
Kiran lekas menyelesaikan pekerjaan nya waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, Zidan sedang menunggu Kiran ia terus saja menatap Kiran. Tomi yang baru keluar dari ruangan nya mencebik melihat teman kerjanya serius menatap kiran. Tomi menyenggol lengan Zidan yang masih melamun, membuat Zidan kaget juga kesal.
" merusak kesenangan orang saja" ucap Zidan ia nampak kesal.
" belum halal kakak Zidan sayang, ngga boleh terlalu lekat gitu ngelihatnya." Tomi mendekati Zidan dengan muka Zidan yang terlihat masam.
" he... andaikan orang nya mau aku langsung halalkan sekarang juga Tomi"
" butuh perjuangan yang super extra berarti ya, ternyata umur bukanlah ukuran. ku kira kamu lebih pandai dari ku ternyata nol besar. ha..." Tomi tertawa lebar mengejek Zidan teman kerjanya.
" awas kamu ya tom, mentang-mentang dirimu sudah di terima sama Yara. " Tomi terus mengejek.
" Pepet terus Zidan, wanita itu paling suka jika laki-lakinya serius. semangat berjuang kawan" Tomi menepuk bahu Zidan ia meninggalkan Zidan yang masih menunggu Kiran merapikan mejanya. sepuluh menit sudah Kiran mengahampiri Zidan yang masih setia menunggu.
" kak sudah dari tadi menunggu nya, maaf Kiran beresin meja dulu" Kiran berhenti menatap Zidan yang masih duduk menunggu.
" ngga kok belum lama, yuk keburu sore nanti". Kiran mengekori Zidan yang berjalan duluan menuju mobilnya.
Zidan gugup bingung mau buka omongan apa, Kiran hanya diam saja menatap jalan.
" sekarang masih semester berapa Kiran kuliahmu" tanya Zidan membuka omongan, dari tadi hanya diam saja tanpa suara, Zidan yang tak mau jika kebersamaan mereka menjadi kecanggungan. Kiran menoleh ka arah Zidan yang sedang menyetir.
" masuk semester dua kak" jawab kiran.
' ya Allah bener-bener lama ku menunggu ' batin Zidan di dalam hatinya ia menangis.
" oh masih lama berarti kamu lulus nya ya" ucap zidan, Kiran mengerutkan keningnya heran dengan Zidan.
" baru aja masuk kak udah ngomongin lulus" Kiran terkekeh, Zidan pun ikut terkekeh ia senang melihat senyumnya Kiran begitu manis.
" maaf boleh kakak tau semenjak kapan kamu tinggal di panti" tanya Zidan penuh hati-hati.
" kata ibu panti semenjak bayi, Kiran di tinggalkan di depan panti kak. dan nama Kiran ini ibu Kiran yang memberi". terlihat sendu di wajah Kiran ketika ia mengingat kisahnya yang sudah ia ketahui, bagaimana ia bisa sampai ke panti itu.
" maaf ya Kiran bukan maksud kakak membuatmu sedih, kakak hanya penasaran saja". Zidan jadi tak enak melihat Kiran sedih, ia berniat untuk membahagiakan Kiran bukan membuat nya sedih.
" tidak apa-apa kak pertanyaan untuk kesekian kalinya untuk Kiran, sudah terbiasa Kiran kak".
" jadi sampai sekarang belum ada seseorang yang mencari mu, mungkin orang tua mu masih hidup". tanya Zidan malah ia menanyakan pertanyaan itu lagi.
" sama sekali belum pernah kak, dan kalaupun Kiran mau mencari di mana orang tua Kiran tak ada petunjuk apapun". Zidan memberikan tisu untuk Kiran, ia tau jika Kiran menitikkan air mata.
" menangislah, menangis itu wajar Kiran. berarti kamu anak terbesar di panti ya. sebelum dirimu tak ada lagi kah anak yang menempati panti".
" ada banyak mereka setelah lulus sekolah ada yang bekerja dulu juga ada yang di adopsi oleh orang, kalau Kiran tak pernah mau di adopsi kak tak tega melihat ibu panti mengurus adik-adik sendirian. " Zidan makin terharu mendengar penjelasan kiran.
" jangan nangis ya banyak orang yang baik di dunia ini, jangan pernah merasa kamu sendiri".
__ADS_1
" tidak kak apalagi setelah bertemu dengan kak Hamdan, dunia Kiran serasa sangat berubah. di sayangi oleh kak Hamdan layaknya adik bahkan Kiran bisa sampai ke kampus berkat kak Hamdan. teman-teman kak Hamdan juga semuanya menyayangi Kiran tak ada satupun orang yang berani menyentuh Kiran karena kak Hamdan dan teman-temannya selalu melindungi Kiran". Kiran tersenyum kembali mengingat saat masa dulu selalu dijaga oleh geng Hamdan dan teman-temannya.
" aku kira dulu Hamdan menyukaimu Kiran" Zidan tertawa.
