
Malam yang di nanti tiba setelah shalat isya mereka bertemu di kediaman Hamdan, Hamdan sudah menyiapkan tempat yaitu di dekat kolam renang biar lebih leluasa tidak di dalam rumah. mereka pun dari parkiran mobil bisa langsung menuju tempat, Tomi dan Aris sudah datang lebih dulu. Hamdan menggandeng tangan istrinya untuk keluar ke tempat di sana sudah di tunggu oleh Aris dan Tomi.
" mana yang lain kalian tak bersama dua wanita itu". tanya Hamdan ia yang Melihat Aris dan Tomi hanya berdua, biasanya di saat acara malam begini Tomi dan Aris sudah bawa Anita dan Yara agar dapat izin orang tuanya.
" katanya mereka akan datang sendiri tak mau aku samperin". ucap Tomi menjelaskan.
" tumben emang mereka nanti dapet izin dari orang tuanya jika tak ada kalian". Hamdan yang duduk masih menggenggam tangan istrinya.
" ngga tau juga mungkin dapet izin atau mereka akan di antar sopir".
" tak mungkin biasanya mereka tak mau pakai sopir"
" Hamdan bisa ngga jangan bikin gue panas dingin begini".
" apaan ris"
" nih tu". Aris hanya menunjuk menggunakan matanya, Hamdan mengerti justru malah mengejek mereka, mencium tangan kia.
" isss... ngga sopan kali Hamdan kasihanilah kami". Hamdan dan kia terkekeh lalu Hamdan melepaskan tangannya dari KIA.
" maaf tak sengaja, aku lupa jika ada kalian taukan bagaimana slogannya pengantin baru. dunia milik kita berdua". Hamdan kembali terkekeh.
" ha.... ngga lucu". aris sedikit kesal.
tak berapa lama mobil datang tapi mereka heran bukan mobil Anita ataupun Yara yang datang justru mobil lain. Aris dan Tomi penasaran ia melihat celingukan siapa di balik mobil itu.
" mobil siapa itu bro". tanya Tomi menghadap Hamdan.
" tak tau aku tak kenal, apa mungkin teman Abah tapi tak mungkin malam begini datang".
" bukan mertua Lo"..
" bukan kalau mertua aku mengenal mobilnya kan Zidan yang bawa". jelas Hamdan.
" oh iya ya lu adik ipar Zidan ". Tomi terkekeh.
mereka semua penasaran menunggu siapa yang turun dari mobil itu. Yara turun lebih dulu di ikuti Anita seketika ada lelaki yang ikut turun ketika berjalan ke arah mereka ketiganya berteriak.
" Niko..." ketiga sahabat itu terkejut hanya kia yang tak mengerti.
" Niko beneran serius tuh sama Anita, kemarin minta kenalin sama aku". ungkap Tomi ia mengingat saat di pestanya Hamdan.
" Alhamdulillah kalau jodoh itu tak akan kemana, contohnya aku". Hamdan kembali mencium tangan istrinya.
__ADS_1
" issh... Hamdan udahan kek gituannya, memang Luh ye". Hamdan terkekeh melihat Aris yang begitu sebal dengannya.
Niko, Anita dan Yara berjalan beriringan menemui mereka yang sudah ngobrol santai dari tadi. Anita membawa buah-buahan untuk orang tua Hamdan, begitu jika ia datang ke sini tak lupa buah tangan. Niko yang datang langsung di kasih salam tonjok sama Tomi, namun tak keras. Niko malah tertawa terbahak-bahak, membuat Yara dan Anita jadi bingung.
" ini urusan laki-laki diam kalian semua ya, ayo ikut aku kita selesaikan semuanya". Tomi menyeret kerah baju milik Niko.
" apa-apaan sih itu Tomi". Anita tampak khawatir.
" udah biarin saja itu urusan mereka, sini duduk". ucap Hamdan namun Anita gusar ia merasa khawatir terhadap Niko.
Niko menceritakan semua kejadian yang mereka alami dari bagaimana ia mendekati Anita bahkan langsung berani mengkhitbah Anita di depan kedua orang tua Anita. Nampaknya sesering Niko dekat lewat perantara nya Yara Anita sedikit demi sedikit menaruh rasa sama Niko dan sudah bisa sedikit melupakan hamdan. Niko pun tau jika sebelumnya Anita menyukai Zidan, bagi Niko tak apa ia akan berusaha untuk membantu Anita melupakan Hamdan. entah apalagi yang mereka obrolkan hingga mereka tertawa terbahak-bahak di balik tembok terpisah dari para teman-teman yang berkumpul. Tawanya di bawa berjalan menuju perkumpulan itu.
