
Penyidikan terus di lakukan kini tiga hari tahanan itu tinggal ia tak mau mengungkapkan dalang dari semua peristiwa yang terjadi. Hingga mereka di siksa oleh polisi di ancam namun tetap saja mereka tak buka mulut, kemungkinan bayaran mereka cukup amat besar atau ada ancaman oleh dalang dari masalah itu. Sebenarnya dugaan sudah cukup kuat namun jika tak ada bukti yang menyatakan Alex bersalah mereka tak akan bisa menyeret lagi ke penjara.
" Aku tak habis pikir dengan kalian bisa sangat dengan rapat menyimpan rahasia ini. mereka membayar kalian lebih aku pun bisa melakukannya dan membebaskan kalian". polisi yang menginterogasi dua penjahat yang masih hidup. Namun penjahat itu cerdik tak akan mungkin ia akan di bebaskan setelah masuk ke dalam penjara.
" bagaimana". tanya Rendi yang baru sampai ke kantor, ia penasaran mencari bukti penangkapan Alex.
" belum ada jawaban mereka tak mau membuka mulut". ucap salah satu temannya.
" seperti nya kita harus pakai cara lain".
" yah seperti yang kamu bilang hanya itu cara terakhir".
" Kita mulai cari hari ini langsung saja, lebih detail". Zahwan sudah siap di depan komputer mencari data dua penjahat tersebut. Penyelidikan untuk keluarga nya, polisi akan memakai umpan keluarga.
-
Terlihat Zakia berjalan masuk di pegangin oleh Zidan, dari jauh Hamdan sudah tersenyum untuk istri nya ia tak ingin bersikap sedih takut jika khawatir terhadap nya. Zakia tak bisa menahan ia menangis menghampiri suaminya yang terbaring lemah. Kia duduk di samping Hamdan, Hamdan mengahpus air mata istri nya.
" mas hiks..." kia lemah ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya apalagi melihat suaminya yang masih terpasang beberapa alat di tubuh Hamdan.
" jangan nangis ya, mas ngga apa-apa". kia justru makin menangis tak bisa ia bendung air mata itu.
Melihat adegan suami istri Tomi keluar terlebih dahulu di ikuti dengan yang lainnya. membiarkan keduanya leluasa mencurahkan kasih sayang, kia menciumi tangan suaminya. Hamdan mengusap wajah kia berkali-kali, tak ada yang berkata hanya saling pandang tiada henti.
" Sayang jangan lemah gini kasian anak kita, mas tak apa-apa sudah baikan". suara Hamdan lemah tapi ia berusaha kuat demi sang istri.
" Mas terbaring lemah gini masih bilang tak apa-apa sama kia, kia takut mas". kembali lagi terisak.
__ADS_1
" entah hari ini atau esok semua akan mati sayang, kita akan meninggalkan mereka atau mereka yang meninggalkan kita. tak lain mas yang hanya manusia biasa, sayang harus kuat demi mujahid yang ada dalam perut mu". kia terdiam ia mulai menetralkan diri nya beristighfar berkali-kali. Semua di dunia ini memang hanya fana, akan lebur di telan usia. Kia mulai tersenyum dengan mata yang masih sembab, Hamdan balas dengan senyuman menggenggam tangan istri nya.
Zakia meminta jika dirinya menemani sang suami, akhirnya Azzam memperbolehkan setelah memeriksa kia. Hamdan sudah bisa di pindahkan ke ruangan rawat inap, VVIP ruang az Zahra. Kini para sahabatnya sudah bisa menjenguk dengan leluasa, semuanya juga bisa masuk bersamaan.
" Kau tak pulang Aris". tanya Tomi karena Hamdan sudah sadar ia tenang juga sudah bisa di tinggalkan.
" kamu mengusirku tom" Aris tak terima dengan ucapan Tomi yang sedikit keras.
" pulanglah kalian pengantin baru aku tau jika kamu menahannya sejak semalam". semua tertawa Aulia hanya menunduk malu.