" kak Hamdan tulus menyayangi ku membantu ku kak, ngga ada maksud lain disini aku merasa benar- benar punya seorang kakak. semoga kak Hamdan selalu bahagia".
" betul, Hamdan orang yang tepat menjaga adikku. aku tak khawatir lagi." Zidan senyum menyeringai ingat masa lalu kia yang penuh dengan orang yang ingin mempermainkannya.
tak terasa mobil Zidan tiba di halaman panti, anak-anak ada yang sedang menuju rumah. jika sore hari anak-anak mengaji di mushola dekat panti. Kiran pamit pada Zidan ia turun dari mobil langsung masuk ke arah panti begitupun Zidan dia juga langsung pulang karena hari sudah sore.
***
Zakia dan hamdan bangun mendengar adzan ashar setelah shalat keduanya turun dari tangga. Hamdan langsung menyiapkan rujak yang dibelinya tadi, senyum mengembang dari bibir kia rasanya ingin cepat melahap rujak yang di bawa suaminya.
" ini sayang di makan dulu biar anak kita ngga ileran. mas ngga kebayang kalau anak kita ileran " kia terkekeh, Hamdan masih sibuk mengambil kan air minum takutnya jika kia kepedasan.
" mas tadi harus ngantri dulu, lama ngga mas?." tanya kia ia tak sabar langsung mengambil rujak yang bikin dia menelan ludah.
" ngga sayang tadi ada ibu-ibu yang ngasih ke mas, dia yang gantiin mas ngantri". ucap Hamdan melihat ke arah kia dengan lahap memakan rujaknya tanpa ada rasa masam sama sekali. Hamdan yang ngelihat aja rasanya giginya ngilu, mangga mudanya rasanya sangat asam.
" wah mas punya fans ibu-ibu nih, biasanya di situ ramai mas harus ngantri".
" rezeki sayang gini ni kalau punya suami tampan banyak fans nya" Zakia malah terkekeh mendengar suaminya membanggakan diri karena ketampanannya, kia tak pernah menilai suaminya dari hal tersebut.
" kenapa malah tertawa, cuma kamu yang tak pernah bilang mas tampan". Hamdan memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang marah minta uang saku.
" fisik bisa jadi anugerah juga musibah mas, dulu saat kia tak memakai cadar justru kecantikan kia menjadi musibah. kia suka di goda di jalanan, kia menganggap nya sebuah musibah. tapi sekarang kia menganggap nya anugerah bisa membuat suami kia tak berpaling dari wanita lain". kia tersenyum ia terus menghabiskan rujaknya.
" jujur waktu itu kia benar-benar marah besar, mas menghina agamaku juga keluarga ku. kia kesel banget mas pingin rasanya mencabik-cabik mas hamdan. andai saja mas bukan suamiku waktu itu pastilah sudah habis di tangan kia. untung kia masih mengingat dosa takut kualat nantinya". Hamdan berdiri ia mencium puncak kepala kia yang terbalut jilbab rumahan itu. Sungguh Hamdan sangat menyesal waktu itu, andai ia tak egois mencari tau dulu siapa diri kia mungkin kejadiannya tak akan sampai seperti itu.
" maafkan mas sayang, maaf beribu maaf. apapun akan mas lakukan untuk menebus kesalahan mas yang sangat fatal itu". Hamdan memegang jemari kia lalu mengecupnya.
" Zakia sudah memaafkan sejak awal mas, ngga ada yang Zakia inginkan dari diri suamiku. hanya ingin suamiku menjadi orang yang siaga, sayang dengan keluarganya. Zakia ingin selalu di perhatikan seperti sekarang ini, tak akan pernah pudar kasih sayang mu untuk ku mas". kia tersenyum ia kembali menghabiskan rujak di piring nya.
" itu pasti sayang mas janji, apalagi sebentar lagi akan jadi seorang ayah. kebahagiaan ku tak terkira semakin komplit saja". ucap Hamdan ia mulai ikut memakan rujaknya.
uhuk...uhuk....
" kenapa mas pelan-pelan makannya" Hamdan terbatuk-batuk tak tau dia jika rujak itu pedas dan asam.
" ya ampun sayang makanan kayak gini kamu baik-baik saja, ini pedas dan asam banget". Hamdan minum sudah habis dua gelas.
" enak lo mas ini benar-benar bikin moodku jadi baik". ucap Zakia mengunyah lagi rujaknya.
" jangan makan banyak-banyak sayang nanti perutmu sakit" Hamdan khawatir dengan kia, rujak itu sangat asam dan pedas. memang dari dulu Hamdan tak suka rujak, hampir tak pernah dia memakannya.
duh..dug..dug...
__ADS_1
terdengar suara orang sedang berlari dari arah atas, Hamdan dan kia menoleh mereka melihat umma sedang mengejar Abah membuat keduanya jadi geleng kepala.
" astaghfirullah ma ada apa lari-larian awas jatuh, ingat umur ma". Hamdan sambil meringis takut jika kedua orang tuanya terjatuh.