" liat tuh mereka tak apa-apa, begitulah persahabatan kami Anita". Anita tampak tenang ketika melihat Tomi dan Niko datang dengan masih tertawa.
" kalian ngetawain apa sih kayak orang kesurupan". ucap Aris sedikit sebal ia tak sabar untuk memakan makanan yang belum di hidangkan.
" bukan apa-apa ".
" aku tau apa yang mereka ketawain pasti ingat saat SMP kan" kembali Tomi dan Niko tertawa kencang.
mereka selalu mengerjai gurunya saat SMP apalagi dengan ibu Rani perawan tua saat itu, mereka sering mengirimkan surat untuk bu Rani. dasar anak-anak tak di untung bisa-bisanya guru mereka kerjain.
Kia keluar mengambil minum juga makanan kecil yang telah ia buat. tak sabar Aris langsung melahap nya ia memang suka makan di antara teman-temannya.
" Ia sudah melambai-lambai dari sana tadi minta ku amankan". ucap Aris sambil mengunyah makanannya. kia terhibur dengan Aris ia baru kali ini bisa berbarengan dengan sahabat suaminya.
" habiskan saja tak apa kak, kia masih ada nanti kia keluarin lagi".
" kenapa kamu kasih lampu ijo nyonya Hamdan, perutnya udah segentong gitu seberapa pun habis sama dia nanti". Tomi mengambil piring yang di pegang oleh Aris .
" tak apa tadi kia bikin lumayan banyak, kia besok bisa bikin".
" ini bikinanmu sendiri kia". tanya Yara yang mencicipi kuenya.
" iya kak tadi pulang dari kafe kia bikin sebentar".
" enak sekali ini kenapa kafe mu tak menyediakan makanan penutup seperti ini pasti akan lebih laris dan terkenal kafe mu Hamdan apalagi pemiliknya pengusaha muda CEO hamdan pas ini". ucap Yara yang terus memakan kue nya.
" pingin sih kak, tapi apa ya di izinkan sama mas Hamdan"
" kasih kesempatan buat istrimu Hamdan, hanya resep aja yang kerja karyawan mu".
" aisssss... bukan untuk sekarang aku takut ia lelah". Hamdan mengkhawatirkan kia.
__ADS_1
" pengantin baru gawat kalau istrinya lelah pasti jatahnya berkurang".
" nah itu kamu tau tom".
" wah kena lagi bos Hamdan tuh emang ya. Ra nikah yuk". seketika Yara melotot.
" lulus belum ngajakin nikah". ucap Yara padahal ritme detakan jantung nya ngga beraturan.
" to the point amat pedekate dulu Napa tom".
" udah hampir tiga tahun tapi target tak ngerti-ngerti". ucap Tomi.
" udah-udah yuk semua di cicipi buatan istri," Aris dan Tomi mencebik.
" nik kapan kalian nikahnya, ". Anita tersedak langsung Niko memberinya minum.
" doain bro masih proses belum diterima". ucap Niko sembari memberi minum Anita.
" jika jodoh sudah datang tak perlu lama-lama nit, aku jamin untuk Niko ini ORI sperpatnya.".
" kamu memang sahabat terbaikku Ndan selalu percaya denganku meski sudah lama aku tinggal di Amerika".
" meskipun kita anak geng motor, meskipun kita sedikit bandel tapi kita selalu memupuk diri kita dengan iman." ucap Hamdan.
" iya betul katamu aku selalu mengingat slogan kita dari dulu itu, makanya aku tak pernah mau keluar saat teman di sana mengundang pesta".
" bagus itu aku juga tau kamu selalu saja kemana-mana membawa bukumu itu"
" cerdas kamu bisa tau aku sedetail itu, nah atas kegigihan ku belajar Alhamdulillah kuliah ku lebih selesai dulu daripada kalian".
" ya taulah di sana kan ada kak Azzam".
" ha... jadi kamu mengintai ku lewat kak Azzam , benar-benar sahabat sejati". ucap niko.
" Anita apa yang membuatmu belum bisa menerima Niko"
" aku..." tak mungkin juga Anita bilang jika ia masih mencintai Hamdan.
" mungkin karena baru mengenalku beberapa waktu saja jadi Anita belum bisa mengambil keputusan, aku tidak akan menyerah seperti apa yang kamu bilang".
____
bersambung
__ADS_1