MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA

MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA
Hamdan siuman


__ADS_3

Tiga dokter dengan serius masih mengoperasi Hamdan, masih untung lukanya tak sampai mengenai jantung jadi masih aman. sekitar empat jam operasi berjalan akhirnya selesai, Azzam keluar terlebih dahulu untuk mengabarkan keadaan Hamdan. Zakia sudah siuman ia di tenangkan oleh teman-temannya, dirinya terguncang dengan kejadian yang baru saja terjadi.


" bagaimana keadaan Hamdan kak". tanya Niko keponakan Azzam.


" Alhamdulillah operasi berhasil".


" Alhamdulillah" serentak semua mengucapkan syukur.


" untung saja pelurunya tak sampai menembus jantung jadi masih aman, namun karena dia sedikit kehilangan darah jadi harus transfusi dulu keadaan nya biar stabil". ucap Azzam ia menjelaskan semuanya lega mendengar nya.


" aku mau liat mas Hamdan kak". kia merajuk kepada Zidan kakaknya.


" nanti ya masih di tangani sama dokter kamu juga sehat dulu baru bertemu Hamdan". ucap Zidan menenangkan adiknya.


" tapi kak bagaimana keadaannya sekarang".


" operasi nya berhasil". Azzam masuk menemui kia, ia akan memeriksa sendiri keadaan kia meski tadi sudah dokter yang memeriksa Azzam ingin yakin saja jika kia baik.


" Alhamdulillah, terus bagaimana mas Hamdan sekarang kak". cerca kia ia sangat khawatir dengan suaminya.


" ia masih dalam masa pemulihan jadi belum bisa di temui, kamu sehat dulu baru temui Hamdan". ucap Azzam membernarkan infusan kia.


" iya dek sudah ada dokter yang menangani kamu jangan khawatir, kita berdoa semoga Hamdan lekas sadar". Zidan mengusap kepala adiknya, baru beberapa minggu lalu diri kia mengalami penculikan kini suaminya tertembak oleh penjahat.


" kia ingin melihatnya sebentar kak".


" tapi kamu tak bisa masuk". ucap Zidan.


" tidak apa-apa dari luar saja kak, kia mau lihat mas Hamdan". Azzam mengangguk mengiyakan mungkin akan lebih baik jika kia langsung melihat keadaan suaminya agar jiwanya tak tergoncang karena tak tenang.


Zidan membantu kia untuk naik ke kursi roda, ia tak membiarkan adiknya untuk jalan. kia terlihat sangat lemah sekali, dokter menyarankan agar ia lebih banyak istirahat.


" Suamimu sedang berjuang demi kesembuhan nya, kamu juga harus berjuang demi kesehatan mu supya anak dalam perutmu bisa tumbuh dengan baik tanpa banyak penekanan". ucap Azzam yang membuntuti kia. kia mengangguk mendengar nasehat dokter Azzam.

__ADS_1


" mas Hamdan lekas sembuh mas berjuang lah demi anak kita". kia berkata-kata dari balik kaca ruangan di mana Hamdan di rawat. ia sangat sedih melihat alat yang menempel pada tubuh suaminya. kia tak sanggup menahan ia menitikkan air matanya, Zidan kakaknya duduk mensejajarkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan kia. Zidan menghapus air mata kia seperti yang biasanya ia lakukan kala adiknya menangis.


" kamu tenang ya kita doakan kesembuhan Hamdan". kia justru makin terisak di peluknya sang adik agar lebih tenang.


_


_


" Bagaimana penginterogasian nya siapa yang melakukan ini " tanya Tomi kepada Rendi yang saat itu datang setelah ia mengawal para Buser untuk menggelandang penjahat.


" mereka belum menjawab masih diam, dan kami juga belum bisa mencari Alex". jawab Rendi lesu ia harus lebih waspada lagi.


" selalu begitu tak kau siksa dulu mereka supaya buka mulut ren".


" kami tidak bisa langsung bertindak kejam sebelum ada izin dari atasan kami."


" terlalu lama ren biar aku yang menginterogasi". Rendi mendengus kasar Tomi memang orangnya sangat emosian ia tak takut bahaya yang mengancam dirinya jika itu sudah menjadi keinginan nya.


