
Suara handphone Zidan berdering, dan saat Zidan melihat nama di layar handphone itu adalah Hamdan. Zidan menoleh ke semuanya, Tomi langsung mengerti jika yang menelepon adalah Hamdan. Zidan masih bingung bagaimana caranya dia mengatakan kepada Hamdan, dia tak sanggup melihat kekecewaan Hamdan.
" angkat saja katakan jika Zakia sedang ada di toilet". Zidan bingung selama hidup ia sekalipun tidak pernah berbohong.
" tapi tom". tanpa berpikir Tomi langsung menyambar teleponnya dn berbicara kepada Hamdan.
" assalamu'alaikum bro".
" wa'alaikumsalam, kenaap kamu yang angkat di mana Zidan." ada kecurigaan dalam diri Hamdan di jam siang seperti ini mereka sedang apa, ada juga Tomi di situ. kemudian Hamdan menepis pikirannya ia menebak mungkin mereka berada di kantor.
" sedang mengantarkan kia ke toilet, kia tadi mual berasa akan muntah ini handphone di sini jadi aku yang angkat". jawab Tomi berusaha untuk tenang agar Hamdan tak curiga.
" jadi kalian di kantor kenapa Zidan tak antarkan Istriku pulang saja". tanya Hamdan.
" hanya sebentar, Zidan mengecek pekerjaan sebentar aku sedikit kesulitan. ini juga sudah selesai ia akan pulang, gimana katanya hari ini kamu pulang ke Indonesia". Tomi berusaha mengalihkan pembicaraan agar Hamdan tak menanyakan kia lagi.
" ini aku sudah mau naik pesawat makannya aku telepon ngabarin Istriku. tadi aku hubungi ke handphone dia tak aktif". jelas hamdan sebelum nya ia sudah menghubungi kia beberapa kali tapi tak ada jawaban.
" hp kia habis baterai nya ia lupa cas tadi katanya, ya sudah jika mau take off nanti ku sampaikan sama kia". ucap Tomi lagi berharap Hamdan tidak menunggu kia.
" baiklah sampai kan ke Istriku jika aku akan terbang hari ini pulang, dan sampaikan kepada Zidan suruh jemput aku sehabis Maghrib saja di bandara". Hamdan sudah siap untuk berangkat.
" oke hati-hati sobat". Tomi langsung menutup teleponnya, tumben juga Tomi tak bawel seperti biasanya.
__ADS_1
Tomi mendengus nafas kasar, setidaknya ia sedikit lega Hamdan sudah teratasi.
" Hamdan sudah mau take off, Hamdan meminta Zidan menjemputnya setelah shalat Maghrib".
" terus apa yang harus kita lakukan ". Zidan sudah tampak frustasi, ia bingung teringat beberapa tahun yang lalu saat Zakia ada yang berniat menodai. Kini yang dipikirkan bukan hanya kia namun janin yang ada di perut adiknya itu.
" kita telusuri seluruh kota".ucap Tomi.
" akan sulit wajah kia tidak terlihat, mana bisa kita mengenali nya dan bagaimana kita bertanya dengan orang sekitar. orang yang memakai cadar tidak hanya istri Hamdan, di kota ini sudah ada beberapa". ucap Aris ia juga bingung bagaimana caranya, dan tak ada yang tau Aulia teman kia. Zidan pun tak punya foto Aulia ia tak biasa menyimpan foto seorang wanita, ke rumah Aulia tak mungkin orang tua nya pasti akan khawatir. masih bingung semuanya, Kiran hanya diam saja ia tak tahu harus bagaimana.
Zidan putus asa ia pun berfikir ini demi kebaikan adiknya bagaimana pun ia akan memberitahu wajah kia ke semuanya untuk memudahkan pencarian. lagian wajah bukanlah aurat ini adalah kondisi mendesak, akhirnya Zidan memberitahu mereka seperti apa wajah kia lewst foto yang tersimpan di dompet zidan. Zidan menyodorkan ke semuanya, Tomi dan Aris marah di waktu begini Zidan malah bercanda memberitahu wajah wanita.
