
Acara pernikahan Niko dan Anita sudah siap setelah khitbah selama tiga bulan lamanya akhirnya di adakan ijab kabul. Niko siap, terlihat sangat tampan begitu juga dengan Anita ia terlihat sangat cantik. Sahabat mereka semua hadir tanpa terkecuali.
Hamdan datang bersama istrinya serta Zidan dan Kiran. Prosesi ijab kabul hanya orang terdekat saja dan sahabat, dan akan ada resepsi siang dan malam.
Penghulu sudah siap menjabat tangan Niko, keringat dingin terlihat begitu sangat gugup. Dengan satu tarikan nafas saja Niko berhasil mengucapkan ijab kabul, membuat semua senang bersorak gembira. acara lempar bunga seperti yang biasa di adakan resesi pernikahan, semua siap antara bujang dan gadis sudah siap dengan aba-aba presenter. pengantin siap melemparkan bunga, Zidan dan Tomi begitu siap tapi tidak dengan Aris meskipun ia berada dalam acara itu ia tak mau ikut berebut bunga karena berniat belum ingin menikah. ketika bunga di lempar semua loncat ingin menggapai namun tak di sangka bunga itu tepat jatuh pada diri Aris dengan reflek ia menangkap.
" Hua... kok aku". Aris kemudian melempar bunganya lagi dan mengenai gadis cantik.
" wah nampaknya akan ada teman kita lagi yang mau menikah". Tomi menyenggol lengan Aris.
" apaan sih tom". Aris jengah ia benar-benar tak mau menikah dalam waktu dekat.
" cewek cantik bro rugi di anggurin, liat itu" Aris menoleh ia menelan salivanya.
' ya Allah kenapa dia cantik mana mungkin aku menolaknya ' batin Aris terus memandangi Alya keponakan Anita.
" ris sadar bro ayo Pepet" Aris tak menghiraukan yang lain kemudian ia mendekati Alya minta berkenalan.
" sepertinya aku tak pernah melihat mu, boleh kenalan. aku Aris sahabat Anita". wanita itu tersenyum menerima uluran tangan Aris.
" aku Alya saudara kak Anita". Alya menampakkan senyumnya yang manis terdapat lesung pipi.
" jodoh memang tak kemana liat Aris tu, katanya belum mau nikah eh langsung serobot cewek cantik". ucap Tomi berbicara kepada Hamdan, Hamdan tertawa.
" makanya jangan bilang belum mau nikah, tau-tau kalian dapat jodoh aja". Aris bahkan sudah melupakan para sahabatnya ia asyik ngobrol dengan keponakan Anita.
_
_
Hamdan dan Zakia pulang ke rumah di antar oleh Zidan terlebih dahulu sebelum Zidan mengantar Kiran pulang. wajah Zakia terlihat pucat ia sangat kelelahan, kia juga ikut mempersiapkan pernikahan Anita dari memilih gaun hingga wo.
" sayang kamu sakit wajahmu pucat sekali" Hamdan melihat istrinya yang nampak pucat.
" tidak mas hanya mengantuk saja kia kelelahan"
" ya sudah kamu istirahat, tadi makanmu juga tak banyak aku ambilkan obat ya"
" ngga mas kia ngga apa-apa". tiba-tiba kia merasa mual hebat ia ingin muntah dan berlari ke kamar mandi.
" ya Allah sayang benar kamu sakit kan kita ke Dokter ya sayang."
__ADS_1
" ngga apa-apa mas kia hanya pusing biasa, nanti kalau sudah istirahat bangunnya juga akan segar". ucap kia yang masih ingin memuntahkan isi perutnya.
" ya sudah kamu istirahat mas minta bibik buatkan minumna jahe dulu". kia merebahkan badannya ke ranjang Hamdan turun ke bawah.
" ya Allah sebenarnya sudah dari pagi tadi aku menahan aku benar-benar sakit perutku rasanya seperti di aduk-aduk". gumam kia.
Hamdan ke atas membawa minuman jahe hangat untuk mengurangi mual di perut Zakia.
" ganti baju dulu sayang mas bantu ya, biar nyaman istirahat nya". Hamdan nampak khawatir melihat istrinya sangat lemah dan pucat. kia berlari kecil masuk kamar mandi lagi ia memuntahkan lagi isi perut nya.