" jika cepat ketemu akan lebih baik kan ren".


" iya aku tahu kegelisahan kalian, mereka semakin berani untuk membunuh".


" tenang tom di sini yang kita pikirkan itu kesembuhan Hamdan, penjahat biar polisi yang mengurus nya. polisi pasti akan melakukan yang terbaik kamu percaya kan dengan Rendi". Aris menepuk bahu Tomi menenangkan sejak tadi emosi Tomi berapi-api. Tomi sudah acak-acakan ia frustasi melihat sahabatnya sedang bertaruh dengan nyawa di dalam sana.


***


Keesokan harinya.


Hamdan mulai bergerak tangannya ia berusaha untuk membuka matanya, di lihatnya orang di sekitar ternyata dokter Azzam sudah berada di dekatnya. Azzam senang perkiraan sadar pukul 9 tapi hamdan pukul 7.30 pagi sudah sadar. Azzam tersenyum melihat Hamdan yang membuka matanya detak jantung normal lebih teratur kondisi dalam keadaan baik semua.


" kak aku di mana". tanya Hamdan dengan suara lemah.


" kamu ada di rumah sakit, alhamdulilah kamu sudah sadar".

__ADS_1


" kia.." ia teringat istri nya saat ia belum pingsan kia menangis menjerit memanggil namanya, kia saksi mata utama bagaimana Hamdan tertembak.


" kamu tenang kia ada, ia menunggu di ruang sebelah. aku periksa kamu dulu nanti baru ketemu kia". Azzam mulai meletakkan snelinya di dada Hamdan.


" saya panggilkan kia ya tapi kamu jangan banyak bicara dulu akan terasa nyeri jika kamu banyak bergerak pula" Hamdan berbinar ia senang bisa melihat istrinya lagi.


Semua temannya senang saat di beri kabar jika Hamdan siuman, semuanya berebut masuk untuk melihat Hamdan. kia yang di beri kabar oleh Azzam pun begitu bahagia ia langsung ingin turun dari ranjang, namun di hentikan oleh Zidan lalu di papahnya pelan di ikuti para sahabat wanitanya.


" Alhamdulillah Hamdan kita bisa balapan lagi besok ". Tomi langsung memukul Aris ia malah bercanda, mulai muncul lagi sifat aslinya. Hamdan hanya tersenyum saja ia juga bahagia bisa melihat semua sahabat nya lagi, karena Hamdan tak tau setelah kejadian bagaimana keadaan di pesta itu.


" ma af ris..." Hamdan merasa bersalah pestanya jadi berantakan gara-gara ada musuh yang mengincar Hamdan.


" kamu bilang apa kawan aku tak mau memaafkan mu kamu harus sembuh baru aku maafkan". Tomi kembali menonyol kepala Aris.


" apaan sih tom".


" bicara yang benar "


" sahabat tak ada yang salah di sini yang salah adalah penjahat, kamu ngga perlu minta maaf begitu tak apa. kamu selamat saja kami sangat bahagia, untuk pesta itu lupakan saja nanti kita bikin lagi untuk kita sahabat. jangan pikirkan ya, aku mau kamu sembuh"


" nah itu baru bener ris". geram Tomi semuanya ngakak begitu juga Hamdan ingin tertawa tapi ia tahan jika tertawa nyeri rasanya dada Hamdan.


Rendi terlihat melow ia merasa bersalah karena tak bisa melindungi sahabat nya itu. ia hanya diam di belakang, mata Hamdan mengarah kepada rendi. Rendi tau jika ia ingin Rendi mendekat.


" ren terima kasih". Rendi tak kuat ia juga luluh air matanya melihat sahabatnya lemah. Rendi dengan masih memakai seragam polisi nya karena ia tugas pagi ini sebelum ke kantor Rendi menyempatkan diri untuk mampir ke rumah sakit.


" sudah menjadi tugasku kawan, aku yang minta maaf karena tak bisa melindungi mu. tapi aku berjanji tak akan ku biarkan ia lolos berani menganggu ketentraman kita."


____


bersambung


"

__ADS_1


__ADS_2