" ini denting Zidan bukan malah memikirkan soal wanita". namun Tomi memandangi foto itu terus.
" aku bukan bercanda Tomi ini ku kasih tau kalian wajah kia adikku". Tomi melotot, Aris menarik foto itu mereka begitu kaget ternyata kia sangat cantik.
" aku kakaknya juga tampan sudah pasti adikku cantik". Zidan menegaskan. membuat Tomi dan Aris mencebik, Kiran sedikit tersenyum melihat aksi para laki-laki itu.
Sedikit banyolan tercipta agar tak tegang meski kekhawatiran masih menghantui diri mereka. Zidan masih bingung kemana mereka akan mencari kia, mereka akhirnya berpencar menelusuri kota. namun tak ada sedikitpun petunjuk.
***
Aulia dan Zakia di bawa ke sebuah gedung yang sudah lama kosong, jauh dari perkotaan. Aulia selalu menjaga kia, ia tak ingin sahabatnya itu dalam bahaya apalagi Aulia tau jika kia sedang hamil. Aulia tidak membantah para preman saat di suruh turun dari mobil mereka turun, karena jika mereka akan melawan itu justru akan berdampak buruk bagi mereka. Aulia dan kia pasti tak akan sanggup, mereka punya tubuh yang besar bisa dikatakan preman dan berjumlah empat orang.
__ADS_1
" kamu tidak apa-apa kia, makanlah sedikit aku ada roti di tasku". Aulia memberi nya roti namun kia menolak yang lapar tak hanya kia saja tapi juga Aulia.
" tidak Aulia aku tidak apa-apa".
" pikirkan janinmu kia aku tidak memberimu tapi untuk calon keponakan ku, ku mohon makanlah. jika terjadi sesuatu dengannya aku tak akan bisa memaafkan diriku ini". paksa Aulia, kia pasti lapar itu adalah saatnya mereka makan siang namun keburu penculik membawa mereka.
" sekarang apa yang harus kita lakukan aulia". kehamilannya menjadi kan kia emosi.
" sekarang makanlah dulu, aku yakin kak Zidan sedang mencari kita saat ini. Kamu harus kuat sampai mereka menemukan kita". Aulia menguatkan Zakia yang dari tadi sudah khawatir. ia mengusap perut kia agar tenang. keempat penculik itu berada di luar gedung, lokasi yang dijadikan tempat Aulia dan kia di letakkan terdapat kunci yang tak bisa dibuka.
" sebenarnya siapa mereka dan ada maksud apa menculik kita." kia yang masih bingung untuk apa mereka menculik dua sahabat itu.
" aku juga tidak tau meskipun kita bertanya kita tidak akan di beri tau, yang penting kita tetap tenang dan berdoa semoga kak Zidan segera menemukan kita". Aulia tersenyum ia memeluk kia, masih untung saat itu kia membawa roti juga air mineral. dan penculik itu tidak membawa kia saja namun Aulia ikut terciduk juga.
" hey wanita, jangan macam-macam dan jangan mencoba untuk kabur. kami tak segan membunuhmu, diam jangan berisik.". satu orang berbadan besar dan hitam memperingati. Aulia meminta kia untuk tidak menjawab nya, itu akan lebih baik. kia merasa tertekan dan ketakutan ia hanya duduk dengan kaki di tekuk untuk menaruh kepalanya yang tertunduk. sebenarnya Aulia dari tadi memikirkan bagaimana mereka bisa kabur dari sini namun tak ada celah sedikitpun mereka berempat berbadan besar.
" halo bos target sudah ada di tempat". ucap salah satu preman menelepon bos mereka. terdengar tawa dari seberang telepon.
" baik kalian jaga jangan sampai mereka kabur aku akan ke sana malam nanti".
" siap bos".
Aulia sangat ingin tau siapa pelaku di balik semua ini, ke empat penculik itu hanya menjalankan tugasnya.
__ADS_1
___
bersambung