" ke rumah sakit ya sayang, aku tak sanggup melihat mu seperti ini". Hamdan tambah panik.
" ngga usah mas, bantu kia ganti pakaian kia mau istirahat". ucap kia.
" ya sudah mas bantu, mas khawatir padamu sayang". Hamdan membantu melepaskan gaun milik kia.
" minum jahe hangatnya dulu lalu istirahat ya sayang". ucap Hamdan membantu kia untuk minum.
" mas usap kepalaku mas, kia sedikit pusing".
" mas bilang apa sayang kita ke dokter".
" tak usah kia sudah biasa jika kelelahan". Hamdan pasrah karena istrinya kekeh tak mau di ajak ke dokter.
Mr Jack selalu menemani istrinya yang sudah besar perutnya, hingga ke rumah sakit pun Jack ikutin. urusan kantor ia serahkan pada asistennya. Jack tak ingin masa lalunya akan terulang kembali, kandungan Almira sudah berumur 7 bulan Jack tak ingin meninggalkan momennya menemani sang istri.
" urus semua kantor ya jika ada kendala yang kira-kira sulit hubungi Hamdan agar bisa membantu,"
" siap Mr akan saya laksanakan".
" kenapa tidak ke kantor mas, Almira tidak apa-apa". Mr Jack tetap tidak mau mendengarkan Almira.
" aku tak akan ke kantor sampai kamu melahirkan, jika ke kantor harus ada kamu di sisiku. biarkan asisten yang menghandel ada Hamdan juga yang membantu aku".
" kasihan Hamdan jika harus mengurus perusahaan mu juga".
" Hamdan hanya sesekali saja jika ada yang tak bisa diselesaikan oleh aistenku".
" aku sudah mengurangi jadwal kerjaku di rumah sakit".
" bagus, sebenarnya mas mau kamu tidak bekerja lagi sayang".
__ADS_1
" mas ini cita-citaku, aku senang menolong orang"
" iya ya istriku yang baik hati, tapi mas akan tetap mengawasimu sayang".
' ya Allah sampai segitunya ia khawatir pada ku, pasti sakit nya masih membekas saat dulu kehilangan istrinya' batin Almira yang masih duduk menunggu sarapan yang di siapkan Jack sendiri.
" makan dulu sayang biar sehat ibu dan bayinya, anak papa sudah lapar kan".. sapa Mr Jack pada anaknya mengelus perut Almira.
Mr Jack sigap tiap pagi menyiapkan sarapan dan menyuapi istri nya. Almira pun senang namun ia merasa begitu sangat merepotkan suaminya.
" Almira sudah tidak bisa makan banyak lagi mas takut bayinya kegemukan Almira tak bisa melahirkan secara normal".
" tak apa kita bisa cecar malah tak begitu membuatku khawatir".
" mau sesar ataupun normal sama saja mas, sama-sama bertaruh nyawa".
" husssttt,,,,, jangan bilang seperti itu lagi" Almira tersenyum ia tahu suaminya mengingat masa lalunya.
Almira melanjutkan mengunyah makanannya, ia sarapan sebelum ke rumah sakit.
***
" sayang kita ke dokter ya". ucap Hamdan ia melihat istrinya sangat tak nafsu makan.
" tapi mas kia tak apa-apa".
" nurut sama suami ya sayang mas begitu khawatir sampai tak bisa tidur nyenyak malihat wajahmu yang pucat." ucap Hamdan yang sudah siap untuk mengantar zakia.
" kenapa nak wajahmu sedikit pucat". tanya umma yang melihat Zakia.
" ngga apa-apa umma kia cuka masuk angin saja mungkin karena lelah kemarin ikut mengurus acara di rumah kak Anita". jawab kia mencoba senyum agar umma tak khawatir.
" sebaiknya ke dokter sayang, Hamdan antar kia pakai sopir saja".
" iya ma". Hamdan bergegas siap-siap dan sopir sudah siap menunggu di depan.
" aku tak apa-apa kenapa serepot ini mas". kia manyun ia tak ingin datang ke rumah sakit.
" kamu tau aku tak mungkin akan tenang melihat mu seperti ini". Hamdan menangkup kedua pipi sang istri.
_______
__ADS_1
bersambung