
Di perjalanan Hamdan mengingat di mana orang jualan rujak itu, cukup ramai penjual rujak namun Hamdan setia menunggu demi Sang istri. Mengantri demi Zakia yang sedang ngidam, banyak pasang mata yang melihat ke arah Hamdan laki-laki ber jas sedang mengantri rujak. Hamdan hanya balas ssnyum kepada mereka yang melotot melihat Hamdan. Ada ibu-ibu rupanya dia adalah istri dari salah pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Hamdan namun Hamdan tak mengenalnya. ibu-ibu itu menghampiri Hamdan yang masih mengantri.
" Tuan Hamdan sedang cari rujak apa istri nya hamil". tanya wanita separuh baya itu.
" iya Bu istri saya sedang hamil". Hamdan dengan ramah menjawab pertanyaan ibu tadi.
" Jika keburu bawa saja punya ibu nanti biar ibu yang ganti mengantri kasihan istri tuan menunggu". ucap ibu menyerahkan rujaknya di tangan Hamdan.
" maaf ibu merepotkan ibu, boleh tau apa ibu mengenal saya" tanya Hamdan.
" bagaimana kami tak mengenalmu di majalah bisnis wajah tuan ada di setiap halaman". Hamdan terkejut justru dia tak pernah tau menau soal itu.
" iya saya salut dengan tuan meskipun masih menjadi mahasiswa prestasi nya luar biasa". ada salah satu dari mereka anak muda menambahkan ikut mengantri memuji Hamdan.
" oh maaf saya tidak tau soal majalah bisnis jarang sekali saya bacanya". ucap Hamdan sembari tersenyum.
" lebih salut lagi saya melihat anda ikut mengantri di antara kami, padahal jika anda pakai kekuasaan anda bisa saja mendapatkan lebih dulu"
" ya betul itu". semua hampir kompak menjawab begitu.
" saya juga manusia biasa seperti anda ini, jika memang untuk mendapatkan suatu barang itu di wajibkan mengantri saya juga mengantri ". ucap Hamdan sembari melihat ke arah ibu-ibu.
" iya tidak seperti orang yang tadi nyerobot saja mentang-mentang dia turun dari mobil mewah".
" mungkin memang beliau buru-buru kita tidak pernah tau keadaan seseorang".
" seharusnya ia bisa permisi dulu". kesal ibu-ibu kepada pembeli sebelum nya.
" saya ini istri dari pak tino perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan anda tuan". ucap ibu yang pertama kali menyapa Hamdan.
" oh jadi ibu istrinya pak tino jangan panggil saya tuan Bu panggil saya nama Hamdan saja, ibu-ibu di sini juga semuanya panggil saya Hamdan saja ya. sepertinya saya belum terlalu tua". Hamdan terkekeh di barengi ibu-ibu yang tertawa.
__ADS_1
" baiklah nak Hamdan boleh tau apa istri nak Hamdan sedang hamil". tanya istri pak tino.
" iya Bu Alhamdulillah istri saya sedang hamil dan meminta saya untuk membeli rujak ia ingin makan rujak".
" MasyaAlloh semoga sehat ibu dan bayinya, selamat ya nak Hamdan". di saat akan di Salami Hamdan hanya menangkupkan tangannya saja didepan dada, ibu-ibu pun mengerti.
" bawa pulang rujak saya saja nak akan lama jika mengantri". semua justru mereka menyodorkan rujak ke tangan hamdan, Hamdan tidak perlu mengantri lagi.
" MasyaAlloh ibu-ibu di sini memang baik semua trimakasih banyak ya Bu, semoga ibu-ibu diberi Allah kesehatan dan rezeki berlimpah".
" aamiin" mereka serempak menjawab.
" boleh minta fotonya bersama nak Hamdan".
" silahkan Bu". ibu-ibu justru malah meminta foto kepada Hamdan sejenak. ibu-ibu terlihat senang Hamdan jalan ke arah tukang rujaknya memberi uang beberapa lembar.
" mang kasih gratis buat ibu-ibu semua yang ada di sini ya, ini uangnya. jika kurang nanti hubungi saya". Hamdan memberikan kartu namanya.
" tak apa bagikan rujaknya ke semua yang ada dijalan". ibu-ibu yang melihat semuanya salut tak hanya berita di majalah saja atau sosmed ternyata bener Hamdan seorang yang dermawan.
