
" iya pak saya minta maaf, saya khilaf". dodi menangkupkan tangannya di depan wajahnya memohon ampun.
" sekarang kamu telepon Alex tanya di mana keberadaan nya, bilang sama dia jika kamu mau bertemu dengan nya. bilang saja ada kabar yang tidak bisa di bicarakan lewat telepon". pinta Hamdan.
" i iya pak". Dodi sudah merasa sangat ketakutan dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali melaksanakan perintah Hamdan.
Tomi yang mempunyai sikap lebih keras dari yang lainnya sudah tidak sabar bertemu dengan Alex, mereka dulu adalah teman satu sekolah saat SMA.
" halo bos ada di mana". Dodi sedang menelepon Alex.
" saya ada di kantor, ada apa". tanya Alex ia masih memimpin rapat perusahaan nya, kebetulan saja Alex lupa untuk mensilent handphone nya.
" bisa kita bertemu sekarang, ini penting saya tidak bisa mengucapkan di telepon".
" kenapa, begitu penting kah" tanya Alex yang semakin penasaran, dirinya yang sangat ingin menghancurkan Hamdan begitu menggebu jika itu kabar penting.
" sangat penting bos, saya harap sekarang juga saya bisa menemui bos". ucap Dodi dengan keringat yang sudah mengucur karena takut.
" saya tunggu kamu di kantor". Alex langsung menutup teleponnya ia menyunggingkan senyumnya, walaupun rapat belum selesai Alex segera menyudahi.
Zidan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, beruntung saat itu jalanan tidak macet. Dodi hanya diam saja karena takut, sudah pasti dia akan kehilangan pekerjaannya dan juga mendapat umpatan dari Alex.
Mobil sudah tiba di kantor Alex mereka berempat langsung menuju ruangan Alex, karena sudah ada janji mereka bisa dengan mudah langsung masuk. Alex terkejut melihat Hamdan beserta teman-temannya masuk ke ruangan nya.
" wah bos hebat pengecut rupanya yang berani menganggu ketenangan sahabat saya". ucap Tomi ketika langsung berhadapan dengan Alex, muka Alex sudah merah marah menatap Dodi.
" kenapa kalian masuk ke sini siapa yang mengizinkan". ucap Alex dengan nada yang begitu berat ia marah.
" kenal dengan dia". Tomi mendorong pelan dodi.
" siapa dia apa hubungannya dengan ku". ucap Alex.
" tak usah berpura-pura begitu Alex, laki-laki seperti mu benar-benar pengecut bahkan kamu tak mau mengakui kesalahan mu". ucap Tomi rahangnya mulai mengeras rasanya ingin melempar kan bogem ke wajah alex.
" apa maksud dari semua yang kau lakukan padaku Alex, kenapa kamu melakukan semua ini sampai harus meracuni pekerja ku dengan licik". ucap Hamdan dengan nada yang cukup tenang.
__ADS_1
" Ternyata kamu berani ke sini juga Hamdan, karena aku tak suka dengan mu sejak kita SMA. kamu selalu membatalkan semua rencanaku". ungkap Alex ia meluapkan kemarahannya.
" terus perbuatan mu ini hingga kau rela membayar pekerja ku apa maksudnya, jika kamu tak suka dengan ku hadapi aku bukan menjadi pengecut merugikan orang lain seperti Dodi yang khilaf akan uang". ucap Hamdan ia mulai emosi.
" kamu tau jika perusahaan ayahku akan bangkrut karena ulahmu, semua perusahaan menarik saham nya dan berpihak kepadamu bahkan kamu selalu memenangkan tender itu yang membuat ku semakin benci padamu." Alex mengeratkan giginya matanya merah karena marah.
" hey bodoh, Hamdan bekerja sesuai dengan jalurnya ia tak pernah bermain licik seperti mu. kalau memang urusan penginvenstasi mencabut Investasi nya itu tidak ada hubungannya dengan Hamdan. seharusnya kamu introspeksi diri saja kenapa sampai mereka melakukan hal itu". ucap Tomi makin emosi. semuanya diam Hamdan pun menyuruh Tomi diam.
" Dodi urusan kita sudah selesai sampai di sini, maaf aku tak bisa memperkerjakan pengkhianat seperti mu".
" maafkan saya bos Hamdan saya janji tidak akan mengulanginya lagi tolong jangan pecat saya" Dodi menunduk dia memohon kepada Hamdan dengan berlutut.
