MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA

MUJAHADAH CINTA ZAKIA HUMAIRA
resepsi


__ADS_3

Dua insan yang di ciptakan untuk saling mencintai, yang tertulis di lauhul Mahfudz. apapun yang terjadi Allah akan memberikan jalan untuk bertemu siapa dan di mana jodoh kita dengan caraNya. Hari jni adalah hari istimewa meski kemarin sudah di lakukan ijab kabul namun masih belum puas jika belum ada resepsi. Zakia mengenakan balutan gaun yang sangat indah, cantik membuat kagum Hamdan sang suami. bahkan pekerja mua saja mengagumi kecantikan Zakia, matanya indah hidung yang mancung dan saat tersenyum benar terlihat sangat cantik dan manis.


Semuanya sibuk tanpa terkecuali, Ammar dan Ameer pun di bawa kemari dengan di gendong oleh mama Raisa dan mba Rista. Azzam dan Aisha datang sepagi mungkin untuk ikut mempersiapkan acaranya. anak-anak panti Aurel dan Kiran juga datang pagi ikut membantu kesiapan resepsi. semua pegawai kafe hari ini bertugas dengan tugasnya masing-masing, pesta yang cukup megah Karena Hamdan adalah seorang pebisnis muda teman koleganya banyak dari berbagai penjuru. Mr Jack dan Almira datang juga lebih pagi.


Hamdan meminta Zakia memasangkan dasi nya begitulah semenjak Zakia bisa memasang dasi Hamdan selalu meminta agar Zakia yang memasang. ia menyukai karena saat di pasang kan wajahnya bisa melihat istrinya lebih dekat, biasanya Hamdan selalu nakal dengan tangannya menganggu konsentrasi kia masangkan dasi.


" mas jangan nakal ya ada orang di dalam sini kia malu". Hamdan terkekeh istrinya itu baginya terlihat lucu saat merajuk.


" kan kita udah halal sayang ngga papa,". Hamdan menoel pipi Zakia dan tangannya mulai memegang pinggang zakia.


" mas kia malu ngga baik mengumbar kemesraan di depan orang lain".


" jangan ngelak sayang kamu ingat dulu kamu selalu mengumbar kemesraan dengan zidan membuatku cemburu saja".


" kan itu kakak kia mas,".


" apa bedanya sayang mas juga mahram kia sekarang kan ngga perlu malu". kia menyudahi memasangkan dasi nya kemudian ia pergi menemui mua lagi agar di benahi make up nya.


Tomi tiba-tiba masuk karena memang pintu tidak di kunci, Tomi juga lupa mau ketuk pintu ia sudah terbiasa masuk begitu saja dalam kamar Hamdan.


" MasyaAlloh bidadari surga". ucap Tomi matanya masih tak sadar memandang Zakia yang masih di hias.


" Tomi liat apa kamu kenapa tak ketuk pintu". Hamdan marah kemudian mendorong Tomi keluar kamar.


" sory bro aku lupa, kebiasaan ngga ingat jika kamu sudah ada istri. eh tapi beneran itu tadi zakia cantik bro pantas saja kamu klepek-klepek dengannya." Tomi terkekeh.


" Iya itu kia istriku duh kamu udah nyuri liat kecantikan nya dasar Playboy". Hamdan marah memukul pelan perut Tomi.


" maaf bro aku benar tak sengaja tapi rezeki jika ada yang tanya aku bisa katakan jika kia itu cantiknya luar biasa, tenang bro kan bukan aurat muka itu jadi tak berdosa. rezeki". Tomi terkekeh, hamdan kembali memukulnya.


" ada apa kamu kemari"

__ADS_1


" cuma mau memastikan saja pengantin sudah siap belum tamu undangan sudah banyak yang datang dan pengisi pengajiannya juga sudah tiba, kasihan jika mereka harus menunggu lama". ucap Tomi.


" iya sebentar lagi tinggal pakai cadarnya saja"


" beeuh... andai tak terhalang cadar pasti mereka sangat mengagumi kecantikan istrimu". Hamdan kembali akan memukul Tomi namun Tomi lekas berlari.


" sudah selesai mba, tamu sudah banyak yang menunggu".


" jika tadi anda tidak menganggu kami meminta istri anda untuk memakaikan dasi pasti sudah selesai dari tadi tuan". seorang mua terkekeh.