" terima kasih ya nak". ucap istri pak tino.
" justru saya yang berterima kasih Bu, permisi ya Bu istri sudah menunggu". Hamdan berpamitan dengan semua ibu-ibu, di penjual rujak yang ramai itu menjadi pembahasan seorang Hamdan pengusaha muda yang dermawan. Begitulah kebaikan akan ada hikmahnya yang bisa di petik semua orang menyukainya.
Hamdan senyum masuk ke dalam mobil ia juga senang mendapat kan rujak tanpa mengantri. mobil di lajukan dengan kecepatan sedang Hamdan segera pulang ke rumah tak sabar juga ia menemui istrinya. kia masih beristirahat ia sedikit lemas mungkin bawaan dari hamilnya tak bernafsu ingin makan apapun kecuali rujak. Hamdan sampai di rumah langsung menuju lantai atas didapatinya kia masih tertidur, Hamdan pelan-pelan agar tak membangunkan kia. Hamdan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya berganti pakaian lalu ia ikut berbaring di samping istrinya kia. Kia merasa ada yang berbaring di sampingnya kemudian ia menoleh ke arah Hamdan, kia langsung memeluk hamdan.
" maaf sayang membangun kamu".
" sudah pulang dari tadi mas". kia berusaha mencari tempat agar ia bisa nyaman tidur di pelukan suaminya, Hamdan pun membenarkan posisi nya.
" baru saja sayang, tidur lagi jika belum ingin bangun". kia mengangguk ia memejamkan matanya tidur di pelukan suaminya yang sangat nyaman. Hamdan tersenyum di usapnya kepala kia ia mencium pucuk kepala istri nya. keduanya lalu tertidur.
__ADS_1
***
" Kiran jika sudah selesai aku antar pulang, biar motormu di antar satpam saja". ucap Zidan keluar memberikan Kiran berkas. Tomi yang melihatnya mencebik Zidan mulai lagi mendekati Kiran.
" iya Kiran tadi pak bos berpesan kamu tak boleh sendirian lagi, tapi aku tak bisa antar kamu. lebih baik Zidan saja yang antar kamu". Tomi memberi kesempatan untuk Zidan. Zidan senang tersenyum tau saja dia dengan maksud Hamdan mendekat kan Zidan dengan Kiran.
" kalau besok saja gimana kak biar Kiran bawa motornya sekarang jadi tidak perlu merepotkan security". ucap Kiran merasa tak enak saja selalu di istimewa kan.
" buka begitu Kiran kita cuma tak mau kena marah bos, kamu taukan dari dulu bos sangat menyayangi mu. bisa kena amuk kita nanti jika kamu pulang sendirian". alasan Tomi memang tepat.
" ya sudah deh kak nanti jika sudah selesai Kiran tunggu di depan" ucap Kiran sembari mulai bekerja lagi tak sadar dia jika Zidan memperhatikan nya lekat.
" belum halal how..." Tomi menyadarkan Zidan.
" sedikit". Zidan mengeluarkan suara lirih ia tertawa.
keduanya kembali masuk keruangan untuk melanjutkan pekerjaannya sebnetar lagi jam pulang. meski mereka bisa saja seenaknya keluar masuk kantor tapi tak di gunakan nya dengan semena-mena, Tomi sangat menghargai Hamdan yang begitu baik dengannya.
" Kiran senang ya jadi kamu, belum sarjana sudah diterima kerja semua sayang sama kamu". ucap Salwa karyawan yang duduk di sebelah kiran
" ye ngiri kamu bos Hamdan memang dari dulu sayang dengan Kiran menganggap nya adiknya". ucap Tika.
" Alhamdulillah mba, Kiran sangat bersyukur masih ada orang yang begitu baik seperti kak Hamdan".
" iya Kiran kita juga bersyukur semua yang kerja di sini bos Hamdan sangat baik, apalagi bonusnya beuh... banyak bikin kita giat bekerja". membuat semua karyawan tertawa dengan ucapan Salwa. akhirnya semua lanjut bekerja karena sebentar lagi pulang jam kantor habis.
_____
bersambung
terimakasih kakak reader, terus tinggalkan jejak like, komen dan beri hadiah w author supaya lebih semangat.
__ADS_1