" abahmu ini bikin umma kesel, " ketika Abah sudah lelah berlari dan ia duduk di kursi dekat Hamdan umma bisa memukul Abah pakai bantal. Abah masih tertawa sambil ngos-ngosan.
" kenapa bah, Abah bikin umma kesel lagi". Abah makin tertawa.
" kamu lihat Hamdan abahmu sudah tua masih aja jahilin umma". tampak umma wajahnya kesal.
" emang Abah kenapa bah". tiba-tiba umma nyengir ia tak mau apa yang terjadi selalu menjadi rahasia, Abah selalu jahil kepada istrinya.
" biasalah biar Abah awet muda" Abah cikikikan, Zakia heran baru kali ini mertuanya bersikap seperti anak-anak.
" ya sudah selesaikan kalian berdua, ganggu Hamdan saja. umma juga kalau ngga di jahilin Abah pasti kangenkan." umma senyum-senyum ala ABG di tawari nikah. Abah melihat rujak yang masih terbungkus.
" ini rujak siapa boleh Abah minta". Hamdan mengerutkan keningnya.
" Abah mau, ambil saja bah kia udah kenyang". kia memberikan rujak yang ada di plastik, itu membuat Hamdan lega. karena Hamdan membeli tiga bungkus dan zakia sudah menghabiskan dua bungkus takut jika perut istrinya akan sakit.
" ma yuk kita bikin kuping". Abah cekikikan umma tersenyum malu.
" Abah udah mau jadi aki-aki masih mikirin bikin anak, hamdan tak mau punya adik. kasihan umma kalau punya bayi lagi tak akan kuat semalaman gendong jika rewel". Abah menggenggam tangan umma di ajaknya ke belakang untuk duduk di kursi belakang untuk makan rujak. mereka berdua suka dengan rujak selalu di habiskan berdua mengenang masa lalu katanya.
" selalu saja begitu habis gebuk-gebukan akur lagi, pusing dulu aku ngelihat tingkah aki sama Nini itu". kia malah tertawa.
" tapi kia senang mas meskipun mereka sudah berumur tapi selalu mesra, kia jadi iri mas." kia terkekeh.
" iya mereka selalu bikin Hamdan kangen, dulu umma sangat ingin punya anak lagi tapi karena adanya penyakit akhirnya rahim umma harus di angkat. jadilah kami berdua kak Hanafi dan mas. Entahlah umma selalu berambisi jika dia lihat anak perempuan, sangat ingin punya teman di rumah. saat dulu kak Aisha, umma langsung aja khitbah untuk kak Hanafi. sekarang kamu tanpa aku setuju awalnya, umma kekeh mau khitbah tak ingin tunggu wanita itu lulus dulu padahal masih kuliah". ucap Hamdan ia mengingat saat dulu Aisha di khitbah untuk kak Hanafi. tapi benar pilihan umma selalu tepat, Hamdan semakin menyayangi umma nya.
" seorang ibu itu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya mas, beruntung lah mas yang masih punya orang tua lengkap apalagi sangat menyayangi mas seperti ini. kia juga bersyukur mertua kia sangat menyayangi kia". kia tersenyum sangat manis yang membuat Hamdan gemas, tak ingin apapun Hamdan selalu ingin istrinya tersenyum setiap waktu...
" iya sangat mas sangat bersyukur di tambah lagi punya istri yang cantik dan saliha".
" insyaAlloh mas, kita harus yakin takdir Allah selalu yang terbaik. Syukuri semua yang terjadi dalam hidup kita." Hamdan menoel pipi Zakia ia makin gemas.
Di belakang masih ada dua orang paruh baya yang masih menikmati rujak, mereka tertawa-tawa seperti anak muda saja yang sedang jatuh cinta.
" jadi ingat ya ma saat dulu umma ngidam pingin rujak malam-malam, tak ada mangga muda Abah harus bangunin ustadz Yusuf untuk minta mangganya. Abah jatuh saat naik pohon malam-malam gelap ma". Abah terkekeh.
" maaf ya bah waktu mengandung Hanafi itu, umma pingin banget makan rujak mangga muda. untung Abah tak gagar otak". umma tertawa lepas.
" iya tak gagar otak tapi bikin punggung Abah sakit sampai sekarang, semoga nanti masih kuat gendong cucu. ". Abah menyendok rujak yang asam itu, meski rasanya asam pedas tapi Abah selalu makan apapun yang umma makan dari semenjak mereka menikah. padahal awalnya seperti Hamdan Abah tak suka sama rujak.
Hamdan dan Zakia melihat kedua orang tua itu, mereka tersenyum bahagia. kia menyandarkan kepalanya di dada hamdan, Hamdan mengecup kepala kia. Rasa sayang itu di tunjukkan bukan kita masih pengantin baru saja, sudah tua pun cinta juga harus di pupuk agar tetap terus bersemi. Seperti Abah dan umma cintanya tak pernah lekang oleh waktu menjadi contoh anak-anak nya.
____
__ADS_1
bersambung
maaf kemarin ngga up, pergi pulang sore. malem nulis baru dapet 600 kata ketiduran wkwkwk.