" makanya sudah di kasih hati kamu malah berkhianat". Tomi menepuk bahu Dodi, Dodi meneteskan air matanya ia sangat menyesal.
" ambil pesangon mu di kantor supaya bisa untuk modal usaha". ucap Hamdan yang sedikit tak tega kepada Dodi.
" kamu lihat kan betapa bos Hamdan begitu baik padamu, bahkan ia tak memperlakukan mu dengan tidak adil kamu masih di beri pesangon. masih untung juga tidak di laporkan kepada polisi ". Dodi diam ia merasa sangat bersalah dan sangat menyesal.
" maaf, maafkan saya...". Dodi menangis namun Hamdan tak mau melihatnya lagi.
" sombong sekali kau Hamdan baru saja menjadi bos sudah belagu". ucap Alex bahkan ia tak menghiraukan ancaman Hamdan.
" bukannya terimakasih malah mengumpat hamdan, ia masih kasihan padamu jika tidak mungkin kamu akan di jebloskan ke penjara saat ini juga". Tomi ingin rasanya memberi pukulan kepada Alex.
Hamdan kemudian keluar di ikuti Zidan dan Tomi, di biarkan Dodi berada di situ. Hamdan hanya ingin Dodi menyelesaikan urusannya dengan Alex tanpa adanya ia. ketiga laki-laki itu masuk ke dalam mobil menuju ke kantor.
" Hamdan kamu terlalu baik jadi orang kenapa tak kamu hajar tadi, aku tak sabar rasanya ingin memukul muka Alex itu". Tomi dengan kesalnya.
" menyelesaikan masalah tidak harus dengan kekerasan Tomi, cukup kita peringatkan saja dulu. Jika dia memukul terlebih dahulu mungkin kita bisa membalasnya dengan pukulan juga". jelas Hamdan ia tak ingin masalahnya semakin berlanjut.
" huh coba saja aku tadi sudah ku bogem mentah-mentah" ungkap Tomi masih kesal.
" tom kamu mau ke kantor apa pulang". tanya Zidan yang sedang fokus menyetir.
" aku ke kantor lah, ada pakaian juga tadi aku bawa". ucap Tomi.
__ADS_1
" pakai baju itu juga keren apalagi Yara tau pasti dia mengagumimu " Hamdan terkekeh.
" jangan gitu Hamdan aku selalu keren di mata wanita jangan kau jatuhkan martabatku". ucap Tomi memelas.
" zidan mobil yang ku pesan kemarin sudah datang belum". tanya Hamdan.
" seharusnya hari ini si dikirim ke alamat kantor"
" kamu urus semuanya berikan kuncinya pada Tomi".
" oke siappppp". Zidan pun tak iri ia juga baru saja mobilnya di ganti sama yang baru oleh Hamdan, kini Tomi mendapatkan mobil dari Hamdan.
" tunggu... tunggu... kamu beli mobil bos, jangan suruh aku jadi sopir ya tak mau aku melihat pasangan mesra setiap hari".
" ha... emang kenpa, mesraan sama yang halal itu mendapat pahala".
" isss... Hamdan jangan buat aku jadi tak tahan, sekarang aku sedang menguji keimanan ku ". Zidan mencebik.
" itu mobil buat kamu, ajak ibu mu jalan-jalan pasti dia senang bahagiakan orang tua tom. aku tak butuh sopir seperti mu menggangguku saja nanti". ucap Hamdan sembari terkekeh.
" maksudnya aku dapet pentaris mobil dari perusahaan".
" ya anggap saja itu bonus dari ku karena pekerjaan mu sangat baik. dan saya berterima kasih dengan kalian berdua sudah menyelidiki kasus pengkhianat seperti ini".
" itu sudah menjadi tugas kami, kami juga tak suka dengan pengkhianat. untuk mobil apa tidak terlalu berlebihan bonus nya".
" kalau tak mau buatku saja lumayan punya dua". Zidan menyela omongan Tomi.
" enak saja kamu udah punya jika mau lagi bisa minta langsung sama adik iparmu Zidan".
" makanya ngga perlu basa basi pakai nolak mumpung Hamdan tak berubah pikiran nih"
" oke-oke aku terima dengan senang hati, terimakasih banyak bos Hamdan". Tomi nyengir.
_____
__ADS_1
bersambung