MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA

MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA
Sabar dulu


__ADS_3

Zidan pulang sore hari sekitar jam 5 sore, Hamdan dan Abi berada di belakang rumah. Hamdan melihat beberapa burung peliharaan Abi, Abi sangat menyukai memelihara hewan seperti burung dan ayam dulu waktu berada di desa. namun setelah pindah di kota ini sudah tidak ayam karena sulit untuk membuang kotoran nya akhirnya Abi hanya memelihara burung saja. Semenjak bangkrut dan mengalami sakit Abi tak di izinkan oleh zidan bekerja lagi, kewajiban mencari nafkah untuk keluarga, Zidan ambil alih tugas abi kemudian. Zidan ingin kedua orang tuanya menikmati masa tuanya dengan baik, namun zidan tidak tau bahwa kebahagiaan orang tua adalah jika melihat anaknya juga bahagia. Umi dan Abi menginginkan Zidan untuk segera menikah namun zidan menolaknya sebelum Zakia ada yang menjaganya ia tidak akan menikah lebih dulu. umi dan Zakia sedang memasak makan sore di dapur.


" hmmm ... masak apa nih pengantin baru". Zidan yang datang langsung ke dapur hidungnya yang tajam mencium bau masakan.


" kakak baru pulang ya, sini cicip masakan kia".


" Mana suamimu kia, ia ngga pergi kan".


" Ada di belakang bersama Abi".


" pergi ke mana Zidan ngga mungkin pasti ngintilin Zakia istrinya."


" umi, jangan goda Zakia" Zakia yang masih mengaduk tepung pipinya memerah kala umi menggoda.


" oh rupanya pengantin baru udah akur ya umi,". Zidan juga malah ikutan menggoda adik nya.


" iya mana tahan lama-lama, halal plus banyak pahalanya lho". umi terkekeh.


" iyakah umi, Alhamdulillah kalau gitu berarti aku cepet dapet keponakan dong".


" Pasti itu, terus kapan kamu menyusul Zidan" . Zidan berhenti mengunyah pisang goreng nya membuat Zakia terkekeh.


" iya kapan kakak yang nikah, kia udah duluan seperti yang kakak mau kan". ucap Zakia yang sedang menata pisang goreng di piring plus jus jeruk yang akan di berikan untuk Abi dan suaminya.


" doain aja adek manis."


" Zakia itu selalu berdoa untuk kebahagiaan kakak juga".


Zakia kemudian ke belakang memberikan cemilan sore hari untuk Abi dan Hamdan. Hamdan tersenyum melihat istrinya tampak begitu anggun dengan balutan gamis meskipun ala rumahan.


" minum dan cemilannya bi, mas".


" Trimakasih kia.." ucap Hamdan sambil tersenyum memandang istrinya. Rasanya seperti tidak percaya saja Hamdan bisa menjadi suami Zakia, wanita yang selama ini ia cintai. Hamdan sangat bersyukur Allah mengabulkan doa nya bersama wanita saliha yang sangat ia cintai.


" Rupanya lagi ada yang bucin akut nih". celetuk Zidan saat menemui Hamdan.

__ADS_1


" iri ya, " Abi yang mendengar anak serta menantu nya ikut tertawa melihat tingkah mereka yang bagai teman, bukan atasan dan bawahan, atau adik ipar dan kakak ipar yang biasanya terlihat canggung.


_


_


Saat makan malam tiba mereka seperti biasa makan bersama dalam satu meja makan, kini kia yang menyiapkan makanan untuk Hamdan. kia menuangkan nasi serta lauk melayani suaminya dengan sangat baik, Hamdan tak henti-hentinya bersyukur dalam hati. Hingga semuanya selesai makan akhirnya Hamdan mengutarakan keinginannya.


" Abi, umi Hamdan mau minta izin bawa kia pulang insyaallah besok". hal ini sudah mereka bicarakan tadi selepas shalat Maghrib, kia pun menyetujui. walau bagaimanapun seorang istri harus mengikuti kemanapun suaminya tinggal.


" Iya nak sekarang kia adalah hak mu, Abi titip kia didiklah ia dengan baik. tegurlah jika ia melakukan kesalahan, berikan kasih sayang sepenuhnya."


" insyaallah bi Hamdan akan menjaga kia sekuat Hamdan, terimakasih Abi sudah mendidik kia dengan baik. Alhamdulillah Hamdan tak menyangka akan berada dalam keluarga ini."


