
Tomi gusar dengan apa yang di katakan Yara barusan, tak semulus yang ia bayangkan. selain Yara sudah menerima nya menjadi calon suami masih ada hambatan yaitu kedua orang tua Yara. apalagi Tomi hanya seorang karyawan kehidupan orang tua nya pas-pasan ia bisa terlihat lebih berada karena Hamdan sahabatnya.
" Lalu bagaimana dengan mu, apa kamu menerima perjodohan orang tua mu". tanya Tomi dengan sedikit emosi. Yara hanya tersenyum saja.
" sudah jangan pikirkan sekarang belum waktu nya nanti akan di bahas sama penulis nya kak Feni di novel selanjutnya setelah Hamdan dan Zakia selesai". jawab Yara kemudian ia mengusap bahu Tomi.
" semoga kak Feni tak bikin ceritaku jadi ngenes, biarkan Zidan saja yang ngenes" Yara tertawa terbahak-bahak.
" mana ada pemeran laki- laki yang tak ngenes di novel kak Feni".
" iya yah betul, husssttt sudah jangan bicara di sini nanti pembaca tau. ini masih di novel Mujahadah Cinta Zakia Humaira yang masih seru." ucap Tomi pelan ia tak ingin juga penulisnya telinganya berdengung, Tomi sedang ghibah penulis.
( awas ya Tomi ku bikin kamu terseok-seok nanti. kata penulis geram ".
kita kembali ke Hamdan dan Zakia ya yang masih sayang-sayenge.
Orang tua Aulia masuk ke ruangan Zakia, di situ Zakia masih di suapi oleh Hamdan suaminya. Hamdan dengan sangat lembut meladeni sang istri yang kadang-kadang ia masih merasa mual, apalagi semenjak hamil Zakia tak suka bau parfum hamdan. padahal parfum hamdan itu parfum paling enak dan termahal cukup buat makan sebulan penulis harganya wkwkwk.
" masih mual saja sayang, makannya dikit-dikit saja yang penting di habiskan biar lekas sehat". Hamdan memberi minum Zakia.
" bagaimana keadaan mu Zakia". setelah mengucap salam dan di jawab bersamaan oleh Zakia dan Hamdan mama Aulia mendekati ranjang rumah sakit di mana Zakia di rawat.
" Alhamdulillah membaik Tante, maaf karena Zakia Aulia ikut jadi korban". ucap zakia ia merasa tak enak dengan orang tua Aulia sembari menyalami dua orang paruh baya itu.
" kejadian itu sudah Allah gariskan sayang, semua sudah terjadi. Semoga kalian lekas sehat terus bisa beraktivitas kembali". bijak ucapan mama Aulia ia tak menyalahkan siapapun.
" maaf om karena melindungi ku Aulia jadi tertusuk, ia sangat berani". Hamdan menyalami papa Aulia.
" Aulia memang sangat pemberani ia tidak akan membiarkan sahabatnya tersakiti". ucap papa, Zakia pun mengingat saat Aulia selalu bilang kepada alex bahwa dia akan menggantikan Zakia.
__ADS_1
" bagaimana kandungan mu sayang, Aulia bilang kamu hamil". tanya mama Aulia ia senang mendengar kehamilan Zakia.
" Alhamdulillah Tante sangat baik, ini berkat Aulia yang selalu melindungi ku". jawab Zakia sembari memegang perutnya di ikuti tangan mama Aulia mengusap perut Zakia yang masih belum kentara menonjol itu.
" Tante sebenarnya menjodohkan Aulia dengan laki-laki pilihan Tante anak dari teman papa nya". ia tak pernah menyembunyikan sesuatu pun kepada Zakia tentang Aulia tapi untuk hal ini Aulia belum memberi tahu Zakia.
" oh ya lalu bagaimana dengan Aulia Tante, syukurlah kalau Aulia cepat menyusul kia juga".
" Aulia menolak tapi setelah Tante tau jika Aulia sudah punya laki- laki pilihannya Tante setuju saja apalagi dia teman kalian. sudah pasti anaknya baik seperti kalian". Hamdan dan Zakia saling tatap ia bertanya-tanya siapa yang di maksud mama Aulia.
