aris mengajak Hamdan ke kafe nya Hamdan untuk di makan di sana juga biar di makan bareng karyawan kafe.


Hamdan menuntun kia yang pusing kepalanya ke ruangan kafe agar kia istirahat. Hamdan terus memijat kepala kia ia merebahkan istri nya.


" masih pusing sayang". tanya Hamdan.


" sedikit mas sudah agak mendingan kia istirahat dulu ".


" ya sudah kamu istirahat mas akan temui anak-anak dulu, nanti kita pulang biar di antar zidan. Aris biar cuci mobilnya dulu biar tak bau duren." Hamdan lalu meninggalkan kia yang tertidur pulas.


" Alhamdulillah kita dapet rezeki, pertama kalinya makan durian mahal. enak banget ya wa". ucap Rini pegawai kafe.

__ADS_1


" iya lidahku tak bisa di bohongi, enak ya kita dapet bos baik gini makan enak selalu ajak-ajak kita". Zahwa dan Rini melahap durian yang manisnya melebihi yang baca.


" itu bukan saya yang bawa tapi Aris". ucap Hamdan mendengar Rini berbicara memujinya.


" oh tak apa bos sama saja kita di ajak makan enak". Zahwa terkekeh, mereka karyawan kafe layaknya teman dengan Hamdan begitulah cara Hamdan menempatkan dirinya dengan anak buahnya.


" Aris Aris kamu ini, yang seharusnya orang hamil itu tak boleh makan durian malah kamu beli sebanyak ini, kenapa ngga beli sekalian mallnya aja. makan berlebihan itu gak boleh apapun itu". ucap yara ikut bergabung makan bersama Aris dan Aulia.


" aku udah pusing ngurus perusahaan pakek ngurus mall segala, bukan keahlian ku Yara. mau ngurus istriku saja." Aris terkekeh, Aulia tak peduli ia masih asik maakan duriannya.


" ketimpuk rezeki nomplok rezeki gede, beruntung kamu ris tiba-tiba jadi bos besar".


" Alhamdulillah rezeki anak Soleh". Aris terkekeh, Yara mendorong lengan Aris sahabat nya yang satu itu paling suka ngebanyol.


" Zakia tidur bos". tanya Yara.


" iya dia pusing itu gara-gara bau durian, hamil ini kia tak suka bau durian.". jelas Hamdan ia juga ikut makan duriannya.


" terus sukanya kia bau apa". tanya Aris.


" suka bau ku, bau keringat ku." Hamdan terkekeh di ikuti Yara.


"Yara gimana rencana Tomi buat Dateng ke rumah orang tua mu,".


" bulan depan insyaallah, sekarang papa lagi ngga di rumah. papa sedang pergi ke Medan." jelas Yara ia ketar ketir karena tau jika ia sudah di jodohkan namun Yara sebenarnya tak mau.


" semoga sukses kalian ya bisa sampai ke pelaminan".


" aamiin doakan saja kami ya sobat".


" pasti kita itu tetep satu, satu sakit sakit semua satu bahagia kita bahagia semua". slogan persahabatan mereka hingga kini terus erat.


___


bersambung

__ADS_1


ramaikan pembaca biar penulis semangat nulis lagi


__ADS_2