" sahabat ku ini pengertian sekali". Aris terkekeh menepuk bahu Tomi membuat Tomi geleng-geleng.
" kasihan aku sama kamu, malam pengantin mu di rumah sakit". kini Tomi yang terkekeh mengejek temannya, karena hanya Tomi yang berani membuat Aris kesel.
" Aku mau menemani Hamdan biar dia stabil dulu, tak akan fokus aku jika di rumah nanti malah salah lagi nanti sangkarnya". Aulia melotot Aris malah mengedipkan matanya menggoda. yang lain kembali tertawa, Hamdan yang melihatnya tersenyum.
" seriuslah kapan aku bercanda, masih ada hari esok untuk ku". Tomi mencebik.
" maaf kak Aris pestanya jadi berantakan". ucap Zakia ia merasa tak enak.
" tak apa-apa kia kapan-kapan kita bikin pesta lagi, bukan kesalahan kalian semua terjadi karena penjahat itu. Kalian adalah sahabat ku jika sakit akan merasakan semua. Hanya sebuah pesta tadi juga kita sudah menikmatinya. jangan memikirkan aku dan Aulia kita masih bisa melakukannya besok". Aris terkekeh itu lagi yang di bahas membuat Aulia malu yang lainnya menepok jidat.
" Terimakasih kalian benar-benar sahabat terbaik ku." ucap Hamdan semuanya mengangguk.
" aku dan Zidan harus mengurus perusahaan dulu, nanti kami kembali". pamit Tomi di ikuti Zidan sebelumnya mengusap kepala adiknya. Kiran di minta untuk menunggu kia meski di sana masih ramai ada Niko dan Anita, Yara, Aulia dan Aris.
" apa yang akan kita lakukan tom, apa kita akan mendatangi Alex menanyakan nya langsung". tanya Zidan ia tak sabar apalagi melihat adiknya yang menangis sejak kemarin.
__ADS_1
" Jangan, Alex itu masih di penuhi amarah takutnya justru kita yang malah akan menjadi umpannya. Saat ini kita hanya bisa menunggu Rendi saja, ia teman kita pasti akan melakukan hal terbaik." Zidan mengangguk mengerti maksud Tomi. Mereka berjalan keluar langsung menuju kantor bersamaan.
Takut jika di serang jika tau penguat perusahaan tak ada yang berada di kantor. Tomi dan zidan memeriksa semua file ia selesaikan pekerjaan juga menghentikan berita jika Hamdan bos mereka tertembak. Namun di cekal oleh salah satu pekerja di dunia berita, ia adalah Riko kakak kelas mereka.
" kenapa harus kalian tutup beritanya jika belum ketemu dalang dari penembakan." ucap riko menghentikan Zidan dan Tomi.
" aku tak suka mereka tertawa menang". ucap Tomi dengan nada sedikit kesal.
" lebih baik kalian lebarkan berita nya buat seolah-olah Hamdan meninggal, itu akan membuat pelaku nya keluar sendiri" . Zidan dan Tomi saling pandang benar juga apa yang di katakan Riko batin Tomi.
" Apa ini akan berhasil kak". tanya Tomi ia sedikit tak yakin.
" Kita coba saja kakak akan membantu untuk mengerahkan semua media".
" bagaimana jika ia tak muncul".
" pelakunya sangat membenci Hamdan ia pasti akan datang di pemakaman untuk betul melihat jika Hamdan meninggal". Tomi meminta persetujuan Zidan dengan memberi isyarat tatapan tajamnya.
" aku setuju". ucap Zidan kemudian.
" apa tak beresiko fatal kak". tanya Tomi lagi.
" kita punya aparat keamanan kita kerahkan semua pengawasan jadi kita bisa bermain bersih". pemikiran Riko kini cerdik ia biasa menulis di media tentang kejadian yang lebih fantastis lagi.
___
bersambung
__ADS_1