" maksud Tante teman kami, siapa Tan" tanya kia ia penasaran.
" siapa tadi namanya ya pa mama lupa, apa kalian tidak tau hubungan mereka". menoleh ke arah suaminya yang duduk di kursi sebelah mama nya, mama Aulia benar-benar lupa nama Aris.
" Aris kalau tidak salah tadi" ucap papa. Hamdan dan kia terkejut kapan mereka dekat, bahkan tak pernah kia liat Aulia mengenal Aris. Aulia hanya tau jika Aris teman dari suaminya tapi tak pernah Aulia menanyakan nya juga dengan Aris.
" ya sudah tannte senang melihat mu baik-baik saja, Tante permisi dulu semoga kamu lekas sehat." pamit orang tua Aulia karena ada orang lain yang menjenguk mereka pamit tak mungkin ruangan akan penuh dengan pembesuk itu tidak di perbolehkan, hanya karena ini adalah keluarga dokter Azzam jadi mereka ada keringanan untuk itu.
" Kak tolong jangan beritahu Abah dan umma ya, " pinta Hamdan ia tadi sudah menghubungi orang tua nya jika mereka akan menginap beberapa hari di rumah Abi umi.
" iya kakak tak akan bilang itu lebih baik demi kesehatan nya, gimana keadaan mu kia". Azzam mencoba memeriksa infusan Zakia.
" Alhamdulillah kak lebih baik, kia ingin cepat pulang". ucap kia ia tak sabar ingin pulang.
" Biar pulih dulu kia, besok pulang nya untuk kali ini kamu tak akan kakak izinkan. kasihan bayi yang ada di dalam kandungan mu biarkan ia sehat dulu." ucap Azzam ia sudah melihat daftar riwayat yang terjadi oleh kia, atas kejadian kemarin kia begitu syok.
" sembuh dulu sayang baru pulang". ucap Hamdan mengusap kepala kia.
***
__ADS_1
Zidan berada di rumah, umi nya sudah tak sabar ingin menjenguk anak perempuan nya. namun Zidan masih ingin bersih-bersih dulu, tadi ia mengantar Kiran dulu pulang ke panti. umi sudah siap sejak pagi namun zidan mencegah umi dan abinya naik taksi karena Zidan akan pulang nanti akan di antar oleh zidan.
" Zidan buruan nak ini sudah siang". teriak umi tak sabar.
" iya umi Zidan mandi dulu".
" dari tadi ngapain kok baru mau mandi". padahal Zidan udah pulang sejak pagi ternyata ia bobo cantik, semalaman tak bisa tidur menjaga kia dan plus-plus menjaga Kiran agar tak jatuh dari bahunya. Zidan modus.
" Zidan ngantuk umi tadi tidur sebentar". teriak zidan sembari berjalan mengambil handuk.
" ya ampun Zidan tau gitu umi sama abi tadi naik taksi". umi kesal ia tak sabar melihat putri kesayangannya. satu putra kesayangan dan satunya putri kesayangan.
" tunggu umi, Zidan hanya sebentar" umi nampak kesal, seandainya saja umi tau yang terjadi sebenarnya mungkin ia tak akan sekesal ini tapi semuanya sepakat tak akan memberi tahu para tetua.
" sabar umi sini duduk jangan gusar gitu, tunggu Zidan mandi tak sampai sehari juga".
" tuh kan Abi selalu ngebela anak-anak". umi memanyunkan bibirnya seperti anak-anak minta di sayang.
" kalau bukan Abi siapa yang ngebelain anak-anak". Abi gemas saat melihat bibir manyunnya umi.
tak berselang lama benar Zidan sudha selasai ia memakai pakaian santainya tidak ke kantor.
" kamu tak pergi ke kantor nak". tanya Abi yang melihat Zidan dengan pakaian santainya.
" ngga bi Zidan ngantuk hari jni tak ke kantor dulu". lalu Zidan membunyikan mobilnya siap berangkat.
____
bersambung
__ADS_1