" he... maaf mba maklum pengantin baru".


" iya kami ngerti tuan, apalagi istri anda begitu cantik pasti tak akan lepas dari anda". kia tersenyum malu Hamdan juga malu di goda oleh mua.


" baik mba kami permisi turun dulu". seorang petugas mua mengangguk dan menyuruh pekerjanya mengikuti sang pengantin untuk memegangi panjangnya gaun kia agar tidak kesusahan berjalan menuruni tangga.


Pengantin bergandengan tangan menuruni tangga senyum merekah dari keduanya, sangat tampan dan cantik cocok kagum bagi orang yang melihatnya. Zidan menitikkan air mata melihat adiknya kini bersanding dengan seseorang yang di cintai, orang yang tepat akan bertugas melindungi kia...


" tidak apa-apa sayang ini air mata kebahagiaan".


" jangan nangis di sini ya malu di lihat orang kak,"


" tidak sayang kan udah di hapus Aurel air matanya" Zidan mengusap kepala Aurel.


" tenang saja bro adikmu jatuh pada orang yang tepat, aku sangat mengenal sahabatku hamdan" ucap Tomi yang berdiri di samping Zidan.


" iya kak jangan nangis lagi, nanti Aurel Carikan jodoh supaya bisa kayak kak kia dan kak Hamdan begitu menikah". Tomi dan Kiran yang mendengar tertawa.


" Aurel tak baik ngomong begitu". ucap Kiran yang masih tak bisa menyembunyikan tertawa nya.


" eh anak kecil tau-tau nya aja, " Tomi terkekeh.

__ADS_1


" okey nanti kita Carikan jodoh buat kak Zidan ya Aurel".


" siap kak Tomi kita bekerja sama". Tomi memberikan jari kelingking nya untuk Aurel menandakan kesepakatan.


" enak aja kalian ini emang aku ngga laku mau kalian Carikan, issh... aku udah dapat tinggal tunggu kesiapan aja dari calon istri." Zidan melirik pada Kiran, Kiran yang bertatapan tak sengaja langsung memalingkan wajahnya. Tomi dan Aurel terkekeh.


" kita tunggu undangannya bro". ledek Tomi.


" pasti itu semoga Allah mengabulkan doa ku di sepertiga malam".


" doa saja tak cukup bro jika kau tidak ikhtiar". ucap Tomi.


" aku juga lagi ikhtiar dodol" Zidan kesal Tomi selalu menggodanya.


Kakek ammar dan Ameer yang menjadi pengisi pengajian saat itu, semua menyimak dengan seksama tausiah yang sangat bermakna dan Aisha menitikkan air mata ia mengingat saat menikah dengan Hanafi dulu. meski sudah bersama Azzam suaminya yang sekarang namun Aisha belum bisa melupakan Hanafi, semua yang di lakukan semenjak menjadi suami Aisha adalah kebaikan. Azzam melihat istrinya menitikkan air mata Azzam kemudian memegang jemari sang istri dan menghapus air matanya.


" maaf mas". Azzam tersenyum lalu mengusap lagi air mata Aisha.


" ia akan bahagia melihat mu bahagia dan sekarang melihat Hamdan juga bahagia bersama orang yang di cintai nya. kamu harus kuat demi anak-anak sayang".


" maafkan Aisha mas, Aisha mengingat mas Hanafi".


" aku tau itu karena memang Hanafi sosok yang sangat baik. Sudah ya jangan menangis kasihan jika nanti umma, Abah dan Hamdan tau pasti mereka akan sedih. jangan ganggu kebahagiaan mereka, lihatlah semua tertawa bahagia sayang. Aisah bahagia?". tanya Azzam kemudian.


" iya mas, Aisha kini sangat bahagia. terimakasih sudah menerima ku apa adanya'".


" karena cinta itu adanya di sini, bunda Ammar dan Ameer harus bahagia" Azzam menunjuk dadanya. Kemudian Aisha mencium tangan sang suami, ia sangat bersyukur di pertemukan dengan Azzam yang menerimanya apa adanya.


" Abi sudah selesai memberikan tausiah yuk kita sambut tamu-tamu sayang, jangan nangis lagi ya". Aisha mengangguk mereka bergandengan tangan menemui keluarga Abi dan umi nya serta keluarga Abah dan umma.


__________

__ADS_1


bersambung


__ADS_2