" Hamdan jangan pernah malu bertanya biar ngga sesat di jalan, aku tekankan ya Zidan adalah bujang Ting Ting belum punya istri". semua tertawa di ruangan itu.


" maaf andaikan saja wanita yang di jodohkan umma adalah kia tak mungkin aku akan melakukan ijab kabul di rumah sakit seperti itu, kenangan yang menyedihkan".


" tapi akhirnya bahagiakan..." goda Zidan kemudian.


sekitar 30 menit mereka berbincang di ruang keluarga terdengar suara deru motor berhenti di halaman depan rumah. Hamdan mengerutkan keningnya seakan dia tau suara deru motor itu, iya benar itu adalah Tomi dan Aris.


" biar ku lihat" Hamdan berdiri keluar rumah.


" Hay pengantin baru". sapa Tomi.


" kalian ngapain ke sini" mata Hamdan sambil melotot dan memelankan suaranya.


" aku dapat undangan ngopi malam ini".


" emang siapa yang mengundang mu". tanya hamdan perasaan dia tak mengundang kedua sahabatnya itu.


" Zidan, makanya kami datang ke sini".


" kalian sudah datang rupanya, ayo masuk. kalau ada tamu itu di ajak masuk adik ipar jangan di biarkan berdiri diluar saja." ucap zidan sembari mempersilahkan Tomi masuk.

__ADS_1


Zakia yang tau di luar ada tamu ia lalu membuatkan minuman untuk mereka, umi dan Abi setelah menemui Tomi mereka lalu beristirahat. Kia akan mengantarkan minumannya keluar, Hamdan yang mengetahui lalu menghampiri istrinya.


" biar mas aja yang bawa keluar ya, kamu masuk saja." Tomi dan Aris yang melihat tingkah hamdan tertawa.


" dasar bucin, " ucap kedua sahabat berbarengan itu.


" ini minumannya cepat habiskan terus kalian pulang". Hamdan sedikit geram dengan dua sahabat nya itu, padahal ini adalah malam pertama ia bisa tidur bersama kia dalam satu kamar.


" ngusir nih, aku habiskan dulu kopinya juga cemilan nya. trimakasih Zidan undangan nya bisa minum kopi gratis".


Zakia menunggu suaminya di kamar, seperti biasa ia mengulang hafalan nya sebelum tidur. hingga pukul 10 malam mendapati suaminya yang tidak masuk kamar kemudian Zakia merebahkan tubuhnya dengan masih menggunakan gamis dan hijabnya. Zakia belum terbiasa membuka jilbab di depan Hamdan suaminya, bahkan Hamdan pun belum pernah melihat indahnya rambut Zakia sang istri. Lama kelamaan Zakia pun terlelap.


sedangkan para sahabat masih berbincang bersama, Hamdan sengaja mengundang Tomi untuk mengerjai Hamdan. pasalnya ini adalah malam pertama mereka tidur bersama. Tomi mau aja di ajak ngopi bersama, karena memang mereka sudah lama tidak nongkrong dari semenjak Tomi bekerja di kantor Tomi.


Hamdan terus saja menguap kadang menguapnya pura-pura agar Tomi dan Aris sadar terus pulang, saat Tomi ingin berpamitan Zidan selalu mencegahnya dan membuat kan kopi lagi hingga habis tiga gelas. dalam hati Zidan tertawa, rasanya ia ingin guling-guling tertawa melihat Hamdan yang resah. Hamdan sedikit-sedikit menoleh ke arah kamar Zakia.


tak di sangka waktu sudah sampai jam 1 malam akhirnya Tomi yang tak kuat dalam penjagaan matanya pamit untuk pulang.


" Sabar ya adik ipar tahan dulu".


" jadi ini kerjaan kamu Zidan, awas ya" Zidan berlari masuk kamar Hamdan mengejar nya namun zidan lebih dulu menutup pintunya.


" Banyak sabar banyak pahalanya juga" Zidan terkekeh di balik pintu.


" liat aja akan ku turunkan gajimu"


" akan ku adukan sama Abah" .


" dasar kakak ipar tak punya akhlak" Hamdan sangat kesal malam ini.


" ha...." tawa Hamdan terdengar.


Akhirnya Hamdan masuk dalam kamar ia melihat Zakia yang sudah tertidur pulas. Hamdan kemudian menyelimuti dengan pelan takut mengganggu sang istri. Di kecupnya kening yang sudah halal baginya itu.


________

__ADS_1


bersambung


__ADS_2